Isvara, wanita berumur tiga puluh enam tahun yang menjabat sebagai wali kelas mengantarkan Meesa ke kelas baru yang akan di tempati gadis itu. Ternyata lokasi ruang kepala sekolah dengan kelasnya terletak cukup jauh.
Ruang kelas Meesa berada di gedung tiga, tempat ruang kelas sembilan berkumpul. Di sana ada sekitar dua belas kelas, banyak nya kelas di karenakan satu kelas SMP Nabastaa hanya berisi sekitar dua puluh lima murid saja. Itu adalah suatu kebijakan agar proses belajar mengajar lebih efektif tersampaikan.
Sesuai hasil rapor dan prestasi-prestasi di sekolah lamanya, Meesa berhasil memasuki kelas unggulan SMP Nabastala. Kelas eksklusif dengan fasilitas lebih dan hanya berisi tidak lebih dari dua puluh siswa.
Kelasnya berada di lantai lima yang membuatnya harus menaiki lift jika tidak ingin pegal-pegal naik tangga ke lantai lima. Isvara begitu ramah, bahkan beliau juga menjelaskan beberapa ruangan yang mereka lewati.
“Di sini ada empat kantin dan dua koperasi siswa. Kantin kelas sembilan ada di lantai tiga. Jadi, jika kamu ingin ke kantin nanti, kamu bisa pergi ke lantai tiga,” jelas Isvara memberitahukan letak kantin.
“Baik, Bu. Terima kasih.”
Akhirnya mereka sampai di ruang kelas. Meesa terkagum-kagum kembali. Ruang kelas yang berukuran sangat besar yang hanya di isi delapann belas siswa termasuk dirinya. Tidak perlu takut ke panasan, karena di ruangan lima belas kali sepuluh meter tersebut full AC.
Seluruh pandangan kini fokus ke Meesa, meski tak terkejut jika murid baru itu akan masuk ke kelas mereka. Sudah di pastikan bukan? Sosok yang berhasil mengalahkan Gavesha Gian di tingkat olimpiade nasional siapa kalau bukan Lavanya Meesa? Mana mungkin jika Meesa di tempatkan di kelas sembarangan.
“Baik anak-anak, ibu minta perhatianya sebentar. Kalian ke datangan murid baru dari Semarang, ibu harap kalian bisa berteman baik dengan Lavanya Meesa. Meesa, perkenalkan diri kamu,” titah Isvara pada Meesa yang kini menjadi pusat perhatian.
“Emm ... selamat pagi semua. Perkenalkan saya Lavanya Meesa, kalian bisa panggil saya Meesa. Saya pindahan dari SMP Buntara, Semarang. Saya harap kita bisa berteman dengan baik, senang bertemu dengan kalian,” tutur Meesa memperkenalkan dirinya.
“Pagi, Meesa!” seru mereka kompak menerima kehadiran Meesa.
“Baik Meesa, kamu bisa duduk di kursi kosong dekat Gavesha. Gavesha angkat tangan.”
Gadis berambut panjang itu mengangkat tanganya sesuai perintah Isvara. Meesa berterima kasih terlebih dahulu kepada Isvara sebelum akhirnya ia duduk di samping gadis yang mengangkat tanganya tadi.
Di sini memang mereka duduk sendiri-sendiri namun berpasangan. Meesa berjalan ke arah meja di pojok kanan nomor tiga dari depan tersebut. Ia tersenyum sangat ramah saat gadis berambut panjang yang nampak tak asing menoleh ke arahnya.
“Aku kaya pernah lihat kamu, kita pernah ketemu ya?” tanya Meesa begitu sopan.
Gavesha terkekeh ringan, “lo lupa? Gue yang anterin lo pulang waktu nyasar.”
Meesa ingat, ah ya. Itu adalah gadis samping rumahnya bukan? Dunia memang sesempit itu bukan? Namun wajar, sekolah ini adalah sekolah favorit. Jadi siapa yang menolak untuk sekolah di sini?
“Oh iya aku ingat, hehehe. Maaf ya lupa.”
“Santai aja.”
Pelajaran pertama di mulai. Meesa terkejut ternyata Gavesha adalah murid yang sangat aktif dan kritis. Terlihat betapa ambisius dia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang di berikan gurunya. Tak hanya itu, gadis berambut panjang itu memiliki otak yang cepat untuk menangkap hal yang di pelajarinya.
Hanya saja terkadang jawaban dari Gavesha masih kurang tepat, jadi beberapa kali Meesa mengimbuhinya.
“Ada yang bisa sebutkan ciri-ciri dari suku bangsa Nordik?” tanya Antasena selaku guru IPS.
Gavesha mengangkat tanganya tinggi kembali, “bermata abu-abu atau biru, berambut pirang, tinggal di Bulgaria, Rusia, Slovakia, dan Yugoslavia.”
Meesa menyikit, ah rupanya Gavesha kembali menjawab pertanyaan dengan salah. Memang ciri suku bangsa Nordik dan Slavia itu hampir sama. Mungkin itu yang membuat gadis itu susah untuk menghafalnya.
Antasena hanya tersenyum saja mendengar jawaban murid teraktif tersebut.
“Ada jawaban selain itu?”
Siapa sangka ada dua tangan yang kembali terangkat. Antasena menyirit saat melihat salah satu murid yang menurutnya asing. Sudah dua tahun berturut-turut ia di tugaskan mengajar mata pelajaran sosial tersebut di kelas unggulan. Namun ia tak pernah melihat gadis berambut pendek sebahu tersebut.
“Kamu murid baru itu kan? Ya, apa jawaban kamu? Untuk Davendra, nanti saya akan kasih pertanyaan lain untuk menambah nilai kamu,” putus Antasena memilih Meesa untuk menjawab pertanyaannya.
“Suku bangsa Nordik adalah sekelompok suku bangsa Jermanik yang menghuni Skandinavia dan berbiacara dengan bahasa yang di sebut Nordik kuno pada sekitar tahun 800 masehi dan 1300 masehi.”
“Suku bangsa Nordik memiliki ciri-ciri, berambut pirang, mata biru, tengkorak panjang, muka sempit dan tinggal di Eropa Barat juga Eropa Utara seperti; Norwegia, Inggris, Denmark, Belanda, Swedia, Belgia, dan Jerman Utara,” terang Meesa begitu detail yang membuat Antasena dan beberapa murid di sana kagum.
“Tepat sekali jawaban kamu, Meesa. Gavesha, jawaban kamu hampir mendekati. Lain kali bacalah lebih teliti agar tidak salah saat ujian nanti.”
“Baik, Pak.”
Gavesha menepuk pundah Meesa, “hebat juga lo. Bisa jadi partner belajar gue kan?”
“Kamu juga hebat, cuman kurang teliti aja. Iya, nanti kita belajar sama-sama,” cakap Meesa.
Pembelajaran kembali berjalan hingga akhirnya di jam sepuluh saat nya mereka istirahat pertama. Gadis berambut panjangg itu nampak sibuk dengan beberapa map di laci mejanya. Meesa simpulkan, sepertinya Gavesha adalah orang penting.
“Gue sebenarnya ingin nemenin lo keliling sekolah, takut lo nyasar lagi hahaha. Tapi gue ada urusan OSIS, ah gue tau. Davendra!” panggil Gavesha pada laki-laki yang sibuk mengemasi barang-barangnya tersebut.
“Ada apa, Sha?” tanya Davendra berjalan menghampiri meja Gavesha.
“Lo bisa anterin Meesa keliling? Seenggaknya lihat-lihat gedung tiga aja deh. Gue ada rapat OSIS.”
Davendra menatap gadis berambut sebahu itu yang tengah memperhatikanya. Tadi dia memang tidak memperhatikan Meesa karena sibuk menyalin tugas bahasa indonesia milik Gavesha.
“Sok sibuk lo,” cerca Davendra bercanda.
“Hish, udah bye! Meesa, lo di anterin Davendra ya? Kalau dia jahatin lo, lapor ke gue. Biar gue piting kepalanya!” ancam Gavesha menatap tajam Davendra.
Meesa terkekeh pelan, “iya. Lagian aku bisa kok sendiri atau minta anter yang lain. Kamu hati-hati ya.”
“Gak, pokoknya lo jangan pergi sendiri. Kalau nyasar lagi gimana? Udah lagian Davendra pasti mau anterin lo. Bye ....”
Gavesha keluar kelas dengan terburu-buru membuat Meesa tersenyum geli. Ia menatap Davendra yang mukanya lagi-lagi seperti tak asing untuknya.
“Hai, kita ketemu lagi. Jangan bilang lo lupa sama gue?” tebak Davendra tepat sasaran.
Meesa hanya cengengesan saja, ia menggaruk lehernya yang tak gatal.
“Gue cowok yang nabrak lo kemarin. Sesuai janji gue, kalau ketemu lagi gue bakal gant es krim lo. Sekarang ayo ke kantin, gue ganti es krim lo.”
“Eh, gak usah gak papa. Lagian aku juga udah lupa.”
“Udah, gue gak nerima penolakan. Lagian gak ada penawaran di sini.”
Davendra menggenggam pergelangan Meesa. Kemudian ia menarik gadis itu agar mengikuti langkahnya. Meesa sempat tersentak karena Davendra tiba-tiba menariknya. Namun kemudian ia mensejajarkan langkah kakinya dengan langkah lebar milik Davendra.
Saat keluar kelas atau lebih tepatnya saat mereka keluar dari lift untuk turun ke lantai tiga, banyak yang mulai berbisik. Apalagi melihat tangan kekar Davendra yang masih menggenggam tangan milik Meesa. Banyak yang menatap Meesa iri, siapa yang tidak iri bersanding dengan kapten voli SMP Nabastala?
Tapi tak jarang juga ada yang memuji kecocokan mereka. Tinggi Meesa yang ternyata hanya berbeda lima senti meter dari Davendra membuat gadis itu semakin semampai di dekat Davendra. Apalagi senyum manisnya yang begitu menawan. Mereka membandingkan Meesa dengan Gavesha yang selalu datar dan galak jarang tersenyum.
“Lo pilih es krim apapun yang lo suka,” titah Davendra saat mereka berhenti di freezer tempat beberapa merek es krim di jual.
“Kan kamu yang beliin, jadi kamu aja yang pilih,” cicit Meesa tak enak hati.
Davendra mengangguk, ia mengambil sebuah es krim cone rasa coklat. Kemudian memberikanya pada Meesa dan pergi membayarnya.
“Terima kasih,” tukas Meesa begitu tulus dengan senyuman manisnya.
“Sama-sama. Lo mau makan?”
Meesa menggeleng lemah, ia masih kenyang karena tadi ia sudah sarapan di rumah.
“Aku masih kenyang. Kalau kamu mau makan gak papa, biar aku temenin.”
“Ya udah, makan siang di istirahat kedua sama Gavesha aja ya? Sekarang gue temenin keliling.”
“Gak merepotkan?”
“Gaklah, lagian gue juga udah janji sama Gavesha. Nanti dia ngamuk kalau gue gak anterin lo keliling.”
Meesa tertawa, tawanya membuat hampir keseluruhan pusat perhatian tertuju ke arahnya. Bahkan Davendra sempat terpaku beberapa saat.
“Aku bilangin Gavesha nanti kamu kata-katain dia.”
“Semua orang juga tau kali. Gavesha Gian, wakil ketua OSIS SMP Nabastala yang paling galak.”
“Oh, Gavesha wakil ketua OSIS? Hebat banget ya dia. Pinter, cantik, berprestasi, aktif organisasi, wakil ketua osis malah,” puji Meesa mengebu.
“Iya, wakil ketua osis yang galak dan di takuti seantero Nabastala.”
Meesa terkekeh kembali. Davendra nampak begitu mudah membuatnya tersenyum bahkan tertawa. Kedekatan mereka pun tak lekat dari sorotan murid-murid SMP Nabastala. Davendra sosok kapten voli SMP Nabastala yang tidak pernah dekat wanita manapun kecuali Gavesha, si wakil ketua OSIS SMP Nabastala, kini tertawa lepas dengan murid baru.
Banyak desas-desus yang beredar jika Gavesha dan Davendra memiliki hubungan. Namun tak ada klarifikasi dari keduanya. Gavesha yang tidak memperdulikanya dan Davendra yang hanya menanggapinya dengan senyum tipis jika di tanya.