Sesuai janji Davendra pada Gavesha, saat ini laki-laki dengan tinggi seratus enam puluh lima senti meter tersebut mengantarkan Meesa berkeliling gedung tiga. Gedung tiga adalah tempat dimana kelas sembilan berkumpul dan beberapa fasilitasnya.
Di lantai dua terdapat beberapa fasilitas seperti aula, ruang musik, dan ruang olahraga indoor basket. Davendra juga begitu detail menjelaskan ruang-ruang yang mereka lewati. Sesekali tersenyum atau mengangguk saat ada beberapa anak yang menyapanya.
“Jadi, lo mau ikut ekstra apa?” tanya Davendra berbasa-basi.
“Emm ... aku belum tau.”
“Lo dulu ikut ekskul apa di sekolah lo yang lama?”
“Cuman pramuka sih, ekskul wajib soalnya. Aku gak ikut apa-apa karena sibuk persiapan olimpiade terus,” jawab Meesa canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Davendra melongo mendengar jawaban Meesa. Ternyata ada yang lebih parah dari Gavesha si cewek ambisius.
“Lo tinggi, gue rasa cocok kalau ikut basket. Gimana?” saran Davendra menatap gadis bermata belo itu yang hanya berbeda lima sentimeter dengan nya.
Meesa nampak menimang, olahraga adalah salah satu kelemahanya. Ikut ekstrakulikuler basket itu artinya hal yang buruk bukan? Layaknya murid berprestasi akademik lainya, olahraga merupakan kelemahannya.
“Basket ya?”
“Kalau lo mau, gue bisa bilang ke Bora dia ketua ekskul basket putri.”
“Sorry, but I’m so bad at sports,” cicit Meesa lemah menolak saran Davendra tersebut.
Davendra terkekeh, tingkah lugu Meesa membuatnya gemas. Tanpa sadar, ia mengacak-ngacak rambut Meesa gemas. Namun perlakuanya tiba-tiba membuat Meesa tertegun. Jantungnya berdebar kuat bahkan seperti ada kupu-kupu yang terbang di perutnya.
“Lo suka apa?”
“Es krim?” jawab Meesa begitu polos membuat Davendra tergelak.
“Hahaha, maksudnya lo punya hobi apa?”
“Ah maaf. Aku suka bermain piano dan sedikit bernyanyi.”
“Nah! Kalau gitu masuk ekskul musik aja. Ayo gue ajak ke ruang musik,” seru Davendra begitu bersemangat.
Davendra menarik tangan Meesa untuk mengikutinya pergi ke ruang musik. Di sana ada lengkap berbagai alat musik. Bahkan ada sebuah piano, beberapa biola, beberapa gitar, sebuah drum, dan masih banyak lagi alat musik. Yang paling mengesankan, ada beberapa alat musik daerah.
Meesa terbengong menatap ruang musik tersebut. Ia pikir ekstrakulikuler musik sebatas band sekolah seperti sekolah lamanya. Namun di sini di fasilitasi beberapa alat musik yang di bilang cukup lengkap. Meesa mendekati piano hitam yang berada di pojok ruangan, tanganya membuka penutup tuts-tuts piano tersebut.
Mengamatinya sebentar, lantas duduk di kursi yang ada di sana mulai memainkan tuts-tuts piano dengan nada yang begitu indah nan merdu. Davendra nampak begitu menikmati, bahkan tatapanya tak sedetikpun ia alihkan pada gadis berambut sebahu tersebut.
The Well Tempered Clavier merupakan dua set prelude dan fugues di semua 24 tuts mayor dan minor untuk keyboard oleh Johann Sebastian Bach. Siapa sangka Meesa bisa memainkanya dengan begitu lihai dan nampak berbakat.
Setelah selesai memainkan piano, Davendra bertepuk tangan begitu heboh bahkan siapa sangka di sana juga ada Charity, guru pembimbing ekstrakulikuler musik sekaligus guru seni kebanggaan SMP Nabastala.
“Amazing! Saya sangat suka dengan permainan piano kamu.Terlihat sepertinya kamu begitu berbakat,” puji Charity yang entah sejak kapan ada di ruang musik tersebut.
Meesa tersenyum malu-malu, “terima kasih. Saya hanya suka bermain piano karena kebetulan nenek kerap mengajak saya bermain piano sedari kecil.”
“Apa nenek mu seorang pianis?”
“Ya, nenek bercerita jika dulu ia dulu seorang pianis di salah satu pertunjukan musik.”
“Apakah kamu tidak tertarik masuk ekskul musik? Saya sangat senang jika kamu bergabung. Itu pasti akan membuat ekskul musik ssemakin berkilau di SMP Nabastala,” tawar Charity begitu harap.
“Bolehkah?”
“Tentu saja! Siapa nama mu?”
“Lavanya Meesa.”
Wanita berumur dua setengah dekade itu nampak terkejut, “kamu Lavanya Meesa? Murid baru yang jadi perbincangan hangat di kantor? Pantas saja banyak yang memuji mu, bahkan saya baru saja melihat kehebatan mu.”
“Saya tidak sehebat itu. Saya masih tetap manusia yang mempunyai banyak kekurangan,” elak Meesa rendah hati.
“Sampai lupa, saya Charity guru pembimbing ekskul musik.”
Meesa dengan santun menyalimi Charity, “selamat siang, Bu. Bagaimana cara saya daftar ekskul musik?”
“Hari Kamis langsung saja datang ke ruang musik sehabis pulang sekolah. Ah, kamu sekelas dengan Davendra?” tanya Charity yang baru menyadari jika Davendra juga ada di sana.
Davendra nampak cengengesan dan ikut menyalimi Charity, “Bu Chacha masa orang seganteng Dave gak kelihatan sih.”
“Kamu itu, ya udah nanti kamu minta nomor saya ke Davendra. Hubungi saya untuk info-info tentang ekskul musik lainya.”
“Baik, Bu. Terima kasih,” ujar Meesa begitu sopan.
“Saya juga terima kasih kamu sudah berkenan ikut ekskul ini. Kalau ingin tanya-tanya kamu juga bisa tanya ke Davendra. Kebetulan dia vokalis utama di ekskul musik, dia juga vokalis grub band SMA Nabastala,” terang Charity.
Meesa membulatkan matanya, ternyata banyak kejutan di hari ini.
“Benarkah? Saya baru tahu, hehe.”
“Ya sudah, saya ingin kembali ke kantor lagi. Meesa, jangan lupa hubungi saya. Ada yang ingin saya sampaikan nanti,” pamit Charity.
“Baik, Bu.”
Meesa dan Davendra menyalimi Charity sebelum wanita tersebut keluar dari ruangan musik. Saat ini, hanya tersisa Meesa dan Davendra yang ada di sana.
“Balik ke kelas yok? Bel masuk bentar lagi bunyi,” ajak Davendra pada Meesa.
“Iya.”
Mereka keluar dari ruangan musik tersebut. Saat sampai di kelas ternyata kelas telah ramai. Mereka bahkan dengan tertib sudah duduk di bangku masing-masing. Beberapa di antaranya justru telah menyiapkan buku untuk pelajaran selanjutnya.
Bel masuk telah berbunyi, namun Gavesha belum masuk kelas. Apakah gadis itu masih belum selesai rapat? Meesa membalikan badanya menghadap ke arah Davendra yang tengah sibuk memainkan ponselnya.
“Dave,” panggil Meesa yang membuat Davendra mengalihkan pandanganya ke paras cantik Meesa.
“Iya, lo perlu apa?”
“Aku gak perlu apa-apa, Kamu tau Gavesha? Kok dia belum kembali ya?”
“Santai, kayanya dia lagi sibuk ngurusin abis ini lengser jabatan,” jawab Davendra santai.
“Gitu ya?”
“Iya.”
Meesapun sedikit tenang, ia mengikuti pelajaran dengan serius bahkan mencatat beberapa yang menurutnya penting. Catatan itu juga ia buatkan untuk Gavesha. Sampai akhirnya di pelajaran ke lima sebelum istirahat kedua Gavesha memasuki kelas.
Meesa tersenyum sangat manis menyambut Gavesha. Pelajaran di jam kelima tengah kosong karena guru yang bersangkutan berhalangan hadir. Jadinya mereka hanya di beri tugas yang di kumpulkan saat istirahat kedua nanti.
“Ada tugas apa, Sa?” tanya Gavesha yang baru saja duduk.
“Pilihan ganda halaman sepuluh, di kumpulkan istirahat kedua.”
Gavesha mengangguk paham. Ia memasukan beberapa map yang entah isinya apa kemudian mengeluarkan buku untuk mengerjakan soalnya. Di tengah ia mengerjakan soal, Meesa menyodorkan buku tulis dengan sampul coklat ke arahnya.
“Apa?”
“Aku tadi udah buat catatan biar kamu gak ketinggalan pelajaran,” papar Meesa lugu.
Gavesha tersenyum manis, ini pertama kalinya ada orang yang peduli terhadap dirinya selain Davendra. Davendra pun tidak pernah membuat cacatan untuk dirinya, jangankan catatan tugas saja laki-laki itu kerap menyalin miliknya. Karena sifat ambisiusnya Gavesha tidak memiliki teman.
Meski prestasinya membuat banyak para guru yang bangga terhadap dirinya atau jabatanya sebagai wakil ketua OSIS membuatnya semakin di kenal, bukan berarti banyak yang menyukainya. Bahkan mungkin hanya Meesa, satu-satu orang yang bersikap begitu ramah ke arahnya.
“Makasih, baik banget sih lo jadi orang. Lo gak takut sama gue?”
Meesa menyirit, “takut kenapa? Kamu kan orang baik, jadi kenapa aku harus takut?”
“Lupain, lo udah selesai ngerjain tugasnya?”
“Udah kok.”
“Lo tau jawaban nomor dua tiga?”
“Aku D.”
“Kenapa gak B?”
“Pendidikan itu termasuk dalam hakikat kedaulatan tidak terbatas. Sedangkan hakikat kedaulatan mutlak itu yang berarti kekuasan tidak berasal dari kekuasan lain yang lebih tinggi,” terang Meesa menjelaskan begitu sabar.
“Oh gitu. Makasih ya.”
Meesa mengangguk, ia memainkan ponselnya mengingat sedari tadi pagi tak ia mainkan. Ada beberapa pesan masuk dari Elakshi maupun Jayendra. Ada juga beberapa pesan dari teman-temanya yang di Semarang. Sambil menunggu bel istirahat, Meesa membalas beberapa pesan yang masuk di roomchatnya.