Bel pulang sekolah telah berbunyi, hanya saja hal itu tidak berlaku untuk kelas unggulan. Dimana mereka harus mengikuti jam tambahan belajar selama satu setengah jam ke depan.
Meesa menghela nafas panjang, sangat melelahkan. Di sekolahnya yang lama seharusnya ia telah pulang satu jam yang lalu. Sedangkan saat ini? Bahkan ia harus mengikuti jam tambahan sampai satu setengah jam ke depan.
“Gav, kamu gak capek?” tanya Meesa saat melihat Gavesha dengan santai membaca buku paket di hadapanya.
“Dua tahun gue ada di kelas ini, udah biasa.”
Meesa menggeleng tak percaya. Namun bukan hanya Gavesha hampir seluruh murid di kelas ini memang nampak biasa saja. Pelajaran kembali di mulai, namun yang Meesa ketahui ini lebih santai dari pelajaran di jam sekolah. Tidak melulu tentang menjawab soal atau mendnegarkan penjelasan dengan bosan.
Yang lebih mengasikan adalah mereka belajar di luar ruangan agar tidak bosan. Pelajara pun selesai di jam setengah lima. Semuapun bergegas merapikan peralatan sekolah. Sungguh sangat melelahkan rasanya, mereka di tuntut mulai setengah delapan tadi pagi hingga setengah lima sore ini.
“Capek banget rasanya, badan ku pegal semua,” keluh Meesa sangat lelah hari ini.
Gavesha hanya terkekeh, “lama-lama lo bakal terbiasa. Gue duluan ya?”
“Hehehe, hati-hati.”
“Lo juga hati-hati, jangan nyasar lagi.”
Meesa tertawa ringan. Saat berjalan menyusuri koridor lantai satu menuju lobi seorang wanita berbadan gempal menghampirinya.
“Lavanya Meesa?” tanya wanita tersebut memastikan.
“Iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?” tawar Meesa begitu sopan.
“Saya Bu Wikrama. Pak Adytama bilang kamu yang akan mewakili olimpiade IPA tingkat Jawa-Bali bulan depan. Jadi, bisa ikut saya ke ruangan bimbel olim?” terang Wikrama.
Meesa meringis, “baik, Bu.”
Wikrama menyuruh Meesa mengikutinya. Mereka akan pergi ke gedung satu di lantai dasar, tempat jejeran ruangan bimbel olimpiade berada. Ternyata di sana sudah ada beberapa anak, bahkan ada Gavesha dan juga Davendra yang nampak anteng duduk di bangku depan sendiri.
“Selamat sore, anak-anak. Perkenalkan, Lavanya Meesa siswi baru yang akan mewakili olimpiade IPA terpadu nanti,” ucap Wikrama memperkenalkan Meesa.
Gavesha nampak menyirit, bukankah dirinya yang akan mewakili olimpiade IPA terpadu?
“Maaf, Bu. Bukanya saya yang mewakili olimpiade IPA terpadu?”
“Pak Adytama telah memutuskan, kamu akan mewakili olimpiade matematika dan Meesa akan mewakili olimpiade IPA terpadu.”
“Baik, Bu.”
“Meesa, silahkan kamu duduk dulu.”
Meesapun mengangguk menurut. Ia duduk di bangku belakang karena memang hanya itu yang tersisa. Untuk hari ini Wikrama tengah menjelaskan sistem bimbingan yang akan mereka ikuti. Karena waktunya tinggal sebulan lagi, maka mereka akan di bimbing eksklusif dengan jam bimbingan yang cukup ketat.
Hari ini hanya penyuluhan saja, sedangkan bimbingan akan di mulai esok. Di mana dalam sehari mereka akan mendapatkan jam bimbingan dua jam. Satu jam di pagi hari sebelum jam belajar mengajar di mulai dan satu jam setelah jam belajar selesai.
Untuk kelas unggulan akan di gilir, dua hari sekali mereka akan di izinkan dari jam tambahan dan di lain itu maka mereka akan mengambil di jam pelajaran terakhir. Seluruh calon peserta juga telah di masukan di grub khusus, nanti malam pembimbing masing-masing akan memberikan mereka beberapa contoh soal untuk di pelajari.
“Saya rasa cukup di sini, kalian boleh pulang. Jangan lupa untuk besok maka jam enam usahakan kalian sudah ada di sekolah untuk jam bimbingan pagi,” putus Wikrama menghentikan penjelasanya.
Mereka pun bergegas untuk pulang, termasuk Meesa. Arloji di tangan kirinya telah menunjukan pukul lima sore. Ia memilih untuk menghubungi ayahnya saja, sepertinya jika jam segini pasti ayahnya telah pulang kantor. Syukurlah ayahnya langsung mengiyakan saat ia meminta untuk menjemput dirinya.
“Lo gak pulang, Sa?” tanya Gavesha yang melihat Meesa tengah berdiri di dekat gerbang.
“Lagi nunggu ayah.”
“Lo mau bareng Davendra aja? Gue bisa naik taksi,” tawar Gavesha.
“Gak usah, kamu pulang aja sama Davendra. Bentar lagi ayah juga nyampe kayanya,” tolak Meesa halus.
“Ya udah, gue tunggu.”
Meesa menggeleng, “gak usah. Nanti kamu jadi lama pulangnya. Gak papa, lagian ada satpam sekolah kan.”
“Cewek polos kaya lo mudah di begoin, apalagi di jam segini sekolah udah mulai sepi. Para satpam juga lagi keliling cek kelas-kelas buat di kunci. Udah gue tunggu aja, lagian Davendra gak akan keberatan.”
“Iya, atau kita bonceng tigaan juga gak masalah. Muat kali motor gue,” celetuk Davendra yang di hadiahi jitakan dari Gavesha.
“Lo pikir gue sama Meesa cewek apaan, hah?” sergah Gavesha begitu galak.
“Lihat, Sa. Gue bilang apa, Gavesha tuh galak.”
Meesa terkekeh melihat interaksi keduanya yang selalu berantem jika di satukan. Akhirnya sebuah mobil pajero sport berwarna hitam berhenti di depan gerbang. Meesa tersenyum senang melihat mobil ayahnya tersebut.
“Itu bokap lo, Sa?” tanya Gavesha memastikan.
“Iya, makasih ya kalian udah nemenin aku. Kalian hati-hati pulangnya, jangan berantem mulu.”
“Hahaha, doain gue ya, Sa. Semoga bisa pulang dengan utuh soalnya lagi bawa macan betina,” canda Davendra namun di hadiahi sebuah tamparan yang keras di lenganya.
“Hahaha, kalian ada-ada aja.”
***
Jarum jam telah menunjukan pukul delapan malam, gadis berambut sebahu tersebut masih sibuk berkutat dengan beberapa buku di hadapanya. Tadi ba’da magrib Gavesha memberitahunya bahwa besok ada beberapa tugas yang di berikan minggu lalu. Jadi mau tak mau Meesa harus mengerjakanya.
Elakshi masuk ke kamar Meesa membawa segelas s**u coklat untuk gadis itu. Meesa yang melihat Elakshi pun menghentikan kegiatanya terlebih dahulu.
“Gimana tadi sekolahnya? Seru? Udah dapat teman belum?” tanya Elakshi yang mendekat ke meja belajar Meesa.
“Bunda! Seru, sekolahnya luas banget. Kelas Meesa bagus banget, teman-teman di kelas juga baik semua. Meesa suka sekolah di sana,” seru Meesa mengebu.
“Oh ya?”
“Iya! Besok Meesa harus berangkat pagi karena ada bimbingan olimpiade. Bunda tau? Meesa akan ikut ekstra musik, boleh, ‘kan?”
“Selagi kamu merasa senang, bunda akan dukung. Yang terpenting jangan lupa sama kewajibanya dan kesehatan kamu yang paling penting,”
Meesa memeluk erat Elakshi, “sayang bunda.”
“Sayang bunda doang nih? Gak sayang ayah?” ujar Jayendra yang entah sejak kapan berada di ambang pintu kamar Meesa.
Meesa terkekeh, ia bangkit dan menerjang Jayendra dengan memeluknya erat.
“Sayang ayah juga.”
Jayendra membalas pelukan putri kesayanganya tersebut.
“Gimana sekolahnya tadi?”
“Seru banget! Meesa suka, semuanya juga ramah dengan Meesa. Meesa juga mau ikut ekstra musik lho!” cerita Meesa begitu bersemangat.
Jayendra mendengarkan semua cerita Meesa dengan seksama. Tak lupa juga Meesa menceritakan tentang Gavesha dan Davendra yang telah menjadi teman dekatnya saat ini. Saat ini Meesa duduk di tengah yang di apit oleh Elakshi serta Jayendra yang duduk di samping kanan kirinya.
Mereka benar-benar keluarga yang sangat harmonis. Apalagi sesekali Elakshi mengelus lembut kepala Meesa. Sesekali mereka juga tertawa mendengar penuturan polos putrinya tersebut.
“Sayang, bunda mau bilang sesuatu ke kamu,” tutur Elakshi seperti begitu serius.
“Iya, Bunda?”
“Mulai besok bunda akan kerja. Bunda di terima di salah satu perusahaan menjadi sekertaris.”
“Wah! Bagus dong.”
“Gak papa bunda kerja?”
“Meesa yakin bunda kerja juga buat Meesa, ‘kan? Lagian sekarang Meesa akan sekolah sampai sore, di sini juga ada nenek, Kak Ekavira, Kak Kaivan, Rafa, Andra, Radhika, dan yang lainya,” ucap Meesa meyakinkan.
“Terima kasih ya, Sayang.”
“Meesa yang terima kasih, bunda udah jadi ibu yang terbaik di seluruh dunia buat Meesa.”
Elakshi terkekeh, ia memeluk Meesa begitu erat. Jayendra yang tak ingin kalahpun ia ikut memeluk Meesa. Jadilah kini Meesa di peluk oleh dua orang yang sangat menyayanginya dan yang sangat ia sayangi.