Part 9

1342 Words
Sore itu auzora berwarna kejinggaan dengan jarum jam yang telah menunjukan pukul lima. Gadis berambut sebahu tersebut siap dengan cardingan berwarna hitam dan celana jeans kulot semata kaki. Ia memakai sandal bermotif bebek kesukaanya berjalan santai di jalanan komplek yang nampak sepi.            Sudah seminggu dia tinggal di ibu kota, sedikit banyak ia mulai tau tentang lingkungan barunya tersebut. Sesekali dengan bersenandung Meesa berjalan mencari tukang jualan sate.            “Meesa, mau kemana?” sapa laki-laki tampan yang berada lima meter dari hadapanya.            “Mau beli sate, lo?”            Satu hal yang berbeda setelah tinggal satu minggu di ibu kota, Meesa mulai membiasakan diri menggunakan lo-gue ajaran dari Gavesha. Kata Gavesha agar Meesa terlihat lebih gaul karena sudah tinggal di ibu kota.            “Mau ke rumah Gavesha sih sebenarnya. Mau gue anterin?” tawar Davendra menawarkan diri.            “Gak perlu, kalau Gavesha udah nungguin gimana?”            “Gak ada janji, cuman mau pinjem buku catatanya. Udah, ayo gue antar. Sekalian gue juga mau beli, enak kayanya sore-sore gini makan sate.”            “Makasih ya.”            “Sama-sama.”            Davendra hendak menggenggam tangan Meesa, namun dengan segera Meesa melepaskanya. Ia hanya tidak terbiasa dengan hal tersebut. Seminggu ini ia juga semakin dekat dengan Gavesha maupun Davendra. Apalagi ia kerap belajar bersama Gavesha di malam hari.            “Pak, satenya bungkus dua,” pesan Meesa pada penjual sate tersebut.            “Saya bungkus satu aja pak,” pinta Davendra yang membuat penjual sate tersebut menyirit.            “Mbak nya udah pesan mas,” ujar tukang jualan sate tersebut.            Davendra nampak bingung sebentar. “Ah beda, Pak. Saya pesan satu di bungkus dan dia pesan dua di bungkus juga,” terang Davendra meluruskan pesanan mereka.            “Oh gitu. Baik, Mas.”            Meesa dan Davendra duduk di salah satu bangku yang telah di sediakan. Mereka menunggu sate yang tengah di bakar dengan sesekali berbincang.            “Lo lebih seneng tinggal di Jakarta atau Semarang?” tanya Davendra tiba-tiba.            “Sama aja sih, tapi kalau di Jakarta lebih seru.”            “Di Semarang dulu udah punya pacar belum?”            Meesa menyirit mendengar pertanyaan tersebut, ia tersenyum simpul menanggapinya.            “Pacaran aja gak pernah,” jawabnya enteng.            “Kalau suka sama cowok?”            Gadis berambut sebahu itu hanya menggeleng pelan. Selama ini ia memang sibuk dengan mengejar segala prestasi. Hanya buku dan buku yang menjadi kekasihnya.            “Kenapa tanya gitu?”            “Tanya aja.”            Akhirnya sate mereka telah siap, Meesa dan Davendra membayar sate milik masing-masing. Mereka kembali jalan masuk ke wilayah komplek. Tadinya Davendra hendak mengantarkan Meesa, namun di tolak dengan Meesa mengingat rumah mereka berbeda blok.            “Bener gak usah gue antar?” ujar Davendra memastikan.            “Gak usah, Dave. Lagian kan rumah kita beda satu blok,” kekeh Meesa.            “Hafal jalanya kan?”            “Astagfirullah, iya.”            “Ya udah, kalau gitu gue lihat dari sini. Kalau ada apa-apa telfon gue ya?” papar Davendra nampak khawatir.            “Iya-iya, gak perlu khawatir gitu.”            “Ya kan terakhir lo sama gue. Kalau lo kenapa-napa habis gue sama Gavesha nanti.”            Meesa terkekeh renyah, “ada-ada aja lo. Duluan ya, assalamu’alaikum.”            “Wa’alaikumussalam, hati-hati.”            “Iya, Dave.”            Sesuai ucapan Davendra, ia benar-benar memperhatikan gadis itu hingga tubuh tegap tersebut hilang di pertigaan. Setelah memastikan Meesa pasti baik-baik saja, Davendra mulai melanjutkan langkahnya ke rumah.            Pak Setyo membukakan pagar rumah untuk Meesa yang baru saja datang membawa sekresek sate ayam. Ia menyambut ramah cucu majikanya tersebut yang di balas begitu santun dengan Meesa.            “Udah pulang, Non?”            “Hehehe, iya, Pak. Oh ya, nenek udah pulang belum, Pak?”            “Sepertinya nyonya belum pulang.”            “Ya sudah, saya masuk dulu ya, Pak Setyo. Semangat jaganya.”            “Iya, Non. Kalau perlu apa-apa panggil saya.”            Meesa memasuki rumah yang nampak sepi. Sore tadi Denallie pergi ke rumah sakit untuk kontrol karena memang wanita paruh baya tersebut memiliki penyakit asma. Sementara itu Jayendra dan Elakshi bilang mereka akan pulang larut hari ini.            Anwa nampak duduk di teras rumah dengan kaki di naikan ke meja. Wanita berumur dua puluh tujuh tahun tersebut tengah mengandung lima bulan. Ia langsung bangkit dari duduknya tatkala melihat Meesa yang baru saja datang membawa sate pesananya.            “Lama banget sih! Lelet banget jadi orang,” gerutunya merampas kresek hitam yang di pegang Meesa.            “Maaf, Tante. Tadi tukang satenya ada di depan komplek, jadinya agak jauh,” terang Meesa begitu santun.            “Alasan aja kamu bisanya. Sekarang bawa masuk itu paket-paket yang baru datang. Bawa ke kamar tante,” titah Anwa semena-mena.            “Baik, Tante.”            Meesa nampak kesusahan karena memang paket tersebut cukup besar dan lumayan berat, entah apa yang wanita itu pesan. Radhika yang nampak kakak sepupunya kesusahan tersebut hendak membantu.            “Biar Dhika bantu, Kak,” tawar Radhika hendak membantu Meesa mengangkat paket tersebut.            “Radhit, ayo makan! Kamu belum makan dari tadi siang. Udah biarkan saja itu Meesa yang mengangkatnya,” sela Anwa tegas tanpa bisa di ganggu gugat.            Radhika ragu sebenarnya, namun tanganya keburu di tarik masuk oleh Anwa.            “Gak perlu, kamu makan aja,” tutur Meesa sambil tersenyum hangat.            Mau tak mau Radhika pun masuk membiarkan Meesa yang nampak kesusahan mengangkat paket tersebut. Tak ada satupun keluhan yang keluar dari bibir ranum itu. Hatinya memang sangat lembut dengan pikiran yang selalu positif membuatnya hampir tidak pernah mengeluh.            Setelah berhasil memindahkan paket tersebut, Meesa bergegas bersiap untuk melaksanakan salat magrib. Ia pergi ke kamarnya di lantai tiga mendapati Rafandra yang tengah duduk santai di sofa tengah depan kamar mereka.            Bisa di bilang memang lantai tiga tempat berkumpul kamar-kamar cucu Denallie. Di pojok kanan ada kamar yang paling luas dimana itu adalah kamar milik Rafa dan Rafandra. Di sampingnya ada kamar milik Meesa barulah di samping Meesa adalah kamar milik Radhika.            Ada setidaknya lima kamar sebenarnya di sana, namun memang hanya ada tiga kamar yang terisi. Kenapa Rafa dan Rafandra tidak tidur terpisah? Ya itu karena mereka si kembar yang tidak terpisahkan. Ya, Rafa dan Rafandra adalah sepupu kembar Meesa yang hanya berjarak lima menit saja.            “Kak Meesa,” sapa Rafandra yang tengah santai.            “Franda, kamu gak siap-siap salat?”            “Iya habis ini. Bentar, masih capek banget pulang futsal.”            “Ya udah, aku duluan ya?”            “Iya, Kak.”            Meesa memasuki kamarnya, ia mulai membersihkan dirinya dan bersiap ke musala rumah.            ***             Sementara itu gadis berambut panjang tersebut menatap datar beberapa tumpuk map dan monitor laptop yang ada di hadapanya. Ia memijit pangkal hidungnya sejenak, untuk merefresh kembali otaknya yang telah terasa berdenyut Gavesha memutuskan memainkan ponsel sejenak.            “Nalendra sialan, ketua osis gak becus emang tuh bocah. Seharusnya kan ini semua tugas dia,” umpat Gavesha menggerutu kesal.            Tanpa ia sadari, Davendra telah ada di hadapanya. Laki-laki itu hanya terkekeh melihat raut kesal sahabatnya tersebut.            “Ngumpat mulu lo, inget dosa,” celetuk Davendra yang di hadiahi tatapan sinis dari Gavesha.            “Katanya mau pinjam buku catatan.”            “Iya ini, mana?”            “Nyasar lo? Otw dari tadi sore baru sampai habis isya,” sengit Gavesha.            “Iya, tadi gue ketemu Meesa di perempatan depan. Dia bilang mau beli sate, tiba-tiba gue juga pingin. Ya udah beli sate dulu, habis itu makan,” terang Davendra santai.            Ia mengambil buku catatan milik Gavesha kemudian berjalan ke arah kasur gadis itu. Mereka memang telah bersahabat sejak kecil, wajar jika Davendra bebas keluar masuk kamar Gavesha sesukanya. Bahkan ia sering tertidur di kamar gadis itu saat menemani Gavesha mengerjakan tugasnya.            “Mana satenya?”            Davendra menunjuk ke arah perutnya yang mulai berbentuk itu.            “Dih, jahat lo. Gue kan juga mau kalau sate.”            “Ya udah yok!” ajak Davendra yang kembali bangkit.            “Beliin ya?” pinta Gavesha dengan puppy eyesnya.            Davendra mengangguk singkat, ia kasihan melihat sahabatnya tersebut yangg seperti tengah sangat tertekan.            “Yeay! Gitu dong, kan makin ganteng.”            “Giliran ada maunya aja lo muji gue,” sinis Davendra.            “Kalau kata Meesa, segala puji hanya untuk Allah.”            “Hahaha, bisa-bisa aja lo. Kasian Meesa telinganya panas namanya lo panggil-panggil.”            “Hahaha,” tawa mereka bersama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD