Eshal Lathifah Armaghan

2231 Words
..**..             Hari itu sangat suram. Hari yang tidak bisa dia terima begitu saja, saat dimana hidupnya kembali diatur dan harus menerima semua keputusan yang telah ditetapkan oleh sang Ayah.             Bak boneka hidup, dia tidak nyaman dengan semua kemewahan dalam hidupnya. Bagaikan burung dalam sangkar emas, sejak kecil dia selalu diatur dan wajib disiplin dalam segala hal.             Apalagi dia memiliki 2 saudara laki-laki yang selalu memantau setiap gerak-geriknya. Tidak hanya itu, setidaknya 2 pengawal selalu ada dikala dia tengah berpergian.             Usianya genap 26 tahun, gelar Magister sudah melekat di namanya. Namun dia tidak diperbolehkan untuk bebas menikmati pekerjaan yang seharusnya pantas menjadi profesinya.             Dia juga tidak diperbolehkan untuk ikut campur dalam usaha keluarga mereka. Kesedihan selalu hadir setiap saat kala sang Ibu menyuruhnya untuk pergi kesana dan kesini hanya untuk menghadiri acara-acara penting yang berkaitan dengan bisnis keluarga mereka, Armaghan Nacta Group.             Sebagai anak paling kecil dan anak perempuan satu-satunya, dia dianggap anak emas dari keluarga Armaghan. Dia wajib patuh pada segala aturan yang sudah ditetapkan dan dijalankan secara turun temurun.             Namun karakternya yang berlawanan arah dengan hidup mewahnya, membuat wanita berusia 26 tahun itu harus memendam rasa kecewa teramat dalamnya terhadap keluarganya sendiri. Sampai kapan dia seperti ini, dia sendiripun tak tahu. ---**--- Mansion Armaghan, London, UK., Dapur., Pagi hari.,             Ruangan yang begitu megah. Nuansa serba putih dan emas terdapat di setiap sudut ruangan. Berbagai kristal mahal menjadi pajangan di setiap sudut ruangan yang dikhususkan untuk dapur. Pelayan tampak rapi dengan pakaian kedinasan masing-masing. Setiap penjaga juga selalu siap siaga dengan senjata khas mereka. Seluruh anggota keluarga Armaghan tengah menikmati sarapan pagi mereka saat ini. Segala hal selalu tertata dengan sangat rapi.             Tidak ada yang berbicara saat meja makan penuh. Hanya terdengar dentingan manis dari pisau, sendok, dan garpu memenuhi ruangan besar ini.             Mungkin mereka tampak sangat menikmati hidangan masing-masing, namun tidak untuk sebenarnya. Satu sama lain tampak tidak peduli, meski mereka memang 1 anggota keluarga yang terlihat bahagia. … Beberapa menit kemudian.,             Acara sarapan pagi mereka sudah selesai. Masing-masing anggota keluarga tengah menikmati hidangan penutup mereka.             Biasanya, disaat seperti ini akan ada pembahasan khusus yang perlu diketahui oleh anggota Armaghan. Bukan soal bisnis, setidaknya acara-acara penting perlu dibahas. “Kalian sudah siap menghadiri acara pesta itu?” tanya pria berwajah arogan yang duduk di kursi utama. Suara bassnya jelas terdengar di telinga mereka.             Semua memandangnya. Sebelum yang lain membalas pertanyaannya, istrinya sudah menjawabnya terlebih dahulu. “Kalau kami para wanita pasti sudah siap, Sayang. Hanya 2 putramu, mereka mau atau tidak?” jawabnya balik bertanya, sembari melirik ke arah 2 putranya bergantian.             Dua pria tampan disana yang mewarisi wajah sang Ayah, mereka hanya diam saja dan terus menikmati hidangan penutup yang ada. Berbeda dengan 1 wanita cantik yang duduk di sisi kiri suaminya, dia membuka suaranya. “Kalau suamiku wajib ikut. Kalau tidak, aku tidak akan datang ke acara itu.” Dia menjawabnya tanpa merasa berdosa, sedikit melirik ke arah kiri melihat suaminya.             Pria yang duduk berhadapan dengannya, dia melirik wanita itu sembari tersenyum tipis hingga wanita itu tampak mengulum senyumannya. “Kalau kakakku tidak mau ikut mungkin kau bisa menggandeng lenganku, Kakak Ipar. Aku siap,” ujar pria yang duduk berseberangan meja dengan mereka.             Kalimat yang dilontarkan oleh sang Adik, membuatnya angkat bicara. “Jika istriku mau, kenapa aku harus melarangnya?” jawabnya dengan nada datar.             Spontan sang istri menoleh ke arahnya dengan ekspresi sedikit tidak terima. “Kau ini!” ketusnya bergumam pelan, menyenggol kaki kanan sang suami dengan ujung heelsnya. Hanya direspon senyuman saja oleh suaminya.             Ibu mertunya ikut tertawa geli mendengar menantunya kembali merutuki sikap putranya yang benar-benar tidak romantis. Persis sekali seperti suaminya, Alva.             Pria yang usianya sudah memasuki setengah abad itu, dia kembali membuka suaranya. “Sudah cukup. Semua wajib hadir. Dan tidak ada penolakan apapun,,” ucapnya membuat keputusan. Kalimatnya terjeda saat dia mengingat anak bungsunya yang lagi-lagi tidak ikut sarapan bersama dengan mereka.             Dia kembali melanjutkan kalimatnya. “Sayang, bagaimana dengan putrimu?” tanyanya melirik ke arah sang istri dan duduk di sisi kanannya.             Wanita itu melihat suaminya dan menganggukkan kepala. “Eshal pasti akan ikut dengan kami, Sayang. Kau tahu dia tidak mungkin menolaknya,” tegasnya dan direspon anggukan paham oleh sang suami.             Kalimatnya disambung oleh putra sulungnya. “Keluarga Armaghan harus lengkap dan hadir disana.” Nadanya begitu membanggakan keluarga besar mereka.             Sang Adik juga ikut bersuara. “Tentu saja, Kak. Aku tidak mau sia-sia memperlihatkan kejayaan kita pada mereka,” ucapnya turut membanggakan diri.             Sang Ayah tampak tersenyum bangga melihat kedua putranya persis seperti dirinya. “Kalian adalah penerus Armaghan Nacta Group. Jangan pernah kecewakan Ayah di acara nanti,” sambungnya lagi menasehati kedua putranya.             Dua pria tampan yang sangat dibanggakan oleh keluarga Armaghan, mereka mengangguk paham dengan kalimat sang Ayah barusan. ..**..             Setelah selesai dari acara sarapan bersama, dua wanita itu pergi menuju kamar putri bungsu keluarga Armaghan yang terletak di lantai 3. Sedangkan yang lain, mereka pergi ke lantai 2 menuju ruangan kerja. Seperti biasa, para pria akan membahas hal sesuai dengan profesi mereka. Armaghan Nacta Group, perusahaan raksasa milik keluarga Armaghan. Perusahaan ini merupakan perusahaan nomor 1 yang terletak di Kota London, United Kingdom. Properti dan tekstil adalah bidang utama yang digeluti oleh perusahaan yang sudah dikelola secara turun temurun oleh keluarga Armaghan. Jika sudah mendengar kata Armaghan, maka para pengusaha kelas elit akan tertuju pada Armaghan Nacta Group yang selalu sukses menjadi pilar utama bidang properti dan tekstil yang sudah mendunia. Namun dibalik kesuksesan yang kini Armaghan Nacta Group terima atas jatuh bangunnya, mereka masih tetap mengingat peristiwa yang membuat perusahaan raksasa itu terpuruk bahkan hampir gulung tikar. Peristiwa mencekam itu mengancam keguguran Armaghan Nacta Group dari dunia bisnis puluhan tahun yang lalu. Hal itu membuat sang leluhur mereka memberikan pesan kepada para penerusnya untuk kembali bekerja sama dengan perusahaan yang hampir membuat mereka gulung tikar. Tidak hanya sekedar kerja sama belaka, namun terdapat terdapat ancaman dan kelicikan di dalamnya. Walau mereka akan tetap mentaati etika bisnis, hal itu tidak akan melupakan garis utama mereka mengatur perjanjian kerja sama antara perusahaan mereka dengan perusahaan yang menjadi sasaran. Dan semua berawal dari surat yang dibuka kembali oleh pria berusia 57 tahun yang menjadi penerus Armaghan Nacta Group, Alvaes Armaghan Nacta. Alvaes Armaghan Nacta, pria ini akrab disapa sebagai Tuan Armaghan. Orang-orang sangat menghormatinya sejak awal dia menjabat sebagai Presiden Direktur Utama. Apalagi dia mendapat julukan sebagai Ayah yang sangat menyayangi ketiga anaknya. Terutama putri bungsunya, Eshal Lathifah Armaghan yang sering dibawa ke acara tertentu yang berkaitan dengan perjalanan bisnis.             Alvaes memang sudah memberikan hak penuh perusahaan kepada kedua putranya, Dimitri Shalva Armaghan dan Denis Shalva Armaghan. Segala hal yang dia lakukan demi mewujudkan pesan dari leluhurnya juga turut didukung oleh sang istri, Kesha Andar Shareef.             Dimitri dan Denis saling bekerja sama memajukan Armaghan Nacta Group hingga media tak luput dari berita mengenai kesuksesan perushaan mereka. Meski sudah menyandang status sebagai perusahaan elit di kota London, nyatanya tidak membuat mereka puas sebelum berhasil melaksanakan pesan dari leluhur mereka. … Lantai 2., Ruangan kerja.,             Mereka masih berdiskusi kecil disana, tanpa diikuti sekretaris pribadi masing-masing kecuali sang Ayah. Bagai tak mau kalah, mereka ingin semua rencana yang sudah tersusun matang dapat berjalan lancar.             Sebagai anak sulung, Dimitri terus berpikir keras mencari teknik agar mampu menyeimbangkan kerja sama dengan niat mereka nantinya. Kedua jemarinya masih terus membolak balik berkas yang penuh dengan coretan berarti. “Kita tidak bisa melakukan ini tanpa pancingan, Ayah.” Dia bergumam pelan sembari melirik sang Ayah yang duduk di sofa tunggal, diantara mereka berdua.             Saudara laki-laki yang lebih muda 2 tahun darinya, dia kembali membuka suaranya. “Kau tahu dia sudah menolak, Kak. Kita tidak bisa mengajak sembarang orang untuk mengikuti rencana kita,” balas pria berusia 28 tahun itu, Denis Shalva Armaghan.             Sang Kakak meliriknya dengan ekspresi sedikit berpikir. “Kalau begitu kita hanya memiliki 1 rencana terakhir.” Dia melirik sang Ayah, Alvaes.             Kening mereka berkerut. “Jangan membuat rencana yang bisa menggoyahkan perusahaan, Dimitri.” Alvaes mengingatkan sang putra. Denis ikut membuka suaranya. “Kau tidak mengatakan jika kau punya rencana cadangan?” Denis sedikit mencari kebenaran lain dari wajah sang Kakak.             Dimitri tersenyum tipis dan meletakkan berkas yang dia pegang diatas meja kayu, di hadapan mereka. Setelah menghela panjang nafasnya, dia melihat sang Ayah dengan keyakinan yang kuat. Dia yakin, hanya ini jalan yang bisa mereka lakukan untuk mengawali langkah mereka demi kerja sama yang diinginkan. … Kamar Eshal.,             Wanita itu tampak diam berdiri di hadapan jendela kacanya dengan sikap masih bersidekap d**a. Tirai putih bercampur emas terselimut cantik di hadapannya dan menghalangi pandangannya ke arah luar.             Telinganya masih jelas mendengar nasihat dari sang Ibu dan Kakak Iparnya yang lagi-lagi memintanya untuk ikut ke acara besar nanti. Dia masih enggan membersihkan diri sejak bangun tidurnya beberapa jam lalu.             Entah kenapa, dadanya semakin terasa sesak. “Sayang?” Dia semakin mendekati putrinya, menyentuh pundaknya, mengelusnya pelan penuh kasih sayang. “Kita hanya hadir saja. Kalau kau sudah penat dengan acara itu, kita akan pulang lebih awal nanti.” Dia meyakinkan ucapannya sendiri, seraya merayu sang putri agar mau ikut serta dengan mereka.             Lagi-lagi, dia menghela panjang nafasnya. Dia pikir, apalagi yang bisa dia lakukan untuk keluarganya selain membantunya dalam hal kecil.             Wanita cantik yang juga berada disana, dia juga membuka suaranya. “Eshal, Kakak sudah menyiapkan beberapa gaun untuk bisa kau pilih. Sebab kita harus mencobanya terlebih dahulu,” ujar wanita itu kepada sang Adik Ipar.             Wanita yang akrab disapa Kesha, dia masih terus mengelus pelan pundak sang putri. “Sayang … Ibu mohon, jangan pernah menganggap hidupmu tak berguna. Karena kami semua sangat menyayangimu.” Dia memeluk putrinya yang memiliki postur jauh lebih tinggi darinya.             Dia tidak tahan dengan suara getir sang Ibu. Tubuhnya berbalik dan membalas pelukan dari Ibunya. “Ibu … Eshal akan ikut dengan kalian. Selama ini, bukankah Eshal selalu melakukan apa yang kalian inginkan?” gumamnya pelan dengan nada terpaksa bahagia.             Kalimat yang diucapkan oleh Adik Iparnya terdengar pilu. Dia bisa merasakannya.             Kesha, dia kembali membalas kalimat sang putri. “Terima kasih, Sayang. Dan disana nanti, Ayahmu akan mengenalkanmu dengan beberapa pemuda yang sekelas dengan kita. Ibu berharap, salah satu dari mereka bisa memikat pandanganmu, Sayang.” Kesha mengatakan kalimat pasti itu sembari melepas pelukan mereka.             Dia tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. “Iya, Ibu. Eshal akan mencoba membuka hati untuk salah satu dari mereka,” jawabnya tanpa berniat membantah kalimat dari wanita yang telah mengandung dan melahirkannya. Dia membelai lembut wajah sang Ibunda tercinta yang sangat dia sayangi.             Wanita itu, Vanda Thaser. Dia tersenyum melihat Adik Iparnya mau menerima undangan acara besar itu. “Kalau begitu, apakah kau ada waktu hari ini, Eshal? Supaya Kakak bisa hubungi Designer kita secepatnya.” Vanda masih menatap mereka berdua yang berjarak beberapa langkah darinya.             Eshal melirik ke depan. Melihat Kakak Iparnya, Vanda. Wanita yang usianya sama dengan sang Kakak, Dimitri. Dia melihat Kakak Iparnya masih bersikap baik padanya selama 4 bulan dia berada 1 mansion dengan mereka.             Walau hatinya berkata jika Kakak Iparnya hanya menginginkan sesuatu dari sang Kakak, Dimitri. Namun sejauh ini, dia belum menemukan kecurigaan dari sikap Kakak Iparnya, Vanda Thaser. “Aku ada waktu sore ini, Kak.” Eshal melempar senyuman manis untuk Kakak Iparnya.             Vanda tersenyum dan menganggukkan kepalanya.             Kesha kembali memeluk Eshal. “Ya sudah. Kalau begitu Ibu dan Vanda keluar dulu ya. Ibu akan menyuruh pelayan untuk mengantar makanan ke kamarmu, Sayang.” Dia tersenyum dan membelai wajah cantik putrinya.             Eshal tersenyum dan mengangguk iya. “Iya, Bu.” Dia hanya menjawabnya singkat.             Kesha dan Vanda keluar dari kamar Eshal. Sedikit senyuman mereka lempar ke arah Eshal saat pintu kamar hendak ditutup rapat kembali.             Eshal membalas senyuman mereka, walau akhirnya dia kembali mendatarkan ekspresi wajahnya. Dadanya bergemuruh, dia kembali berbalik badan menghadap ke arah luar jendela. ‘Apa selamanya aku akan menjadi boneka hidup?’             Dadanya mulai naik turun, menahan sesuatu yang sejak kecil dia tahan. ‘Kenapa tidak satupun orang yang bisa memahami kemauanku? Kenapa Ibu tidak pernah memahamiku?’ Kebebasannya, dunia bermainnya, keinginannya telah diatur oleh keluarganya. Sampai tidak ada satupun haknya untuk membuka suara di mansion.             Tidak sedikitpun kenyamanan hati yang dia dapatkan di mansion ini selama 26 tahun perjalanan hidupnya bak boneka. Yang dia rasakan hanyalah kekecewaan yang mendalam. ..**..             Eshal Lathifah Armaghan, wanita berusia 26 tahun yang merupakan anak emas di keluarga Armaghan. Haknya sebagai seorang putri bungsu hanyalah menerima semua kekayaan berlimpah dan tak kekurangan materi sedikitpun.             Namun tidak jika sudah menyangkut hak dalam perusahaan. Dia tidak berhak ikut campur, dan tidak memiliki kekuasaan apapun.             Marga Armaghan memang tersemat di dalam namanya, namun tidak untuk haknya. Haknya untuk berteman dibatasi dalam ruang lingkup keluarga saja. Dan itu membuatnya sangat jenuh, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.             Temannya selama ini hanya kamar dan beberapa buku bacaannya saja. Tidak sedikitpun dia diizinkan untuk menerima orang baru berteman dengannya. …             Pandangannya masih tertuju pada halaman mansion yang sangat luas. Sedikitpun matanya tidak terusik dengan tirai jendela di hadapannya.             Kedua tangannya saling memeluk, bersidekap d**a. Bibirnya bergemetar. Uraian rambut jatuh perlahan menghalangi pandangannya. Kedua matanya memerah. Air mata lolos dari mata kirinya. ‘Kenapa kalian menjadikanku boneka? Apakah kalian juga yang akan mengatur dengan siapa aku akan menikah?’ bathinnya seraya bergumam dalam kesedihannya.             Akankah waktu membuatnya bebas, atau sampai selamanya hidupnya akan tetap begini. Dia tidak tahu kapan Tuhan akan berlaku adil padanya. Tapi yang dia percayai, Tuhan akan selalu menguatkan hatinya sampai dia benar-benar tidak sanggup, dan Tuhan memanggilnya dalam keadaan damai. * * Novel By : Msdyayu (Akun Dreame/Innovel, IG, sss)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD