Bab 1. Mengungkit Masalalu
"Kamu terlambat lagi, Bri!” tegur sang manager dengan raut wajah masam.
Briana yang baru saja tiba di kantor menghela napas panjang untuk mengatur ritme jantungnya karena tadi dia berlari menuju ruangannya yang berada di lantai lima.
“Maaf, Miss. Moana —”
“Moana lagi-Moana lagi! Bukan hanya kamu yang memiliki anak di kantor ini, Briana! Tapi, mereka bisa datang tepat waktu! Tidak seperti kamu yang beberapa hari ini selalu datang terlambat!”
Briana memilih diam mendengar kemarahan manager barunya itu. Dia tak ingin membela diri karena percuma saja. Sang manager yang terkenal judes itu tidak akan percaya dan tak ‘kan peduli dengan apapun alasan yang dia sampaikan.
“Ya, sudah! Segera print out laporan yang kemarin kamu buat! Setelah itu, kamu antar ke ruangan big bos!”
“Ini, nih! Gara-gara kamu sering datang terlambat dan fokusmu hanya pada anakmu, kamu sampai tidak tahu jika pimpinan dari pusat sudah mulai ngantor hari ini!” omel Megan kembali ketika mendapati tatapan kebingungan Briana mendengar dia menyebut big bos.
Briana menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bisa-bisanya dia melupakan jika pagi ini semua karyawan diwajibkan untuk datang lebih awal karena tepat pukul delapan tadi, ada acara penyambutan pimpinan baru dari pusat.
“Sorry, Miss. Saya benar-benar lupa,” sesal Briana. Wanita berhijab itu kemudian berjalan menuju meja kerjanya dengan tergesa.
“Sabar, Honey,” kata Surya pelan, tepat ketika Briana baru saja duduk.
Briana melempar senyuman pada sahabat baik yang duduk tepat di sebelahnya itu. “It’s oke. Aku juga yang salah, Sur.”
Baru saja Briana membuka laptop, sebuah gulungan kertas kecil melayang ke arahnya. Briana yang sudah tahu siapa pengirimnya itu meski tanpa menoleh, buru-buru membacanya. “Abaikan aja, Beib. Perawan tua, ya, gitu. Gak ada yang kasih jatah, makanya suka uring-uringan.”
Senyum Briana kembali terbit setelah membaca tulisan tangan Nila, teman satu gengnya yang duduk paling ujung. Belum sirna senyuman di bibir Briana, Rasti, teman baik Briana yang duduk di sebelah kanannya tiba-tiba merebut kertas itu. Sesaat kemudian, tawa cekikikan Rasti mengundang perhatian Megan.
“Cepat kerjakan, Bri! Pak Marcell tak bisa menunggu lama karena satu jam lagi beliau ada rapat dengan para manager!”
“Pak Marcell?” gumam Briana.
“Big bos baru kita, Bri,” sahut Surya, membuat Briana menoleh ke arah lelaki yang pernah menyatakan cinta padanya itu. “Namanya Marcello Abimanyu.”
Kedua bola mata Briana hampir saja melompat keluar mendengar Surya menyebut nama lengkap bos baru mereka. Namun, Briana buru-buru mengalihkan pandangan agar Surya tak menyadari keterkejutannya. Lalu, dia segera mengerjakan apa yang diperintahkan Megan.
“Marcello Abimanyu. Tidak mungkin dia, ‘kan? Kota ini bahkan sangat jauh dari Jakarta.”
“Dia tampan, lho, Bri. Masih lajang lagi,” bisik Rasti. “Tapi sayang, kabarnya doi udah punya tunangan. Coba aja doi jomlo, kami pasti akan comblangin kamu sama dia, Bri.”
Briana tersedak air liurnya sendiri mendengar ocehan Rasti. Wanita itu kemudian menggeleng. “Terlalu tinggi anganmu itu, Ras. Memangnya, aku ini siapa?“
“Jangan kebanyakan ngerumpi kalau kerja!” tegur Megan kembali, membuat Rasti sedikit menjauh dari Briana dan kembali ke posisinya semula.
Setelah menyimpan berkas yang baru dia print out ke dalam map, Briana menghela napas panjang sebelum beranjak. Dia harus menata terlebih dahulu degup jantungnya yang masih saja tak beraturan, gara-gara mendengar nama yang sama dengan nama seseorang di masa lalunya.
“Aku berani taruhan, kamu pasti akan kesengsem setelah melihat Pak Marcell,” kata Nila pelan ketika Briana melewati mejanya.
“Enggak akan!” bantah Briana sambil berlalu.
Sepanjang berjalan menuju lift dan selama menunggu pintu lift itu terbuka, Briana terus menggumam dan mencoba meyakinkan diri jika bosnya bukanlah sang mantan kekasih. Namun, hati kecil Briana justru mengatakan lain.
“Gimana jika benar dia adalah Kak Marcell? Apa yang harus aku katakan? Nggak mungkin, kan, aku ceritakan semuanya?”
Ting!
Denting suara lift yang cukup lembut, mampu membuat Briana yang tengah melamun menjadi terkejut. Briana kemudian mengembus napas dengan kuat sebelum keluar dari kotak besi tersebut
Sejenak, Briana memejamkan mata sebelum melangkah menuju ruangan sang direktur. Setelah dirasa cukup tenang, Briana menyeret langkah kakinya yang terasa berat, menuju ke ruangan orang terpenting di kantornya itu.
“Pagi, Bri. Pucat sekali wajahmu. Apa kamu sakit?” sapa dan tanya seorang lelaki dari belakang meja sekretaris.
“Nggak, kok, Mas,” balas Briana seraya meraba pipinya.
“Tenang, Bri, tenang. Nggak perlu overthinking seperti ini.”
“Oh, ya, Mas. Bos ada di dalam, ‘kan?” tanya Briana kemudian seraya menunjuk pintu berwarna coklat gelap yang tertutup rapat.
“Em —” Belum sempat Satya menjawab, ponselnya berdering.
“Pak Marcell?” Laki-laki muda itu pun buru-buru beranjak setelah melihat siapa yang menghubunginya.
“Sorry, Bri. Aku terima telepon dulu.” Setelah mengatakan demikian, Satya segera menjauh meninggalkan Briana yang kini kembali kebingungan.
“Masuk sekarang, apa nunggu Mas Satya, ya?” gumam Briana sembari menatap ragu ke arah pintu.
Setelah beberapa saat, Briana memutuskan untuk mengetuk pintu sang pimpinan.
“Masuk!”
Mendengar perintah dari seseorang yang tepat berada di belakangnya, susah payah Briana menelan saliva. “Suara itu? Kenapa suara itu sangat mirip dengan —”
Untuk memastikan rungunya, Briana pun memutar badan. Sejenak, Briana terpaku menatap lelaki di hadapan.
"Satya. Kamu tunggu saya di ruang rapat!" perintah Marcell pada sang sekretaris yang kini sudah berdiri tak jauh dari Briana.
Satya mengangguk hormat, kemudian segera berlalu dari sana. Meninggalkan Briana berdua saja dengan bosnya.
Briana yang baru saja tersadar setelah mendengar Marcell berbicara, lalu menyapa sang direktur yang masih terus menatapnya itu dengan gugup. "Selamat pagi, Pak."
"Ternyata di kota ini, kamu sembunyi, Bi," kata Marcell mengabaikan sapaan Briana dan masih dengan tatapan dalamnya yang tertuju pada wanita itu.
"Maaf. Saya tidak mengerti, apa yang Bapak katakan.” Briana kemudian menunduk untuk menghindari tatapan Marcell yang seperti hendak menerkamnya.
Melihat sikap Briana yang seperti menghindar, serta mendengar perkataan wanita itu yang begitu formal, Marcell pun terlihat kecewa. Sayangnya, Briana tak melihat raut kecewa di wajah Marcell karena wanita itu sibuk menekuri lantai.
“Sejak kapan dia merubah penampilannya menjadi seperti ini?” gumam Marcell dengan tatapan tak terjelaskan.
Cukup lama dalam keheningan dan merasa jika ada yang terus mengawasi dirinya, Briana memberanikan diri mengangkat wajah. “Maaf, Pak. Saya asisten Bu Megan. Beliau menyuruh saya untuk mengantar berkas ini ke ruangan Bapak.”
“Masuk!” Perintah Mercell kembali sambil berjalan melewati Briana.
Briana mengembuskan napas pelan setelah tubuh tinggi tegap Mercell yang baru saja melewatinya dan meninggalkan aroma wangi itu, memasuki ruangan. Aroma wangi yang masih dia ingat betul karena Briana memang sengaja menyimpan semua kenangan tentang Marcell. Anehnya, ternyata laki-laki itu masih setia memakai parfum beraroma sama yang dulu dipilihkan Briana hingga membuat dia sempat berpikir, apakah mungkin Marcell belum bisa melupakannya.
Menyadari pikiran konyol yang sempat melintas, Briana memukul pelan kepalanya sendiri. Wanita itu kemudian menghela napas panjang sebelum masuk ke ruangan yang sama dengan sang mantan.
“Apa kamu hanya akan berdiri di situ?” tanya Marcell tanpa menatap Briana. Laki-laki itu mulai fokus dengan layar datar di hadapan yang baru dihidupkan.
“Em, tidak, Pak.” Buru-buru Briana menyerahkan map yang tadi dia bawa, lalu kembali ke tempatnya semula. Yaitu, berdiri cukup jauh dari meja kerja Marcell.
“Apa tampang saya sangat menakutkan, sampai kamu tidak berani mendekat?”
Pertanyaan Marcell berikutnya, memaksa Briana menatap ke arah bosnya itu. Briana menggeleng. Wanita berhijab itu kemudian melangkah maju dan mendudukkan diri tepat di seberang meja Marcell.
Marcell kemudian menggeser kembali map tersebut ke arah Briana dengan sedikit kasar. “Jelaskan saja, apa isinya!”
“Baik, Pak,” balas Briana gugup.
Sungguh, dia merasa sangat terintimidasi berada di ruangan yang sama dengan Marcell. Belum lagi tatapan laki-laki itu yang seolah ingin menelannya hidup-hidup.
Briana kemudian mulai menjelaskan isi dari laporan yang kemarin telah dia buat. Awalnya memang terdengar gugup, tapi lama kelamaan suara Briana terdengar biasa hingga dia dapat menyelesaikan tugasnya dengan lancar.
“Bagaimana, Pak? Apa masih ada yang belum jelas?” tanya Briana yang mau tak mau harus menatap lelaki di hadapannya.
Marcell yang tadinya fokus menatap Briana, buru-buru mengalihkan pandangan. Laki-laki itu tak langsung merespons pertanyaan Briana, tapi malah fokus dengan ponselnya.
Sedetik kemudian, Marcell beranjak ketika ponselnya bergetar. Lelaki itu sedikit menjauh dari meja kerjanya, lalu berdiri menghadap ke jendela kaca membelakangi Briana.
“Katakan, apa yang sudah kamu dapatkan!”
“Nona Briana sudah memiliki anak. Saat ini, anak itu duduk di bangku sekolah TK dan dititipkan di day care.”
Mendengar laporan tersebut, di dalam saku celana tangan kiri Marcell mengepal sempurna. Sementara tangan kanannya mere mas ponsel dengan kuat, seolah hendak meremukkan benda pipih itu.
Setelah beberapa saat dan setelah merasa dirinya sedikit lebih tenang, Marcell kembali ke kursi kebesarannya. Dia memajukan kursi beroda itu hingga dadanya mentok ke meja. Lalu, Marcell mencondongkan tubuhnya ke arah Briana.
“Apa kamu bahagia dengan pernikahanmu? Kupikir, kamu akan setia menungguku, Bi,” tanya Marcell dengan tatapan dalamnya yang mampu membuat jantung Briana berdebar lebih kencang.
Sungguh, Briana tak menduga jika Marcell akan bertanya seperti itu, mengungkit masa lalu. Inilah hal yang sedari tadi dia khawatirkan.
bersambung ...