"Aku tidak percaya ini," gerutu mbak Andrea berkali-kali seolah masih tidak percaya apa yang terjadi padaku.
Jari telunjuknya ia ketuk-ketukkan pada dasboard mobil yang ia kendarai. Sebenarnya agak mengerikan naik mobil dengan seorang wanita yang tengah gundah. Apa lagi wanita gundah itu yang mengendarainya. Bersamanya selama beberapa menit di mobil cukup mengesankan hingga aku berpikir akan melahirkan saat ini juga.
Tiiiin.
Yeah, inilah suasana jalanan Manhattan yang sangat hidup. Ada taxi kuning yang suka berakrobat. Lalu pengantar pizza yang menyalip, meliuk kanan dan kiri sehingga membuat beberapa pengendara mengumpat. Memang tidak jauh berbeda dengan Jakarta. Hanya saja di sini banyak yang lebih memilih berjalan kaki untuk sekedar refreshing atau berolah raga. Yang pasti aku sekarang tidak berada di tempat yang aman karena emosi mbak Andrea yang seolah bisa memutar mobilnya untuk ditabrakkan ke mobil Ford.
"Seharusnya Ford nggak perlu nikahin kamu kalau ujung-ujungnya selingkuh! "
Mulailah deretan gerutuan yang tadi sempat berhenti.
"Mbak, sudah aku bilang kalau Ford itu cinta mati sama Cindy. Tapi dia nggak mau anaknya nggak ada status. Lagi pula aku sudah tau kalau cepat atau lambat hubungan kami akan berakhir."
Mbak Andrea bertambah kesal.
"Kamu masih saja belain dia. Kau dia niat nikahin kamu artinya dia harus melepaskan Cindy. Jangan kayak kucing yang nempel sana nempel sini donk. Kamu itu manusia, punya hati. "
Mbak Andrea begitu emosi padahal ceritaku cuma sebagian kebenarannya saja. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya jika tau Cindy yang merencanakan drama ini. Bisa saja mbak Andrea akan mengamuk atau bertengkar dengan Cindy ala emak-emak di negeri kami. Lalu jika Cindy terluka sedikitpun, maka dia akan dimanfaatkan Cindy untuk menekan Ford dan meminta hal yang mengerikan lagi. Jadi langkah aman yang harus aku lakukan adalah menyembunyikan separuh kebenaran dari mbak Andrea.
"Sudahlah mbak. Aku ikhlas kok. Lagi pula ada untungnya aku nikah sama Ford. Aku jadi bisa ke luar negeri dan kenal sama mbak. Apalagi aku cuma lulusan SMA, bisanya ke luar negeri kalau mau jadi TKW, hi hi hi, " ucapku sambil bercanda. Berharap mbak Andrea tidak emosi lagi.
"Nggak usah nutupi kesedihanmu, Swana. Mata kamu tuh nggak bisa bohong kalau sedang sedih. Jawab dengan jujur pertanyaan mbak. Kamu cinta kan sama Ford?"
Deg.
Bagaimana mungkin aku tidak mencintai pria yang membuatkan aku s**u, menyuapi aku makan dan memijit kakiku jika bengkak setiap hari. Hatiku tidak mungkin menolak suami sesempurna Ford sebelum tau jika semuanya palsu belaka. Aku terjatuh begitu dalam hingga berani mengambil 10 persen kesempatan untuk memenangkan hatinya.
"A...aku sayang sama dia mbak. Dia kan ayah anakku. Lagi pula Ford orangnya tanggung jawab, dia nggak kasar sama aku. Tiap pagi sering buatin s**u hamil. Dia benar-benar baik kok mbak. "
"Itu artinya kamu sudah jatuh cinta sama dia. Oh Swana, mbak nggak bisa ngomong apa-apa lagi. "
Mbak Andrea hanya menghela nafas. Mobilnya berhenti di depan gedung Apartemen Upper side yang memiliki dekorasi abad pertengahan. Mungkin saja arsiteknya ingin mengabadikan sejarah atau ingin membuat penghuninya merasakan bagaimana rasanya kemewahan kehidupan kerajaan abad pertengahan. Apapun itu, dia memang sukses membuat siapapun kagum.
"Hati-hati dengan kandunganmu, Swana. Jaga kesehatan dan emosimu. Kalau kamu berpisah dengan b******n itu, kamu bisa menghubungi mbak, Okey? " pesan mbak Andrea sebelum pergi. Dia mengelus perutku dan memberi pelukan sebentar sebelum aku turun dari mobil.
"Iya mbak. Terima kasih tumpangannya. "
Mobil mbak Andrea meluncur bersama puluhan mobil yang lewat di Upper side. Aku beruntung bertemu dengan mbak Andrea yang baik. Kini aku memiliki dua teman di Manhattan. Mbak Andrea dan Brandon. Mereka adalah anugerah yang harus aku syukuri. Seandainya saja aku memang tidak bisa mendapatkan Ford, setidaknya ada teman-teman yang berharga seperti mereka.
.
.
.
Sore hari aku mencoba Yoga yang aman buat ibu hamil dan membantu ketenangan pikiran. Aku memilih pakaian yoga berbahan katun yang menunjukkan perutku secara optimal. Sangat bulat, besar dan tidak seimbang dengan tubuhku yang kurus. Beruntung pinggulku besar sehingga aku tidak nampak seperti huruf b.
Drrrt.
Drrrt.
Sebuah telepon dan itu dari Brandon. Sangat mengejutkan. Pasti ada sesuatu yang membuatnya menelponku.
"Swana beri tahu penjaga pintu aku akan ke tempatmu. "
"Hah, kamu mau ke tempatku? Apa ada sesuatu yang gawat?" Brandon pria yang tidak mudah ditebak, tapi yang aku tau, dia akan bertindak mengejutkan kalau berhubungan dengan Ford.
"Hanya ngasih si bodoh itu pelajaran. Dia dan jalangnya sangat bodoh. "
Aku mendapat firasat yang kurang baik, tapi apapun itu--aku yakin Brandon melindungi dan menyayangiku sebagai sahabat. Sama seperti yang aku rasakan padanya. Dia pasti tau sesuatu sehingga tiba-tiba mampir ke sini.
"Okey. "
Aku menghubungi penjaga pintu di bawah agar mengijinkan Brandon naik ke lantai 20 di mana aku tinggal.
Jika dipikir-pikir, Brandon hanya resah jika Ford akan berbuat sesuatu yang tidak menguntungkan aku. Jadi bisa disimpulkan jika Cindy sedang berniat melakukan hal yang licik untuk menekan Ford menyakiti perasaanku. Lalu Brandon datang ke sini untuk menghentikannya.
Ceklek.
Pintu terbuka, aku sempat menoleh karena mengira jika itu Brandon. Ternyata aku salah. Yang muncul dari balik pintu itu adalah Ford dan Cindy. Mereka berpegangan tangan di hadapanku.
"Kalian kenapa... ? "
Perutku serasa melilit melihat kedua orang itu. Mereka memang terlihat sempurna saat berdiri bersama. Meski aku sudah lama mempersiapkan hari ini, tetap saja terasa menyakitkan. Terutama Cindy yang memamerkan senyum kemenangan dan pandangan menyesal Ford terhadapku.
Cindy mulai bicara, "Swana, kami tidak berniat kejam sama kamu. Tapi gimana lagi, aku dan Ford sudah nggak mungkin terpisahkan. Maafkan kami. "
Kakiku hampir tidak bisa menahan berat tubuhku. Semua terlihat putih di mataku.
Ceklek.
Tak lama kemudian, Brandon turut menyerbu ke dalam. Dia memamerkan senyum lebarnya yang aneh. Pasti karena dia tau apa yang Cindy dan Ford akan lakukan. Tetap saja senyumnya terlihat seksi.
"Swana, my lovely angel. Aku berkunjung dan bawain kamu s**u ibu hamil nih. " Dia mengangkat tangannya memamerkan sebotol s**u dan buah-buahan, terlihat mengabaikan kedua orang di depanku.
"Brandon... itu. " Aku bingung bagaimana menghentikan pria hiperaktif ini.
Cindy dan Ford terlihat bingung. Jelas mereka tidak mempersiapkan kedatangan Brandon yang mendadak. Aku sendiri juga terkejut dengan kedatangannya.
"Apa yang kamu lakukan di rumahku, Brandon?" Ford bertanya dengan nada dingin, membuat atmosfer nampak turun beberapa derajat. Dia sangat terganggu dengan kedatangan saingannya.
"Apa lagi? Berkunjung ke ibu hamil yang cantik ini. Eh? Tunggu dulu. Cindy, kamu nggak minta sumbangankan. Kenapa datang ke sini? "
"Itu...aku dan Ford--- "
"Kami akan bilang ke Swana jika ada pekerjaan di Swiss. Dia terpilih menjadi model produk baru yang aku luncurkan, " Ford memotong ucapan Cindy demi menjaga image-nya.
"Selamat Cindy, dan Swana---kenapa kamu nggak duduk. Nggak baik berdiri lama-lama buat ibu hamil. " Aku menuruti Brandon. Jiwaku memang sudah terbang bersama pengakuan dari Cindy. Aku duduk di sofa tanpa mendengar apa yang mereka bicarakan.
" Ya ampun Swana kamu pucat sekali, tunggu sebentar kamu harus minum s**u yang aku bawa... "
Brandon menerobos ke apartemen menuju dapur untuk mengambil gelas. Tindakannya mendapatkan protes dari Ford.
"Jangan seenaknya berkeliaran di rumahku, Brandon. "
"Hei, apa kamu nggak lihat kalau Swana pucat! Sebagai suami seharusnya kamu lebih perhatian donk. Apa kamu mau ada apa-apa sama bayinya, kamu mau bayinya lahir sekarang?! Usianya masih tujuh bulan, Man... " jawab Brandon dengan lantang.
Sudah kuduga jika pria ini adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Dia menggerakkan Ford ke arahku. Raut wajah Ford sangat berbeda dari kedatangannya.
''Swana, apa kamu baik-baik saja?"
"Panggil dokter bodoh!" seru Brandon. "Apa kamu nggak lihat kalau dia sudah pucat? "dengus Brandon. "Dan kamu Cindy, pergilah. Kamu nggak diperlukan di sini. "
"Eh, enak saja ngusir aku. Ini rumah Ford---"
"Kamu pulang dulu, Cindy. Ruben akan mengantarmu."
"Hush. Hush. "
Cindy menghentakkan kakinya dan keluar.
Ford kemudian menuruti ucapan Brandon. Dia memanggil dokter kandungan yang biasa kemarin memeriksaku. Dia semakin merasa bersalah.
Dokter datang tak lama kemudian. Dia segera memeriksaku lalu memberi obati.
"Si ibu sedang terkejut sehingga mengalami kontraksi. Jadi jangan buat si ibu banyak pikiran. "
Ford nampak terkejut dan dokter kemudian menuju ke arah ruang tamu. Aku tidak tau apa yang mereka bicarakan, tapi aku harus menenangkan pikiranku. Rupanya Cindy sudah sangat agresif dan aku sekarang tinggal memiliki 5 persen harapan.
Selain itu aku memiliki teman yang tidak boleh aku buat cemas. Hampir saja aku bertindak bodoh dan menyakiti bayiku.
"Brandon, aku baik-baik saja. Maafkan aku sudah ngerepotin kamu."
Brandong menunduk dengan lutut yang menjadi tumpuan. Terlihat jika dia mengasihaniku. "Hei, pertemanan nggak kenal kata terima kasih."
Aku terkekeh. Perasaan tertekanku yang tadi sudah berhasil aku lepaskan.
'Apa yang menjadi jodohmu akan tetap menjadi milikmu, tapi apa yang bukan menjadi jodohmu tidak akan menjadi milikmu. '
Ford datang dan terlihat gusar. Dia terlihat frustasi dan aku merasa kasihan padanya. Dia adalah korban rencana Cindy. Ford adalah alat yang Cindy gunakan meskipun itu juga tidak menghapus dosanya.
"Maafkan aku Swana. " Ford berlutut di depanku. Dia menunduk seolah hampir menangis. Itu membuatku turut merasakan ketidakberdayaannya karena cinta. Rasa cintanya terhadap ibunya membuat ia menderita seperti ini.
Brandon berdiri dari duduknya. Dia pamit padaku. "Swana, aku pamit pulang. Jaga dirimu baik-baik. Dan Ford, kalau kamu mau ke Swiss--aku bersedia menjaga is-tri-mu dengan sangat baik. "
"Terima kasih Brandon. Terima kasih banyak. "
Sudah waktunya berhenti berpura-pura tidak mengetahui hubungan mereka. Dengan kesempatan yang 5 persen itu, aku tidak bisa memperjuangkannya.
"Ford, kita memang perlu bicara. "
Ford mengangguk. Dia nampak seperti pria yang hendak dijatuhi hukuman mati. Tapi memang sudah saatnya mengakhiri ini.
"Maafkan aku Swana. Maaf. "
Tbc.