Chapter 22

1207 Words

Angin berhembus menerbangkan daun-daun di tanah kering itu. Seorang wanita bergaun hitam sepanjang lutut dan bermotif bunga ester, berdiri menatap gundukan tanah berselimut rumput yang terpangkas rapi. Yolanda bersimpuh di samping pusara tersebut menuangkan air mawar yang ia bawa dan menaburkan kelopak bunga mawar merah dan putih diatasnya. Tangannya terulur mengusap dengan lembut nama yang tertera di sana. “Dimas apa kabar?” Ya, Yolanda sedang mengunjungi pusara adik bungsunya. Adik kesayangannya, Dimas Suparjo. “Dimas, tahu nggak. Mbak udah menemukan mantan pacarmu lho, wanita yang selingkuh di belakangmu dan membuat kamu meninggalkan kami semua.” Nada suara Yolanda serak, terdengar tarikan nafasnya yang semakin berat. Dadanya diliputi oleh amarah ketika mengingat apa yang dikatakan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD