Chapter 1
Begitu kaki berpijak kedalam rumah, suatu pemandangan yang kerap dilihatnya pun kini tampak didepan matanya, saat terdengar suara perdebatan keras antara kedua orangtuanya di ruang tengah, begitu nyaring hingga terdengar di ruang tamu.
Perlahan dia berpijak semakin kedalam hendak memperjelas perbincangan apa yang sedang mereka debatkan itu.
"Pokoknya aku minta kita cerai!" Begitulah kalimat yang dia dengarkan dari mulut sang ibu, lantas disusul suara tamparan keras.
Plak! Plak!
Diiringi seruan suara seorang lelaki "Bedeb'h Kau!" Dialah sang ayah, yang sedang menampar keras pipi sang ibu.
Lantas Reynard semakin melangkah mendekat, melepaskan tas penampung buku dari badannya kemudian dia lemparkan ke arah kedua orangtuanya itu.
Brrakk!
Melirik muram tak ayal membuat perhatian kedua orangtua mengarah padanya.
"Re-Reynard ..." Lirih sang ibu tampak deraian air mata dipipinya. Tapi, tak ada satu kalimatpun jawaban dari Reynard, melangkah menuju kamarnya dan menutup pintu sekuat-kuatnya.
Brraak!
"Reynard!" Teriak ayahnya-emosi kerapkali melihat kelakuan Reynard demikian.
Menoleh pada sang istri, "Lihat itu kelakuaan anak yang kau besarkan, Sangat tak mencerminkan menjadi manusia yang baik! macam mana kau didik hah!" Teriak sang suami.
"Kenapa pula kau bilang seperti itu! itupun anak kau, Kau itulah yang tak becus jadi ayah mendidik anak laki-laki, Mikir lah kau!" Jawab sang Istri.
Mereka kerapkali berseteru lantaran pernikahan yang mereka bina dari awal memang sudah tidak sehat, bahkan selama sang istri mengandung mereka sudah sering berdebat seperti ini. Selama 18 tahun lamanya, mereka sering pisah ranjang. Hanya adanya Reynard-lah yang membuat rumahtangga mereka mampu bertahan hingga kini meski keadaannya selalu bertengkar seperti ini.
Sejak Reynard tumbuh usia 10 tahun dia sering di tinggal sendiri di rumah itu, kedua orangtuanya hidup masing-masing. Istilah siang sang ibu di rumah lantas sorenya pulang ke rumah orangtuanya sementara malamnya ayahnya pulang lantas paginya pergi lagi. Begitulah setiap hari pemandangan yang Reynard Lihat hingga menumbuhkan sikap dan prilaku yang seperti ini.
Semasih perseteruan berlangsung, Reynard sudah selesai berganti pakaian lantas dia keluar kemudian melangkah menuju ke pintu keluar.
"Mau kemana kau Rey!" Teriak sang ayah.
"Bukan urusan papa, urus saja urusan kalian itu, tak usah urusin aku!" Jawabnya.
"Aeh nada bicara apa pula kau itu, dasar anak babi kau!" Pekik sang ayah.
Reynard lekas menoleh, "Kalau papa bilang aku anak babi, kau itu yang bapaknya babi!" Jawab si Reynard melotot tajam.
"Reynard!" Teriak ayah-nya.
"Apa hah, apa!" Reynard menantang. Lantas sang ibu berteriak, "Sudah cukup, hentikan!"
Reynard semakin menatap tajam ke arah sang ayah kemudian mengatakan "Urus aja itu istrimu" Kemudian menoleh ke arah sang ibu "Dan urus saja itu suamimu, tak usah ngurusin aku!"
Kedua orangtuanya melotot tajam kemudian teriak serempak, "Reynard! jaga mulut kau!"
"Apa hah apa? Kalau tak becus urus rumahtangga ngapain pula repot-repot menikah?"
"Tutup kau punya mulut itu, makin lancang Nihan kau cakap! mau jadi anak durhaka rupanya kau Rey!" Pekik sang ayah.
"Mau ngatain aku anak durhaka? atau anak Babi pun, silahkan aja Pa." Kesal, Beranjak pergi sembari menggedor lemari di sampingnya.
Brrak!
"Reynard!"
Sang ayah melirik tajam pada sang ibu, "Itu semua karena kau! Lihatlah anak kau tumbuh besar jadi manusia brengs'k!"
"Apa pula mulut kau bilang, Aeeeh itu semua Karna kau yang brengs'k! dia meniru kelakuan brengs'k yang kau punya ngerti tak!" Balas sang istri.
"Oh ... Okay! Sekarang juga kan ku urus semua surat perceraian kita! Tak sudi aku melihat kau dan anak kau itu!" Ucap sang suami.
"Siapa peduli? Aku pun tak sudi melihat kau beserta anak kau yang tak dapat diatur itu, muak aku kalian buat! serasa mau pecah dengar mulut kelean orang cakap!" Balas sang istri.
__
Selepas Reynard keluar dari rumahnya, dia memacu kencang kendaraannya menuju ke rumah sahabatnya, meski mulut dia setajam pedang semasih berbincang dengan kedua orangtuanya tadi, tak dipungkiri sebenarnya hatinya terasa bagai tersayat-sayat seribu badik.
"Kenapa ... kenapa seperti ini, kenapa!" Tak hentinya dia bergumam semasih berkendara hingga nyaris terjadi kecelakaan maut akibat tak terlampau fokus berkendara.
Beruntung, Tuhan masih menyertainya, hingga akhirnya selamat sampai tiba di rumah sang sahabatnya.
Tepat pukul 14:30 pm.
Jrug! Jrug! Jrug!
Dia hentikan kendaraannya tepat di parkiran, lekas ia matikan kemudian turun-beranjak ke kamar sang sahabat yang terletak di lantai dua sembari membawa tentengan ditangannya berupa cemilan yang sempat dia beli di jalan.
Selepas tiba tepat didepan pintu, dia masih berdiri sembari merogoh kantong mencari keberadaan kunci kamarnya, lantaran sang sahabat memang memberikannya kunci serep dan mempersilahkannya datang pada waktu apapun.
Sesudah kunci dia temukan, lekas dia buka pintu itu.
Lantas ...
"Nah"
Sedikit terheran mendapati pintu tak di kunci, beranjak masuk. Nampaklah sang sahabat sedang terbaring di atas ranjang.
"Gak kerja loe Ken, tumben amat jam segini molor?" Ucapnya perlahan masuk.
"Lepas dulu sepatumu itu Rey, kebiasaan!" Ucap sang teman bernama Kenzie tampa menolehnya, lantaran paham Reynard biasanya main nyelonong masuk tanpa melepaskan sepatu dulu.
"Siap Bos" Reynard lepaskan sepatu sejenak, kemudian mendekat.
"Loe ngapa kagak kerja?" Ulangnya menaruh tentengan yang dia bawa di atas meja kemudian duduk di atas ranjang tepat di bagian kaki si Kenzie.
Tiba-tiba si Kenzie teriak begitu Reynard duduk, "Arrgghh! Arrgghh! Geser jangan loe dudukin kaki gua k*****t!"
"Hilih lebay loe!" Lirik Reynard.
"Sakit sue!" Jawab si Kenzie.
"Makan noh gua beli cemilan di jalan tadi"
Kenzie sebatas mengangguk.
"Wei tumben amat muka loe di tekuk-tekuk. Ada problem kah?"
"Pusing gua Rey" Jawab dia tak ayal membuat ekpresi Reynard penuh tanda tanya begitu menyadari tampang Kenzie tampak berubah.
"Ada apaan? dan ... daritadi ngapa nomor loe kagak bisa-bisa gua hubungi?" Tanya Reynard.
"Gua udah dipecat dari pabrik." Jelas Kenzie.
"Nah, Kok bisa Begitu?" si Reynard mengangkat satu alisnya, penasaran.
"Biasalah orang-orang iri tanda tak mampu" Lanjut Kenzie mengartikannya tentang ada sebuah Fitnah dengan karyawan lain tak ayal membuat Reynard kian mengerti apa maksudnya.
"Parah. Yaudah loe makan dulu tuh cemilan keburu dingin udah kagak enak lagi."
"Bawain sini" Pinta Kenzie
"Cih, ambil aja ndiri males amat lu"
"Ambilin gih, kaki gua rasanya linu, cenat-cenut."
"Dih, ogah. Ambil aja sendiri manja lu" Reynard kukuh pendirian lantas si Kenzie langsung membuka selimut penutup kakinya itu-memperlihatkannya.
Seet!
Sontak Reynard terkejut begitu melihatnya "Astaga, Ken. Loe kenapa? Kenapa bisa begini sih" terdapat luka gores cukup dalam.
"Jatuh dari motor tadi pagi" Jawab Kenzie.
"Apa! Ya Tuhan ... Kok loe kagak ngabarin gua, nomor loe daritadi ngapa gak bisa gua hubungi juga, kenapa sik!" Reynard tampak sangat khawatir.
"Udah gua jual langsung buat nebus obat tadi, sisanya buat bayar tagihan listrik." Jelas Kenzie.
"Ya Ampun Setidaknya loe ngomong kek sama gua, bukan malah diem aja begini! lalu ... loe dah minum obatnya?" Menoleh ke arah plastik berisikan obat di atas meja.
"Udah tadi. Eh Rey," Panggilnya.
"Hum, apa?"
"Loe copot ngapa masker loe. Udah kayak teroris tingkat akut aja loe." Pinta Kenzie.
"Oh ya, gua lupa. Hehe eh, emang teroris ada tingkatannya ya?"
"Kagak tau,"
"Hilih"
Begitu dia lepaskan masker itu, seperti biasa si Kenzie tak henti melihat parasnya lekas si Reynard meniup wajahnya
Fuuuhhh!
"Udah ngeliatinnya, kagak bosen apa?" Candanya.
"Cih, kepedean loe. Oh ya mana?"
"Mana apanya?" Reynard sok bingung.
"Cemilannya sue! Ambilin gua mau makan"
"Oh, iye-iye bayi kawak!" Cetus Reynard.
"Bayi kawak pala loe botak!"
"Pala gua emang botak, Ken" Balas Reynard sembari memberikan cemilan itu "Noh makan."
"Pala yang mane?" Canda Kenzie menilik ke bagian bawah.
"Menurut loe pala yang mane?" Balas Reynard. Alhasil keduanya saling bertatap mata, kemudian saling tawa serempak.
"Hahahaha otak Bangke!"
Bersambung
__
Catatan pengarang:
Jika ada pertanyaan dalam diri kalian tentang Penggunaan logat bahasa yang bercampur-campur bisa saya jelaskan. Cerita ini penggambaran lokasinya berada di Negri Kita Indonesia yang memiliki beragam bahasa, Seumpama di Jakarta tentunya tidak hanya di huni oleh orang betawi saja.
Tetapi, untuk nama-nama kota dsbg saya sengajakan tidak disebut secara langsung. So ... Bila tertarik jangan lupa Tap Love ya ... Terima kasih.