Pesan dari Kaisar Rhaegar akhirnya sampai di Kerajaan Rhys, dan kini seorang prajurit kerajaan suruhan panglima Thorn dari Kerajaan Tsarka sedang berada di ruang rapat Kerajaan Rhys. Semua orang yang ada disana terkejut sekaligus bingung. Sebelumnya Kaisar Rhaegar tidak pernah berkomunikasi dengan Kerajaan mereka, ditambah kedua kerajaan ini tidak begitu akur.
Kerajaan Rhys adalah Kerajaan yang kecil dan wilayah kekuasaannya tergolong sempit. Namun keadaan Kerajaannya sangat damai dan penduduknya sangat menghormati Rajanya.
Semua keluarga Kerajaan dan para petinggi kerajaan berkumpul disana.
"Ada perlu apa Anda kemari?" tanya Raja Sameer pada prajurit suruhan Thorn.
"Saya datang kemari ingin menyampaikan pesan dari Yang Mulia Kaisar Rhaegar," ujar prajurit tersebut.
"Apa yang Kaisar Rhaegar sampaikan?" tanya Raja Sameer.
Prajurit itu membuka pesan dan membacanya dengan suara lantang.
"Aku Kaisar Rhaegar, memberikan penawaran kepada Raja Sameer untuk melakukan perdamaian dan kerja sama, dengan memberikan pernyataan bahwa kerajaan Rhys berada dibawah pemerintahanku, Kaisar Rhaegar. Peperangan akan terjadi jika Raja Sameer menolak penawaranku. Jika dalam perang tersebut Raja Sameer kalah, maka Kerajaan Rhys akan menjadi wilayahku dan Aku Kaisar Rhaegar akan menikahi Putri Raja Sameer, Putri Gianetta."
Seketika orang yang ada disana terlonjak kaget mendengar isi pesan itu. Termasuk putri Gianetta.
"Demikian pesan yang disampaikan Yang Mulia Kaisar Rhaegar sa- "
"Tidak ada yang kami untungkan, kami dirugikan disini. Jangan mengarang cerita, kau bisa mati!!"
Perkataan prajurit itu langsung dipotong oleh salah satu petinggi kerajaan yang sudah naik darah disana seraya mengarahkan pedangnya ke leher prajurit itu.
"Dia hanya menjalankan perintahnya menyampaikan pesan itu, panglima Braman," ujar Raja Sameer seraya mengangkat tangan kanannya memberikan isyarat untuk diam.
"Maaf, Yang Mulia," ujar petinggi kerajaan yang bernama Braman tersebut seraya menundukkan kepalanya.
"Yang Mulia Kaisar Rhaegar memberikan waktu pada Anda sampai besok, Yang Mulia," ujar prajurit pembawa pesan memberitahu.
"Aku mengerti. Kau boleh pergi sekarang," ujar Raja Sameer datar.
***
"Kau sudah melakukannya ?" tanya Kaisar Rhaegar pada Panglima Thorn.
"Sudah, Yang Mulia. Aku sudah mengirim prajurit ke Kerajaan Rhys," ujar Thorn yang hanya diangguki oleh Rhaegar.
"Ampun Yang Mulia. Aku ingin berbicara denganMu sebagai sahabat lamaku," ujar Thorn ragu.
"Apa yang ingin kau katakan."
Thorn terdiam sejenak, menatap lekat Rhaegar.
"Sebenarnya, apa yang membuatMu ingin menikahi putri Gianetta ?"
Rhaegar terdiam, tidak menanggapi pertanyaan Thorn.
"Apakah kau akan menikahinya hanya karna ingin menambah kekuatanmu atau karna kau menyukainya ?"
Setelah lama terdian, Rhaegar akhirnya bersuara.
"Aku sudah mengatakannya kemarin, Thorn."
"Ya, kau memang sudah mengatakannya. Tapi aku masih belum puas dengan jawabanmu. Katakan dengan jujur padaku. Kita sudah bersahabat sejak kecil. Jangan menutupi sesuatu dariku, Rhaegar."
"Aku berkata benar, Thorn."
"Kau yakin ?"
"Kau pikir aku menyukainya ?? Aku akan membawanya ke neraka," ujar Rhaegar seraya menyeringai.
"Apa maksudmu ? Apa kau pernah bertemu langsung dengannya ??"
"Tidak."
"Lalu bagaimana kau bisa yakin tidak akan menyukainya ?"
"Kita lihat saja nanti," ujarnya seraya menyeringai.
"Apa kau tertarik untuk menemuinya ? Kita bisa pergi malam ini juga jika kau mau."
"Kita lihat saja besok."
Thorn hanya bisa mendengus kesal dengan jawaban yang diberikan Rhaegar.
"Sungguh menyebalkan," batin Thorn.
"Terserah padamu, kau lebih menyebalkan," ujar Rhaegar yang sepertinya tau isi hati Thorn.
Untuk yang kedua kalinya Thorn hanya bisa mendengus kesal. Sungguh!
***
-Kerajaan Rhys
"Ayah, aku tidak mau menikah dengannya. Dia sangat kejam Ayah."
Setelah kedatangan prajurit membawa pesan itu, Raja Sameer pergi ke ruang kerjanya dan diikuti oleh putri Gianetta.
"Ayah tau, nak. Ayah juga tidak akan mau berhubungan dengan Raja kejam itu. Dia hanya akan mengambil keuntungannya sendiri."
"Tapi ayah, itu berarti kita akan berperang. Mereka sangat kuat, bagaimana jika ki- "
"Kita akan menang, Gianetta. Percayalah pada Ayah. Sekarang ayah harus bekerja memikirkan strategi peperangan. Kau istrahatlah, jangan pikirkan ini. Biarkan ayah yang akan mengurusnya."
"Tapi ayah, aku tidak ma- "
"Gianetta!" potong Raja Sameer dengan sedikit meninggikan nada suaranya.
Gianetta tahu bahwa ayahnya sedang menahan amarah, oleh karena itu ia memilih untuk menuruti perkataan ayahnya.
***
-Kerajaan Tsarka
Hari ini Kaisar Rhaegar sedang berlatih pedang di halaman belakang kerajaan dengan hanya bertarung melawan Thorn. Biasanya Ia akan berlatih dengan bertarung melawan Thorn dan Layer. Tetapi berhubung Layer sedang ditugaskannya untuk pergi ke wilayah Barat karena ada sedikit gangguan disana, maka lawannya bertarung saat ini adalah Thorn.
Prangg.. Shinggg..
Begitulah suara gesekan pedang mereka.
"Hah..Keluarkan semua kekuatanmu Thorn. Kau sungguh lemah!"
Thorn tidak menyahuti perkataan Rhaegar, ia tetap fokus pada pertarungan. Hingga akhirnya pedang Thorn terlempar karena serangan Rhaegar.
"Kau sudah sangat mahir menggunakan semua senjata. Kau tidak perlu lagi latihan, itu hanya akan melelahkanku saja. Kau tau itu!" ujar Thorn dengan deru nafas yang tidak teratur.
"Itu juga untuk melatihmu, kau tau itu! Dasar lemah."
Mereka memilih duduk beristirahat dibawah pohon.
"Hei Rhaegar! Kau sungguh tidak tertarik melihat putri Gianetta? Dia sungguh cantik," ujar Thorn.
"Aku tidak suka wanita," sahut Rhaegar datar dengan memejamkan matanya dan bersandar dibatang pohon.
"Aku sungguh tidak mengerti denganmu."
"Apa malam ini kau ada pekerjaan?" tanya Thorn
"Tidak, ada apa?" jawab Rhaegar masih dengan posisi yang sama.
"Kita akan pergi ke Kerajaan Rhys."
"Untuk apa!? Aku tidak memerintahkanmu kesana!"
"Untuk melihat putri Gianetta. Aku tau dimana letak kamarnya, kau harus melihatnya. Malam nanti kita kesana, saat dia sudah tidur. Bersiaplah kawan!" Setelah mengucapkannya, Thorn pergi meninggalkan Rhaegar tanpa persetujuan dan tanpa permisi padanya. Melupakan sikap formalnya pada Kaisarnya.
***
Malam ini Rhaegar menuruti perkataan Thorn. Entah apa yang mendorongnya untuk mengikuti perkataan sahabatnya yang menyebalkan ini.
Mereka memakai jubah hitam yang memiliki penutup kepala dibagian belakangnya dan memakai penutup wajah hingga hanya mata merekalah yang terlihat.
Saat ini tepat di tengah malam, mereka memasuki wilayah kerajaan Rhys. Tidak perlu bersusah payah dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mereka sampai di kamar putri Gianetta. Rhaegar adalah Kaisar Kegelapan yang mempunya kekuatan besar, Ia bisa dengan mudah menyamarkan auranya dan melakukan teleportasi ke kamar putri Gianetta walaupun kamarnya berada ditempat yang tinggi. Hanya dengan memberikan mantra dan sentuhan kepada Thorn, maka Thorn juga dapat melakukan teleportasi ke kerajaan Rhys .
Dikamar yang minim cahaya inilah mereka berada dan menangkap sosok putri Gianetta yang sedang tertidur.
"Kau lihat Rhaegar. Yang sedang tertidur itu adalah putri Gianetta. Mendekatlah ke ranjangnya dan lihatlah baik baik wajahnya. Aku akan tetap disini," ujar Thorn pelan agar tidak membangunkan putri Gianetta. Sekarang mereka berdiri di dekat jendela kamar yang menghadap ke arah Barat.
Rhaegar tetap diam ditempatnya tanpa berniat bergerak. Tidak ada yang tau apa yang tengah dipikirkannya saat ini.
"Rhaegar!" ujar Thorn mengingatkan.
Dengan langkah tegas Rhaegar berjalan kearah ranjang putri Gianetta. Saat sudah berada tepat didepannya, Rhaegar menatap putri Gianetta lekat-lekat. Posisi tidur yang terlentang dengan tangan kanan berada disamping kepalanya dan tangan kiri diatas perutnya. Perlahan tangan kanan Rhaegar bergerak ke arah wajah putri Gianetta, menempelkannya dan saat mengetahui tidak ada gerakan tanda putri Gianetta terganggu dan akan terbangun, Ia mulai mengelus lembut pipi putri Gianetta.
"Cantik," gumam Rhaegar.
Thorn yang memperhatikan itu tersenyum miring. Dia sudah menduga Kaisarnya ini akan mengakuinya.
Rhaegar tersenyum miring saat mengelus wajah putri Gianetta.
"Tapi sayangnya itu tidak akan mempengaruhiku. Bersiaplah sayang," batin Rhaegar.
Putri Gianetta merasakan wajahnya sedang disentuh dan refleks Ia melenguh dan perlahan membuka matanya. Samar samar ia melihat seseorang memakai jubah hitam dan penutup wajah sedang mengelus wajahnya. Hanya matanya yang terlihat namun sesaat kemudian ia kehilangan kesadarannya dan tertidur.
Rhaegar tersenyum miring, dia menggunakan kekuatannya untuk membuat gadis itu tertidur lagi.
"Tidurlah sayang," bisiknya pada putri Gianetta.
Rhaegar berjalan menjauhi ranjang putri Gianetta dan menuju Thorn.
"Bagaimana Kaisar?" tanya Thorn tersenyum miring.
Rhaegar hanya membalas pertanyaan Thorn dengan menampilkan senyum miringnya yang menyeramkan itu.
Setelah itu mereka meninggalkan kerajaan Rhys dan menuju kerajaan Tsarka.