Tepat tengah malam, dimana semua orang sedang tertidur. Didalam sebuah ruangan khusus yang tidak begitu luas dan kedap suara, ruangan yang hanya dapat dimasuki oleh orang-orang tertentu dan orang-orang kepercayaan. Tiga orang pria yang gagah, kuat dan berani itu sedang menyusun rencana dan membuat strategi yang sangat kuat.
Satu diantara mereka adalah pemimpin sekaligus Kaisar besar tampan yang sangat kejam dan dingin. Aura yang sangat gelap dan pekat yang terpancar darinya, akan membuat siapa saja yang memasuki ruangan itu ketakutan luar biasa.
Miniatur dan peta wilayah sebuah Kerajaan berada ditengah-tengah mereka, untuk memperkuat perkiraan strategi yang akan dilakukan.
"Kita akan mengepung kerajaan mereka dari segala arah Yang Mulia, dengan begitu mereka tidak akan bisa melarikan diri. Dan akan dengan mudah bagi kita untuk masuk ke kerajaan itu dan membunuh Raja mereka, sehingga mereka akan tunduk pada Yang Mulia Kaisar seorang," tegas Thorn meyakinkan seraya menunjukkan bagian miniatur kerajaan yang dimaksudnya.
"Waktu yang paling tepat untuk menyerang adalah saat tengah malam Yang Mulia. Dimana para penghuni Kerajaan tengah tertidur. Kita akan memerintahkan mata-mata kita untuk mengawasi mereka sebelum penyerangan," jelas Layer menyahuti perkataan Thorn.
"Itu sungguh membosankan. Biarkan mereka merasakan siksaan dan mati secara perlahan." Pemilik suara bass tegas dan tampan itu akhirnya bersuara setelah sekian lama terdiam.
"Aku bukan Kaisar Rhaegar yang akan membiarkan mangsaku tidak merasakan siksaan," lanjutnya lagi seraya melipatkan tangannya didepan d**a dengan wajah dinginnya.
"Jika Yang Mulia menginginkan itu, kami akan membantai dan menyiksa mereka dahulu sampai mereka memohon untuk dibunuh daripada harus disiksa," tegas Layer meyakinkan.
"Lakukan. Bawa para gadis dan pelayannya, serta pemuda kerajaan itu, jadikan mereka pelayan dan prajurit disini. Dan ah ya, kudengar Rajanya memiliki putri yang sangat cantik, apa itu benar?"
"Itu benar Yang Mulia. Dia memang rupawan, banyak para pangeran dari berbagai kerajaan berlomba-lomba untuk menarik perhatiannya. Dan kurasa saat Yang Mulia melihatnya, mungkin Yang Mulia akan tertarik padanya," ujar Thorn.
" Huh, apa kau serius mengatakannya, Panglima Thorn ? Aku jadi ingin tahu seperti apa rupa gadis itu. Kalau begitu segera perlihatkan gadis itu padaku. Aku mempunyai rencana lain," ujarnya seraya tersenyum miring, menambah kesan bahwa dia memang seorang yang kejam.
****
Sosok yang begitu ditakuti dihampir seluruh negeri itu sedang berjalan dengan langkah tegas kearah mimbar pertemuan diikuti oleh para prajurit dibelakangnya. Semua orang yang ada di ruang rapat tersebut langsung berdiri sebagai tanda penghormatan, mengetahui sang Kaisar sudah memasuki ruangan.
Para Menteri, Panglima dan orang-orang kerajaan berkumpul disana. Sang Kaisar Rhaegar duduk di singgasana, kursi kebesarannya. Serta Panglima kepercayaannya Thorn dan Layer duduk paling depan disebelah kirinya dan diikuti oleh para menteri disebelah kiri dan kanannya.
Kaisar Rhaegar memberikan isyarat agar mereka semua duduk seperti semula.
"Disini, aku sebagai Kaisar Rhaegar ingin menyampaikan keputusanku kepada kalian semua," ujarnya tegas dengan suara lantang memulai pembicaraan.
Semua orang yang ada disana mengerutkan kening, bingung dengan perkataan Kaisar mereka. Keputusan ?? Sebelumnya Kaisar mereka ini belum mendiskusikan apapun. Kebingungan mereka bertambah saat sang Kaisar memerintahkan Juru tulis kerajaan menuliskan apa yang dia ucapkan dan memberikan stempel kerajaan diakhir pesannya.
"Aku Kaisar Rhaegar, memberikan penawaran kepada Raja Sameer untuk melakukan perdamaian dan kerja sama, dengan memberikan pernyataan bahwa kerajaan Rhys berada dibawah pemerintahanku, Kaisar Rhaegar. Peperangan akan terjadi jika Raja Sameer menolak penawaranku. Jika dalam perang tersebut Raja Sameer kalah, maka Kerajaan Rhys akan berada dalam kuasaku dan ku Kaisar Rhaegar ... akan menikahi Putri Raja Sameer, Putri Gianetta."
Semua orang yang ada disana terkejut bukan main, termasuk Panglima Thorn dan Layer. Perdamaian? Kerja sama? Perang? Putri Gianetta?? Semua itu adalah pertanyaan besar yang ada dalam benak semua orang saat itu.
Suasana menjadi ricuh, semua orang saling bertanya akan keputusan ini. Kaisar Rhaegar yang mengetahui hal itu tidak berniat memperjelas keputusannya, sampai salah satu Menteri sekaligus penasehat tertua kerajaan menanyakan hal yang mengganjal dihatinya.
"Ampun Yang Mulia. Tetapi, mengapa Yang Mulia secara mendadak mengambil keputusan ini?" tanyanya seraya membungkukkan sedikit kepalanya sebagai tanda hormatnya.
"Ini bukan mendadak Perdana Menteri Mahathir. Aku sudah memikirkan ini jauh hari," tegasnya.
"Aku Kaisar Rhaegar ingin menguasai wilayah kerajaan Rhys. Kali ini aku tidak ingin berperang dengan memberikan dia penawaran. Jika dia menolak maka peperangan tidak dapat dielak," ucapnya lantang
"Ampun Yang Mulia. Tetapi, mengapa Yang Mulia ingin menikahi Putri Gianetta?" Menteri sekaligus Penasehat kerajaan yang sudah tua namun masih tetap kuat itu kembali bertanya.
Saat pertanyaan itu terlontar, Kaisar Rhaegar menampilkan senyum miringnya, membuat semua orang yang ada disana bergidik ngeri.
"Apakah kalian tidak ingin memiliki Ratu ??"
Semua orang yang ada disana diam seribu bahasa. Tidak berani dan tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Namun, karena tidak menanggapi perkataan sang Kaisar adalah perilaku yang tidak sopan, maka Menteri Mahathir yang merasa telah memulai pembahasan mengenai Putri Gianetta ini menjawab pertanyaan sang Kaisar.
"Ampun Yang Mulia. Kami selalu setuju atas keputusan Yang Mulia Kaisar."
Sejenak suasana menjadi hening, sampai Kaisar Rhaegar berkata.
"Aku ingin pesan ini sampai di Kerajaan Rhys. Pastikan Raja Sameer mendengarnya. Besok aku ingin mendengar keputusannya."
Setelah mengatakan itu, Kaisar Rhaegar meninggalkan ruang rapat tersebut, dan semua orang yang ada disana kembali berdiri dan memberikan penghormatan.
***
Diruangan yang sama dimana malam itu mereka merencanakan strategi penyerangan, dimana hanya orang tertentu yang dapat memasukinya.
"Ampun Yang Mulia. Tetapi, mengapa Yang Mulia mengambil keputusan itu ?? Ini tidak seperti rencana awal kita Yang Mulia," ujar Layer pada sang Kaisar yang sedari tadi hanya duduk diam dikursi kerjanya.
"...."
"Aku sungguh tidak mengerti Yang Mulia." Thorn menyahuti perkataan Layer.
"Aku sudah katakan bahwa aku ingin menguasai kerajaan itu. Kalian tahu kerajaan itu sangat damai dan penduduknya yang pekerja keras," ujar Kaisar itu santai namun tegas.
"Bukan itu Yang Mulia. Yang menjadi pertanyaan besar bagiku, mengapa Yang Mulia ingin menikahi Putri Gianetta ??" Pertanyaan yang Thorn lontarkan lagi-lagi membuat Rhaegar tersenyum miring ditambah tatapan matanya yang tajam, sukses membuat Thorn dan Layer merinding. Siapa yang tidak akan takut dengan penguasa kegelapan ??
"Apa itu begitu penting bagi kalian ??" Suasana dalam ruangan itu berubah menjadi lebih mencekam.
"Ampun Yang Mulia. Namun sebagai Panglima kepercayaan Yang Mulia, kami ingin membantu Yang Mulia melancarkan rencana," ujar Thorn. Sebenarnya dia jadi takut dan ragu melihat perubahan sikap Rhaegar, tetapi segera dia tepis.
Rhaegar menatap kedua Panglima itu bergantian sebelum berkata.
"Aku sengaja akan menikahinya karena dia akan menjadi alat. Dia adalah alat yang bagus." Rhaegar terkekeh dan kemudian menyeringai. Mengerikan!!
Kedua Panglima itu mengerutkan kening, tidak mengerti maksud perkataan sang Kaisar.
"Akan kujadikan dia alat agar Raja Sameer tunduk padaku. Dengan dia menikah denganku, maka otomatis kerajaan Rhys akan terikat denganku."
"Sekarang kami mengerti Yang Mulia. Kami akan selalu ada untuk Anda."