4. Menikah

1524 Words
Putri Gianetta tersadar dari pingsannya dan yang pertama kali ia lihat adalah ibu nya yang sedang menatapnya khawatir. "Syukurlah kau sudah sadar. Ibu sangat khawatir padamu," ucap Ratu Miraya dengan lembut seraya mengelus rambut Putri Gianetta. "Aku tidak apa-apa, Bu. Bagaimana keadaan ibu? Apa ibu terluka? Dimana ayah? Apa ayah dan kak Theur sudah pulang?" tanya Gianetta seraya mengubah posisinya menjadi duduk. "Ibu tidak apa-apa. Mereka sudah pulang, Nak. Sekarang kau harus makan. Kau pasti lapar,kan?" "Tidak sebelum ibu mengatakan apa yang sebenarnya terjadi? Siapa orang-orang jahat itu?" "Makanlah dulu Gianetta. Ibu pasti akan menceritakannya padamu. Ibu akan menyuapimu. Ayo sekarang buka mulutmu," ucap Ratu Miraya seraya mengarahkan sendok kemulut Gianetta namun buru-buru Gianetta menutup mulutnya dengan tangannya. "Tidak, Bu. Kumohon." Ratu Miraya menghela napasnya dan menatap putrinya sedih. Ia meletakkan piring makanan yang dipegangnya ke atas meja dekat ranjang putri Gianetta. "Gianetta... Ayahmu dan pasukan kita sudah kalah. Ayahmu dan Theur terluka parah, begitu juga dengan panglima dan prajurit lain. Kita sudah dibawah kekuasannya Nak. Dan ... dan besok, kau sudah harus menikah dengan Kaisar Rhaegar. Maafkan ayah dan Ibu tidak bisa berbuat apa-apa." Perkataan Ratu Miraya membuat d**a Gianetta sesak. Ia tidak bisa lagi membendung air matanya. Menatap sang ibu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ibu, kumohon jangan biarkan aku menikah dengannya. Dia Iblis! Ibu..." Gianetta menangis dipelukan ibunya seraya menggenggam kuat tangan ibunya. Tidak menyangka semua ini akan terjadi padanya. "Maafkan ibu, Gianetta. Ayah dan ibu tidak bisa berbuat apa-apa. Awalnya ayahmu dan Theur tidak setuju dan menolaknya, namun ia mengancam akan membunuh semua warga kerajaan kita termasuk ayah, ibu, Theur dan juga kau Gianetta. Ayah dan ibu tidak ingin hanya karna kesalahan kami semua orang terkena imbasnya. Tolong mengertilah nak," ucap Ratu Miraya seraya memeluk erat putri Gianetta. "Maafkan aku ibu. Aku tidak mau hanya karna aku kalian semua menderita. Jangan ibu. Aku janji, bu. Aku akan menikah dengannya asalkan kalian selamat," ucapnya menangis tersedu-sedu dipelukan ibunya. Ia tidak bersedia, mengapa berat sekali menerima kenyataan ini ? "Terimakasih Gianetta. Sekali lagi maafkan ibu." Ratu Miraya tak kuasa lagi menahan kesedihannya. Ia menangis, merasa bersalah karena membuat putrinya harus menikah dengan pria yang tidak dicintainya. *** Pagi ini suasana kerajaan Tsarka sangat ramai. Pernikahan akan segera digelar. Seluruh raja dari seluruh kerajaan diundang dan dijamu dengan sangat baik, mengingat saat ini adalah hari dimana peristiwa penting dan bersejarah. Kaisar besar akan menikah dengan Putri Gianetta. Setelah Ratu Miraya menceritakan semuanya pada Putri Gianetta, putri Gianetta langsung menemui ayahnya raja Sameer dan kakaknya Theur untuk saling berbicara dan tak lupa tangisan juga menemani mereka. Pernikahan secepat ini adalah perintah Rhaegar dan tidak bisa dibantah. Gianetta hanya bisa pasrah menerima nasibnya. Tetua sudah memulai acaranya dan kedua mempelai diperkenankan mengucapkan janji. Tetua itu berbisik pada Gianetta, memerintahkannya agar segera menggumamkan sebuah mantra pernikahan pasangan iblis. Gadis itu ragu, ia ingin sekali menangis. Sebelum acara ini dimulai, orang-orang itu selalu memaksanya untuk mengingat mantra aneh ini. Setelah pengucapan mantra itu, tibalah saatnya memberikan cincin pernikahan kepada kedua mempelai. Rhaegar menatap Gianetta dengan mata tajamnya, entahlah Gianetta tidak tahu arti dari tatapan itu. Rhaegar menyematkan cincin emas pada jari manis putri Gianetta begitu juga dengan putri Gianetta, ia menyematkan cincin di jari Rhaegar. Ada rasa takut yang menyelimutinya saat mata mereka beradu. Setelah ritual yang panjang, acara pernikahan yang mewah itu selesai pada sore hari. Akhirnya Gianetta bisa meluapkan kesedihannya. Apa yang bisa ia lakukan selain menangis? Berat rasanya meninggalkan ayah, ibu, dan kakaknya yang sudah merawatnya. Meninggalkan Istana yang penuh dengan kenangan. Sungguh menyakitkan harus menikah dengan orang yang tidak dicintai dan mencintai diri kita sendiri. Dan hari ini, putri Gianetta telah resmi menjadi permaisuri Rhaegar sekaligus menjadi Ratu kerajaan Tsarka. *** Malam ini Gianetta tengah duduk didekat jendela besar yang ada dikamarnya. Kamarnya di kerajaan Tsarka! Karena sejak mereka resmi menikah, Gianetta diharuskan ikut dengan Rhaegar yang mana telah menjadi suaminya. Yang dapat dilakukannya sepanjang hari ini hanyalah menangis, termenung, dan kembali menangis. Ia memandang bulan purnama yang terlihat terang malam ini. Ia teringat akan ramalan seorang wanita tua beberapa hari lalu. Enam hari yang lalu Gianetta dan Adena pergi ke pasar kota untuk mencoba permainan yang ada disana dan sekedar berjalan-jalan. Ah, ia jadi merindukan Adena, sahabatnya yang selalu menemaninya. Saat sedang ingin pergi ketempat memanah, tak sengaja Adena melihat seorang wanita tua yang selalu melihat Gianetta. Awalnya ia tidak menghiraukannya, namun karena semua kegiatan mereka selalu diperhatikan oleh wanita tua itu, ia menjadi sedikit takut karena tatapan wanita tua itu yang menyeramkan menurutnya. Akhirnya Adena mengatakan hal yang mengganjal hatinya kepada Gianetta. Gianetta pun mengikuti arah tatapan Adena dan benar ia melihat wanita tua itu sedang menatap mereka. Setelah pertengkaran kecil, akhirnya mereka memberanikan diri mendekati wanita itu. "Maaf nyonya, saya melihat Anda selalu melihat teman saya Putri Gianetta. Anda tahu kan siapa dia ? Apa ada yang salah dengannya?" ucap adena hati-hati. Adena dan Gianetta saling menatap satu sama lain, bingung karena wanita itu hanya diam. "Nyonya?" tanya Adena lagi. Setelah lama terdiam, akhirnya wanita tua itu berbicara. "Ya, aku mengenalnya, sangat mengenalnya. Dia adalah Putri Gianetta putri dari Raja Sameer. Kau adalah pelayannya bukan? Aku hanya menerawang nasib dan takdirnya saja," ujar wanita tua itu. "Memangnya ada apa? Kenapa Anda menatap saya seperti itu?" tanya Gianetta "Kau ingin tahu, tuan putri?" Gianetta mengangguk sebagai jawaban. "Duduklah," ujar wanita tua itu. Adena dan Gianetta pun duduk karena sedari tadi mereka hanya berjongkok karena tempat wanita tua itu hanya beralaskan karpet saja. "Apakah kau bisa memperlihatkan telapak tanganmu padaku tuan putri?" Gianetta mengganguk dan memperlihatkan telapak tangannya pada wanita itu. Wanita tua itu meraba garis tangannya seraya memejamkan mata, kemudian beralih menatap matanya. "Aku melihat nasibmu, tuan putri. Tidak lama lagi perang besar akan terjadi. Kerajaan Rhys akan kalah dalam perang itu dan Kau akan menikah dengan seorang Kaisar besar, kaisar yang selalu ditakuti semua orang karena kekejamannya. Apapun yang terjadi kau tetap akan menikah dengannya. Dia adalah takdirmu. Namun aku iba kepadamu putri. Setelah itu kau akan mendapat siksaan. Aku bisa melihat penderitaanmu dikepalaku putri." "Siapa kaisar yang kau maksud?" tanya Gianetta. "Nanti Kau akan tahu putri." "Jangan membuat temanku takut nyonya. Jangan menakutinya dengan semua yang kau katakan! Yang mulia raja Sameer bahkan belum merencanakan pernikahan putri Gianetta," ucap Adena yang mulai muak dengan semua perkataan wanita itu. "Jaga bicaramu! Aku hanya mengatakan apa yang kulihat! Putri Gianetta akan menikah dengan kaisar kejam. Penderitaannya akan dimulai tidak lama lagi. Sekeras apapun kalian berusaha, putri Gianetta akan tetap menikah dengannya. Itu sudah takdir!" "Maafkan temanku nyonya. Dia tidak mengerti maksudmu. Aku pun begitu. Aku tidak mengerti," ucap Gianetta lembut "Ya. Nanti kau juga akan tahu. Sekarang kalian pulanglah. Ini sudah sore. Tidak baik gadis seperti kalian pulang terlalu lama." Gianetta masih belum puas atas penuturan wanita itu. Namun karena Adena selalu memaksanya agar pulang, akhirnya mereka pulang dengan hati yang penuh pertanyaan. Setelah kejadian itu, Gianetta selalu memikirkan perkataan wanita itu terhadap dirinya. Dan sekarang, semua pertanyaan itu telah terjawab. Kaisar yang diamaksudnya adalah kaisar kejam Rhaegar yang saat ini telah menjadi suaminya. "Tidak ada gunanya memikirkan itu." Karena terlalu larut dalam pikirannya, Gianetta tidak menyadari ada seseorang yang masuk kedalam kamarnya. Ia baru sadar saat ia mendengar suara derap langkah kaki. Dengan cepat Gianetta menoleh dan terperanjat kaget melihat sosok yang ditakutinya sudah ada didepan matanya. Dengan refleks ia berdiri dan menautkan jari tangannya seraya menatap takut sosok yang ada didepannya. "Apa yang kau lakukan disini? Seharusnya malam ini kau sudah tak berdaya diranjang," ucap Rhaegar datar. Ya, dia adalah Rhaegar. Sosok yang Gianetta takuti. Seketika tubuh Gianetta menegang. Apa maksudnya? "A-a-apa ma-maksudmu?" tanya Gianetta terbata-bata "Kurasa kau tahu apa yang dilakukan sepasang suami-istri pada malam pertama," jawab Rhaegar seraya tersenyum miring tanpa mengalihkan tatapannya terhadap Gianetta. Tubuh Gianetta yang awalnya sudah menegang bertambah menegang saat Rhaegar perlahan mengikis jarak antara mereka. Saat Rhaegar ingin menggapai tangannya, refleks Gianetta menjauh karena takut sehingga membuat tangan Rhaegar tertahan diudara. Gianetta bisa melihat rahang Rhaegar mengeras pertanda ia sedang menahan amarahnya. Itu membuat Gianetta semakin takut. Perlahan Rhaegar mendekatinya dan dengan cepat mengunci pergerakannya dengan mengurungnya dengan kedua tangannya saat wanita itu berusaha lari. "A-apa yang i-igin kau la-lakukan?" tanya Gianetta terbata-bata saat Rhaegar mulai mengikis jarak wajah mereka. Gianetta tersentak saat ia merasakan bibir Rhaegar menyentuh bibirnya. Mereka berciuman. Perlahan ciuman Rhaegar berubah kasar sehingga membuat Gianetta kesulitan bernapas. Rhaegar menggiring Gianetta ke ranjang tanpa melepas ciumannya. Gianetta terduduk diranjang saat kakinya terhantuk kaki ranjang. Dengan cepat Gianetta mendorong d**a Rhaegar kuat hingga pria itu melepaskan ciumannya. "Apa yang kau lakukan!?" tanya Gianetta dengan suara yang meninggi namun bergetar dan matanya mulai berkaca-kaca. Rhaegar menatapnya datar. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, dengan cepat Gianetta berlari menuju pintu namun belum beberapa langkah Rhaegar sudah mencengkram lenggannya dan menggendongnya seperti mengangkat beras dan menghempaskannya dengan kasar di ranjang. Gianetta meringis saat merasakan sakit di bokongnya. Ia menangis atas perlakukan kasar Rhaegar. "Jangan sentuh aku! Kumohon." Rhaegar tidak mengacuhkan permohonan Gianetta, ia justru kembali mencium Gianetta dengan kasar dan memaksa wanita itu. Ia merobek kasar pakaian Gianetta dan dan mulai menyetubuhi wanita itu. Rhaegar memperkosa Gianetta yang adalah istrinya. Gianetta hanya bisa menangis, ia tak berdaya melawan seorang Kaisar. Itu sangat tidak mungkin. Sungguh menyedihkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD