Pagi menjelang siang ini Gianetta tengah duduk didekat jendela besar yang ada dikamarnya. Wajah pucat, bibir yang sedikit bengkak, dan mata yang sembap sangat terlihat jelas diwajahnya. Semalaman ia menangis sebelum akhirnya pingsan dan bangun terlalu lama. Tubuhnya terasa lelah dan sakit terlebih pada bagian intinya. Menangis. Tidak ada yang dapat dilakukannya selain menangis, seolah menangis sudah menjadi kebiasaannya tanpa kenal lelah.
Tok tok tok ...
"Permisi Ratu. Aku Layer. Aku datang kesini ingin memperkenalkan Ratu dengan pelayan pribadi yang akan melayani dan membantu Anda," ujar Layer dengan suara beratnya.
Gianetta tidak menoleh sedikitpun, ia hanya memandang lurus keluar jendela.
Layer yang melihat itu pun merasa bahwa Gianetta memberinya waktu untuk melanjutkan bicaranya.
"Dia adalah Fidelya. Mulai sekarang dia akan menjadi pelayan pribadi Ratu," tutur Layer.
"Aku tidak membutuhkan pelayan. Kalian boleh pergi."
"Tapi Ratu, Aku akan melayani Ratu dengan baik. Aku bersedia melakukan perintah Ratu," ucap Fidelya yang merasa bersalah karena tidak bisa memenangkan hati Ratunya.
Perkataan Gianetta membuat kerutan di dahi Layer. Ia bingung dengan Ratu barunya itu.
"Dengan nada yang dingin ia berani berkata seperti itu, padahal ia masih baru disini. Siapa dia yang berani menentang Rajaku?" pikir Layer
"Tapi ini perintah Kaisar Rhaegar, Ratu," ucap Layer tegas namun tetap sopan.
"Jika aku tidak mau?"
"Maka Yang Mulia Rhaegar akan murka, Ratu."
"Kalian boleh pergi."
"Apa itu sebuah jawaban!?" batin Layer tak habis pikir.
Karena tak ingin memperpanjang perbincangan, akhirnya Layer pamit undur diri kepada Gianetta dan memutuskan untuk pergi keluar dari kamar Ratu Gianetta diikuti Fidelya dibelakangnya.
Sudah dipastikan Layer akan melaporkan hal ini pada Rhaegar.
***
Rhaegar berjalan dengan langkah tegas menuju kamar Gianetta, dengan sorot mata tajamnya yang penuh amarah dan rahang yang mengeras. Ya. Layer melaporkan penolakan Gianetta pada Rhaegar.
Braakk!!
Suara pintu yang dibuka dengan keras mengagetkan Gianetta dari tidurnya. Perlahan ia duduk diranjangnya seraya memegang kepalanya yang sakit. Entah mengapa hari ini Gianetta merasa sangat lemah tak bertenaga dan merasakan sakit dikepala serta seluruh tubuhnya.
Perlahan Gianetta menoleh ke arah pintu karena posisi tidurnya yang membelakangi pintu. Gianetta tersentak saat melihat Rhaegar sudah ada dibelakangnya dan menatapnya murka. Saat Gianetta ingin berdiri, ia tidak kuat karena tubuhnya yang sedang lemah yang rasa sakit dibagian intinya membuatnya tertahan.
"Shhh," desis Gianetta saat ia merasakan sakit dibagian intinya karena berusaha berdiri.
"APA YANG KAU KATAKAN PADA LAYER HUH!?" bentak Rhaegar pada Gianetta seraya mencekram lengan Gianetta kuat dan memaksanya berdiri.
"Ahhkk. Sakit," jerit Gianetta saat Rhaegar mencekram lengannya kuat ditambah sakit dibagian intinya yang tak kunjung hilang.
"JAWAB AKU!!"
"Aku tidak mengatakan apapun." Gianetta menangis seraya tangannya yang menahan tangan Rhaegar yang mencekram lengannya.
"JANGAN MEMBOHONGIKU!!" bentak Rhaegar kemudian menghempaskan tubuh Gianetta ke ranjang.
"JANGAN BERLAGAK ANGKUH. KAU PIKIR KAU BISA APA DENGAN TUBUHMU YANG LEMAH INI?! SEHARUSNYA KAU BERSYUKUR AKU MEMBERIKANMU PELAYAN!" tekan Rhaegar disetiap katanya seraya mencekram kuat dagu Gianetta.
"Ma-maafkan aku."
"Aku tidak ingin mendengar penolakan lagi. Ingat itu!!"
Setelah mengatakan itu Rhaegar pergi meninggalkan Gianetta yang menangis sesengguk-sengguk.
Gianetta memang lemah. Ia takut dibentak dan terlalu pasrah pada hidupnya. Rasa takut yang teramat sangat membuatnya dengan mudah ditaklukkan dan disiksa.
Disela-sela tangisnya ia teringat pada Layer. Kenapa pria itu tidak iba padanya. Setidaknya ia tidak melaporkan kejadian sepele itu pada Rhaegar. Mengapa ia tidak mendiamkan saja? Toh Gianetta akan tetap membutuhkan pelayan. Gianetta yang memikirkan itu membuat tangisnya pecah. Ia menyesal telah menolak. Seharunya ia menurutinya karna memang ia membutuhkannya.
Penyesalan memang selalu datang terlambat.
***
Layer dan Thorn dibuat bingung dengan sikap Rhaegar yang terlalu bersemangat dan segar. Tidak biasa ia menampilkan sikapnya yang seperti ini. Biasanya ia akan memilih untuk tetap bersikap dingin. Namun siang ini, seringaian tak pudar dari wajahnya.
"Yang Mulia. Apa yang terjadi dengan Anda? Menapa hari ini Anda terlihat bersemangat dan rasanya aneh melihat Anda selalu tersenyum mengerikan seperti itu," ujar Layer pada Rhaegar yang sedari tadi hanya duduk dikursi kerjanya seraya memainkan pisau kecilnya dan selalu tersenyum sendiri.
"Yang Mulia, jawab pertanyaanku," tegur Layer.
"Huh.. Kau ingin tahu?" tanya Rhaegar menatap kedua Panglima kuat itu
Layer dan Thorn mengangguk sebagai jawaban.
"Apa kalian pernah mencicipi seorang gadis?"
"Tentu saja aku pernah," ucap Layer bangga.
"Kau pasti tahu maksudku," ucap Rhaegar sambil tersenyum miring
"Kupastikan Yang Mulia telah menyetubuhi Gianetta," ucap Thorn.
"Tebakanmu selalu benar Thorn." Rhaegar terkekeh mengucapkannya.
"Apa semalam bulan purnama?" tanya Thorn
"Ya, apa kau tidak bisa mendengar suara makhluk-makhluk menjijikkan itu semalam? Aku bahkan tak bisa tidur," ujar Layer memberitahu
"Itu berarti Yang Mulia, Anda menyerap tenaga Gianetta?" tanya Thorn hati-hati.
"Ya."
"Pantas saja wajahnya terlihat sangat pucat dan lemas saat aku mendatanginya tadi pagi bersama pelayan itu," ujar Layer.
"Kalian tahu? Rasanya sangat nikmat. Lebih nikmat dari wanita yang pernah kucicipi sebelumnya," ucap Rhaegar kemudian terkekeh.
"Tentu saja berbeda Yang Mulia. Ratu Gianetta adalah permaisuri Anda. Apalagi saat malam purnama. Apakah Yang Mulia lupa jika kekuatan Anda akan sangat bertambah saat bercinta dengan pasangan Anda saat bulan purnama?" ujar Thorn mengingatkan.
"Aku mengingatnya," jawab Rhaegar
"Itu berarti Permaisuri akan sangat lemah. Apa tenaganya akan pulih hari ini?" tanya Layer
"Ya. Sebaiknya kalian bawakan makanan padanya," ujar Rhaegar kemudian beranjak keluar dari sana.
***
Tok... Tok... Tok...
"Ma-maaf mengganggu Ratu. A-aku membawa ma-makanan untuk Ratu," ujar Fidelya seraya meletakkan nampan makanan dimeja kecil disana.
Gianetta masih tetap pada posisinya memandang keluar jendela besar yang akhir-akhir ini menjadi tempat kesukaannya dikamar itu. Posisinya yang membelakangi Fidelya, membuat Fidelya kesulitan melihat wajah Ratunya itu. Fidelya mengernyit ketika melihat tubuh Gianetta bergetar. Apakah Ratu Gianetta menangis ?
"Ra-ratu ? Anda baik-baik saja?" tanya Fidelya hati-hati. Perlahan tangannya terulur untuk sekedar menyentuh pundak ratunya itu.
Gianetta tersentak saat merasakan sebuah tangan menyentuh pundaknya. Dengan cepat ia menoleh dan mendapati Fidelya dengan wajah takut. Dengan segera ia menghapus air matanya dan menormalkan diri.
"Ma-maafkan aku Ratu. A-aku aku tidak bermaksud mengagetkan Ratu. Aku... aku hanya-"
"Ada apa kau kemari?"
Suara lembut Gianetta membuat Fidelya tertegun. Sebelum ini ia pernah berbuat demikian pada atasannya dulu, dan saat itu juga tuannya marah padanya dan menghukumnya. Namun kali ini berbeda. Ini adalah yang pertama sekali untuk Fidelya.
"Ra-ratu ti-tidak marah?" tanya Fidelya hati-hati
"Marah untuk apa?"
"Karena aku dengan lancang menyentuh dan mengagetkan Ratu," ujar Fidelya seraya menunduk.
"Ah.. Tidak. Ada apa kau kemari?" ulang Gianetta pada pertanyaannya.
"Ah... A-aku membawakan Ratu makanan. Ratu makanlah. Pasti Ratu sudah lapar," ucap Fidelya seraya berjalan membawa makanan yang diletakkannya di meja tadi kehadapan Gianetta.
"Aku tidak lapar."
"Ta-tapi ini perintah Yang Mulia Rhaegar, ratu. Kumohon makanlah," ucap Fidelya memohon
Mendengar itu membuat Gianetta berpikir dua kali. Sebenarnya ia tidak punya selera makan saat ini. Namun, ia juga tidak ingin disiksa dan mendapat murka dari Rhaegar.
"Baiklah." Gianetta mulai duduk dikursi dan Fidelya pun memberikan makanan untuk Ratunya.
"Kau tidak makan?" tanya Gianetta saat hendak memasukkan makanan kemulutnya.
"Ti-tidak Ratu. Aku akan makan nanti," ujar Fidelya
"Kenapa? Apa kau tidak lapar?"
Fidelya meremas jari-jari tangannya. Bingung ingin menjawab seperti apa pertanyaan Ratunya itu. Siang ini dia memang belum makan. Sungguh tidak sangat sopan meninggalkan ratunya saat makan jika ia makan sekarang.
Melihat Fidelya yang diam, Gianetta kembali berujar.
"Aku tahu kau pasti lapar. Sekarang kau harus makan. Apa kau ingin makan bersamaku?"
"Terimakasih ratu. A-aku akan makan sendiri saja. Tapi bagaimana dengan Ratu?"
"Aku tidak apa-apa. Pergilah, kau harus makan bukan?"
Senyum Fidelya merekah, kemudian berujar. "Terimakasih banyak Ratu. Kalau begitu aku pergi dulu. Salam," ujar Fidelya seraya membungkukkan badannya pertanda terimakasih dan pamit pergi.
Gianetta menggangguk seraya tersenyum sebagai jawaban.
Belum beberapa langkah, Fidelya dibuat terhenti karena Gianetta kembali berujar.
"Tunggu!"
Fidelyapun menoleh kearah Gianetta.
"Iya, ada apa Ratu?" tanya Fidelya sopan
"Siapa namamu? Aku tidak ingat."
"Namaku Fidelya Ratu. Pelayan pribadi Ratu," ucap Fidelya seraya tersenyum manis pada Ratunya itu.
"Nama yang cantik, seperti dirimu."
"Terimakasih ratu. Ratu juga sangat cantik seperti bidadari. Aku baru melihat wanita yang sangat cantik seperti ratu."
"Kau ada-ada saja. Baiklah, kau boleh pergi. Makan yang banyak Fidelya."
"Baiklah ratu. Aku mohon undur diri."
Gianetta mengangguk sebagai jawaban. Fidelya keluar dengan perasaan senang dan senyum tak luntur dari wajahnya yang manis itu.