Pagi sekali, sebelum matahari terbit, Rhaegar, Thorn, Layer dan Perdana menteri Mahathir sudah berkumpul diruangan khusus Rhaegar. Ruangan khusus untuk orang tertentu. Mungkin yang akan mereka perbincangkan adalah masalah yang serius sehingga mengikut sertakan Perdana Menteri sekaligus penasehat tertua yang sangat dihormati itu.
"Thorn, aku sudah pernah memerintahkanmu untuk mengurus pemberontakan yang ada di Zaidor . Kenapa kau tidak bisa menyelesaikannya?" tanya Rhaegar tegas memulai pembicaraan.
"Maafkan atas kebodohan saya, Yang Mulia. Saya tidak mampu menyelesaikan tugas saya dengan baik. Pemberontak yang ada disana cukup kuat dan ternyata mereka sudah membentuk kelompok dengan jumlah yang banyak. Mereka juga sudah membentuk kelompok dan sudah tersebar dibeberapa wilayah barat kerajaan. Menurut informasi yang saya dapat dari penduduk, mereka mengambil paksa semua harta dan ternak, dan saya dengar mereka juga membawa para gadis untuk dijadikan p*****r," tutur Thorn panjang lebar.
Rahang Rhaegar mengeras mendengar semua penuturan Thorn. Ini tidak bisa dimaafkan.
"Apa yang ingin kau katakan, paman?" tanya Rhaegar pada perdana menteri Mahathir.
"Sebelumnya maafkan saya, Yang Mulia. Menurut saya, sebaiknya Anda sendirilah yang harus pergi kesana. Bawalah prajurit bersama Anda dan cari tahulah dimana keberadaan mereka. Thorn mengatakan bahwa kelompok mereka sudah tersebar di wilayah barat. Itu berarti Anda juga harus memeriksa wilayah itu. Saya rasa Anda juga harus menyamar Yang Mulia, agar para pemberontak yang ada disana tidak mengenali Anda," ujar perdana menteri Mahathir sopan.
Sejenak Rhaegar terdiam memikirkan perkataan Perdana Menteri Mahathir, kemudian berkata.
"Baiklah, aku akan pergi kesana besok sebelum matahari terbit. Thorn ikutlah denganku. Persiapkan lima puluh prajurit dan yang kita butuhkan besok. Selama aku pergi, jangan biarkan seorangpun keluar dari wilayah kerajaan.
Perdana Menteri Mahathir, selama aku pergi, kaulah yang akan mengurus masalah kerajaan.
Layer, kau harus menjaga kerajaan selama aku pergi. Kalian tidak bisa mengizinkan siapapun untuk berkunjung ke sel tahanan. Kalian mengerti?"
"Kami mengerti Yang Mulia," ucap Mahathir dan Layer bersamaan.
"Aku dan Thorn akan pergi selama empat hari. Hari pertama dan kedua untuk mengurus pemberontak di Zaidor, dan di hari ketiga dan keempat kami akan pergi ke wilayah barat. Jadi selama kami pergi, kalianlah yang bertanggung jawab untuk mengurus kerajaan," sambungnya lagi.
Pagi itu mereka menyusun banyak rencana dan persiapan untuk besok.
***
Malam ini Gianetta dan Fidelya sedang menyulam kain bersama. Sejak kemarin Gianetta dan Fidelya sudah mulai akrab. Setalah bercerita panjang lebar, akhirnya mereka memilih untuk menyulam.
"Fidelya, menurutmu benang warna apa yang harus kugunakan untuk bagian tengahnya?" tanya Gianetta.
"Menurutku Ratu gunakan saja benang yang merah," ucap Fidelya kemudian melanjutkan kegiatan merajutnya.
"Baiklah, aku gunakan yang merah ini saja."
Fidelya tersenyum menanggapi hingga senyumnya luntur saat melihat sosok Rhaegar didepannya. Perlahan ia meletakkan rajutannya dan berdiri. Hal itu membuat Gianetta bingung, kemudian ia mengikuti arah pandang Fidelya yang mengarah kebelakangnya.
Betapa terkejutnya Gianetta saat melihat Rhaegar sudah berada tepat didepannya.
Gianetta menjadi takut kala Rhaegar memerintahkan Fidelya untuk pergi dari sana.
Gianetta melangkah mundur saat Rhaegar mendekatinya.
"Aku tidak memerintahkanmu untuk bergerak," ucap Rhaegar dingin tanpa menghentikan langkahnya.
Gianetta tidak memperdulikan perkataan Rhaegar, ia terlalu takut dan melangkah mundur kesudut ruangan.
"Kuperintahkan jangan bergerak!" ucap Rhaegar lagi namun tetap saja Gianetta tidak memperdulikannya
"DIAM DISANA!!" bentak Rhaegar sehingga refleks Gianetta berhenti melangkah dengan wajah ketakutan.
Rhaegar mendekati Gianetta yang ketakutan dan mencekram lengannya kuat.
"Dengar! Besok aku akan pergi selama empat hari untuk mengurus pemberontak, selama itu kuharap kau tak membuat masalah. Mengerti!?" ucap Rhaegar dingin.
Gianetta mengangguk seraya berusaha melepaskan cekalan Rhaegar. Rhaegar melepaskan cekalannya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Gianetta.
"Dan sebelum aku pergi, aku ingin menikmati tubuhmu ini," bisik Rhaegar ditelinga Gianetta seraya tangannya menyelusup mengelus punggung Gianetta.
Tubuh Gianetta seketika menegang dan tanpa ia sadari tangan Rhaegar mulai menyelusup menuju payudaranya.
Dengan cepat Gianetta menepis tangan itu, dan saat yang bersamaan Rhaegar membenturkan tubuhnya ke dinding dan mengurungnya disana.
Dan langsung mencium kasar bibir Gianetta. Gianetta berontak namun kekuatannya tak bisa mengimbangi kekuatan pria yang sedang mencium bibirnya kini. Dirinya hanya setinggi bahu pria itu dan dia terlihat kecil dan lemah.
Gianetta mendorong dengan kuat d**a bidang Rhaegar hingga bibirnya bisa terlepas.
"Bisakah kau tidak kasar!?" nada suaranya meninggi dengan napas yang memburu.
Namun Rhaegar hanya menampilkan seringaian menyeramkan miliknya dan kembali mencium kasar bibir kecil Gianetta.
Pria ini sangat Agresif!
Rhaegar merobek pakaian Gianetta dengan posisi masih berdiri dan menyatu dengan tembok dengan tergesa-gesa. Hasratnya ingin menerjang Gianetta sudah tak tertahankan.
Gianetta tidak dibiarkannya berontak.
Gianetta menangis dengan perlakuan kasar Rhaegar padanya. Ditambah lagi bibirnya yang membengkak dan pergelangan tangannya yang sakit akibat cekalan Rhaegar untuk menahannya.
Rhaegar mengangkat tubuh kecil Gianetta, melingkarkan kakinya di pinggangnya dan menekannya ke tembok. Gianetta berusaha berontak namun ia tetap tidak bisa.
Tanpa Gianetta sadari dirinya telah polos tanpa pakaian yang melekat pada tubuhnya.
Rhaegar semakin menekannya ke tembok dan saat yang bersamaan ia merasakan sakit dibagian intinya.
Ia memekik kesakitan saat milik Rhaegar dengan kasar memenuhinya.
Gianetta tak tahan lagi. Kepalanya terasa sakit, penglihatannya buram ditutupi airmata yang terbendung dimatanya dan perlahan kehilangan kesadarannya.
***
Gianetta terbangun hampir menjelang siang hari. Setelah kesadarannya penuh, ia bergegas mandi dan menuju pesiraman yang memang berada dalam kamarnya yang luas.
Seperti sebelumnya Gianetta merasa tubuhnya sangat lemas, namun ia harus bergerak dan tidak bermalas-malasan berbaring diranjangnya, karena itu akan membuatnya semakin lemas saja.
Setelah selesai mandi, Gianetta memakai hanfu berwarna abu-abu yang dibawanya dari kerajaannya, kerajaan Rhys.
Gianetta teringat akan sulamannya semalam. Ia mengingat-ingat kembali dimana benda itu terjatuh. Gianetta mencoba mencari dibawah ranjangnya, namun tidak ada. Saat Gianetta hendak berdiri, ia baru menyadari jika keadaan ranjangnya saat ini sangat berantakan. Ya, tentu saja karena acara semalam.
Ia mulai merapikan tempat tidurnya tersebut dan setelah itu kembali mencari sulamannya.
Setelah cukup lama mencari, akhirnya ia menemukannya tergeletak di sudut ruangan.
Ah, dia baru ingat kala itu Rhaegar menciumnya paksa dan sulamannya terjatuh.
Gianetta hendak melanjutkan sulamannya lagi namun suara perutnya membuatnya terhenti.
Dia lapar!.
Dia mengelus perutnya, kemudian menatap pintu.
"Dimana Fidelya? Kenapa dia tidak datang. Haruskah aku pergi keluar? Bagaimana jika Rhaegar ada disana?" Gianetta bermonolog sendiri.
"Ah.. Semalam dia mengatakan jika dia akan pergi pagi ini. Ini sudah siang. Itu berarti dia sudah pergi. Lebih baik aku keluar."
Karena tidak tahan lagi Ia memberanikan diri untuk pergi keluar kamar menuju dapur istana, untuk yang pertama kalinya!.
Saat sudah berada didepan kamar, Gianetta berhenti karena dua orang penjaga tiba-tiba menundukkan kepala hormat padanya.
Oh, ternyata ada penjaga di depan kamarnya.
"Selamat siang, Ratu. Apa ada yang perlu Saya bantu?" tanya seorang penjaga yang ada disebelah kiri Gianetta
Gianetta yang ingin kedapur namun tidak tahu dimana letaknya akhirnya bertanya pada penjaga tersebut.
"Bi-Bisakah kau tunjukkan padaku dimana dapur istana?"
"Ikutlah denganku, Ratu," ucap penjaga itu seraya menundukkan kepala hormat. Kemudian berjalan terlebih dahulu untuk menunjukkan jalan. Sedangkan penjaga yang satu lagi masih tetap pada posisinya yang berjaga.
Setelah sampai di dapur istana, Gianetta mempersilahkan penjaga itu kembali untuk bertugas.
Semua pelayan dan juru masak yang ada disana terkejut karena Ratu mereka yang langsung datang kedapur. Semua yang ada disana langsung menunduk hormat, dan Gianetta dengan kaku membiarkan mereka melanjutkan pekerjaannya lagi.
Gianetta mendekat pada seorang pelayan yang sedang membakar roti yang tak jauh darinya.
"Permisi, apakah kau melihat Fidelya?"
Pelayan itu segera menunduk hormat kemudian berujar dengan sopan.
"Ma-Maaf, Ratu. Aku tidak melihatnya. Ratu boleh menanyakannya pada kepala pelayan."
"Dimana aku harus menemuinya?"
"Kepala pelayan ada disana, Ratu," ucap pelayan tersebut seraya menunjuk seorang perempuan yang berdiri didekat pintu.
"Oh, baiklah. Terimakasih," ucap Gianetta seraya tersenyum tipis.
"Sama-sama ratu."
Gianetta berjalan mendekatinya dan saat itu juga kepala pelayan itu hendak berbalik pergi keluar dapur.
"Kepala pelayan!" ucap Gianetta dengan sedikit berteriak.
Merasa dipanggil, kepala pelayan tersebut berhenti kemudian berbalik dan langsung menunduk hormat setelah mengetahui Ratunya-lah yang memanggilnya.
"Ada yang bisa saya bantu, Ratu?"
Tanya wanita yang merupakan kepala pelayan tersebut.
"A-apakah kau melihat Fidelya?"
"Apakah Fidelya yang merupakan pelayan pribadi ratu?" tanyanya memastikan
Gianetta mengangguk sebagai jawaban.
"Hari ini Fidelya tidak datang, Ratu. Dia mengatakan jika Neneknya sedang sakit. Maafkan saya ratu, saya lupa mengatakan ini pada Anda."
"Oh. Baiklah, tidak apa-apa. Apakah neneknya sakit parah?"
"Saya tidak tahu, ratu."
"Hm.. Apakah masakannya sudah selesai? Aku lapar."
"Ah..ya. Ya. Ratu. Anda bisa menunggu dimeja makan, saya akan menyiapkan semuanya untuk Ratu," ujar wanita itu kemudian bergegas mengambil makanan untuk ratu Gianetta.
Gianetta pun duduk dikursi dengan meja yang panjang itu. Ada sekitar dua puluh dua kursi yang tersedia. Dia memilih duduk dikursi tengah.
Pelayan disana melayaninya dengan ramah dan sopan, dan Gianetta pun memulai makan siangnya.
***
Setelah selesai makan siang tadi, Gianetta bingung ingin melakukan apa lantaran Fidelya tidak datang hari ini. Dan akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke tempat penyimpanan buku ( perpustakaan istana ).
Gianetta belum pernah mengelilingi istana ini sejak dia datang, oleh sebab itu dia selalu meminta pelayan atau penjaga untuk menunjukkan tempat yang ingin dia datangi.
Ia tertarik membaca buku dengan judul 'Sejarah Tsarka'.
Perlahan tangannya bergerak untuk meraih buku yang ada dipuncak rak itu, namun tidak sampai. Tubuhnya terlalu kecil untuk rak sebesar itu.
Ia berinisiatif untuk menggunakan kursi yang dipakainya untuk meraih buku itu. Namun saat ingin memindahkan kursi, tiba-tiba buku itu sudah tergeletak saja dimeja dengan sendirinya.
Saat ingin mengambil buku tersebut, Gianetta tersentak kaget saat melihat pria paruh baya dengan tiba-tiba sudah berada diseberang meja tempatnya.
"Salam Ratu." Pria tersebut langsung menundukkan kepala hormat padanya.
"Sa-salam," ucap Gianetta terbata-bata karena masih terkejut.
"Maaf membuat Anda terkejut. Perkenalkan saya Perdana Menteri Mahathir sekaligus penasehat tertua kerajaan."
"Te-terimakasih sudah mengambil buku ini."
"Tidak perlu berterimakasih ratu." Kemudian dia melirik buku yang sedang dipegang oleh Gianetta dan kembali berujar. "Anda memang harus membaca buku itu, ratu."
"Bisakah saya duduk bersama Anda?" tanya Mahathir.
Gianetta hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Saya rasa Anda belum sepenuhnya mengenal saya. Saya adalah sahabat Kaisar Casey, ayah Rhaegar. Jika sedang berdua saja, Rhaegar akan memanggilku dengan sebutan paman," ujar Mahathir memulai pembicaraan.
Wajah Gianetta menunjukkan keterkejutan, ia baru mengetahuinya.
"Bacalah buku itu hingga selesai. Jika Anda kurang memahaminya, datang dan tanyakanlah pada saya. Saya mohon undur diri, Ratu. Salam." Setelah menunduk hormat, Mahathir meninggalkan Gianetta yang memaku disana.
Setelah kepergian Perdana Menteri Mahathir, Gianetta memilih untuk membaca buku tersebut di kamarnya.
Gianetta pergi dari perpustakaan istana itu dengan tanda tanya besar yang memenuhi hatinya.