Sudah dua hari sejak Rhaegar pergi, selama itu juga Gianetta bebas melakukan apapun. Tentu saja ia sangat senang dengan tidak adanya iblis yang selalu menyiksanya itu. Kemarin ia diajak berkeliling istana oleh Fidelya yang sudah kembali ke istana. Melihat kebun, pergi ke taman istana, melihat anak-anak belajar dan bermain bersama mereka. Rasanya sungguh menyenangkan.
Saking banyaknya aktivitasnya selama hari itu, ia melupakan untuk membaca buku 'Sejarah Tsarka' yang dibawanya dari perpustakaan istana.
Gianetta baru membaca 3 lembar saja, yang tentu saja merupakan pembukaan yang berisi tentang silsilah keturunan raja Tsarka yang pertama hingga sekarang, dan itu belum sampai seperempat untuk mencapai informasi inti Tsarka.
Dan hari ini adalah hari ketiga setelah kepergian Rhaegar.
Setelah selesai belajar meracik obat dengan tabib istana, kini Gianetta duduk dilantai kamarnya dengan meja kecil didepannya. Dimeja tersebut terletak secarik kertas dan alat tulis. Siang ini Gianetta berniat untuk mengirim surat kepada keluarganya yang ada di kerajaan Rhys. Gianetta sungguh merindukan mereka.
Hanya sekedar bertanya kabar melalui surat ini. Perlahan tangannya bergerak untuk mengambil pena, kemudian mencelupkan ujungnya yang runcing kedalam wadah berisi tinta, dan mulai menulis diatas kertas itu.
Setelah dirasanya cukup, ia membersihkan mejanya sembari menunggu tintanya mengering.
Kemudian ia menggulung kertasnya dan mengikatkan tali ditengah gulungan kertas itu.
Gianetta tersenyum kemudian mencium surat itu. "Aku merindukan kalian."
Gianetta keluar dari kamarnya berniat mencari penjaga untuk disuruhnya mengirimkan suratnya ke kerajaan Rhys.
Gianetta tidak melihat penjaga di depan kamarnya seperti biasa, karena itu dia berjalan ke lorong sayap kiri istana. Akhirnya Gianetta menemukan seorang prajurit yang kebetulan berpapasan dengannya.
Prajurit itu menunduk hormat kala berpapasan dengan Gianetta.
"Hmm.. Bisakah kau membantuku?" tanya Gianetta
"Tentu saja, Ratu. Apa yang bisa saya lakukan?"
"Aku ingin kau mengirim surat ini kepada keluargaku yang ada di kerajaan Rhys," ucap Gianetta seraya menyerahkan gulungan kertas kepada prajurit pria itu.
"Maaf, Ratu. Tapi saja tidak punya hak atas ini. Anda harus punya persetujuan terlebih dahulu dari Yang Mulia Rhaegar ataupun orang-orang kepercayaannya," ujar prajurit itu menjelaskan.
"Kenapa seperti itu? Tapi ini untuk keluargaku. Aku sudah menjadi Ratu disini," ucapnya dengan nada lembut, tidak ingin berbicara tinggi karena yang dikatakan prajurit ini ada benarnya juga.
"Itu sudah menjadi peraturan disini, Ratu. Anda bisa meminta izin kepada Perdana Menteri Mahathir."
"Tapi ak-"
Perkataan Gianetta terpotong kala Layer datang dan menyela ucapannya.
"Maaf Ratu. Ada masalah apa?" tanya Layer dengan nada tegasnya.
"Kenapa dia harus datang?!" batin Gianetta saat melihat Layer datang.
"Ratu ingin saya mengirimkan surat kepada keluarga kerajaan Rhys panglima," ujar prajurit itu mendahului Gianetta.
Layer melihat Gianetta sebentar lalu memberi isyarat kepada prajurit itu untuk pergi.
Kini hanya mereka berdua yang ada disana.
"Yang Mulia Rhaegar tidak mengizinkan siapapun untuk mengirim surat kepada siapapun itu. Ratu harus menunggu sampai Yang Mulia Rhaegar datang. Ini adalah perintahnya sebelum dia pergi," ucapnya tegas.
"Tapi ini hanya surat biasa," ucap Gianetta pelan dengan wajah yang patut dikasihani.
"Tidak bisa Ratu. Ini sudah perintah Yang Mulia Rhaegar. Saya tidak bisa me-"
"Tapi aku Ratu. Tidak bisakah aku mengirim surat pada keluargaku sendiri?!"
Perkataan Layer langsung dipotong oleh Gianetta yang berbicara dengan nada yang semakin meninggi. Entah mengapa tiba-tiba emosinya tersulut hanya dengan mendengar 'perintah Rhaegar'.
Saat Gianetta hendak melangkah pergi, Layer menghalangi jalannya.
"Ratu, ini perintah. Sebaiknya Anda berikan saja surat ini pada saya, saya ak-"
Saat Layer hendak mengambil surat yang ada ditangan Gianetta, Gianetta dengan cepat menjauhkan tangannya yang memegang surat dari jangkauan tangan Layer.
"Tidak bisa. Aku tidak mengizinkanmu."
Layer yang mulai tersulut emosinya dengan cepat mencekal tangan Gianetta dan hendak mengambil surat itu tanpa menyadari batasannya.
PLAKK!!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Layer. Seketika ia membeku ditempatnya. Rahangnya mengeras dan tangannya terkepal.
"Tidak tahukah kau caranya sopan santun!?" Nada suara Gianetta meninggi dengan napas memburu dan menatap garang Layer.
"Kau memperlakukan Aku Ratumu dengan tidak sopan."
"Sebaiknya jaga sikapmu!" desis Gianetta kemudian berlalu pergi meninggalkan Layer yang bergeming di tempatnya.
***
Gianetta membeku ditempatnya ketika mendengar pengumuman yang diucapkan dengan lantang. Pengumuman yang menyatakan bahwa Kaisar Rhaegar sudah tiba di istana.
Siang ini Rhaegar telah tiba di istana beserta rombongannya. Seketika Gianetta menjadi takut.
"Bukankah seharusnya empat hari? Kenapa tiba-tiba?" batin Gianetta.
Karena terlalu takut, Gianetta mengunci pintu kamarnya dan kembali duduk dengan tangan yang saling bertautan.
Seketika Gianetta mematung kala mengingat suatu hal.
"Tadi pagi aku menampar panglima Layer, bagaimana jika dia memberitahukannya pada Rhaegar!? Dulu saat aku menolak pelayan itu dia juga memberitahunya. Bagaimana jika-, A-apa yang harus kulakukan?" Gianetta bermonolog sendiri dengan wajah ketakutan. Keringat dingin mulai bercucuran dari wajah serta lehernya. Matanya mulai berlinang. Sungguh ia sangat takut sekarang.
***
Rhaegar berjalan dengan langkah lebar kearah ruang kerjanya beserta Perdana Menteri Mahathir, Panglima Thorn dan Layer
Mereka berbincang mengenai masalah pemberontakan dan kerajaan selama ia tidak ada.
Setelah lama berbincang, Rhaegar memerintahkan mereka untuk kembali melakukan tugas mereka kecuali Layer yang memilih untuk tetap disana.
"Mengapa kau masih disana?"
"Maaf Yang Mulia. Saya ingin memberitahukan sesuatu pada Anda selama Anda tidak di istana," ujar Layer sopan dengan sedikit membungkukkan kepalanya.
"Katakan secepatnya!"
Diruangan itu, Layer menceritakan semua yang terjadi di istana selama Rhaegar pergi, tanpa terkecuali mengenai Gianetta. Layer berkata jujur tanpa menambahkan sedikit bumbu dalam ceritanya. Dia tidak ingin berbohong yang pada akhirnya akan diketahui oleh Rhaegar dan kemudian mendapat hukuman, itu lebih mengerikan daripada membunuh.
Rahang Rhaegar mengeras setelah mendengar penuturan Layer.
***
Tokk ... Tokk ... Tokk
"Ratu, tolong buka pintunya. Ini aku, Fidelya."
Gianetta bernapas lega saat mengetahui pemilik suara dibalik pintu itu. Dengan segera Ia membuka pintu dan membiarkan Fidelya masuk dengan nampan yang berisi buah-buahan ditangannya.
"Kenapa Ratu mengunci pintunya?" tanya Fidelya saat sudah meletakkan nampan itu dimeja.
"Ah.. Ti- tidak. Tidak mengapa," ucap Gianetta gugup.
"Baiklah. Aku membawa buah-buahan segar untuk Ratu. Biarkan aku mengupasnya untuk Ratu," pinta Fidelya seraya tangannya mulai mengupas buah apel dengan pisau yang ada ditangannya.
Gianetta tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.
Belum selesai Fidelya mengupas apel, tiba-tiba seorang prajurit datang ke kamar Gianetta.
Tokk ... Tok ... Tok
Mendengar pintu diketuk, sontak Gianetta dan Fidelya menoleh.
"Permisi. Maaf mengganggu Anda Ratu. Saya diperintahkan oleh Yang Mulia Rhaegar. Yang Mulia Rhaegar ingin Anda ke ruangannya segera." ujar prajurit itu sedikit membungkuk hormat.
"Nanti aku akan kesana. Kau bo-"
"TIDAK PERLU!"
Suara tegas yang ditakuti itu memotong perkataannya. Seketika bulu kuduk Gianetta meremang.
"IKUT AKU!" Rhaegar menarik paksa tangan Gianetta tanpa mempedulikan pelayan dan prajurit yang sedang menyaksikan mereka.
"Lepaskan aku. Sakit!" Gianetta berusaha melepaskan cekalan Rhaegar namun tidak bisa. Tangannya yang begitu kecil tidak akan bisa lepas dari tangan Rhaegar yang besar.
"Ahhkk!"
Rhaegar menghempaskan Gianetta dilantai sebuah ruangan gelap yang Gianetta sendiri tidak tahu ruangan apa ini. Lantai yang dingin menyambut tubuhnya yang dihempaskan begitu saja.
Hanya ada tiga celah yang tidak begitu besar yang ditembus oleh cahaya matahari. Hanya ada dua obor api dan celah itu yang menjadi penerangan di ruangan ini.
"Aku hanya akan bertanya sekali. Jadi jangan mencoba membohongiku!"
"Kau menampar Layer!"
Keringat dingin tak hentinya mengalir dari tubuhnya, ia sangat takut saat ini.
"A-aku Aku ha-"
"YA ATAU TIDAK !!" bentak Rhaegar
Gianetta menggeleng dan itu membuat Rhaegar semakin murka.
Rhaegar mencekram rahang Gianetta kuat membuat Gianetta merintih kesakitan. Airmata mulai mengalir diwajahnya.
"JAWAB YA ATAU TIDAK!" bentak Rhaegar tepat didepan wajah Gianetta.
Refleks Gianetta mengangguk. "Ya."
"Berapa kali!?"
Gianetta menggeleng.
"KATAKAN!!"
Rhaegar semakin mencekram rahang Gianetta kuat. Membuatnya meringis dan menangis.
"Se-sekali," ucapnya lirih.
PLAKK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Gianetta. Membuat pipinya yang putih dan halus itu menjadi merah dan bekas tangan serta hidungnya mengeluarkan sedikit darah.
Gianetta menangis sesenggukan. Ia belum pernah mengalami hal seperti ini.
"Katakan. Tanganmu yang mana yang menamparnya!" ucap Rhaegar datar namun sarat akan kemarahan.
Gianetta menggeleng untuk yang ketiga kalinya. Rhaegar benar-benar murka dibuatnya. Rhaegar menjambak rambut panjang Gianetta.
"KATAKAN JALANG!"
Gianetta kembali menggelengkan kepalanya. Rasanya sangat sakit disebut sebagai jalang dan siksaan ini sungguh sama menyakitkannya.
"Kuanggap kedua tanganmu ini bersalah!" Rhaegar menghempaskan dan menarik kasar Gianetta ke tengah ruangan itu.
Rhaegar mendudukkan dan mulai memasukkan satu persatu tangan Gianetta ke lubang sebuah benda menyerupai pasung namun berukuran sedikit lebih kecil dan tinggi. Mengunci alat itu rapat-rapat hingga mengapit siku Gianetta dan menyisakan bagian lengan bawah beserta telapak tangannya.
Perlahan Rhaegar mengambil sebuah cambuk dari meja kecil yang ada disana. Dalam remang-remang Gianetta melihat benda itu ditangan Rhaegar. Membuatnya ketakutan.
"Apa yang akan kau lakukan?" suara Gianetta bergetar menandakan ia benar-benar takut.
Rhaegar menyeringai "Yang akan kulakukan? Huh.. Tentu saja menghukum jalang sepertimu!"
"Kumohon jangan. Maafkan aku, aku ha- Ahkk!"
Satu cambukan keras memotong perkataannya. Airmatanya tak henti-hentinya mengalir. Biarlah ia dikatakan lemah, siksaan ini sungguh sakit.
"Ahkk.. ahk ... ahk...."
Rhaegar mencambuk tangannya membabi buta, meninggalkan bekas cambukan yang mengeluarkan darah.
"Ini akibatnya jika kau berani membuat masalah. Dasar keturunan JALANG!!"
Ctar... tar !!
"Ahkk .. Ahkk.. Hikss hikss. Ampun. Cukup"
Rhaegar terus saja mencambuk permaisurinya itu tanpa ampun.
Entah sudah berapa cambukan yang ia terima. Gianetta tak tahan lagi. Kepalanya sangat sakit, tangannya nyeri sekaligus perih, matanya mulai berkunang kunang, bibirnya kering dan pucat. Keadaan Gianetta saat ini sungguh mengenaskan.
Ia tak tahan lagi menopang tubuhnya.Kepalanya terjatuh begitu saja pada benda yang menyerupai pasung tersebut dengan posisi yang masih duduk. Napasnya memburu dan perlahan kehilangan kesadarannya.
Tokk.. Tokk.. Tokk
Suara pintu menghentikan aktivitas Rhaegar.
"MASUK!" ucapnya lantang tanpa menoleh sedikitpun.
Masuklah Thorn dengan wajah sangat terkejut kala melihat Ratunya Gianetta tergeletak tak berdaya dengan tangan di benda itu. Namun segera ditepisnya dan menormalkan diri.
"Maaf mengganggu Yang Mulia. Seorang warga kita ingin bertemu dengan Anda. Dia adalah korban pemberontakan yang datang dari Zaidor."
"Kau boleh pergi. Dilain waktu jangan pernah mengetuk pintu jika aku sedang disini," ucap Rhaegar tegas.
Setelah mengatakan itu Thorn pamit undur diri.
Rhaegar menatap Gianetta yang tak berdaya dengan datar. Kemudian beranjak pergi meninggalkan Gianetta yang malang diruangan yang dingin itu sendiri.