Hari ini Andra pulang lebih cepat dari biasanya. Seperti biasa ada Mbak Ana langsung menyuguhinya menu makan siang, laki-laki itu makan dengan damai tanpa banyak bicara seperti mengomentari rasanya yang terlalu asin, porsi nasinya yang terlalu banyak atau tidak ada menu makanan berkuah di meja, tentu saja hal itu disertai dengan candaan dan Mbak Ana tahu betul bahwa anak majikannya ini anak yang cukup ceria.
“Tumben pulang cepet, Mas.” ujar Mbak Ana sepelan mungkin sambil meletakan segelas air putih.
“Pengen,” jawab Andra di sela-sela kunyahan. “Guru les aku udah dateng belom, Mbak?”
“Belum, Mas. Biasanya dia datang duluan, ya.”
“Iya, tau nih. Liat aja kalo dateng telat aku aduin ke Mama.” Andra melirik jam tangannya, sudah pukul empat sore. Padahal biasanya Agatha sudah nongkrong di kamar Andra dengan tatapan jengahnya.
Selesai makan, Andra langsung beranjak ke kamar dan hal pertama yang ia lakukan adalah menyalakan komputer untuk bermain game online. Kamarnya sengaja tidak ia kunci untuk berjaga-jaga barangkali Agatha nanti datang. Dua jam ia bermain hingga menyelesaikan dua ronde, Agatha belum juga datang dan Andra tidak tahu kenapa ia begitu gelisah. Laki-laki itu log out dari akun game-nya dan mengambil ponsel untuk menghubungi Agatha.
Lo dimana?
Baru satu menit setelah pesan itu terkirim, Andra langsung berdecak karena tidak mendapat balasan, ia segera mengambil jaket dan kunci mobil sampai ponselnya kembali bergetar dan kontak Agatha muncul di notifikasi.
Gue masih kerja. Kayanya gue ke rumah lo agak telat. Kerjain aja latihan soal yang kemarin belom beres.
Andra menghela napas, tapi ia tidak mengurungkan niatnya untuk pergi. Laki-laki itu tahu kemana tempat tujuannya. Disamping mengajar les untuk Andra, satu minggu lalu Agatha sudah meminta izin pada Melisa untuk mengurangi sesi belajar dengan Andra, perempuan itu membuat jadwalnya padat di hari-hari tertentu agar tidak menganggu aktivitas les dengan Andra. Memang akan lebih melelahkan, tapi Agatha selalu optimis bisa melakukannya dengan maksimal.
Andra menemukan Agatha sedang mengelap meja-meja pelanggan yang baru saja keluar dari restoran cepat saji yang cukup terkenal di Jakarta, dan mengumpulkan sampah-sampah bekas makanan menjadi satu. Andra hanya menunggu di sisi jalan, bersandar diluar setelah memesan minuman. Ia tidak berniat menghampiri Agatha dan hanya memperhatikan perempuan itu dari kejauhan.
Hari ini Agatha kebagian shift pagi, jadi pukul empat sore ia sudah bisa berkemas pulang. Baru saja Agatha ingin menghubungi Andra dan mengatakan bahwa ia sudah selesai, laki-laki itu menghadang jalannya.
“Dor.”
Agatha tertegun, sedikit terkejut tapi ekspresinya tetap saja datar. “Wow, kaget.”
“Huu, korupsi jam kerja lo! Liat aja gue aduin Mama!”
Agatha melotot tidak terima. “Eh, gue udah izin ya sama Bu Melisa!”
Andra hanya membuat ekspresi meledek yang dihadiahi tinjuan usil dari Agatha. “Ya udah ayo cepet balik ah, les nya jangan lama-lama ntar malem gue mau mabar soalnya!”
“Hidup lo emang ngga produktif banget, Dra. Sumpah.” gumam Agatha sambil mengikuti Andra masuk ke dalam mobil melalui pintu sebelahnya.
Mereka sudah berada di dalam mobil, Andra baru saja hendak menyalakan mesin motornya sampai ponsel miliknya bergetar dan kontak Melisa muncul di layar. Tanpa basa-basi, Andra langsung mengangkat panggilan. “Halo, Ma?
“…”
Dahi Andra mengerut. “Apaan? Jemput siapa? Marsha?”
“...”
“Lah, emang dia di Jakarta ngapain? Berapa hari?”
“...”
“Harus sekarang banget, tapi aku mau---” Andra melirik ke samping, ke arah Agatha yang juga sedang menatapnya dengan siratan cemas.
“...”
“Aduh, kenapa nggak suruh Tante Ajeng aja, sih. Udah tau anaknya mau pulang juga,” Andra berdecak. Ia mendesah keras seraya langsung mematikan panggilan dan menoleh ke samping. “Taa, gue kayanya---lah?! Agatha?!
Andra terkejut, ia tidak sadar bahwa Agatha baru saja keluar dari mobil dan membiarkan pintu terbuka. Andra segera keluar dari mobil mengejar perempuan dengan rambut berkuncir satu yang mulai melenggang di trotoar. “Taaa! Mau kemana, ya Allah!”
Agatha mendengar seruan Andra yang memanggil namanya dibelakang, tapi ia tidak berniat menoleh. Perempuan itu terus melangkah dan berharap ada ojek yang sedang parkir atau kendaraan umum apapun yang bisa ia tumpangi. Langkahnya terhenti ketika tas selempang miliknya di tarik dari belakang oleh--siapa lagi kalau bukan--Andra. “Freak banget, sih lo tiba-tiba turun dari mobil gue!”
“Lo mau jemput cewek lo, kan? Ya udah apa gunanya gue diem di sana. Udah jelas-jelas lo mau nurunin gue, kan?”
Mendengarnya, Andra sontak terkekeh. “Lo kenapa, dah, Ta? Kok jadi sensi?”
Agatha bingung, ia juga tidak tahu kenapa. Perempuan itu jadi salah tingkah sendiri, “Ya enggak, maksud gue, tuh--”, matanya membulat antusias begitu seorang driver ojek online berseragam hijau berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri. “Wah, driver gue udah ada, nih! Gue duluan ya, Dra. Besok aja kita ganti sesinya!”
Dahi Andra mengerut. “Lo udah pesen ojek?”
“Iya, ini langsung dateng, hehe.” Agatha nyengir, tanpa pikir panjang ia naik ke boncengan motor, sementara driver tersebut memberikan helm kepada Agatha dengan tatapan bingung setengah mati. “Ayo cepetan, Bang… jalan dulu aja…”
“Dah! Gue duluan, ya!”
Andra mengangguk sambil berkacak pinggang, matanya tidak bisa lepas dari sosok perempuan yang sudah menjauh dari ruang pandangnya. Agatha benar-benar aneh dan tidak bisa ditebak.
“Lagi berantem sama cowoknya ya, neng?” tanya driver pria yang kini sedang membawa Agatha setelah motornya melaju seratus meter kemudian.
“Bukan,”
“Lagi bosen ya?”
“Bukan Pak, maksudnya dia bukan pacar saya!”
“Oalah, maaf neng nebak-nebak aja.” Pria setengah baya itu tertawa. “Oh iya, terus ini gimana neng, kan perjalanannya belum masuk aplikasi? Lagian asal naik aja, saya kan baru mau mangkal.”
Agatha mendengus. “Ya udah, sih pak, kan jadi nggak usah nungguin orderan. Pokoknya nanti saya bayar cash sesuai tarif yang biasa di aplikasi aja deh, Pak.”
“Oke, BOS.”
***
Sore itu, Andra harus menjemput Marsha di stasiun kereta api. Perempuan itu pulang sebentar ke rumah untuk beberapa hari karena jadwal kuliahnya sedikit longgar di akhir pekan. Biasanya Marsha akan tetap tinggal di kost, tapi kali ini ada beberapa alasan yang membuatnya ingin pulang ke rumah sebelum kembali lagi ke Malang. Padahal besok ulangan harian sosiologi, Andra harusnya belajar dengan Agatha hari ini. Perempuan itu baru saja mengiriminya email berisi materi yang kemungkinan akan keluar besok.
Laki-laki itu berjingkrak dari ranjang menuju meja belajar dan segera menyalakan komputer, kali ini untuk belajar bukan login. Setelah menunggu sekitar semenit agar pemuatan data selesai, Andra segera mengambil beberapa buku tulis dari dalam rak.
Entah mengapa, ia tiba-tiba merasa bersemangat sekarang. Seperti ada dorongan menyeruak keluar begitu saja. Dan untuk pertama kalinya, Ia memiliki motivasi belajar.
Hampir seluruh halaman buku tulisnya kosong karena ia sendiri juga jarang mencatat materi yang selalu ditulis gurunya di papan tulis. Miris. Memang. Dan kalau sekalipun Andra menulis, itu tidak lebih dari sebaris atau dua baris dengan tulisan yang super semrawut seperti jalanan Ibukota, karena itu juga alasan mengapa Agatha mengirim beberapa materi pilihan sebagai bahan referensi, perempuan itu sudah tahu kalau Andra tidak memiliki referensi bacaan sama sekali.
Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Biasanya di jam seperti ini, jarang sekali Andra ada di kamar. Laki-laki itu mungkin sedang jalan-jalan menonton live music di Kafe pusat kota atau berdiam diri di rumah Ibnu untuk sesi mabar game online sampai larut malam.
Suara pintu terdengar, lalu disusul dengan decak kagum seorang wanita yang kali ini memasuki kamar sambil membawa keranjang baju-baju bersih yang mungkin lupa di simpan di kamar Andra oleh Mbak Ana tadi siang.
"Lah? Tumben banget belajar." Melisa meletakkan keranjang sedang itu di dekat lemari, sambil mencari-cari barangkali ada pakaian kotor supaya bisa sekalian ia taruh ke mesin cuci.
"Besok ulangan," jawab Andra sekenanya. Tanpa melihat ke arah Ibunya yang melipat selimut Andra yang berantakan.
"Alah, mau ulangan, mau UTS, mau UAS juga mana mau kamu belajar. Kerasukan Jin apa lagi kamu?"
Andra berdecak, “Kayanya nggak ada gitu, ya? Emak yang kali-kali mandang positif perubahan anaknya. Salah mulu perasaan,"
Melisa mencibir. "Apa gara-gara ada guru lesnya, jadi kamu mau belajar gini?"
"Nggak ngaruh, ye."
Melisa berkacak pinggang sambil menyipitkan matanya. "Ah, Iya. Pasti gara-gara guru lesnya perempuan makanya kamu doyan belajar."
"Apaan, sih, Ma! Udah sana, sana ah! Keluar!"
"Ngaku juga, kan? Dulu aja.. bilang Agatha alay, nyebelin, ini lah! Itu lah! Sekarang mau juga? Dih!"
"Ya emang bener, kok dia nyebelin. Sekarang juga masih."
"Yah, terserah---" Melisa terdiam sejenak, matanya mulai memperhatikan satu objek mencurigakam di bawah bantal, lalu ia menghampirinya. "Astagfirullah, Andra! Ini celana dalem kotor kamu simpen sembarangan! Kalau Agatha kesini gimana?!"
"Apaan?"
"Ini celana dalem kamu! Bikin orang ilfeel aja!"
"Hah?"
***
Andra menyampirkan tasnya di bahu kanan. Senyumnya merekah begitu memasuki kelas dengan penuh percaya diri. Beberapa temannya kebanyakan sudah datang lebih pagi dari jam biasanya. Bukan untuk belajar. Melainkan untuk berdiskusi memikirkan sekian banyak cara untuk membuat contekan agar terlihat lebih apik.
Yah, kecuali Randy.
Andra mengerutkan dahinya, melihat Randy sama seperti yang lain.
"Ngapain lo, nyet?" todong Andra, laki-laki itu menghempaskan tubuhnya ke kursi hingga menimbulkan suara berisik.
"Bikin contekan."
Andra membulatkan matanya. "Astagfirullah! Sadar, Mas.. Sadar.. Mencontek itu---"
"Contekan buat lo t*i!" Randy menempelkan kertas putih tadi ke jidat Andra dengan kesalnya. “Inget, ya, Ntar lo nggak usah gangguin gue lagi!"
Andra berkedip, "Segitu buruknya aku di mata kamu?"
"Ya abisnya, setiap ulangan lo gangguin gue mulu dengan pertanyaan yang super Oon! Kali-kali mikir, kek! Belajar! Jangan jadi orang ganteng, tapi otak nggak mateng!"
Andra memutar bola matanya. "Belagu, ya lo?"
"Apaan?"
"Gue belajar! Asal lo tau."
Randy mengerjap. "Oh gitu, ya?"
"Ya, iyalah."
"Belajar nyontek sih, gue percaya."
"Terserah lo, ah! Tai."
***
“Kembaliannya, neng.”
“Oke, makasih ya, bang.” jawab Agatha sembari memasukan uang recehan itu pada saku kecil dari totebag yang ia gunakan. Perempuan itu memindahkan ponselnya dari telinga kanan ke telinga kiri, belum selesai berbicara dengan orang yang ada di seberang telepon. “Lo bilang apa tadi? Gue ngga fokus,”
“Lo ngga penasaran sama nilai ulangan harian gue hari ini?”
“Eh, iya. Gimana, tuh? Pasti jelek.” ejek Agatha dengan mulutnya yang masih sibuk mengunyah bakwan. Kebiasaan buruk Agatha, makan sambil berjalan.
“Sembarangan. Nggak, lah!” sangkal Andra diseberang sana. “Nggak salah lagi.”
“Huu, ketebak, kan lo. Makanya jangan suka nyepelein materi. Ya jelaslah jelek, lo nyatet materi dari guru lo aja ngga pernah, gimana mau dapet hasil bagus di ulangan harian. Halu.” omel Agatha. Ketika sudah sampai halte ia duduk dan lanjut mengunyah gorengan, menunggu sampai bus trans-kota lewat.
“Lo lagi makan apaan, sih?! Ngomel kaga jelas. Telen dulu, tuh.” Andra malah keluar dari topik pembicaraan karena ia dapat mendengar Agatha sedang mengunyah selama sambungan telepon mereka.
“Gorengan,”
“Jangan banyak makan gorengan, Ta. Ntar cepet mati.”
“Hah?”
“Becanda,” Andra terkekeh. “Nggak bagus buat tenggorokan.”
“Terserah gue, lah. Gue jajan juga ngga minta duit lo.”
“Yeu, ngeyel. Pokonya, lo inget ya. Lo masih ada utang sama gue.”
Agatha mengerutkan dahi. “Utang apaan?”
“Utang bubur, lah. Yang waktu itu gue traktir. Lo harus gantiin.”
“Lah? Lawak, yang maksa minta temenin sarapan siapa coba?” seru Agatha sensi.
“Pokonya, kalo gue dapet nilai A di UTS nanti, lo harus traktir gue. Titik.”
“Idih, mana ada--”
“Bye.”
“Bisa banget ya lo cur--” Agatha menelan kembali kata-katanya ketika sadar bahwa sambungan telepon sudah diputus sepihak. Ia menghela napas sambil memutar bola mata, memang anak SMA zaman sekarang ada-ada saja kelakuannya.
Menghabiskan gigitan terakhir, Agatha membuang sampah bungkus gorengannya ke tempat sampah seraya bangkit berdiri karena bersamaan dengan itu, bus dengan rute yang ia tunggu sudah sampai. Saat menjatuhkan bokongnya di kursi, Agatha tiba-tiba merasa dipenuhi oleh potongan percakapannya dengan Andra via telepon sore ini.
Jangan banyak makan gorengan, Ta. Nggak bagus buat tenggorokan. Intinya itu.
Perhatian sederhana dari Andra yang demikian itu entah kenapa sedikit membuat Agatha sadar, bahwa laki-laki itu tidak terlalu menyebalkan seperti yang ia kira.