London, Inggris
Farrel tengah duduk santai di sebuah cafetaria yang terletak di tengah pusat kota. Sembari menunggu Sherly yang sedang asik belanja. Ia sangat malas kalau harus menemani seorang wanita berbelanja, lama dan melelahkan.
Wanita, bisa mengelilingi sebuah kota hanya untuk mencari sebuah benda, benda yang sama namun mencari harga yang paling murah. Dan, ujung-ujungnya, mereka akan kembali ke tempat pertama dan membeli barang pertama yang mereka lihat.
Pria itu duduk santai sembari menyesap coffe panas, dan mata tajamnya tidak luput dari sebuah tablet di genggamannya. Walaupun ia sedang berlibur, pekerjaan tetaplah yang utama. Ia tidak bisa melepas sepenuhnya pekerjaan yang di tanggungnya pada orang lain, itu adalah tanggung jawabnya sebagai pemimpin perusahaan.
Sedang fokus dengan tabletnya, Farrel tidak menyadari ada seorang anak lelaki yang tengah berlari kencang ke arahnya. Anak kecil itu tidak sempat 'ngerem' karena larinya yang sangat cepat, sehingga membuat coffe di genggaman Farrel berpindah pada tubuhnya.
Yang Farrel rasakan sekarang, panas.
"Oh, No!" Seru bocah lelaki itu sembari menatap Farrel takut. "Uncle, forgive me! I'm sorry, Uncle, forgive me! Don't tell my mommy, please!"
Anak kecil itu benar-benar ketakutan melihat ekspresi datar Farrel. Tatapan Farrel seakan membunuhnya, tubuhnya bergetar saat menyadari ia sudah melakukan suatu kesalahan yang besar. Belum lagi, setelah ini Ibunya pasti akan memarahinya habis-habisan.
Farrel menatap bocah lelaki yang berusia sekitar lima tahun di hadapannya ini. Sejenak Farrel terdiam, sembari terus menatap wajah anak kecil itu. Sedangkan yang di tatap, malah semakin gugup karena mata tajam Farrel seperti sedang mengiris kulit tubuhnya.
"Di mana ibumu?"
Pertanyaan Farrel, membuat anak itu tersentak. Wajahnya masih datar seperti tadi, ekspresinya juga tidak berubah, namun suaranya begitu lembut.
"Di-di sana," ia menunjuk ke arah sebuah toko pakaian.
"Siapa, namamu?" tanya Farrel lagi.
"A-aku, na-nama ku, Dave." jawabnya terbata-bata.
Farrel menganggukkan kepalanya. Saat ia ingin menawarkan untuk mengantarkan Dave pada ibunya, Sherly sudah datang dengan dua puluh paper bag dengan logo merk terkenal di genggamannya. Wanita itu awalnya tersenyum manis pada Farrel, sampai noda di jaket yang Farrel kenakan membuat senyumnya luntur.
"Untuk apa kau mandi coffe?"
Farrel menghela nafasnya. "Aku tidak mandi coffe."
"Lalu? Kau menyuruh jaketmu meminum coffe?"
"Tidak juga."
"Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?" Sherly mulai bergerak membersihkan noda coffe itu menggunakan tissue.
Farrel hanya diam, seraya menunjuk Dave yang masih terdiam di tempatnya, menggunakan dagunya. Sherly membalikkan tubuhnya, dan ia mengernyitkan dahinya menatap aneh ke arah anak kecil itu.
"Hei, kau!" Panggil Sherly. "Kau yang melakukan ini?"
Dave meneguk salivanya. Mengapa orang dewasa sangat menakutkan? Tidak cukup ada Mama yang akan memarahinya setelah ini, sekarang sepertinya pasangan yang tidak cocok ini juga sedang berusaha untuk memarahinya.
"Sudahlah, ia tidak sengaja." ucap Farrel menghentikkan Sherly yang baru saja akan menyerang anak kecil itu, lagi.
Sebenarnya, jika Sherly ingin mengajak anak kecil seperti Dave bertengkar, bukanlah hal yang aneh. Mengingat kelakuannya sendiri yang sudah hampir sama dengan anak seusia Dave. Jiwa anak kecil Sherly tidak pernah mau pergi dari tubuhnya, wanita itu hanya akan menjadi wanita dewasa di depan orang lain, tapi tidak di depan Farrel dan keluarganya.
"Kalau saja ia tidak melarangku, sudah pasti aku gigit kau!" Sherly meraung seperti seekor kucing yang makanannya di rebut, ditambah dengan ia yang menampilkan deretan gigi putihnya.
"Aih, kenapa kalian menyeramkan sekali?" gumam Dave pelan.
"Tunggu sebentar, aku ingin berjalan ke toko di sebrang sana," Sherly menunjuk sebuah toko besar yang di kacanya menampilkan beberapa manekin dengan mantel musim dingin. "Aku ingin membeli mantel baru, untukmu."
Tanpa menunggu respon atau jawaban Farrel, Sherly kembali berjalan menuju toko mantel yang berada tepat di hadapan mereka.
"Dave," panggil Farrel. "kemari."
Meski agak ragu dan takut, akhirnya Dave memberanikan dirinya untuk duduk di sebelah Farrel. Bocah kecil itu menatap tak nyaman pada mantel hitam Farrel yang di penuhi noda coffe akibat ulahnya.
"Setelah wanita tadi kembali, aku akan mengantar kau pada Ibumu." ucap Farrel dengan suara lembutnya.
"Apakah wanita tadi, istri mu?" tanya Dave dengan rasa penasaran luar biasa. Entah, apa yang memengaruhinya, ia merasa sangat penasaran padahal ia tidak mengenal dua orang itu.
"Kau terlalu kecil untuk mengerti itu," Farrel terkekeh. "Kau pintar, ya? Berapa umur mu?"
"Kata Ibu, umurku lima tahun." jawabnya seraya menatap wajah tampan Farrel.
"Benarkah?" Farrel menaikkan sebelah alisnya. "Kau seperti bukan bocah lelaki dengan umur lima tahun. Kau terlihat lebih tua daripada itu, kau terlihat seperti anak berumur tujuh atau delapan tahun."
"Ibu setiap hari mengajariku, dan katanya aku harus jadi anak yang pintar." Dave melirik sekilas ke tempat ia tadi berlari dari Ibunya, kemudian beralih menatap ke arah Farrel lagi. "Kenapa kau menyuruhku duduk di sini? Kenapa kau tidak memarahi aku? Kenapa kau baik padaku? Apakah kau seorang penculik?"
Farrel tersenyum kecil, sangat kecil. "Kau mengingatkan aku pada seseorang."
"Benarkah?" tanya Dave antusias. "Siapa?"
"Aku." jawab Farrel. "Kau mirip denganku, saat aku kecil."
"Aku tidak mengerti.." Dave menggaruk-garuk tengkuknya.
"Lupakan," Farrel mengibaskan tangannya.
Dave menundukkan kepalanya, anak itu menoleh lagi ke belakang, dan seketika jantungnya berdetak dengan cepat. Astaga, itu di sana Ibunya sedang menoleh ke kanan dan ke kiri dengan tatapan khawatir. Dave yakin, Ibunya sedang mencarinya. Dan, tatapan khawatir itu akan berubah menjadi tatapan ganas saat ibunya tau bahwa lagi-lagi Dave membuat masalah.
"Aih, ia melihatku!" gumam Dave gugup.
Kali ini, ibunya pasti tidak akan memaafkannya!
"Dave!" panggil Ibunya yang kini sudah berada di depannya. "Darimana saja, kau? Apa kau tidak tau kalau aku khawatir?"
"Hei, Miss?"
Ree langsung menoleh, dan mendapati seorang pria sedang menatap canggung ke arahnya. Ree menaikkan sebelah alisnya, kemudian pandangannya tertuju pada noda coffe yang ada di mantel pria itu.
Dave sedang duduk bersama pria itu, dan ada sebuah tumpahan coffe di mantelnya. Ree sudah bisa menyimpulkan, bahwa ini memang ulah anaknya.
"Maaf," Ree berucap canggung pada Farrel. "Ini pasti ulah anakku, bukan?"
"Sama sekali bukan," Farrel tersenyum tipis pada wanita di hadapannya.
"Benarkah? Huh, syukurlah." Ree menghela nafasnya lega, kemudian menatap ke arah Dave. "ayo kita pulang."
"Tunggu sebentar, Miss!" cegat Farrel. "Bisa kita berkenalan?"
Ree tersenyum canggung, lalu menerima ajakan tangan Farrel untuk bersalaman. "Ree Alison."
"Farrel," ucap Pria itu tanpa mengalihkan pandangannya yang menatap lurus bola mata Ree. "Farrel Manggala Wdyatmaja."
"Senang berkenalan denganmu, Mr.Wdyatmaja." Ree tersenyum manis.
"Aku juga."
To be continued
Hallo semuanya! Maaf banget kalau cerita ini ngebingungin, sejauh ini kalian pada nanya,
Retha mana?
Retha mati?
Aku di sini mengajak kalian berpetualang mencari kepingan-kepingan puzzle untuk di susun, yang akan menghadiahkan jawaban atas semua pertanyaan kalian :). Ceritanya nyambung, kok. Asal kalian terus ikuti dan paham dengan semua clue yang aku kasih :)
Follow ig
Cantikazhr
Cantikazhrstory
Farrelmw
Sherlywilliamss
Ree.alison
Gabung grup chat? Line : cantikazhr