Cantika yang usil

1467 Words
Ratih tak bisa memalingkan pandangannya dari Amira, dengan penuh rasa penasaran Ia menatap Amira berharap Amira akan menjelaskan sesuatu kepadanya. Amira yang sedari tadi sudah merasa risih dan jengah tentu saja tak tahan dengan tatapan Ratih yang haus akan sesuatu, membuat seolah-olah ada rahasia terpendam yang Amira sembunyikan. Ratih mengacungkan ponselnya tinggi-tinggi dan mendekatkannya ke wajah Amira hingga jarak 5 – 10 cm dari wajahnya dengan layar ponsel. Bola mata Amira auto fokus melihat foto di layar ponsel Ratih, foto yang terlihat di ambil dari jarak jauh itu menampilkan dua orang yang berjalan beriringan di tengah-tengah kawasan pujasera. Amira memicingkan matanya tajam-tajam melihat foto tersebut. Begitu sadar, Ia menutup mulutnya sendiri khawatir akan teriak histeris. “itu kayaknya foto aku deh, ka” seru Amira tak percaya dan menutup mulutnya sendiri dengan tangannya “hmm….sedang menyiapkan alasan apa ini? Siapa pria ini? Sepertinya dia tampan..hahaha” sahut Ratih diiringi dengan ala ala senyum jahat “dari mana itu ka?” “lho…lho…kenapa ditanya malah nanya balik toh? Jawab dulu pertanyaanku, atau pertemanan kita cukup sampai disini” jelas Ratih mendramatisir Amira menepuk jidatnya sendiri, Ia bingung siapa gerangan yang iseng mengambil fotonya bersama Ryu yang tengah berjalan menuju salah satu restaurant di kawan pujasera itu. “ya ampun, ka..itu foto aku sama Yuki. Temennya Ryu san, detailnya sudah aku ceritakan lho yang aku ketemu dia di tempat fitness. Lagian itu foto dua minggu yang lalu. Dari siapa sih ka?” “mmm…oke, honestly itu foto kiriman dari Cantika. Dia nanya ke aku, apa kamu sudah punya pacar sekarang? Biasalah kepo gitu. Aku kaget aja, ternyata Yuki seganteng itu. Jujur kaget banget aku” jelas Kak Ratih dan mulai senyum-senyum sendiri. “baaahh….itu anak kenapa dah?” Pikiran Amira berputar kembali, menelusuri memori lama yang menurutnya sangat kekanak-kanakan. Diingatnya betul Cantika yang sangat menyukai Ryu dari awal kedatangannya, begitu sangat cemburu dengan kenyataan Amira yang bisa dibilang dekat dengan Ryu. Amira yang memang dari segi fisik sangat terlihat biasa-biasa saja dibandingkan dengan Cantika yang dari segi visual pun sudah terlihat jelas. Cantika, wanita yang usianya dua tahun lebih muda dari Amira, berparas cantik, wajahnya kecil dan mungil, dengan bentuk mata yang seperti kacang almond dan bulu mata yang panjang dan lentik, serta alis yang simetris belum lagi dengan bentuk tubuh yang ideal dan kulit yang putih bersinar. Dari segi fisik tentu saja sangat jauh dari Amira, namun Ia tidak pernah mendapatkan perhatian khusus dari Ryu selain sebatas rekan kerja maupun staff di perusahaan. Cantika yang jealous begitu melihat Amira mendapatkan oleh-oleh khusus dari Jepang begitu Ryu kembali ke Indonesia, tentu saja di lubuk hatinya ia tidak terima dan mulai menebarkan cerita-cerita fiktif di kalangan teman-teman. Mulai dari Amira yang selalu mencoba mendekati Ryu, hingga selentingan kabar beredar bahwa Amira tak sadar diri dengan penampilannya. Padahal bukan hanya Amira yang mendapatkan oleh-oleh khusus, staff administrasi dibagian Ryu pun juga mendapatkannya, belum lagi Adam yang juga mendapatkannya. Untungnya mental Amira sudah teruji secara benar, untuk hal ini tentu saja tidak membuatnya down. Dengan penuh kekesalan, Amira membolak-balikkan kertas dokumen dengan kasar. Pikirannya dipenuhi dengan aksi nggak jelas nan absurd yang dilakukan Cantika. “ benar-benar kekanakan” Amira ngedumel dan kini mouse yang tidak bersalah menjadi korban aksi brutal pelampiasan amarah Amira, Ia mengscroll file dengan kasar. “Mbak Ratih….” Panggil suara nyaring namun terkesan dibuat-buat agar terdengar lembut Amira melirik ke samping Ratih, dilihatnya sosok yang paling tidak mau dilihatnya sama sekali untuk saat ini telah berdiri persis diantara Ratih dan dirinya. “iya…kenapa Cantika?” Tanya Ratih dengan nada malas “ini lho dokumennya, tolong dikerjain yah” “oke” “oiya mba, udah ditanya belum keorangnya?” Tanya Cantika dengan nada yang sangat jelas supaya terdengar oleh Amira “Tanya aja sama orangnya tuh” jawab Ratih dan menunjuk ke Arah Amira. Amira pun langsung pura-pura tidak mendengar apa yang tengah mereka bicarakan. “euugh, Mbak mah gitu deh” “mau nanya apaan sih ?” Tanya Amira kesal “apaan sih?” Tanya Cantika balik sok polos “ ya Ampun, childish banget sih. Kan bisa nanya langsung lagian yang di foto itu kan aku” Amira mulai geram “apaan sih ini rame-rame?” Tanya Adam yang entah datang dari mana sudah berdiri di belakang Amira. “ nggak ada apa-apa kok, Dam. Aku cuman mau nanya tadi ke Mbak Ratih kenal nggak sama orang yang difoto ini soalnya Amira keliatan seru banget gitu pas ngobrol” Cantika menyodorkan ponselnya kearah Adam, diperlihatkannya foto Amira dan Yuki yang tengah jalan berdua. Adam terlihat memicingkan matanya, melihat dengan jelas foto yang disodorkan ke wajahnya. Alisnya sebelah terangkat, Ia mulai mengelus-elus jenggotnya. Pose ala Adam yang sok lagi mikir. “ya ampun, kirain heboh-heboh apaan. Temen aku itu, aku kenal kok” jelas Adam singkat “siapa?” Tanya Cantika penuh dengan penasaran “kepoooo” sahut Adam usil “udah Cantik, nanti aku kerjain yah. Kamu balik dulu sana” seru Ratih mencoba mencairkan suasana kembali Dengan tangan kosong, Cantika pun kembali ke meja kerjanya. Mukanya ditekuk, bibirnya manyun cemberut. Ia merasa kesal sepertinya timingnya kali ini sangat salah. Sehingga ia tidak mendapatkan hasil yang diinginkannya, malahan terkesan Ia yang sedikit aneh dan terpojokkan. Kali ini Adam menatap Amira dengan penuh penasaran, dirinya butuh kejelasan. Sejak kapan Amira berjalan berdua saja dengan Yuki secara sengaja?. Amira pun mendelik kesal ke arah Adam, belum sempat Adam bertanya Ia mengeluarkan jurus cemberut. “ ada acara apa itu?” Tanya Adam “ ya ampun, Dam. Sumpah deh, aku nggak sengaja banget ketemu. Jadi aku lagi ikut kelas promo fitness dan gym. Nggak taunya yang aku datengin itu lokasinya persis di gedung apartemen Yuki. Mana aku tau Yuki tinggal disitu, lagian itu dua minggu yang lalu. Dan sampai kemarin juga belum ketemu dia lagi” jelas Amira berapi-api “ooo….” Adam mendaratkan tangannya diatas kepala Amira dan memukulnya pelan, kemudian berjalan menuju ruang meeting yang terletak disebelah ruangan administrasi. Amira memegangi dadanya, mengelusnya perlahan mencoba menghilangka rasa sesaknya karena kesal dan sedikit menahan emosi. Tak disangka dirinya terjebak drama khas anak sekolah diusianya yang terbilang tidak begitu muda. Ia tentu saja ingin menjalani kehidupan yang normal dan biasa saja, Ia sudah pusing dengan masalah pribadi yang menimpa dirinya. Ia pun ingin berdamai dengan semua orang, namun semua itu terjadi tentu saja diluar kuasanya. Ia tidak bisa memaksakan agar semua orang menyukainya. Amira mencoba mengatur nafasnya dan mengendalikan emosinya, kembali fokus dengan pekerjaannya. Sebagai langkah penghimburan kepada Amira, Ratih mengelus-elus punggung Amira dengan lembut tanpa berkata apa-apa dan kembali fokus dengan pekerjaannya. ** “Ndut!!” teriak Adam dari motornya sembari melambaikan tangannya. Dan tentu saja membuat Amira sedikit kaget. “kenapa?” Tanya Amira yang sudah menghampiri Adam ke motornya “hari ini kita nggak bareng dulu yah, aku ada urusan” jelas Adam Amira yang tentu saja bingung, Ia mengernyitkan alisnya. Seharian tidak ada pembicaraan apa-apa tentang perkara tebeng menebeng sepulang kerja. “kan emang nggak ada omongan, Dam” “soalnya Deru chat aku, katanya dia nggak bisa jemput dan hari ini aku ada janji sama teman” “kok? Kenapa nggak ke aku yah?” Amira pun mengecek ponselnya dan ternyata ponselnya mati kehabisan baterai. “eh..ternyata ponselku mati” sambung Amira sambil nyengir “oke, sorry yah Ndut, bye…” Adam yang sudah 15 menit menunggu kemunculan Amira di depan pintu gerbang bergegas pergi dengan motornya begitu selesai bertemu dengan Amira, meninggalkan Amira yang berdiri didepan pintu gerbang menunggu angkot tujuannya lewat. Tanpa sengaja Amira menatap kesebrang jalan, dilihatnya Cantika sedang menunggu ojek online disana. Seketika dirinya bergidik melihat tatapan Cantika begitu mereka tidak sengaja melakukan kontak mata. Amira pun dengan segera memalingkan wajahnya, takut Cantika akan salah paham lebih jauh. Amira menyenderkan tubuhnya di dinding angkot, hari ini tubuhnya terasa begitu lelah. Pundaknya pun terasa berat. Ia tidak habis pikir bahwa Cantika akan sampai sebegitunya terhadap dirinya. Disaat dalam perjalanan pulang maupun pergi bekerja dengan menggunakan kendaraan umum, Amira sering terbuai dalam lamunannya. Pikirannya sering melayang-layang kemana-mana, beberapa rencana maupun sedikit banyak kilas balik kehidupan yang terjadi pada dirinya sering hinggap dipikirannya. Ia yang merasa bahwa diusianya yang sekarang, ia seharusnya sudah meraih lebih dari yang Ia dapatkan hingga saat ini. Apalagi perkara jodoh yang membuatnya agak sedikit pusing, bertambahnya usianya membuatnya semakin sempit dalam aktivitas pergaulan sosialnya. Tak banyak teman baru yang Ia kenal. Apabila harus ikut reuni, dirinya pun sangat tidak sanggup. Menghadapi kenyataan kalau keadaan teman-temannya jauh lebih maju ke depannya dari dirinya. Belum lagi deretan tumpukan pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan kepada dirinya. Ia lebih nyaman berada di zona nyamannya sekarang, namun di lubuk hatinya paling dalam pun sebenarnya mempertanyakan tentang sampai kapan Ia akan selalau berada di zona nyamannya. Amira dengan rasa insecure-nya yang terlalu tinggi. Amira membuka jendela angkotan umum, membiarkan wajahnya diterpa angin membiarkan dirinya merasakan rileks sejenak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD