Adam dan Ryu berjalan dengan cepat menuju ruang meeting yang terletak di lantai 2. Ia bersama Ryu akan menghadiri meeting mengenai project baru. Ditangga didapatinya Amira sedang menuruni tangga dengan perlahan, tangannya menyender lemah diatas pegangangan tangga yang terbuat dari besi.
“Ndut…kenapa? Lemes amat” Adam menghentikan langkah, Ryupun ikut menghentikan langkahnya.
Amira hanya menggelengkan kepala lemas dan tidak berkata apa-apa, dirinya langsung berjalan pergi. Adam yang sedang terburu-burupun melanjutkan langkahnya ke ruang meeting, sementara Ryu sedah lebih dulu berjalan cepat didepannya.
Dengan langkah gontai Amira berjalan menuju mejanya, tumpukan dokumen dibawanya dengan susah payah. Sesampainya di meja, disandarkan keningnya di atas meja. Beberapa kali Ia menghela napas.
“masih mau lanjut? Kok malah jadi nyiksa diri sendiri?” Tanya Ratih, meja kerjanya bersebelahan dengan Amira.
“mmm….” Amira menjawab seadanya, dirinya lemas sudah tiga hari ini tidak memakan nasi sama sekali. Ia hanya memperbanyak minum air putih. Senin pagi dirinya dibuat kaget dengan angka jarum timbangan yang semakin bergeser ke kanan.
Kini berat badannya 78kg, hampir mendekati angka 80kg. Pantas saja celana seragamnya semakin terasa sempit, langkah kakinya akhir-akhir inipun menjadi semakin berat. Belum lagi dirinya yang cepat lelah bila harus berjalan kaki dengan jarak yang cukup lumayan.
“diet itu nggak harus nyiksa badan. Cobain deh pola diet yang menyenangkan” saran Ratih yang menghentikan aktivitas menginput laporan hari dan membalikkan badannya ke arah Amira. Dengan sigap, iapun membangunkan badan Amira agar duduk dengan tegap.
“kak, kedengerannya mudah sekali itu dari mulut yang badannya tidak pernah terlihat gemuk”sahut Amira sedikit ketus, seakan tak bertulang badan Amira kembali melorot dikursi, jidatnya kembali menempel di meja. Dengan kesal Ratihpun menginjak kaki Amira.
“terserah, Mir. Setidaknya diet itu yang sehat jangan sampai membuat kamu sakit. Nggak bagus lho kalau sampai lemes begitu” jelas Ratih dengan sedikit kesal. Amira hanya mendelik kesal mendengar ucapan Ratih. Ia mengambil botol air minum yang berukuran 2 Liter, dengan cepat disedotnya air putih hingga hampir setengah botol.
“ini…baca” Ratih mengulurkan ponselnya, dengan malas Amirapun mengambilnya.
“apaan, ka?”
“baca dong…itu lagi ada diskon member fitness, coba dulu”
Terpampang jelas pengumuman diskon member selama sebulan untuk pendaftaran famous fitness dipostingan akun i********: resminya. Terbesit sedikit keinginan Amira untuk mendaftar.
“gimana?”Tanya Ratih penasaran, dilihatnya kilatan mata Amira yang terlihat tertarik
“kamu marketernya yah, ka?”
“apaan sih? Aku tuh cuman support salah satu junior yang lagi berjuang diet”jelasnya sembari mencubit pipi Amira
“hhhfftt….jauh ini ka. 20 menit lho dari sini, kudu bolak balik naek ojek online atau angkot. Kan lumayan juga ongkosnya”
“au ah, bukannya dicoba dulu. Kan bisa dana yang seharusnya buat jajan makanan di alokasikan kesini. Ayoo dong semangat. Jangan kebanyakan alasan. Kemarin ditawarin aerobik tiap minggu bareng komplek rumah aq juga ga mau kan?”
“ya kali…rumah kakak sama rumah aku aja jaraknya 45 menit, keburu capek ah”
“mmm…..”
“tapi aku kan nggak bawa baju, nggak ada persiapan mana cuman hari ini doang”
“chat dong adek yang lagi dirumah minta dianterin bajunya sekalian minta anterin nanti”
“tapi nggak punya baju fitness…senam..atau apapun”
“pake aja itu legging wudhu yang biasa di pakai sama kaos lengan panjang seadanya dulu, kebanyakan excuse nih ah” sahut Ratih mulai kesal kehabisan kesabaran. Amirapun bersungut kesal.
Amira mulai mempertimbangkan saran dari Ratih. Ia mulai mengecak perhitungan pengeluaran perhari dan bahkan efek perbulan apabila Ia mendaftar menjadi member. Kilatan semangat terpancar di mata Amira. Diet kali ini, Ia bertekad untuk mencapai kepala angka 6.
Dengan segera Ia-pun menelpon Deru untuk membawakannya perlengkapannya dan tentu saja menintanya untuk diantar ke famous fitness yang gedungnya terletak di lantai bawah apartement sunrise.
***
Dengan cepat Deru melajukan motornya. Amira yang sedari tadi cerewet memintanya untuk mengebut. Daripada harus naik ojek online maupun angkutan umum, Amira lebih memilih untuk memberdayakan adiknya yang sedang libur dan berada dirumah. Tentu saja dengan senang hati Deru bersedia sebagai ojek online dadakan, dengan iming-iming tambahan uang saku yang cukup lumayan.
“inget yah, dek..nanti jemput kakak lagi. Handphone-nya stand by” seru Amira, Deru pun hanya mengacungkan jempol pertanda mengiyakan.
Dengan langkah cepat Amira menuju gym, Ia mengejar kelas yang akan dimulai di pukul 19.00. Berdasarkan info di laman i********: resmi, khusus daftar member diskon hari ini bisa langsung mengikuti kelas namun dengan jumlah peserta terbatas.
Di depan pintu masuk terdapat sejenis meja respsionis, dengan staff wanita yang tentunya menggunakan seragam ala kostum senam. Staff wanita itu berperawakan tinggi dan langsing, dengan rambut berponi dan dikuncir kuda kebelakang. Dengan senyum ramah ia menyambut Amira.
“Hallo ka, nama saya Jenny, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya tersenyum lebar, memperlihatkan barisan giginya yang dibehel. Jenny menggunakan kaos berbahan polyspandek berwarna orange menyala dan legging ungu terang, kulitnya yang putih kontras dengan seragam yang dipakainya.
“hallo, saya Amira. Mau daftar member yang promo masih bisa ka?ikut kelas yang jam 7 malam ini”
“oiya, tentu masih bisa tinggal sisa 1 peserta lagi, silahkan isi formnya terlebih dahulu yah ka” jenny pun memberikan formulir pendaftaran.
“sebelumnya kakak sudah pernah ikut kelas seperti ini?”tanyanya ramah
“belum”
“oke, nanti akan dipandu yah ka”
Dengan cepat Amira mulai mengisi formulir. Diliriknya jam di tangannya, sudah menunjukkan waktu sholat maghrib.
“kak Jenny, aku pamit sholat dulu yah. Selanjutnya saya harus bagaimana?” Tanya Amira, ia memanggil Jenny dengan sebutan Kak padahal ia tau betul sepertinya umur Jenny lebih muda darinya.
“okay, ka. Selanjutnya nanti kakak bisa langsung masuk dan loker wanita adanya di sebelah kanan, setelah itu kakak bisa menuju ke ruanan. Area dibagi dua tanpa sekat yah ka, area sebelah kanan untuk olahraga menggunakan alat-alat yang tersedia mulai dari treadmill, mesin eliptis, rowing machine dan masih banyak lagi dan sebelah kiri arena kosong untuk kelas aerobic, Zumba maupun Yoga. Karena kakak mau ikut kelas gym hari ini. Hari ini kakak bisa langsung ikut kelas zumba yah. Untuk member disini kakak bebas untuk memilih mengikuti kelas Zumba atau memakai alat-alatnya secara mandiri maupun dengan instruktur” jelas Jenny secara detail
“thanks, Kak Jenny”
Selepas sholat maghrib, Amira bergegas ke loker dan mengganti pakaiannya. Sedikit cemas, ini adalah pengalaman pertamanya. Sudah sejak lama Ia tidak pernah mengikuti jenis olahraga apapun selain jalan kaki, yang langkahnya bahkan tidak sampai 10,000. Ia mengenakan celana legging berwarna hitam, serta kaos lengan panjang hingga atas dengkul.
‘ckrek….’ Amira mengambil foto selfie-nya.
~~ sending pic to kak Ratih
“Kak Ratih, si gendut mana?” Tanya Adam sambil berbisik, “udah pulang dari tadi langsung teng go”jawab Ratih sembari merapihkan meja kerjanya.
“tadi keliatannya dia lagi sakit, ka. Mukanya pucet, lemes gitu”
“anaknya lagi disini” Ratih menunjukkan foto yang baru saja diterimanya dari Amira. Foto selfie Amira sambil nyengir kuda, memamerkan giginya yang rata dengan posisi tangan membetuk ‘v’ ditempelkan di pipinya. Ia memakai kerudung instan bergo sehingga bentuk wajahnya semakin bulat. Adampun tersenyum geli melihat foto yang dikirim Amira.
“dimana itu, ka? Ada-ada saja si gendut” Tanya Adam penasaran
“lagi nyoba ikutan ngegym dia,mumpung promo.lagian Amira itu lagi gak sakit, cuman lagi diet. 3 hari belum makan nasi. Hehehe….”jelas Ratih
“okay, ka.hati-hati pulangnya”
“kamu nggak pulang?”
“nggak, ka. Lanjut nih lembur” Adampun pergi keluar ruangan dan menuju ruang kerjanya.
‘kriiing….kriinggg….’ ponsel Amira berdering.
“Assalamualaikum…”sapa Amira lembut,
“Wa’alaikumussalam, kamu dimana?”Tanya Bella
“lagi nyoba ngegym nih”
“dimana?kok nggak ngajak-ngajak?”
“udah yah Bel, udah mau mulai nih kelasnya”
‘tuutt…’ Amira langsung memutuskan telponnya, membiarkan Bella dengan setumpuk pertanyaan disebrang telpon.
~~ sending pic to Bella
Dikirimnya foto ruangan loker. Dan Amira pun bergegas menuju kelas Zumba. Sebanyak 15 peserta sudah berbaris rapih, diarea yang disediakan khusus untuk Zumba. Terdapat panggung kecil dimana instruktur akan berdiri di sana. ½ dinding ruangan di tempeli kaca yang besar. Arena khusus untuk olahraga alatpun ramai. Amira tertegun, Ia bingung dengan situasi ini. Di usianya yang sudah tidak remaja membuatnya kesulitan untuk lebih dulu berkenalan dengan orang baru dan mengakrabkan diri.
“cantik..sini”seru suara lembut mengajak Amira untuk berbaris di sebelahnya.
Amirapun menengok dan menghampiri gadis yang sangat cantik dengan bentuk tubuh yang ideal. Kulitnya putih terang, rambutnya hitam legam digelung, bola matanya coklat terang dan bulu matanya yang panjang dan lentik, gadis itu terlihat ramah. Ia mengenakan stelan olahraga dengan modelan atasan crop tile dan celana legging selutut dan berwarna pink cerah.
“hai..terima kasih” dengan gugup Amira berdiri di sampingnya
“baru pertama kali?”tanyanya ramah
Amira mengangguk
“Aku Santi, aku sudah lama jadi member di sini. Ayoo semangat”
“aku Amira”
Alunan musik mulai menyala, instruktur pria bernama Daniel memulai gerakan. Dengan gugup dan kikuk, Amira mulai mengikuti gerakan yang terbilang sangat sulit untuk orang yang tidak pernah olahraga sebelumnya seperti dirinya.
Gerakan yang menurut Amira cepat dan rumit sangat sulit diikutinya. Ia pun sering melakukan gerakan yang salah sehingga membuat Santi yang berdiri disebelahnya tertawa kecil. Setelah 30 menit, instruktur memberikan waktu untuk istirahat mengatur pernafasan dan meminum air minum.
Dada Amira terasa sedikit sesak dan sakit, nafasnya tersengal-sengal, sekujur tubuhnya terasa panas. Aktivitas kalori terbakar sedang terjadi ditubuhnya, belum lagi keringat yang bercucuran. Sembari mengatur napas, ia berjalan menuju sisi tembok hendak menyelonjorkan kakinya dan duduk bersandar.
‘brakkk….’
Amira yang berjalan sambil menunduk menabrak seseorang di depannya, wajahnya menabrak d**a lawannya yang bidang dan keras, karena lemas ia pun jatuh terjerembab tak bisa menahan berat tubuhnya.
Ouch…sakit
“sorry..sorry…are you okay?” Tanya suara pria yang kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Amira Bangun
Amira menengadahkan kepalanya dan betapa terkejutnya Ia, pria yang ditabraknya adalah Yuki. Ia tak menyangka akan bertemu Yuki ditempat ini.
“Yuki..?”
Yuki membantu Amira untuk berdiri. Amira menyambut uluran tangan Yuki dengan mengelap tangannya terlebih dahulu, takut keringat akan membasahi telapak tangannya.
“sorry yah” ucap Yuki lagi
Amira mengangguk sambil tersenyum
“kamu sekarang olahraga disini?”
“iya, Yuki?”
“tentu saja, aku tinggal dilantai atas”
Yuki dan Amira bertatapan selama beberapa detik, hingga akhirnya Yuki menyudahi dengan mengajak Amira duduk sembari minum. Amira yang duduk disamping Yuki, tidak percaya diri dengan kondisi dirinya yang sedang berkeringat. Ia masih mencoba mengatur pernapasannya. Yuki yang sedari tadi memperhatikan Amira hanya tertawa kecil melihat tingkah laku Amira yang kewalahan karena baru pertama kali ikut kelas senam.
“Amira, selesai kelas apa ada waktu? Kita makan sama-sama yuk!” ajak Yuki yang sama sekali tidak mengetahui Amira on diet. Belum sempat menjawab, Yuki kembali meneruskan olahraga kardio-nya menggunakan treadmill, meninggalkan Amira yang diam mematung.
Amira yang kelelahan, berjalan lunglai menuju pintu keluar. Perutnya sedari tadi sudah mengeluarkan suara layaknya drum pada marching band. Sebanyak mungkin ia meminum air putih, berharap meredamkan rasa laparnya.
“Amira san!” seru Yuki melambaikan tangannya dengan penuh semangat sembari tersenyum riang.
Amira yang lupa akan ajakan makan malam bersama dengan Yuki, sontak memegangi perutnya sembari berbisik “malam ini kau masih selamat duhai lambung”. Amira pun berlari kecil menghampiri Yuki dan tersenyum lebar.
“Jadi aku mau ditraktir apa?” dengan penuh percaya diri Amira melontarkan pertanyaan sembari tersenyum lebar dan medongakan wajahnya ke arah Yuki yang jauh lebih tinggi darinya
“mari kita jalan dulu” ajak Yuki dengan gaya sok cool
Awalnya Amira ragu mengiyakan ajakan Yuki, selain misinya on diet, Ia pun khawatir tentang bahan obrolan. Tanpa disangka-sangka Yuki pun yang memulai obrolan. Mulai dari cerita awal tentang pertama kali, Ia berada di Indonesia. Dan betapa shock-nya yang hampir setiap hari terkena macet, belum lagi pada awalnya lambungnya kaget dengan masakan Indonesia.
Yuki mengajak Amira berjalan diluar kompleks apartemen. Berjalan kaki berdua, menuju tempat nongkrong khas anak muda yaitu food court yang terletak disebelah komplek apartemen Yuki. Berbagai jenis makanan terdapat di food court itu, mulai dari makanan khas Indonesia, makanan Jepang, makanan Korea, makanan khas india dan bahkan makanan khas timur tengah. Yuki menghentikan langkah kakinya di restaurant yang menjual makanan Indonesia.
“kamu mau pesan apa?” Tanya Yuki yang mulai sibuk melihat menu
“apa aja deh”
“bakso yah?” Tanya Yuki
Amira pun mengangguk mengiyakan.
Kring….kring….. Ponsel Amira berdering, panggilan dari adiknya. Amira menepuk jidatnya, Ia lupa kalau ia berjanji begitu akan selesai Ia akan mengabari adiknya dan meminta untuk dijemput.
“Assalamualaikum, iya dek”
“wa’alaikumussalam…KAK!! Emang selesai jam berapa?”
Yuki menatap Amira bingung. Amira mengganguk ke arah Yuki dan membuat gesture meminta maaf untuk menerima telpon, Yuki pun mengiyakan.
“ya ampun, maaf yah Der. Kakak lupa info lagi. Ini kakak lagi makan dulu. Jemput lagi 30 menit yah? Gimana?”
“oke” jawab Deru singkat kemudian menutup telponnya.
“dasar adek sok cool” Amira berbicara sendiri dengan ponselnya sambil memasang muka cemberut.
“ada masalah kah?”Tanya Yuki cemas. Amira menggelengkan kepalanya.
“adik mau jemput”
“aarghh….gomen yah Amira san. Seharusnya tadi aku tidak memaksa” Yuki meminta maaf, membuat Amira menjadi tidak enak hati.
“tidak apa-apa, aku juga mau kok apalagi kalau gratisan. Iya kan?hehe…” jelas Amira berusaha agar suasana jadi tidak canggung
Ini adalah pertama kalinya bagi Amira jalan berdua saja dengan Yuki meskipun mereka lumayan sering berkumpul namun tidak pernah tanpa kehadiran teman yang lain. Amira yang duduk di sebrang Yuki pun, auto fokus melihat Yuki dengan jelas. Ia baru menyadari kulit Yuki benar-benar putih, garis wajahnya halus, tidak ada pori-pori besar menghiasi wajahnya. Bulu matanya benar-benar panjang meskipun tidak lentik, warna bola matanya benar-benar coklat.
“ apakah ada sesuatu di wajahku?” Tanya Yuki yang terlihat bingung dengan tatapan Amira
Spontan Amira langsung mengerjapkan matanya, menggelengkan kepalanya kikuk.
“tidak kok, maaf…maaf” sahut Amira kikuk, mukanya pun mendadak memerah.
Pramusaji pria mengantarkan pesanan, dua mangkok bakso dan dua es teh manis dengan gelas besar.
“silahkan, apakah ada menu tambahan lain?”ucap pramusaji ramah
“tidak ada” jawab Yuki
Amira memadangi lekat-lekat bakso yang tersaji dihadapannya. Ia memegangi perutnya, dan menelan ludah. Hari pertama diet, dengan planning untuk tidak makan malam untuk hari ini gagal total. Sementara Yuki sedang meracik bakso dengan tambahan sambal, serta saos dan kecap layaknya orang lokal.
“itadakimasu” ucap Yuki
Amira masih saja fokus melihat aksi Yuki, sehingga membuat Yuki menjadi bingung.
“kenapa?”
“waahh…ternyata Yuki sudah terbiasa yah makan bakso”
“iya…” jawab Yuki kemudian memasukkan potongan bakso besar
“kok bisa suka sambal, kan pedes”
“awalnya iya, tapi lama-lama..kalau nggak pakai sambal rasanya kurang pas. Biasanya sih sama teman kantor makan yang biasa di pinggir jalan itu” jelas Yuki dengan Bahasa Indonesia lancar yang masih terdengar aneh dikuping Amira.
Amira mengangguk mengiyakan, Ia pun mulai meracik baksonya.
“next kita harus coba yang dipinggir jalan dekat pusat kuliner di kota nih” sahut Amira semangat
“yosh!”