Kondangan

4408 Words
Dihari Sabtu yang terbilang cukup cerah ini, Amira masih asyik goleran di atas kasurnya yang super duper empuk, sudah sejak bangun pagi tadi ia bersin-bersin efek semalam pulang kehujanan. Ia sibuk cekikikan tanpa memperdulikan ibunya yang sejak 15 menit yang lalu terus saja berteriak memanggilnya dari dapur. Menolak lupa dengan kebiasaan anaknya dihari libur yaitu sibuk menonton mini seri Indonesia, drama korea, dorama jepang, film Hollywood, anime dan bahkan film India sekalipun, ibunya dengan gigih terus memanggilnya. “Amira….Mira…..AMIRA..!!!” Ibu Amira berteriak memanggilnya berulang-ulang “Iiiyaaa…..” akhirnya Amira menghentikan cekikikannya, dan menyahut panggilan ibu dan menghampirinya ke dapur. “kamu nggak jalan kondangan? Itu kan temen kamu si Anton kawin tuh. Ga enak lho, dya kan temen SMP kamu” Amira langsung cemberut. Merasa kesal, dya harus kehilangan momen berharganya karena auto memencet tombol pause ketika Yasunaga akan mencetak poin untuk timnya dalam Anime Basket yang sedang ditontonnya karena buru-buru menghampiri ibunya yang terus-terusan memanggilnya dan ternyata hanya demi mendengar pertanyaan yang berhubungan dengan si kang ghosting. Ngapain juga si ibu nanyain acara kondangan si Anton, pengen nyaut sambil marah-marah ntar ngeri auto jadi anak durhaka. Kan ga banget gitu kalau udah jomblo trus di kutuk jadi batu kayak si bang malin kundang. Amira langsung menggelengkan kepalanya, dan membalikkan badannya. Dengan cepat Ibu-nya menarik kerah kaos Amira yang sudah belel alamat menjadi tambah belel. “gak boleh begitu Amira, kamu taukan kalau menerima undangan itu kalau tidak ada halangan yah sebaiknya hadir. Apalagi kamu itu nggak ada kegiatan kan, cuman ketawa ketiwi cekikikan dari tadi di dalam kamar. Bantuin Ibu masak juga nggak nih, bantuin bersihin ayam kek, kupasin bawang kek, apa kek” jelas ibu panjang Amira menggaruk lengannya yang tidak gatal, sambil menundukkan kepalanya. Diusianya yang sudah menginjak 25 tahun, telinganya masih mendengar ucapan ibunya yang panjang dan lebar itu, yang ujung-ujungnya sedikit komplain karena tidak membantu ibu-nya didapur saat ini. “nggak deh kayaknya bu, aku ngerasa nggak enak badan juga dari tadi udah bersin-bersin aja” Amira berusaha menolak lagi. “kenapa toh? Yaudah bareng ibu aja deh ntar sore sama ibu-ibu gang sini” ajak ibu Amira sambil memaksa. Ibu-nya sama sekali tidak mengetahui cerita antara Amira dengan Anton untuk hal ini, apalagi berbau-bau percintaan Amira sedikit tertutup dengan Ibu-nya. Ia merasa tidak nyaman untuk bercerita. Belum lagi dengan ending kisah Amira ditinggal kawin, ibu-nya yang bakalan lebih susah move on, apalagi Anton masih dalam lingkungan sekomplek. Amira menuju kamarnya tanpa menanggapi ajakan ibunya. Ia kembali merebahkan tubuhnya diatas Kasur. Mengamati langit-langit kamar yang sengaja ia tempelkan hiasan berbentuk rasi bintang yang glow in the dark. Luas kamar Amira 3 x 3, begitu mulai bekerja ia berjanji untuk menyisihkan dan merenovasi kamarnya sesuai keinginannya sendiri sebagai reward untuk dirinya sendiri. Penghasilannya tidak sepenuhnya untuk dirinya, namun terbagi juga untuk membantu ibu dan Ayahnya membiayai sekolah kedua adiknya. Dinding kamarnya ditutup dengan wallpaper sticker dengan motif bintang laut berwarna kuning dan dihiasi lampu tidur awan tepat di bagian kepalanya. Kemudian lampu tumblr beserta foto dirinya, dan keluarganya di dinding sampingnya. Ia memilih Kasur tanpa dipan, dibawahnya dialaskan karpet. Dan ditengah lantai kamarnya di hiasi karpet bohemian ½ lingkaran. Tidak ketinggalan lemari pakaian dan meja kecil berwarna putih pun menghiasi kamarnya. Amira meraba-raba meja kecil disamping kasurnya, tangannya mencari-cari ponsel. Ia-pun mulai menuju group chat di ponselnya. ~ Amira bucin oppa ~ : Assalamualaikum…sobat group semua, dimohon respon segera. Ini darurat, super darurat. Asli…bingung banget. Nyokap barusan nyuruhin buat dateng ke acaranya si kang ghosting. ~ Bella bukan Belle ~ : Wa’alaikumussalam, hai ukhti bawel..mohon maaf saya nggak bisa, gini-gini saya punya pacar lho. Moon maap udah ada janji nge-date di malming yang cerah ini..xixixixi ~ Amira bucin oppa ~ : bodo amatt…mudah2an ntar hujan gede. Ya Allah, kabulkanlah doa hambamu yang jones ini. Daripada bikin penyakit hati **nyengirjahat ~ Bella bukan Belle ~ : kan begitu kan..senjatanya kayak gitu doang bisanya. Eh ini si berondong tumben ga nongol ngeramein group (menolak lupa group isinya cuman ber3) Ide mendadak muncul dikepala Amira. Spontan, ia-pun lompat dari kasurnya. Dengan langkah cepat ia berjalan menuju kamar adiknya sibungsu. “Der, temenin kakak kondangan yuk” pinta Amira yang sudah bertengger di pintu kamar Deru. Deru yang sedang fokus menatap layar laptopnya, terperanjat kaget. Dengan sinis, ia menatap kakaknya yang tengah memelas itu. “Nggak” Deru menjawab singkat. Cowok 19 tahun, adik bungsu Amira yang tengah kuliah di jurusan desain grafis. Memiliki wajah yang tampan, postur tubuhnya cukup ideal. Dan selalu bersikap dingin. “pleasseeee……temen kakak pada nggak bisa, tapi dari tadi ibu udah nyuruhin terus nih. Temenin yuk..nanti habis gajian kakak tambahan deh uang sakunya” bujuk Amira “oke” jawab Deru singkat, terpengaruh rayuan tambahan uang saku . “…jangan kelamaan dandan, di sana juga nggak usah lama-lama yah”sahut Deru Tanpa basa-basi lagi Amira langsung bergegas ke kamar mandi dan bersiap-siap. ** Amira masih memilih-milih baju yang akan dikenakan. Ia kebingungan antara stelan kebaya atau gamis pesta. Beberapa tumpukan pakaian sudah berserakan di atas kasurnya. Belum lagi pilihan jilbab untuk memadu padankan-nya. Pokoknya hari ini kudu keliatan kinclong memukau, please lemak sembunyi dulu di balik baju yah…(Amira berbisik ke tumpukan lemak diperutnya). Akhirnya pilihannya jatuh ke gamis terusan berbahan berbahan tile ruby berwarna mocca, dengan lapisan furing belakang moscrepe. Ia memakai jilbabnya dengan model simple, di pilihnya jilbab segiempat dan ditarik ke samping pundaknya untuk menutup bagian dadanya. Dipolesnya wajahnya dengan riasan ringan. “Assalamualaikum….!!” Suara tamu laki-laki memberi salam diluar. “Wa’alaikumussalam” Deru menyahut dan membuka pintu rumah. Amira yang sepertinya mengenali suara tamu, langsung keluar kamar dan menuju ruang tamu. “eh kak Adam…nyari kak Amira?mau kemana rapih bener?”Tanya Deru dan mempersilahkan Adam duduk. “iya dek” Amira kaget, Adam tiba-tiba datang ke rumahnya dengan style kondangan. Ia memakai stelan batik slim fit sehingga tubuhnya yang ideal semakin kentara. Rambutnya ditata rapih dengan gel rambut. Begitu melihat Amira, Adam hanya tertawa kecil, memasang muka over pede. “yuk, ndut…kita kondangan” ajak Adam sambil nyengir. Ini orang nggak ada kerjaan apa yah? Di group chat juga nggak chat apa-apa kok tau-tau nongol. “kondangan kemana?” Tanya Amira balik. “ketempat si Anton itulah..” jawabnya masih sambil cengengesan “dih…gak jelas banget sih. Aku udah minta temenin si Deru tuh” Amira menunjuk Deru yang sedari tadi berdiri memperhatikan mereka berdua dengan handuk dipundaknya. Deru langsung menggelengkan kepalanya. “nggak kok kak Adam, lagian Deru juga belum mandi nih. Kak Adam aja sana”sahut Deru sambil membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Amira dan Adam. “heeuuuh….” Amira menghela nafas panjang tanpa berkata apa-apa lagi. Amira kembali masuk kedalam kamarnya, merapihkan jilbabnya dan mengambil tas slempang kecilnya. Ia menuju teras rumah untuk mengambil sendalnya, melewati Adam dengan diam. Betapa terkejutnya ia, begitu mengeluarkan sandal wedges yang jarang ia pakai ternyata talinya sudah putus. “yah..putus deh, gagal cantik deh eike” seru Amira sembari menunjukkan sandalnya yang putus ke Adam. Adampun langsung terkekeh geli sembari memegang perutnya melihat sandal dan ekspresi Amira yang selalu tampak konyol dimatanya. “nggak ada yang lain?”Tanya Adam sambil menahan tawa. “nggak dong” jawab Amira dengan lantang. Tanpa berpikir panjang, mata Amira menuju jajaran koleksi sepatu sneakernya. Ia memilih yang berwarna putih. Dengan cepat ia-pun memakai sepatunya. “daripada nyeker, gak apa-apa kali yah pake sneaker”gumam Amira. Adam menggelengkan kepalanya heran. Hanya butuh 15 menit untuk sampai ke tempat tujuan. Pesta pernikahan di gelar di gedung serbaguna yang sudah disulap menjadi sangat cantik dan elegan. Nuansa pink dan gold begitu kentara. Barisan panitia berdiri rapih didepan pintu masuk. Tak ketinggalan jejeran pedagang kaki lima-pun ikut meramaikan jalanan menuju gedung serbaguna layaknya pasar kaget. Mulai dari penjual es krim yang menggunakan sepeda, penjual kelomang serta rumah-rumahannya, penjualan mainan dan bahkan penjualan balon.Adam memarkirkan motornya di tempat parker motor yang telah disediakan di samping gedung. “princess ndut…silahkan”Adam melingkarkan tangannya di pinggang, memberikan kode ke Amira agar memegang tangannya sambil tersenyum jail. “bukan mahram” Amira langsung berjalan cuek meninggalkan Adam dibelakangnya. Foto pre-wedding pasangan pengantin, berjajar rapih di pintu masuk. Amira langsung memegangi dadanya yang seketika terasa sesak dan menghentikan langkahnya. Hanya beberapa detik, Adam yang berjalan dibelakangnya meraih tangan kiri Amira yang kosong dan menggandengnya dengan pede masuk ke gedung. Amira yang masih hanyut dengan perasaannya tidak menepis tangan Adam. Mereka berdua-pun berjalan masuk. Berjalan di tengah-tengah orang yang duduk di acara pesta pernikahan, Amira mendadak seperti berjalan di atas catwalk. Ia merasa semua mata tertuju padanya, ia-pun mulai menundukkan kepalanya dan melihat ke arah sepatu yang ia kenakan. Dan akhirnya ia menyesal memakai sepatu itu. Sementara Adam, masih belum melepas gandengan tangannya. “langsung makan aja kali, Dam”seru Amira. Adam mengangkat sebelah alisnya, heran dengan Amira yang masih kepikiran makan. Dan Adam-pun hanya mengangguk. Amira yang sedari tadi mendadak gugup dan jantungnya berdetak lebih cepat seakan-akan hendak melompat dari dadanya membuatnya tanpa sadar mengambil nasi lebih banyak dari standar yang biasa ia terapkan kalau ke acara kondangan maupun sejenisnya. Ia tidak menyangka dirinya masih belum stabil, biasanya ia dengan mudah melupakan apapun yang memang bukan menjadi miliknya atau takdirnya. “ssstt….inget sama yang lain” Adam yang mengantri di belakang Amira mengingatkan sambil meledek “eehh…iya yah” Amira menepuk jidatnya. Ia melirik tumpukan lauk dan nasi diatas piringnya yang hampir membentuk gunung. Dengan langkah cepat Amira memilih menuju kursi yang jauh dari keramaian. Ia khawatir akan bertemu dengan teman-teman sekolahnya atau bahkan ibu-ibu komplek yang kenal dengannya. Malas rasanya harus berhadapan dengan sederetan pertanyaan basa basi klise, seputar kapan nikah? Dateng sama siapa?. “thanks yah Dam, gak salah nih tiba-tiba nongol dan jadi partner kondangan” ucap Amira yang mulutnya masih penuh dengan makanan “dikunyah dulu baru di telen. Lagian thanks apaan sih? Kebetulan aja aku juga diundang sebenernya. Ternyata mempelai wanitanya itu kakak kelas waktu kuliah dulu, dan kita lumayan kenal. Ada groupnya di ikatan alumni” “ooo….” “yaudah habis makan, kita langusng pamitan aja kali. Kalau makin sore kan makin rame juga kan. Gerah juga lama-lama disini” Amira hanya mengangguk tanda mengiyakan. Berulang kali, Amira mengambil napas dalam dan menghelakannya. Ia masih sedikit gugup, sedari tadi ia-pun tidak sanggup melihat ke panggung pengantin. Namun mau nggak mau sebelum pergi, ia harus bersalaman dan berpamitan dengan kedua mempelai. Lagi-lagi Adam menarik tangan Amira dan mulai mengajaknya meninggalkan acara tersebut. Kali ini Amira tidak menyambut tangan Adam yang hendak menggandengnya kembali. Mereka berjalan menuju panggung mempelai dan hendak berpamitan. “eeh….ini kan yang dulu suka sama Anton kan?” Tanya Ibu Anton, begitu Amira mengulurkan tangan untuk bersalaman. Tanpa berkata apapun, Amira dengan ogah-ogahan menyunggingkan senyum terpaksa. Begitu berhadapan dengan Anton, jantung Amira kembali berdegup dengan kencang. Sedikit gemetar ia mengulurkan tangannya. “selamat yah Anton”ucap Amira “terima kasih Amira, eh sudah ada yang baru yah. Selamat juga yah” sahut Anton dengan nada santai. Amira mendadak kesal mendengar respon Anton santai yang mengisyaratkan seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu apapun antara dirinya dan Amira. Jantung Amira mencelos begitu terlintas dipikirannya kalau selama ini hanya dirinya saja yang menganggapnya serius. “selamat yah” ucap Adam ke Anton, Anton yang lebih pendek dari Adam harus menengadahkan kepalanya melihat ke arah Adam. Dan Adam hanya mengucapkan dengan nada dingin, namun begitu ke mempelai wanita, Adam tersenyum lebar menampilkan senyuman terbaiknya. “Selamat yah Kak Shinta” “hei Anak ganteng, makasih banget yah. Nggak nyangka kamu bakalan dateng” sahut mempelai wanita yang memang terlihat cantik dengan tubuh yang tinggi semampai apalagi memakai gaun pernikahan berwarna peach dengan stelan slim fit yang membetuk tubuhnya, suaranya pun terdengar merdu. Anton-pun melirik Adam dan terlihat jealous. Amira yang melihat situasi ini-pun, didalam hatinya sedikit puas dan lega. “pacar baru yah say? Imut banget sih. Segera nyusul yah” ucap Shinta sambil melirik ke Amira. Adam-pun hanya menyahut dengan senyuman, kemudian menyusul Amira yang berjalan di depannya dan menggandeng Amira menuruni panggung dan berjalan keluar gedung. Begitu sampai diluar gedung, Amira buru-buru melepas gandengan tangan Adam. Raut wajah Amira yang sedari tadi terlihat gugup, mendadak berubah ceria. “denger gak tadi, Dam? Aku dibilang imut” ucap Amira sambil cengengesan, lupa kalau yang memuji adalah istri si tukang ghosting. “hmm….” Sahut Adam singkat dan mulai berjalan menuju parkiran motor, meninggalkan Amira yang mendadak jadi tersenyum-senyum sendiri mabuk akibat pujian ‘imut’. ** Amira menyeruput jus yang telah dipesannya. Kemudian ia menatap dua orang laki-laki yang asyik duduk didepannya. Si Duo Jepang, yang tanpa disengaja lagi-lagi mereka harus bertemu. Mereka berdua asyik mengobrol menggunakan Bahasa Jepang yang notabene Amira tidak menguasainya. Kalau emang mau ngobrol berdua, ngapain juga harus duduk satu meja kayak gini. Roaming banget asli Amira mengaduk-aduk jusnya, dan memainkan es batu di dalam gelasnya. Ia menunggu Adam, yang sudah 30 menit lalu ijin untuk masuk ke dalam Mall yang katanya ada sesuatu yang harus dibeli. Amira malas keliling Mall dengan baju ala kondangan, ia lebih memilih menunggu di downtown mall sambil menikmati live music. Tanpa disangka, duo Jepang yang baru kemarin mereka tidak sengaja bertemu, hari ini tanpa sengaja bertemu kembali. Amira yang sedang asyik menikmati jus dan melihat-lihat postingan-postingan lawak di social medianya di ponselnya, mendadak hampir loncat dari kursinya karena pundaknya ditepuk dengan begitu kerasnya. Iapun dengan cepat menoleh ke arah belakang, Ryu-san dan Yuki-san nyengir tanpa dosa. Dan dari sekian banyaknya kursi dan meja yang kosong, mereka berdua lebih memilih ikut nimbrung di meja Amira. Tanpa basa basi mereka langsung menarik kursi dan duduk tepan didepan Amira. “ehemm…ehem…” Amira berdeham memberikan kode kepada dua pria di depannya. Yuki spontan menoleh ke arah Amira, sementara Ryu masih asyik mengoceh menjelaskan sesuatu ke Yuki yang Amira sama sekali tidak mengerti. “aahh…. gomen. Ada apa yah Amira-san?” tanya Yuki dengan ekspresi wajah tak bersalah. Hadeuuh…yang kayak gini ini nih. Udah mah bikin orang jadi canggung plus kikuk, tapi nggak merasa bersalah..untung ganteng. Senggaknya mesen apa kek, ajak ngobrol dulu kek. Basa basi juga gak apa-apa kok. Tahan..tahan…tahan Amira. Amira menghela napas panjang, mengelus-elus dadanya sendiri. “Yuki-san sudah pesan makanan belum? Atau apa gitu?” Tanya Amira sambil berusaha tersenyum, menahan kekesalannya yang sudah 30 menit dibiarkan tidak diajak ngobrol sama sekali oleh Yuki dan Ryu. “sudah..sudah kok” jawab Yuki singkat. Amirapun hanya merespon dengan anggukan kepala dan kembali menyibukkan diri dengan mengaduk-aduk jusnya kembali. Perkenalan Amira dengan Yuki sudah berjalan selama satu tahun, yang awalnya tanpa disengaja bertemu dengan Amira, Adam dan Bella yang saat itu sedang asyik menonton live music di downtown Mall. Tentu saja perkenalan awal mereka dikarenakan Ryu yang sedang bersama Yuki yang tanpa canggung menghampiri meja mereka. Dan mulai memperkenalkan Yuki sebagai adik kelasnya semasa kuliah yang hanya selisih satu angkatan saja. Ryu yang memang dari awal ditugaskan di perusahaan cabang Indonesia ini berusaha berbaur dengan karyawan lokal. Adam yang selalu satu project dengan Ryu-pun lambat laun menjadi semakin akrab dengannya. Ryupun yang dari awal memang sengaja tidak menjaga jarakpun mudah untuk berbaur, dan akhirnya tanpa segan Iapun terkadang menghabiskan waktu diluar pekerjaan bersama Adam dan Amira yang awalnya dikarenakan pertemuan yang tidak disengaja. Dan pada akhirnya Ryu memperkenalkan Yuki, temannya yang juga ditugaskan di Indonesia namun berbeda perusahaan itu. Awalnya Ryu mengajak dan memperkenalkan ke Adam dan Amira menggunakan alasan agar Yuki bisa fasih berbahasa Indonesia, namun lambat laun sudah menjadi seperti teman tongkrongan yang dengan tanpa sengaja nongkrong bersama menikmati live music atau hanya sekedar mengobrol dan bersenda gurau. Yuki baru tiga bulan ini terdengar berbicara fasih Bahasa Indonesia, tentu saja saat itu mengejutkan Amira hingga tanpa sengaja membuat Amira menyemburkan minumannya ke wajah Yuki ketika Yuki sedang asyik berbincang dengan Adam membahas tentang pertandingan bola, biasanya mereka berbincang menggunakan Bahasa Inggris. Sontak saat itupun Amira terkejut. Amira yang memang pada dasarnya memiliki sifat insecure yang besar, tentu saja tidak nyaman dalam kondisi seperti ini. Secara tidak langsung ia seperti merasa terbandingkan dengan kehadiran dua pria yang secara fisik lebih terlihat Indah daripada dirinya, dan itu semakin membuatnya tidak nyaman apalagi ditengah-tengah kerumunan ramai dan dengan pakaian khas kondangan. Ia mulai sibuk menelpon Adam yang belum juga menampakkan batang hidungnya. “Amira-san….Hari ini terlihat cantik yah” ucap Ryu santai sembari menyambut pesanannya yang baru saja di antarkan ke meja. Sontak Amirapun terkejut dan mengangkat kepalanya melihat ke arah Ryu, pramusaji wanita yang mengantarkan pesanan-pun ikut terkejut, otomatis ekor matanya melirik ke arah Amira sembari meletakkan pesanannya. Amira yang sadar kembali menundukkan kepalanya, menghindari kontak mata dengan pramusaji tersebut. Telinga Amira terbiasa mendengar ocehan atau celetukan Ryu yang terkadang berbicara seadanya saja. Kalimat barusan yang didengar Amira tidak nyaman terdengar ditelinga Amira, apakah Ryu sekedar basa basi? Atau mengarah ke candaan? “iya kan Yuki?” Ryu meyakinkan Yuki, sembari asyik menyeruput hot cappuccino pesanannya. Yuki hanya mengangguk setuju, kemudian memasukkan potongan sandwich tuna besar ke dalam mulutnya tanpa melanjutkan kalimat pendukung apapun. Wajah Amira mendadak panas, Ia makin menundukkan kepalanya. Tanpa henti Ia terus menelpon ke nomer Adam. “Kenapa sih, Mir? Dari tadi nelponin terus?” terdengar suara Adam yang sudah duduk di sebelah Amira membawa dua paper bag sedang dan menaruhnya disampingnya. “kirain ditinggal pulang, habisnya lama banget. Mana ini ada dua orang ini” Amira memberikan kode mata ke arah Ryu dan Yuki yang sedang asyik menyantap pesanan mereka. “oiya, sorry yah kelamaan. Ini..” Adam menyodorkan satu paper bag sedang yang tadi dibawanya ke Amira. “apaan nih?” Tanya Amira bingung “buka aja” Amirapun membuka paper bag tersebut, dilihatnya dus berisikan sandal wedges yang pernah dilihatnya di salah satu toko di dalam Mall. “buat aku?” Amira menunjukkan jarinya ke hidungnya. Adam hanya mengangguk santai, kemudian menikmati es jusnya yang sudah mencair. “dalam rangka apa?”Tanya Amira heran sembari melihat dengan jelas Sendal wedges berwarna coklat. “anggap saja hadiah hiburan pelipur lara dari sahabatmu yang ganteng ini ” Adam-pun terkekeh geli sendiri dengan kalimat yang diucapnya sendiri. Dengan kesal dan keras, Amira menyodorkan kembali paper bag itu ke Adam. “nggak mau” “kenapa?” Tanya Yuki heran yang dari tadi memperhatikan Adam dan Amira. Amira tidak menjawab dan membuang wajahnya ke samping. “hari ini, kita habis kondangan..itu ke tempat mantan pacar Amira” jelas Adam ceriwis “kondangang ~~?” Tanya Yuki dengan nada khas orang Jepang yang sulit mengucapakan huruf ‘n’. “mantan pacar?” Tanya Ryu dengan pelafalan huruf ‘n’ yang sudah terdengar fasih, yang terlihat sedikit shock mendengar Amira mempunyai mantan pacar “wedding party, Yuki san. Hari ini Amira ditinggal mantan pacar menikah” jawab Adam santai tanpa memperdulikan ekspresi Amira yang mulai berapi-api hendak mencakar wajah Adam. Yuki dan Ryu sontak memperhatikan penampilan Amira dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sementara salah satu kaki Amira yang menggunakan sneaker keluar dari meja, duduknya tidak anggun. Mendadak mata mereka auto fokus ke kaki Amira dan kompak menggeleng-gelengkan kepala. “BUKAN MANTAN PACAR, PACARAN AJA NGGAK” sahut Amira dan memasang wajah cemberut. “souka…Amira-san hari ini terlihat lebih cantik yah” sahut Yuki santai, dan menyenderkan badannya ke bangku sembari melipat tangannya di atas d**a. “tapi tidak untuk sepatunya yah, terlihat agak kurang pas saja yah” sambung Ryu. Sontak wajah Amira kembali terasa panas. Iapun memegang pipinya. Adam yang mendengar ucapan Yuki-pun langsung tertawa lepas, sembari melihat ekspresi Amira yang mendadak kikuk. “hahaha…cantik sih, tapi karena make up yah..make up…”jelas Adam sambil terus tertawa dan memegangi perutnya yang sakit akibat tertawa geli. “tidak...tidak…biasanya juga cantik, tapi hari ini lebih cantik” ucap Ryu sambil mendekatkan wajahnya ke arah Amira hingga hanya berjarak 10cm dari wajahnya. Amira semakin menundukkan kepalanya, hingga jidatnya menempel di pinggiran meja. Pembicaraan apa ini? Kenapa Adam harus begitu ceriwis? Bisa-bisanya hal kayak gini duo jepang itu harus tau!! Amira mengangkat kepalanya, sontak langsung berseru lantang “BERISIK!!” “Mir, kenapa muka mu merah?” Tanya Adam, “sakit kah?” Tanya Yuki dan langsung mendaratkan tangannya dijidat Amira. Sontak wajah Amira semakin terasa panas. Amira memegangi pipinya. Jantungnya berdebar kencang. Terkejut karena Yuki dengan mendadak meletakkan tangannya dijidatnya. Belum lagi pujian-pujian yang sedari tadi dengan santainya di lontarkan oleh Yuki dan Ryu. Sontak mata mereka-pun bertemu. “aahh…gomen. pakai ini, sepertinya pakaianmu tidak begitu tebal, anginnya juga kencang dan dingin”seru Yuki yang sadar dengan tangannya yang tiba-tiba mendarat di jidat Amira dan buru-buru menurunkan tangannya kemudian menyodorkan sweater yang sedari tadi dikalungkannya. “eeh…??”Amira heran dan tidak menyambut sweater pemberian Yuki Yuki langsung berdiri dan menghampiri Amira, memakaikan sweaternya dipundak Amira “terima kasih” ucap Amira, pipinya kembali bersemu merah. Kemudian Ia melirik ke arah Adam, khawatir kali ini Adam akan memperhatikannya dan dijadikan bahan bullyan untuknya. Ternyata Adam sedang sibuk dengan ponselnya. Amira memegangi dadanya yang masih berdegup dengan kencang dan berusaha untuk menormalkannya kembali. Angin malam ini memang berhembus dengan kencang, ditambah saat ini mereka sedang asyik menikmati acara live music di area downtown mall yang terbuka. Tentunya sikap Yuki adalah sikap yang normal sebagai teman laki-laki yang mengkhawatirkan kondisi Amira, apalagi ditambah pakaian Amira yang dikenakan malam ini terlihat tidak cocok dengan suasana dan cuaca malam ini. Please jangan geer yah Amira…jangan geer… “ini” Adam menyodorkan kembali paper bag yang tadi dikembalikan oleh Amira. “serius?”Tanya Amira sambil mengangkat sebelah alis matanya. Adam hanya mengangguk kemudian berdiri dan menghampiri pegawai restaurant untuk meminta menu. Adam sih suami able banget, someday bininya dimasa depan tanpa harus merengek otomatis akan dibelikan barang yang diinginkan…thanks Dam. ** “Mira san, sepertinya sudah waktunya pulang yah” Ryu mengingatkan Amira sambil melirik ke arah jam tangannya. Amira yang sedang asyik menikmati live musik sambil ikut bernyanyi dengan suara sembernya mendadak berhenti dan melihat jam di ponselnya. Sudah pukul delapan malam. Waktu begitu cepat berlalu ternyata. “ah, iya…aku terlalu asyik berlama-lama disini” Amira melirik sekali lagi jam diponselnya. Mereka hafal betul dengan jam malam yang berlaku untuk Amira dan menghormatinya. “ayo, Ndut. Aku antar pulang dulu”seru Adam yang sudah bersiap berdiri dari bangkunya. “adam san, nanti kesini lagi?” Tanya Yuki dan membereskan permainan Uno yang sedari tadi dimainkan oleh ketiga pria bujangan itu. Amira langsung menoleh ke Adam dan memasang wajah bingung. “sorry, Mir. Aku lupa bilang, sebenarnya malam ini jadwal nobar” jelas Adam kikuk. Amira menghela nafas panjang, Ia-pun tidak enak kalau sampai Adam harus bolak balik hanya demi mengantarnya pulang. Sekalipun Adam tadi menyebalkan, tetapi Adam sudah menolongnya untuk menyelamatkan mukanya di hadapan kang ghosting. “kalau gitu, aku pulang naik ojek online aja deh. Gak apa-apa kok, lagian belum terlalu malam” seru Amira dan mendorong Adam untuk kembali duduk ketempatnya. “tapi, Ndut….” “seriusan, gak apa-apa kok…aku pamit yah semua..bye” Amirapun bergegas beranjak dari duduknya. Ia-pun mengulurkan sweater Yuki dan mengembalikannya, Yuki ikut beranjak dari duduknya. Yuki menyambut sweater miliknya, kemudian di pakaikannya kembali ke pundak Amira. “it’s okay. Kamu bisa kembalikan nanti. Malam ini dingin” ujar Yuki. Amira hanya mengangguk. “aku antar yah Ndut sampai halte depan” Adam menawarkan “aku saja” sahut Yuki “Mira san, pakai yang benar sweaternya. Udara dingin sekali” Ryu meingatkan. Amira dibuat luluh dengan situasi ini, dimana ketiga pria yang terlihat cuek dan somplak ternyata memperhatikan dan mengkhawatirkannya. Ia pun bergegas memakai sweater milik Yuki, dan ternyata kebesaran untuknya. Wangi khasnya menempel di sweater miliknya. Yuki, yang sejak awal mereka bertemu terkesan dingin dan cuek, serta terlihat begitu memperhatikan penampilan, pakaian yang Ia kenakan selalu rapih dan licin. Ternyata hari ini membuat gebrakan memori di kehidupan Amira, tak disangka Ia akan mendapatkan perhatian dari Yuki. Yuki berjalan menemani Amira menuju halte yang terletak di area depan Mall. Amira biasa memesan ojek online di sana. Sesekali Amira melirik kearah Yuki, yang berjalan disampingnya. Dimatanya Yuki tampak begitu terang, kulitnya yang putih terkena cahaya lampu membuatnya bersinar. Hari ini Ia mengenakan kaos oblong putih dan celana pendek, rambutnya yang sudah agak panjang dibiarkannya seikit berantakan. Baru kali ini mereka jalan berdua tanpa keberadaan teman yang lainnya, situasi ini membuatnya sedikit canggung. “Mira san nanti naik motor kah?” Tanya Yuki “iya” “mm….jauh kah?” “tidak, hanya 30 menit saja dari sini” Tak lama, mereka pun tiba di halte. “Yuki san, terima kasih yah” “iya, sama-sama. Aku akan menunggu sampai Amira pergi” Medengar kalimat itu membuat Amira menjadi senang. Rasanya hatinya sedikit berbunga, mendapatkan sedikit perhatian selain Adam. “ah…sebaiknya tidak usah naik motor. Angin malam ini sedang tidak begtu baik yah” seru Yuki. Amirapun menoleh ke arah Yuki, Ia baru saja akan memesan ojek online di ponselnya. Yuki melihat kearah ponsel Amira, mengambil dari genggamannya. Dipicingkan matanya ke arah jalan, kemudian dilambaikan tangannya menghentikan laju mobil taksi. Mobil taksi berhenti tepat di depan Yuki dan Amira, dengan sigap Yuki membukakan pintu penumpang untuk Amira. “sebaiknya kamu naik taksi saja, biar aku saya yang bayar” ucap Yuki dan mengembalikan ponsel Amira serta memberika dua lembar uang ratusan. Saking terkejutnya, Amira hanya terdiam dan bingung. Dengan lembut Yuki mendorongnya masuk ke dalam taksi. “ah….tidak usah repot-repot Yuki san. Aku bisa sendiri” Amira mengembalikan uang Yuki, dan tentu saja Yuki menolak. “next time kamu bisa traktir aku” Yuki tersenyum dan menutup pintu kursi penumpang, membiarkan Amira yang terdiam mematung, terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Yuki yang Ia kenal selama ini, hanyalah sebatas teman nongkrong yang hanya sebatas mengobrol dan tertawa bersama. Tidak pernah sedikitpun menunjukkan gelagat untuk terlihat lebih akrab dengan Amira maupun Bella. Mendapatkan perhatian yang sedari tadi Ia rasakan tentunya membuat Amira terkejut. “mau diantar kemana, neng?” Tanya pak supir, “ke perumahan graha yah pak” Mobil taksipun berlaju menuju rumah Amira. Dilihatnya Yuki di kaca spion masih berdiri menunggu mobil yang ditumpanginya pergi. Hari ini, Amira dibuat lupa dengan hal yang sudah mengacaukan hatinya dan membuatnya semakin insecure. Pikirnya hari ini akan dihabiskannya dengan menonton film mellow, mendengarkan musik bertema sad song dan menangis sendirian dikamarnya. Namun, perhatian yang diberikan oleh temannya, membuat dirinya sadar bahwa Ia tentunya berharga, masih banyak orang yang peduli dengannya. Hatinya kini secara alami beradaptasi dengan keadaan buruk ini. Sakit dihatinya sepertinya akan sembuh dengan cepat, kemudian siap menghadapi hari-harinya kembali sebagai si jones yang suatu hari nanti pasti akan bertemu dengan jodohnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD