Dua hari, Roni kembali tak memberiku kabar, aku bingung terhadap sikapnya yang kemarin masih manis dan kini berubah lagi. Aku mulai tersadar bahwa mungkin tidak seharusnya diri ini berdekatan dengan pria kaya itu. Mungkin iya, aku harus menjaga jarak, mencari orang yang sepadan untuk kucintai dan kuharapkan menemani sisa hidup ini. Ya, begitu ... Aku mendesah pelan dan menatap tampilan diri di kaca, sedih karena Kemabli terkenang dengan Mas Arya yang dulu menguasai segenap jiwa dna perasaanku. Mengapa kami harus berpisah? Ah, Tuhan. "Wajahku tidak demikian buruk, tapi kenapa takdirku tak henti-hentinya dihampiri kemalangan, kenapa ini?" Aku menggumam sambil mengusap pipi dan membenahi posisi rambutku. "Haruskah aku menulis takdir sendiri, haruskah aku ...." Ketukan di pintu yang

