31

1507 Words
Topaz Garnet paling senang pada saat mengemudikan mobil. Rasanya seperti kembali hidup menjadi manusia, saat-saat dimana segalanya biasa-biasa saja, dan ia disibukkan dengan pekerjaannya. "Apakah kau sudah tahu?" Jadrian duduk di sebelah Topaz. Ekspresinya tak dapat ditangkap oleh Topaz karena Jadrian memandang keluar jendela, nyaris memunggunginya. Topaz mengedikkan bahu walau Jadrian tidak melihatnya. "Memangnya bagaimana aku bisa tahu?" Beberapa saat yang lalu, Jadrian mendapat panggilan dari Victor yang ternyata sudah pergi bersama dengan Dami menuju hutan yang direkomendasikan oleh Wern bersaudara untuk kegiatan berburu mereka nanti malam. Topaz bisa merasakan betapa Jadrian marah besar, namun rupanya si Vampir ceking masih dapat menahan amarahnya. Beberapa saat yang lalu bahkan Topaz sempat melihat pasang mata Jadrian menghitam yang menyeluruh. Dan itu adalah tanda paling berbahaya bagi seorang Vampir. Mata hitam pekat menyeluruh pada Vampir berarti akan ada kematian. Tapi perubahan itu hanya terjadi sepersekian detik saja pada diri Jadrian. "Kau lebih sering berada di sekitarnya." Jadrian menuduh Topaz telak. "Ya, benar. Namun tidak berarti aku selalu mendengar setiap obrolannya dengan teman-temannya. Ya kan? Tunggu dulu, kita bahkan tidak membuat perjanjian terhadap batas-batas yang harus aku awasi..." "Oh, sudahlah..." Jadrian mengibaskan tangannya. Topaz menyeringai lebar. Jadrian menyerah. "Di saat aku sedang memikirkan cara untuk mencari tahu tentang kasus Dami, kalian malah bermain-main seperti ini." Keluh Jadrian. "Oh, ayolah, Jade. Kita perlu bersenang-senang bukan?" "Di saat seperti ini?" Tanya Jadrian sinis. "Burdenjam baru saja menangkap Vampir yang dituduh membunuh tiga orang manusia. Kau pikir ini waktu yang tepat untuk bersenang-senang?" "Aku sudah tanya pada Solaris," Topaz memutar otak untuk adu debat ini. Berdebat dengan Jadrian adalah hal wajib dalam interaksi mereka berdua. "Solaris sudah memilihkan lokasi yang bagus dan aman. Tidakkah kau mempercayai wolfie satu itu?" "Aku tidak bilang meragukan Solaris." Kata Jadrian, nada suaranya terasa dingin karena menahan kekesalan. "Aku hanya berpikir ini bukan waktu yang tepat. Aku tidak suka Dami berkeliaran di malam hari." "Kenapa?" "Kau tahu situasinya." "Oh, ayolah..." Topaz tanpa sadar memukul setirnya. "Lalu untuk apa kita pindah ke kota ini? Yang terkenal karena dibangga-banggakan selama lima belas tahun terakhir tanpa ada kekacauan? Bahkan rumornya Perusuh saja tidak berani masuk ke Budernjam!" Serunya. "Lemaskan kedua bahumu, Jade. Ada saatnya kita serius, ada saatnya pula kita bersenang-senang." Jadrian menggeleng-gelengkan kepalanya. Ekspresinya menunjukkan pertentangan dengan segala pendapat Topaz. "Kau tidak rindu berjalan bersama Dami di malam hari?" Perubahan ekspresi Jadrian terlihat sangat jelas dan ditangkap oleh Topaz. "Aku sangat ingat," ujar Topaz, kini mereka telah meninggalkan kota. Di sepanjang jalan kanan-kiri mereka hanya ada pepohonan. Sementara langit telah gelap gulita. "ketika malam telah tiba, kau dan Dami akan berjalan-jalan untuk bersenang-senang. Kalian berdua sangat senang jika ada taman yang indah di kota yang kita singgahi. Semalaman kalian berdua hanya akan duduk-duduk di taman itu, kau bercerita, Dami mendengarkan dan tertawa riang, di bawah sinar bulan dan bintang. Jika aku pelukis, mungkin aku bisa melukiskan ingatanku ketika mengamati kalian berdua." Ia mendengus geli. "Sayang aku tidak bisa melukis. Atau aku sampaikan saja ideku ini kepada pelukis ya? Pasti ada banyak ghost painter di era ini. Aku bisa membayangkan hasil karya itu. Dan aku yakin hasilnya akan sangat bagus dan bernilai." "Jangan mengada-ada." Topaz tersenyum kecil karena ia bisa merasakan perubahan drastis kembali terjadi pada Jadrian. Pastinya Jadrian mengenang semua hal itu. "Orang seperti apa Victor?" Jadrian bertanya tiba-tiba. Topaz mengerutkan dahi. "Kenapa kau menanyai bocah itu?" Jadrian mengangkat bahu. "Sekarang Dami sedang bersama dengan Victor. Mereka berduaan. Apakah ada hubungan di antara mereka berdua?" Topaz mendadak tertawa. Jadrian mengerutkan dahi melihat Topaz yang malah tergelak. "Ya ampun," Topaz memukul-mukul setirnya sendiri, geli. "Kau berpikir ada hubungan di antara mereka berdua?!" "Kuharap tidak." Kata Jadrian cepat. "Ya kan?" "Jika pun ada, apakah kau akan merasa cemas?" Topaz sengaja bertanya, bermaksud menggoda Jadrian. Ia tahu kegilaan Jadrian terhadap sang saudara perempuan. Kegilaan yang kadang tidak ia pahami. "Aku harus merasa cemas jika ini menyangkut keamanan Dami." Jadrian berkilah. "Ck, kau pernah bilang mempercayai Wern bersaudara tapi kau seolah menuduh salah satu Wern akan macam-macam pada Dami." Jadrian menggelengkan kepala. "Bukan begitu..." "Kurasa ini lokasinya," kata Topaz ketika mereka berbelok ke padang rumput luas. Terlihat dua saudara Wern melambai ke arah mereka. -- Hutan itu bernama Hutan Lembah Abu-Abu. Berada jauh di pojok kanan Burdenjam jika dalam peta, lurus saja ke barat. Hutannya memanjang luas cukup menambah bagian di dalam peta Burdenjam. Sebagian masih liar jarang terjamah karena ada banyak hewan buas, namun sebagian telah cukup akrab dengan manusia. Hutan di bagian Selatan sudah sering didatangi pemburu, orang-orang berkemah dan berekreasi. Solaris menjelaskan secara singkat seolah ia adalah si penjaga hutan. Jadrian mendengarkan penuturan Solaris dengan ekspresi cemas yang tidak dapat disembunyikan. "Tenang saja," Solaris mengakhiri penjelasannya, tersenyum kecil, memahami ekspresi Jadrian yang penuh kekhawatiran. "Tidak akan ada hewan buas yang bermain-main di bagian sini." Jadrian tidak menanggapi, kecemasannya masih belum berkurang. Ia menengadah ke langit. Bulan sudah mengakhiri masa purnamanya dan kini menggantung separuh di langit malam, ditemani kelap-kelip bintang-bintang di sekitarnya. Sementara mereka berempat berdiri di padang rumput luas, berjarak beberapa kilometer dari mulut hutan. Dael baru saja selesai membuat api unggun. Ia menarik nafas ketika berdiri. "Maafkan aku. Aku begitu saja mempercayai Dami jika kau menyetujui untuk mengajaknya." Ujarnya, merasa sangat bersalah. "Seharusnya kami menghubungimu lebih dulu untuk mengkonfirmasi hal ini." "Lupakan saja," Jadrian tentu sudah lelah memperdebatkan masalah ini. "Dan dimana Dami saat ini?" "Mereka berdua seharusnya sudah sampai," jawab Dael. "Oh, lihat. Mobil berwarna kuning itu. Itu mobil Aoi." Tunjuknya. Sebuah mobil mini berwarna kuning tak berapa lama terparkir di samping mobil jip Saudara Wern. Dua orang keluar dari sana yang sudah pasti adalah Dami dan Victor. Dalam sekejap Jadrian sudah berpindah tempat, ia telah berdiri di hadapan Dami dan Victor, membuat keduanya terperangah dan membelalak kaget setengah mati. "Jangan salahkan Dami," Victor berkata sebelum ada yang membuka mulut. "Aku yang ingin dia ikut." Topaz menahan diri untuk tidak berdecak geli. Dia yakin tidak ada skenario jika Victor akan membela Dami. Sebelumnya ia sempat mengira Victor adalah jenis orang yang suka mementingkan dirinya sendiri, atau Topaz salah mengira? Yah, Topaz memang tidak cukup ahli dalam menilai seseorang. "Aku ingin berbicara dengan Dami." Kata Jadrian dingin. Victor nyaris akan membuka mulut lagi, namun ia menutup mulutnya kembali. Dengan ekspresi kebingungan ia berjalan pergi. "Maaf, Jade..." Kata Dami, segera mengambil alih. "Aku... tidak memberitahumu..." "Kenapa?" Dami mengangkat wajahnya, dengan takut-takut ia membalas sorotan tajam Jadrian. "Kenapa kau begitu ingin pergi?" Tanya Jadrian. "Karena... aku ingin kita seperti dulu lagi." Bisik Dami. Jadrian mengerutkan dahi. "Ini sulit bagiku. Menjadi manusia. Kau tahu? Maksudku... Aku ingat dengan semua kebiasaan kita berdua di masa lalu. Seperti berjalan di malam hari dan memandangi bulan bersama-sama. Tapi sekarang yang kulakukan adalah mengurung diri di dalam kamar pada malam hari. Ini membingungkan." Dami menjelaskan dengan cepat seolah ia begitu terburu-buru dan tidak ingin memberikan jeda sedikitpun kepada lawan bicaranya. "Tapi aku tahu kau khawatir padaku. Hanya saja... aku hanya minta satu kali ini saja." Ia menatap Jadrian dengan sorot memohon. Jadrian mengerjapkan mata. Terlihat jelas dia akan kalah dalam percakapan ini. "Apakah hanya karena itu?" Tanya Jadrian, berhasil menguasai diri. Ia tidak akan bisa marah kepada Dami pada akhirnya. Dami terlihat ragu. "Aku juga penasaran." "Penasaran?" Ulang Jadrian. "Aku... ingin melihat werewolf dari dekat," jawab Dami, tersenyum kikuk. "Dulu werewolf digambarkan sebagai makhluk menakutkan sama seperti Vampir, tapi kita berteman dengan tiga orang werewolf. Ini adalah pengalaman baru bagiku. Jadi, menurutku ini adalah kesempatan untuk melihat keajaiban ini. Hehe," Dami tertawa kecil, tampaknya ia merasa geli dengan keinginannya itu. Tapi Jadrian tidak tersenyum sama sekali. "Jade," Solaris telah bergabung di antara mereka berdua. "Aku mengerti kau masih merasa kesal, tapi Dami sudah berada di sini. Lebih baik kita bersantai." Ia mencoba membujuk Jadrian. "Nah, ayo, Dami." Ia berpaling pada Dami lalu mengedipkan sebelah matanya. Dami membelalakan matanya karena Solaris dengan senang hati membelanya. Ia tidak dapat menahan senyumnya ketika ia segera mengikuti Solaris pergi untuk bergabung dengan yang lain. Jadrian memutar bola matanya. Seperti yang sudah ia duga ia akan kalah. Ia pun menyusul bergabung dengan yang lain. Jadrian mengambil duduk di sebelah Topaz. Mereka semua kini lengkap duduk mengelilingi api unggun yang membara hangat. Namun hal tersebut tak mempengaruhi Jadrian dan Topaz sebagai Vampir. "Karena Dami ikut dalam perburuan ini, maka aku sedikit mengubah konsep pertemuan kita," Dael mengumumkan. "Api unggun adalah tema yang tepat dalam akhir pekan kita. Berburu terlalu menakutkan untuk Dami, bukan?" "Terima kasih, Dael," ucap Dami, merasa senang dan dihargai. "Aku tidak menyangka kau akan sangat baik menyiapkan segalanya." "Yeah, entah bagaimana kau punya waktu mempersiapkan semua hal ini," dengus Victor sinis. Namun Dael mengabaikan Victor. "Aku juga membuat teh. Kuharap para Vampir tidak terganggu karena aku tidak menyiapkan apa pun untuk kalian." Ujarnya sambil memandang Jadrian dan Topaz dengan sorot tidak nyaman. "Oh, tidak usah repot-repot," kata Topaz. "Tidak ada yang perlu disiapkan untuk kami. Kami cukup duduk dan bersantai di sini. Iya kan?" Ia menyikut Jadrian. Jadrian hanya memasang tampang jengkel tanpa menjawab. Namun melihat wajah Dami yang bersemangat dan senang di acara api unggun ini, sepertinya rencana akhir pekan ini tidak terlalu buruk. Jadrian terpaksa menerima situasi itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD