30

1693 Words
Dami membuka matanya ketika merasakan sinar hangat menyilaukan. Ia mengerjapkan mata, lalu perlahan bangkit. Ia menghela napas, tak menyangka hari ini akan sampai juga. Hari ini, dia akan menjadi pembohong besar. -- Dami baru saja keluar dan Topaz sudah menunggunya di samping pintu. "Kenapa kau berdiri di sini?" Tanya Dami heran "Aku merasa tidak nyaman melihatmu merengut." Jawab Topaz. Dami terdiam sesaat, kemudian ia mulai berjalan menyusuri lorong apartemen. Topaz mengikuti di sebelahnya. "Apakah kau ingat kapan pertama kali kau berbohong?" Tanya Dami. "Sebagai manusia?" "Hmm," Topaz terlihat berpikir. "Entah bagaimana awalnya, tapi berbohong adalah sifat yang wajar. Semua makhluk bisa melakukan hal itu. Tidak hanya manusia saja." "Tapi katanya manusia lah yang paling mudah berbohong," gumam Dami. "Kau tahu dari mana? Apakah internet sudah memiliki polling konyol tentang persentase sifat jahat yang dimiliki manusia?" Dami tersenyum kecut. "Jadrian tetap tidak ingin mengajakku pergi bersama kalian. Iya kan?" Topaz hanya mengedikkan bahu. "Apakah dia sangat khawatir?" Topaz tidak menjawab dan Dami hanya mengangguk saja. "Dia pasti masih memikirkan orang yang sudah menangkap dan menyembunyikanku selama sepuluh tahun. Si penculik itu. Sayang sekali aku tidak ingat apa-apa." "Kupikir," Topaz berpendapat. "Akan lebih baik jika kau tidak ingat apa pun." Dami menolehkan wajah pada Topaz. Topaz balas memandanginya dengan pasang mata biru yang indah, dan Dami nyaris lupa dengan pasang mata itu. Ia sudah sangat jarang dapat berdiri sedekat ini dengan Topaz. Ia tidak ingat betapa tampannya sang Vampir. "Pastilah pengalaman itu menakutkan." Kata Topaz. "Jadrian tahu hal itu. Karenanya kita pindah ke sini. Tempat ini akan aman selagi Jadrian mencari tahu." Dami menundukkan wajah, ia mengangguk. "Ya. Kau benar." "Nah, mari berkencan." -- Rencana Dami tersusun begitu saja. Ia meminta Topaz untuk menggunakan kemampuan hipnotisnya pada Lexa nanti jika Victor telah tiba. Tapi sepertinya ia datang terlambat. Lexa dan Dael sudah berada di Cafe lebih awal darinya. Ia berdiri kebingungan di depan Cafe, memandang ke dalam melalui jendela dimana ia bisa melihat keberadaan Lexa dan Dael. Lexa tampak berusaha menarik perhatian Dael. Sementara Dael membalas dengan sikap baiknya seperti biasa. "Kita belum terlambat," kata Topaz. Tapi Dami tak bisa membayangkan dia akan menghipnotis Lexa. Bukankah hal itu sangat buruk? Ia tahu Lexa sangat menyukai Dael, dan dia memanfaatkan kebaikan dan keramahan Dael untuk datang ke tempat ini agar Lexa mau datang, dengan begitu Lexa dapat bertemu dengan Victor. Tentu Dael akan sangat terkejut karena ia tidak memberitahukan kehadiran Lexa. Tapi melihat Lexa terlihat sangat bahagia ketika bersama Dael cukup membuatnya tidak tega. Apakah dia akan merusak kebahagiaan Lexa saat ini? "Ya, mungkin kita belum terlambat," kata Dami pelan. "Sudah, tidak perlu." Dami menolehkan wajah. Victor berjalan mendekatinya. Ia membelalakan mata, bingung. "Kau..." Kata Dami. "Aku sudah datang lebih awal," potong Victor seolah tahu apa yang akan disemburkan oleh Dami. "Aku juga sudah menyapa Lexa. Dan Lexa memakiku sebelum masuk ke dalam. Sementara Dael..." Dia menunjuk ke dalam Cafe. "Dael datang lebih awal dari pada aku." "Ayo, masuk." Kata Dami. "Topaz sudah berada di sini." Ia menoleh ke sebelahnya walau Topaz tak terlihat lagi karena sedang bersembunyi menghindari sinar terik matahari yang sebenarnya terasa hangat bagi Dami. "Dia bisa menghipnotis Lexa dari kejauhan. Kau tahu kan? Kemampuan Vampir? Hipnotis. Orang yang mereka hipnotis bisa melakukan apa pun yang mereka perintahkan." "Mengerikan." Komentar Victor. Dami mengerutkan dahi memandang Victor. "Jadi begitu cara mereka mendapatkan mangsa mereka?" Tanya Victor, mendengus geli. "Mereka menjerat mangsa mereka dengan rayuan kemudian menghipnotis dengan membuat para mangsa itu merasakan ilusi kenyamanan dan kebahagiaan. Tanpa para mangsa itu ketahui jika predator haus darah sedang bersiap memangsa mereka." "Kau sarkas sekali," kata Dami, meski dia bukan lagi manusia, dia merasa tersinggung. "Ketika para mangsa membuka mata," lanjut Victor, mengabaikan komentar Dami. "Yang mereka rasakan adalah rasa sakit ketika darah mereka perlahan-lahan habis. Sementara Vampir tampan yang sempat membutakan mereka dengan ilusi cinta, sedang tersenyum melihat mereka menggelepar dijemput oleh kematian." "Berhentilah," kata Dami. "Kau menyinggung Vampir di sini." Victor mendengus. "Itu faktanya." Lalu bayangan itu muncul terlintas di dalam kepala Dami. Sebuah siluet. Ia melihat darah di kedua tangan kecilnya, dan pria berambut emas itu terkapar tak bergerak di depannya. "Dami?" Dami tersentak kaget. Ingatan itu menghilang dalam sekejap. Ia mengerjapkan matanya. "Ya?" "Aku sedang berbicara padamu dan kau malah melamun? Ah, kau sama menyebalkannya dengan dua orang yang mengaku sebagai saudaraku itu," keluh Victor dengan ekspresi kecewa. "Kau akan terus mengeluh ya?" Dami memandang jengkel pada Victor. "Aku sudah memberimu kesempatan. Kita tinggal masuk ke dalam Cafe dan Lexa akan melihatmu." "Lupakan," kata Victor. "Apa?" Dami membelalakan matanya pada Victor. "Aku akan membuat Lexa melihat kepadaku dengan mata kepalanya sendiri. Bukan hanya ilusi omong kosong dari teman Vampirmu itu." Victor berkata, pasang mata abnormalnya yang berwarna keunguan berkilat, menunjukkan keseriusannya. "Sudah, jangan bicara yang tidak-tidak. Aku harus menepati janjiku kepadamu." "Lupakan saja. Aku sudah tidak berminat." Dami menghela napas, ia tidak menyangka akan mendengar Victor menyerah begitu saja. Padahal sebelumnya Victor sangat menuntut dan begitu sombong. "Entah apa yang kau lihat dari Lexa," ujarnya sambil kembali memandang ke dalam Cafe. "Lexa adalah makhluk paling mengerikan yang pernah kutemui." Victor malah tertawa. "Kau tidak pernah bertemu dengan orang seperti Lexa?" "Dia membenciku." "Hal itu wajar. Dia selalu berpikir Alice hanya akan memilikinya, tapi sekarang Alice memilihmu. Aneh memang," Victor mengangkat bahu. "Jangan ingatkan aku pada Alice," pinta Dami. Ia masih ingat sorotan tajam Alice terakhir kali ketika memandang dirinya, tepatnya pada saat ia menjenguk Alice di rumah. Alice seolah sedang menuduhnya dan menganggapnya pembohong. Dia benar-benar tidak pernah melihat Alice dalam hidupnya sebagai Vampir. Itu meresahkannya. Apakah ingatan Vampirnya juga ada yang hilang? Tapi ia yakin jika ia mengingat segalanya ketika ia masih lah seorang Vampir. "Terus? Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Dami. "Kau benar-benar tidak akan masuk ke sana?" Victor menarik napas. Ia menggelengkan kepala lalu berbalik pergi meninggalkan Cafe. Dami yang kebingungan segera mengikuti Victor. "Wah, kau kelihatan seperti anjing kecil yang patah hati." Komentar Dami, bermaksud bercanda. "Jangan menggunakan julukan anjing. Para serigala tidak suka mereka disamakan dengan hewan manja pengikut manusia itu." Namun Victor tiba-tiba menutup mulutnya. "Apa aku menyebut serigala?" Desahnya kesal. Dami tersenyum. "Kau memang serigala." "Cih!" Victor terlihat frustasi. "Hidupku berantakan sekali! Orangtuaku meninggal, aku bukan lagi manusia, aku bahkan tinggal bersama saudara-saudara gila, dan nanti aku akan menikah dengan gadis serigala yang bukan tipeku. Argh~..." Dami hanya diam, berjalan sambil memandang Victor yang berkeluh kesah. "Pernahkah kau..." Entah gagasan dari mana ia akan menanyakan hal itu kepada Victor. "Pernahkah kau bersyukur terbebas dari kematian?" Victor berhenti melangkah. Ia menoleh memandang Dami. Kali ini pasang mata ungunya terlihat redup hingga tampak seperti berwarna hitam saja. "Jika aku boleh memilih..." Victor menjawab. "...apakah aku bisa mati saja daripada menjadi seperti ini?" "Kau tidak tahu terima kasih." Victor malah mendengus geli. Tapi sorot matanya tampak terluka. Dami menyadari ia telah salah berucap. "Maaf..." "Tidak. Kau benar." Victor mengangkat bahu. "Aku memang tidak tahu terima kasih. Lagi pula apa hebatnya untuk terus hidup?" Lalu pemuda itu segera berbalik melangkah pergi. Dami berusaha mengejarnya. "Hei, bagaimana dengan janjimu?" Kejar Dami namun Victor terus berjalan dengan langkah cepat. "Tenang saja. Aku akan menjemputmu sore ini." Jawab Victor. "Jangan beritahu Jadrian sebelum aku memberitahunya." "A...apa?" Dami terpaksa berhenti karena Victor terus berjalan cepat kemudian tiba-tiba berlari pergi. Ia tidak bisa mengejar pemuda itu lagi. "Sepertinya aku berbuat kesalahan," kata Dami, mengusap kepalanya. "Harusnya aku tidak mengajak Dael." Dami menoleh ke sekitarnya. Tidak ada siapa-siapa di sebelahnya. Ia mengembuskan nafas lalu berjalan ke tempat teduh. "Dia patah hati," Topaz sudah menyambutnya di sana. "Serigala malang." "Ini salahku." Kata Dami. "Aku masih tidak mengerti kenapa dia begitu menyukai Lexa." "Kau akan sulit mengerti," Topaz mengangguk saja. "Kau bisa mengerti?" Tanya Dami, memandang Topaz dengan sorot terkejut. "Tentu saja." Jawab Topaz. "Dulu aku juga adalah manusia. Dulu... aku juga pernah menyukai seseorang. Bedanya aku nyaris saja akan menikahi gadis itu kalau seandainya aku tidak terjebak menjadi seperti ini." Dami tak sanggup berkata-kata. Ini adalah informasi baru baginya. Selama ini ia mengenal Topaz sebagai teman Jadrian yang menyenangkan. Vampir yang setia membantu Jadrian dan dirinya untuk bersembunyi di antara manusia. Tapi sekarang ia mengenal seorang Vampir yang dulunya pernah memiliki kehidupan sebagai manusia. "Kenapa kau terlihat terkejut?" Tanya Topaz, tersenyum geli melihat ekspresi Dami yang sampai-sampai terdiam. "Sepertinya aku tidak tahu apa pun tentangmu." Kata Dami. "Tentu saja," kata Topaz. "Bagaimana kau bisa mengenalku sebagai orang dewasa? Kau dulu hanya seorang gadis kecil, Dami. Seorang vampir kecil." -- Dalam mimpinya, ia berada di dalam sebuah mobil. Ia sedang memandang keluar jendela. Anehnya, dia sedang memandangi jendela kamarnya sendiri. Ia tahu persis jendela kamar apartemennya. Mobil itu terparkir tepat di belakang gedung dimana jendela kamarnya menghadap. Ia menoleh, menemukan seseorang yang duduk di sebelahnya, seseorang dengan rambut emas panjang. Seorang pria. Namun pria itu bukan Jadrian atau pun Topaz. Entah mengapa kegelapan seperti menyelimuti pria itu sehingga ia tidak dapat melihat dengan jelas wajah si pria. "Ayo, kita pergi sayang." Suara pria berambut emas terdengar lembut di telinganya, menyeka anak rambut di dahinya. "Vampir kecilku." - Dami terbangun, ia mengerjap kebingungan. Mimpi barusan terasa sangat nyata baginya. Ia bisa merasakan keberadaannya di dalam mobil itu. Tekstur kursi, pendingin yang menyala, dan aroma dari pewangi dalam mobil. Ia segera berdiri dari ranjang. Lalu bergerak mendekati jendela. Tak terasa Sabtu telah akan berakhir. Sinar matahari sore menyelimuti Burdenjam di depannya. Lalu ia melihat sebuah mobil yang terparkir di seberang gedung, bergerak pergi. Namun hal itu tak terasa istimewa baginya. Ada banyak mobil di sekitar sini. Lalu ponselnya berdering, Victor mengiriminya pesan jika akan berangkat menjemputnya. Ia tersenyum senang karena Victor tetap mau mengajaknya. Lain kali ia akan benar-benar membantu Victor untuk membalas budi. Akhir pekan ini akan menyenangkan. Ia meninggalkan jendela, mimpi barusan bahkan telah ia lupakan begitu saja karena merasa bersemangat. Ia menari-nari menuju ke lemarinya, mencari pakaian yang bisa menghangatkannya dalam udara malam. Sudah lama ia tidak berjalan-jalan di malam hari. Rasanya lama sekali. Dan kadang ia merindukan hal itu. Semenjak ia menjadi manusia, ia hanya keluar pada siang hari. Tak pernah lagi ia melihat bulan dan bintang-bintang di tempat terbuka. Ia merindukan saat-saat ia bisa berjalan bersama Jadrian di malam hari. Bermain-main di bawah sinar bulan dan mendengarkan kisah Jadrian tentang dongeng milik para manusia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD