Bagi manusia, hari ini sebentar lagi akan berakhir. Malam telah larut dan waktu beristirahat yang panjang akan menemani mereka. Tapi bagi Vampir, setiap waktu tidak ada bedanya. Para Vampir tidak menghitung hari selama dua puluh empat jam, karena malam adalah hari mereka yang sebenarnya.
Akhirnya Topaz kembali setelah menghilang seharian.
"Apakah kau yang meminta Victor untuk mengawasi Dami?" tanya Jadrian ketika Topaz duduk di salah satu sofa. Ia sama sekali tidak menyalakan lampu-lampu di dalam kantornya. Ruangan gelap membuat kedua Vampir itu merasa nyaman. Lagi pula akan terasa aneh jika sebuah klinik terlihat masih menyala di tengah malam.
"Yap," jawab Topaz. "Gadis itu pasti merajuk."
"Aku mengerti apa yang dirasakan oleh Dami," kata Jadrian. "Dia tidak mengerti situasinya sama sekali. Ditambah dia kehilangan ingatan. Dia akan sulit memahami kekhawatiran kita berdua."
"Sebelum kita membahas persoalan itu, mari bahas apa yang kudapatkan."
"Ya. Silahkan."
"Mereka akan menghukum mati si Vampir."
"Sayang sekali," komentar Jadrian.
"Sayang sekali?" ulang Topaz, membelalak pada Jadrian.
"Aku membaca opini orang-orang yang mengenal pelaku itu. Dia adalah Vampir yang baik. Sangat sulit dimengerti jika ia mendadak haus darah dan membunuh tiga manusia sekaligus."
"Aku jarang mendengarkan opini publik," kata Topaz. "Karena hal itu nyaris mustahil untuk dijadikan bukti atau sanggahan. Tidak ada siapa pun yang dapat menjadi saksi terhadap baik dan buruknya dari seorang individu. Setiap individu memiliki rahasianya masing-masing yang bahkan tidak dapat diketahui oleh orang terdekatnya sekali pun."
Jadrian mengangguk saja. "Aku hanya iseng membaca semua opini itu. Membayangkan seorang Vampir yang sudah berhasil menjalankan hidupnya dengan baik, namun ia mengakhiri hidupnya dengan dosa."
"Tapi pelaku itu tinggal sendirian kan?"
"Ya."
Topaz mengusap dagunya.
"Ada apa?" tanya Jadrian, menemukan keraguan di wajah Topaz.
"Aku menemukan bekas gigi taring Vampir anak-anak di pergelangan tangan mayat kedua."
Jadrian mengerjapkan mata. "Kau yakin?"
"Ya, taring Vampir kecil, mungkin berusia tujuh hingga delapan tahun." jelas Topaz. "Kupikir itu adalah putra si pelaku. Tapi dia tinggal sendirian."
"Apakah mereka masih melanjutkan penyelidikan?" tanya Jadrian.
"Entahlah. Tapi taring itu bukan penyebab kematian korban kok. Kurasa mereka akan mengesampingkannya. Lagi pula bekas taringnya tidak terlihat parah. Maksudku, taring itu ditancapkan hanya untuk mengeluarkan sedikit darah korban, bukan faktor kuat untuk menyebabkan kematian."
"Kenapa Vampir cilik itu tidak meminum darah korban lebih banyak?" tanya Jadrian, mulai berpikir.
"Sudahkah kau bertanya-tanya kemana semua darah korban kedua dan ketiga?" tanya Topaz. "Hanya korban pertama yang darahnya ditemukan menggenang di dalam bak mandi di rumah pelaku. Berbeda dengan mayat kedua dan ketiga, darah mereka disedot habis namun tidak ada jejak kemana darah itu digunakan."
"Mungkin si pelaku telah meminum semuanya?"
"Jika kau lihat bagaimana pelakunya, kau akan meragukan hal itu. Dia terlalu kurus dan lemah untuk Vampir yang sudah meminum habis darah dua orang manusia sekaligus."
"Apakah mereka akan melibatkan Squirrel?" tanya Jadrian.
"Aku tidak tahu, tapi publik menuntut agar kasus ini cepat diselesaikan. Jika tidak ada bukti lainnya yang ditemukan, mungkin kasus ini akan segera ditutup. Pelaku akan dihukum mati dan alasannya membunuh adalah mengumpulkan darah karena kegilaannya."
"Ironis."
Topaz mengangguk setuju. "Seandainya kita bisa keluar dari kota ini, aku ingin mengunjungi makam keluarga si pelaku. Katanya mereka tinggal di desa kecil jauh dari Burdenjam. Aku ingin memastikan apakah putranya benar-benar sudah mati atau tidak."
"Bagaimana dengan orang-orang di sekitarnya?" tanya Jadrian. "Mungkin ada Vampir cilik yang tinggal di dekatnya."
"Jika ingin tahu soal itu, kita harus berkeliling di area tempat tinggal si pelaku. Dan aku meragukannya. Kurasa Burdenjam tidak akan menerima bocah Vampir."
"Ya, kau benar." Jadrian mengangguk setuju. "Akan sulit menilai keganasan Vampir kecil. Vampir yang terjebak di usia yang terlalu muda akan sulit untuk menahan sisi agresif dalam diri mereka."
"Kecuali jika ada anak kecil yang terkontaminasi baru-baru ini," Topaz menambahkan daftar dugaan. "Tapi tidak ada kasus p*********n terhadap anak kecil atau bahkan anak kecil yang menghilang. Hal ini semakin membuatku penasaran, taring itu jelas-jelas taring dari Vampir kecil. Atau dugaanku sudah tumpul. Mungkin dua titik itu berasal dari benda tajam yang tidak kuketahui."
Jadrian diam saja mendengarkan. Taring Vampir kecil... menarik.
"Penyelidikanku hanya sampai di situ," Topaz mengakhiri. "Aku akan berhenti karena bisa saja aku terekspos."
"Bijak sekali," Jadrian tersenyum menghargai. "Kau pasti merasa bersemangat melakukan penyelidikan secara diam-diam ini."
"Tentu saja. Aku berharap bisa melakukan lebih daripada ini. Tapi lebih baik bersabar. Aku sudah pernah melakukan banyak kesalahan. Untuk kali ini aku harus menahan diri."
Jadrian mengangguk-angguk. Ia berdiri lalu berjalan ke depan jendela, mengamati perkotaan yang sunyi di depan kliniknya. Dari tempatnya ia bisa melihat ujung menara markas Squirrel di kejahuan.
Topaz bergerak dari sofa. Ia membuka refrigrator dan mengambil minuman sumber keabadiannya. Kantong darah berukuran 350 ml. Seharusnya mereka berhemat namun Jadrian tidak menegur Topaz. Ia hanya berdiri menghadap si Vampir yang sedang minum, melipat tangan di muka tubuhnya, matanya menyorot tajam.
"Aku akan berpuasa setelah ini," kata Topaz, menyadari sorotan Jadrian.
"Kau selalu bilang begitu. Kita bisa terekspos jika terus meminta stock kantong darah. Ada banyak nyawa manusia yang perlu diselamatkan daripada mengisi perut Vampirmu yang besar."
"Haha," Topaz tergelak. "Aku mengerti. Kali ini aku sangat serius." Ia berjanji.
Jadrian hanya memutar bola matanya.
"Nah," Topaz duduk di sofa kembali sambil mengemut ujung kantong darah. "Apa yang kau lakukan selama mengurung diri di klinik? Sudahkah kau mendapat pasienmu?"
"Sejak awal aku tidak tertarik menjalankan bisnis ini," kata Jadrian. "Aku sudah mempelajari Burdenjam dengan seksama. Untuk sementara kita jalani hidup seperti biasa. Kuharap tidak ada lagi kasus kematian."
Topaz mengangguk-angguk. "Semoga saja."
Jadrian kembali memandangi jendela. Ia nyaris larut dalam pikirannya ketika Topaz bertanya, "Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, Si Perusuh adalah orang yang menyembunyikan Dami. Iya kan?"
"Ayolah... Mari kita bahas ini. Aku sedang sangat bersemangat untuk membahas kasus ini."
"Yah..." Gumam Jadrian, menghela napas.
"Nah, itu artinya kau setuju. Jika penggalian di North Oak adalah memang berhubungan dengan Si Perusuh, itu artinya si Perusuh belum mati seperti yang dikatakan oleh Squirrel sebelas tahun lalu." Kata-kata Topaz meluncur begitu saja. "Nah, yang aku tidak mengerti, mengapa si Perusuh memilih Dami sebagai sampel eksperimennya?"
Jadrian mengangkat sebelah alisnya. Ia berbalik menghadap Topaz yang pasang mata merahnya berkilat dalam kegelapan. "Aku meragukan orang sehebat si Perusuh memilih acak tikus eksperimennya di jalanan."
"Apa maksudmu?" Tanya Jadrian.
"Dia pasti sejak awal sudah menargetkan Dami. Kira-kira bagaimana ia bisa sampai mengenal Dami? Sebab Vampir cilik sangat jarang terjadi. Hanya beberapa persen dari populasi kita."
Jadrian kembali duduk di kursi kerjanya. "Bagaimana menurutmu?" Tanyanya. "Si Perusuh adalah Vampir-Penyihir. Dia mungkin bisa tahu apa saja."
"Ya, tapi dia perlu melakukan observasi. Lagi pula kita bertiga selalu berhati-hati ketika tinggal di suatu kota. Kita jarang mengekspos diri. Walau kadang aku sempat terlibat pada beberapa perseteruan dengan manusia. Hanya saja... Dami... Kau berhasil menyembunyikannya dengan sempurna, Jade. Aku penasaran bagaimana dia bisa menemukan Dami. Pasti kita pernah berpapasan di suatu tempat dengan Si Perusuh. Sebelas tahun lalu ia dikabarkan mati, namun tahun berikutnya ia menculik Dami. Ia menyamarkan dirinya dengan sangat baik. Kuharap Squirrel tidak terlibat dalam kelicikan makhluk ini."
"Spekulasi yang bagus," Jadrian mengangguk menghargai. "Squirrel tidak akan Sudi menjadi pembantu dalam kelicikannya."
"Oh, benar juga." Topaz terkekeh. "Itu artinya mereka dibodohi."
Dan pembicaraan para Vampir pun berakhir.