36

1381 Words
Dami membuka mata. Pandangannya sesaat buram dan silau. Ia mengerjapkan matanya untuk membiasakan pandangannya. Lalu ia bangkit duduk. Ia merasakan tubuhnya terasa kaku dan sakit di beberapa tempat. Ia mengangkat salah satu tangannya, lalu menyadari jika kedua telapak tangannya dibalut perban. "Dami." Dami menyadari panggilan itu. Jadrian telah duduk di samping ranjang, memandangnya dengan pasang mata hijau zamrud yang redup. "Jade..." "Bagaimana perasaanmu?" tanya Jadrian. Dami mengerjapkan mata kembali. Entah mengapa ia merasa bingung. Ia tidak ingat bagaimana ia bisa berada di tempat tidurnya. Seperti ada hal yang terlupakan. "Jika kau masih merasa pusing, lebih baik kau beristirahat saja dulu." Dami menggelengkan kepalanya. "Apa yang terjadi?" tanyanya. Ia menunjukkan kedua telapak tangannya. "Aku tidak ingat jika aku terluka." Jadrian menjulurkan tangannya lalu merapikan anak rambut Dami. "Jika kau belum mengingat apa pun, jangan memaksakan dirimu." Tiba-tiba Dami menahan tangan Jadrian. "Rusa!" Serunya, teringat. Jadrian mengerutkan dahi. "Aku melihat rusa perburuan, ya, dengan pita merah di leher. Aku melihatnya." "Kau melihatnya di mana?" "Rusa itu keluar dari hutan, dia berada tidak jauh dari tempat aku menunggu. Lalu aku mengejarnya." "Kau mengejarnya?" "Ya. Lalu..." Dami terdiam. Ia mengerjapkan matanya lagi, terlihat semakin bingung. "Aku... aku tidak ingat apa-apa lagi." Ia menyentuh kepalanya. "Apa yang terjadi? Kenapa kepalaku terasa kosong?" "Dami, beristirahatlah kembali." pinta Jadrian, lalu mendorong kedua bahu Dami dengan lembut untuk berbaring. "Tapi..." Ujar Dami keberatan. Bukankah ia baru saja bangun? "Tidak apa-apa, tubuhmu masih perlu istirahat yang cukup. Ketika kau bangun, aku akan membuatkanmu bubur yang enak." Dami menghela napas. "Apa aku membuatmu khawatir lagi?" "Tidurlah," kata Jadrian. -- Jadrian mendapat telepon dari Solaris dan benar saja, Victor juga baru saja siuman. "Baguslah," kata Jadrian di telepon. "Suruh dia kembali beristirahat." Jadrian menutup telepon. Ia berjalan menuju sofa, kemudian duduk di sana. Topaz sudah duduk di sofa di seberangnya sejak tadi. Dua tangkai mawar berwarna hitam ditaruh di dalam gelas berisi air di atas meja di antara merea berdua. "Seperti biasa, efek Mawar Vampir akan membuat mangsanya tertidur selama tiga hari." ujar Topaz dengan tangan bersedekap, menatap tajam mawar hitam itu seolah ia bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam kepalanya hanya dengan memandang. "Kita tidak bisa melakukan penyelidikan jika Dami dan Victor tidak mengingat apa pun." "Menurutmu, jika memang ada Vampir selain kita berdua pada malam itu, apakah Vampir yang menyerang Dami dan Victor adalah pelaku kasus dari tiga korban yang kehabisan darah itu?" tanya Jadrian. Topaz terlihat sedang berpikir. "Aku tidak punya jawaban." jawabnya, ragu dan agak frustasi. Mereka tidak memiliki petunjuk apa pun meski sudah mencari dengan teliti. "Selama tiga hari aku sudah berkeliaran di setiap sudut Hutan Lembah, namun aku tidak menemukan tanda-tanda seorang Vampir berkeliaran atau pun adanya taman Mawar Vampir. Keberadaan Mawar Vampir adalah tanda jika ada Vampir yang sedang haus darah. Mereka sudah menandai Dami dan Victor. Apakah kita perlu melaporkan hal ini pada polisi manusia?" "Kau tahu kerja mereka tidak meyakinkan," kata Jadrian, ia terlihat gelisah. "Dami berkata ia melihat rusa perburuan mendekatinya sebelum ia tidak ingat apa-apa." "Apa dia yakin?" "Ya, dia melihat pita merah itu di leher si rusa." "Hmm, cara kerjanya benar-benar ala Vampir." Topaz menilai. "Apakah menurutmu..." ia tampak ragu melanjutkan kata-katanya, mengusap dagu sambil mengamati perubahan ekspresi di wajah Jadrian. "...si Perusuh ada di sini?" "Aku juga memikirkan hal itu," Jadrian mengangguk. "Dia selalu suka mempermainkan mangsanya." "Selalu...?" ulang Topaz tak mengerti. "Kau pernah bertemu dengan Si Perusuh sebelumnya?" Jadrian mengangkat bahu. "Untuk sementara, aku akan berada di dekat Dami. Kau bisa berkeliaran mencari informasi." Topaz menyadari Jadrian sedang mengalihkan topik, pasti ada sesuatu yang disembunyikan Jadrian darinya. Namun ia tahu, percuma saja ia menekan Jadrian untuk berbagi informasi. Suatu hari nanti Jadrian pasti akan memberitahunya jika waktunya sudah tepat. Pada akhirnya ia mempercayai saja keputusan sahabat Vampirnya itu. "Oke." -- Dami sudah merasa cukup sehat. Ia sudah dapat berjalan-jalan. Ia berhenti di depan layar televisi yang menyala, membaca tanggal yang tertera di berita yang sedang siaran. "Dami." Dami menolehkan wajah pada Jadrian yang memanggilnya di dapur. Ia segera beranjak berdiri lalu melangkah menuju ke dapur. Jadrian baru saja selesai menyiapkan makan malam untuknya. Dami berterima kasih, Ia segera mengambil minum lalu duduk di kursinya. Ia meminum habis air putih di gelasnya, kemudian menghela napas lega. "Jade," kata Dami ragu-ragu. Jadrian baru saja duduk di seberangnya. "Ini hari Selasa?" "Ya," jawab Jadrian. "Bagaimana bisa?" tanya Dami, ia terlihat semakin bingung. "Bukankah... kita baru saja berakhir pekan di Hutan Lembah?" Jadrian diam saja mengamati Dami, tak menjawab. "Jade?" Jadrian berdiri, lalu pergi keluar dapur. Dami terlihat semakin bingung melihat gelagat Jadrian yang terasa aneh. Tak berapa lama Jadrian kembali sambil membawa gelas yang berisi bunga mawar berwarna hitam. Jadrian meletakkan gelas itu di meja. "Apa itu?" tanya Dami. "Kau tidak mengenali bunga ini?" tanya Jadrian. Dami menggelengkan kepala. "Kami menemukan kau dan Victor sudah tidak sadarkan diri sambil menggenggam mawar ini." "Apa? Aku dan Victor?" "Ya. Kalian berdua tidak sadarkan diri karena tertusuk duri mawar vampir yang beracun." "Apa? Mawar Vampir?" "Bunga ini," Jadrian berkata. "...sebelumnya hanyalah mawar biasa. Namun mawar ini berubah menjadi mawar vampir ketika seorang Vampir meneteskan darahnya pada bunga ini. Bunga mawar yang terkontaminasi dengan darah Vampir akan menjadi sangat beracun. Jika tubuh manusia atau makhluk berdarah panas tertusuk duri mawar vampir, mereka akan mengalami keadaan tidak sadarkan diri selama kurang lebih tiga hari. Itu yang terjadi padamu dan Victor. Kalian berdua tidak sadarkan diri selama tiga hari." Dami terperangah, ia tampak terkejut mendengar penjelasan Jadrian. "Aku... aku tidak ingat apa pun tentang mawar ini..." Dami memandang dengan ekspresi takut melihat bunga mawar hitam di depannya. "Victor juga tidak ingat apa-apa." "Apa kami diserang oleh Vampir?" tanya Dami. "Mungkin, tapi seharusnya kami bisa mendeteksi keberadaan makhluk bukan manusia di sekitar lokasi kita pada malam itu. Aku dan Topaz, bahkan Solaris dan Dael sama sekali tidak merasakan apa pun." Dami memandang piring makan malamnya. Ia sudah tidak merasa bernapsu. Ia juga merasa sangat bersalah karena menyebabkan kekacauan ini. "Ini bukan salahmu," kata Jadrian segera. "Tidak ada yang tahu jika hal ini akan terjadi." "Kau benar, seharusnya aku tetap berada di rumah." ujar Dami. "Maaf, Jade. Aku tidak mendengarkanmu." Jadrian menggelengkan kepala. "Aku seharusnya tidak mengekangmu," katanya. "Aku tahu kau kesulitan beradaptasi dengan perubahanmu. Aku seharusnya memberimu kesempatan, misalnya dengan mengajakmu berjalan di malam hari bersama-sama. Kau pasti merindukan masa lalu." Dami hanya menghela napas. "Topaz sedang menyelidiki," lanjut Jadrian. "Dia sama sekali tidak menemukan jejak Vampir atau makhluk apa pun yang menyerang kau dan Victor. Tidak ada luka selain luka tusukan duri mawar di tangan kalian berdua. Juga tidak ada bekas-bekas yang menunjukkan keberadaan makhluk mencurigakan. Aku hanya berharap kalian berdua tidak sengaja menemukan bunga mawar vampir yang membuat kalian keracunan." Dami menggelengkan kepalanya. "Aku benar-benar tidak ingat apa pun." Ia kembali memandang bunga mawar hitam di depannya, memandangnya hingga dahinya berkerut, berharap jawaban akan segera muncul di kepalanya hanya dengan memandanginya saja. Tapi bunga itu terlihat sangat asing baginya. Ia belum pernah sama sekali melihat mawar berwarna hitam pekat. "Kenapa kalian tidak membuang bunga ini?" ia mulai merasa ngeri melihat bunga beracun itu. Rasanya ide untuk menyimpan bunga itu adalah ide yang buruk. "Kita tidak bisa menghancurkannya," kata Jadrian. "Darahmu dan darah Victor sudah meresap ke dalam tangkai mawar Vampir. Jika Mawar Vampir ini rusak sebelum kalian sadarkan diri, sesuatu yang buruk bisa terjadi pada kalian berdua." Dami membelalakan mata. "Se...sesuatu yang buruk?" ulangnya. "Ya. Kalian sudah terikat dengan tanaman ini." "Tapi... hal buruk macam apa yang akan terjadi pada kami?" "Hmm," Jadrian menyandarkan diri ke punggung kursi, mengamati Dami yang terlihat jelas sangat ketakutan mendengar penjelasannya. Namun ia tidak ingin menyembunyikan fakta dari Dami. Dami harus mengetahui banyak hal agar dapat membuat gadis itu menjaga dirinya sendiri. "Penderitaan." jawab Jadrian. "Mawar Vampir adalah kutukan kecil yang diciptakan oleh Vampir. Kalian tidak dapat mati secara tenang atau pun lolos menjadi Vampir jika terkena racun dari bunga ini. Kalian akan menderita sampai Vampir yang membuat mawar ini datang untuk menghisap darah kalian." Dami berkeringat dingin mendengar penjelasan itu. "Jadi... Vampir itu akan kembali?" Jadrian tidak segera menjawab. Ia menolehkan wajah ke jendela di sebelahnya, memandangi kegelapan di luar sana. "Mungkin." Lalu ia kembali memandang Dami, ia memberikan senyuman hangat yang menularkan hingga Dami mendadak merasa nyaman. "Kau tidak perlu khawatir," kata Jadrian lembut. "Jika pun Vampir itu kembali. Aku ada di sini untuk melindungimu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD