Hanya ada sebuah lilin yang menyala. Bias cahaya lilin yang menyebar hanya mencapai beberapa diameter di dalam ruangan gelap itu, tak mampu menerangi keseluruhan ruangan. Sudut-sudut ruangan pun tak terlihat dan perabotan yang nampak hanya permukaan meja saja. Kaki-kaki meja pun luput dari penerangan sehingga membuat lilin itu seolah-olah berada di atas meja yang melayang di dalam kegelapan.
Namun sekelebat bayangan bergerak, menggoyangkan api lilin. Jemari pucat kelabu dengan kuku hitam panjang tajam mengangkat piringan lilin. Sosok dalam kegelapan itu bergerak sambil membawa lilin. Tapak kakinya sama sekali tak terdengar. Hanya suara kelebat jubah hitamnya yang mengekor di belakangnya yang terdengar.
Sosok itu berhenti di depan sebuah dinding dengan foto-foto yang menempel.
Ia menerangi foto-foto itu satu-persatu. Dimulai dari sudut kiri. Lilin menerangi satu foto hitam putih sebuah keluarga. Suami istri bersama pemuda yang sudah beranjak dewasa serta anak perempuan yang berusia tak lebih dari enam tahun. Foto itu tampak sangat tua bila dibandingkan dengan foto-foto lainnya.
Sosok itu menggerakkan jemarinya untuk menerangi foto hitam putih lainnya. Seorang pemuda bermata dingin di dalam foto itu. Berikutnya foto yang diterangi adalah foto-foto yang sudah berwarna, menunjukkan adanya perkembangan dunia modern.
Lilin berhenti di depan sebuah foto seorang pemuda yang mengenakan seragam satuan, menunjukkan jika pemuda itu adalah seorang prajurit suatu organisasi. Foto itu berdampingan dengan foto seorang pria paruh baya yang kertasnya sudah dicoret dengan tinta berwarna merah sehingga wajah dalam foto itu tidak dapat diidentifikasi.
Di sisi lain foto pemuda prajurit itu tertempel foto seorang gadi manusia bermata cokelat.
Kemudian lilin diarahkan pada bagian kosong, yang kemudian sebelah tangan sosok itu menempelkan foto lainnya. Kali ini foto hitam putih, seorang pria berambut panjang dengan ekspresi wajah angkuh. Ia juga menempelkan satu foto berwarna di sebelah foto hitam putih itu. Pastinya foto itu baru didapatkan, sebuah foto anak perempuan berusia tak lebih dari enam tahun, dengan pasang mata berwarna merah menyala.
"Takdir... telah berubah..." Ujar sebuah suara yang terdengar berbisik, serak dan licin bagaikan desis ular.