"Bagaimana rasanya?" Tanya Victor. "Pingsan selama tiga hari karena sebuah kutukan?"
Dami berjalan bersama Victor menuju ke sekolah. Victor menjemputnya pagi ini, dan ia tidak protes, sebab ia juga ingin membicarakan hal ini dengan Victor.
"Sejujurnya aku tidak merasakan perbedaan apa pun." Dami mengangkat bahu.
Victor mengangguk. "Aku juga. Tapi katanya itu kutukan kecil. Dan menurutku itu mengerikan. Apanya kutukan kecil jika kita akan terikat selamanya dengan Vampir yang memberikan kutukan itu?" Dia menggeleng-gelengkan kepala.
"Selama kami bermain di Hutan, tidak pernah hal ini terjadi. Maksudku, aku tidak pernah ditangkap oleh Vampir," Victor melanjutkan. "Bukankah kedengarannya sangat konyol Vampir menangkap werewolf? Sumpah, aku tidak pernah merusak peti mati mereka atau apa." Ia bersungut-sungut dengan tampang kesal.
Dami tidak menanggapi apa pun lagi. Ia memilih diam saja, namun entah mengapa ia merasa bersalah. Ia merasa penyebab serangan Vampir malam itu dikarenakan oleh dirinya. Karena dia adalah manusia. Atau karena dia pernah menjadi Vampir? Tapi apakah Vampir bisa menyadari tentang kondisinya?
"Tenang saja. Solaris sedang mencari tahu siapa pelakunya," kata Victor.
"Apakah Solaris melapor kepada pihak berwajib?"
"Tentu saja tidak. Nih. Akan kuajarkan kepadamu bagaimana caranya tinggal di sini sebagai makhluk non manusia. Jangan pernah melapor apa pun kepada polisi. Percuma saja. Hanya ada beberapa polisi khusus yang mengetahui keberadaan kita. Kebanyakan yang bekerja di sini adalah polisi manusia. Dan polisi manusia tidak akan pernah berpihak kepada kita."
"Akan kuingat, terima kasih," Dami mengangguk. "Oh ya, aku dengar kau ditemukan di dekat mulut hutan. Apakah kau tidak berburu waktu itu?" Tanya Dami kemudian.
"Oh," ekspresi Victor terlihat tidak nyaman, seperti tertangkap basah. "Aku sedang berburu kok." Kilahnya. "Aku sedang mengikuti si rusa. Entah, mungkin aku salah lihat. Aku melihat rusanya keluar dari hutan."
"Kau tidak salah lihat. Rusanya memang berada di dekat api unggun. Aku melihatnya."
"Wah, benarkah?" Victor terlihat kaget sekaligus lega.
"Aku berteriak memanggil Jadrian untuk memberitahu, lalu mengejar rusa itu, dan tanpa sadar sudah masuk ke dalam hutan."
"Wah, kau kedengaran sangat mudah ditipu, Dami."
"Hah? Kenapa?
"Kalau aku adalah manusia, aku tidak mungkin akan mengejar hewan masuk ke dalam hutan. Aku tidak akan pernah masuk ke dalam hutan. Apalagi ketika sedang sendirian di malam hari."
Dami tersadar jika ia memiliki tingkat keberanian yang terlalu berlebihan sebagai manusia. Apalagi dia sudah tahu jenis bahayanya. Mungkin karena pernah menjadi Vampir membuatnya tidak merasa risau dengan kegelapan malam dan lebatnya hutan. Sebab, dulu ia dan Jadrian sering bersembunyi di dalam hutan. Kegelapan dan hutan telah menjadi tempat yang akrab baginya. Tapi rupanya dengan tubuh manusia segala hal itu kini harus menjadi pantangan untuknya.
"Sudah jelas itu adalah tipuan Vampir," Victor melanjutkan. "Mungkin memang ada Vampir yang mengincarmu. Aku tidak ingat apa-apa. Tapi mungkin saat itu aku berada di sana untuk menyelamatkanmu. Soalnya mustahil Vampir menyerang werewolf tanpa alasan." Victor sepertinya masih belum dapat menerima jika ia telah diserang oleh Vampir. Harga dirinya sebagai werewolf seolah terkoyak karena fakta ia mendapatkan kutukan seperti manusia.
"Mulai ada banyak kasus p*********n dari makhluk non manusia bermunculan di Burdenjam. Ingat penemuan tiga mayat yang darahnya disedot sampai habis? Berani taruhan, itu pasti adalah perbuatan Vampir. Tapi para polisi menutupi identitas si pelaku sebagai manusia psikopat. Konyol. Psikopat menyedot darah korban karena kegilaannya sendiri. Itu pasti Vampir."
Mereka berdua sudah sampai di depan pintu gerbang. Di kejauhan Dami dapat melihat dua sosok berdiri di dekat gedung sekolah. Ia berharap tak terlihat, namun sayangnya Alice dan Lexa telah melihat keberadaannya.
"Nah, sampai nanti, Dami. Jangan buat onar." Peringat Victor sebelum pergi meninggalkannya.
Sementara Alice dan Lexa telah berjalan mendekati Dami.
"Kau datang bareng Victor?" Tanya Lexa heran.
Dami mengangguk. "Yeah."
"Ada hubungan apa antara kau dan Victor?" Tanya Lexa dengan nada seperti menuduh.
"Eh? Teman?" Dami menjawab ragu.
"Dia bukan tipe cowok kita, Dami." Tuntut Lexa. "Jangan bikin malu Alice."
Dami mengerutkan dahi. Ia tidak mengerti. Kita yang disebut oleh Lexa terdengar posesif.
"Menurut Lexa, Victor bukan pilihan terbaik untukmu, Dami." Alice menjelaskan dengan lembut, ia merangkul bahu Dami, mengajak Dami berjalan memasuki gedung sekolah. Dami segera mengikuti Alice dengan langkah kikuk.
"Ya. Kami hanya berteman." Dami meyakinkan mereka berdua yang berjalan mengapitnya di kanan-kiri. Kedua gadis cantik itu bertubuh lebih tinggi darinya dan dia merasa konyol berada di antara mereka berdua. Apalagi dengan ransel berwarna merah muda. Sial. Dia harus segera mengganti ranselnya yang kekanakan ini.
"Yah, tidak ada yang bisa menghalangimu untuk berteman dengan siapa saja." Ucap Alice maklum. Dan Dami merasa dibalik ucapan Alice itu ada peringatan untuknya tidak berangkat bersama dengan Victor lagi.
Pertemanan ini sungguh konyol, pikir Dami. Tapi anehnya ia tidak dapat mengatakan apa pun pada Alice dan Lexa. Kadang ia menyukai mereka, kadang juga ia merasa resah karena ia tidak bisa sebebas yang ia inginkan.
--
Bangunan Perpustakaan kota Burdenjam mengingatkannya pada kastil Vampir yang dulu pernah ia singgahi pada penjelajahannya dengan Jadrian. Entah pada tahun berapa. Ia tidak ingat persis.
Tiba-tiba saja Dami memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Ia merasa mungkin ia akan mendapatkan sesuatu karena perpustakaan adalah tempat segala buku disimpan. Mustahil Burdenjam tidak menyimpan buku tentang makhluk non manusia. Lagi pula seharusnya perpustakaan kota lebih lengkap dari pada perpustakaan sekolah.
Ada alasan lain juga mengapa ia tidak memilih perpustakaan sekolah. Ia tidak ingin Alice dan Lexa mengetahuinya memasuki perpustakaan. Entah mengapa ia merasa Alice dan Lexa tidak akan senang mendengar ide nongkrong di perpustakaan, apalagi untuk melakukan penyelidikan yang berhubungan dengan Vampir.
Sayangnya Dami tidak beruntung.
"Maaf, kau harus membuat surat izin sebelum memasuki ruang khusus." Kata penjaga perpustakaan. "Ini blankonya." Ia menyodorkan kertas cetak kosong kepada Dami. "Syarat-syaratnya sudah ada di dalam blanko. Kau hanya tinggal melengkapinya. Jangan lupa tanda tangan walimu."
Dami membaca syarat-syarat yang tertera di blanko yang diberikan kepadanya. Dia mengerutkan dahi karena merasa semua syarat itu sangat sulit.
Syarat yang harus dilengkapi untuk mendapatkan kunci ruang khusus perpustakaan kota Burdenjam:
1. Mengisi blanko.
2. Fotokopi identitas diri.
3. Surat izin dari kepolisian.
4. Surat izin dari wali untuk peminta izin yang berusia di bawah 18 tahun.
"Apakah nomor tiga dan empat ini wajib?" Tanya Dami, agak keberatan. "Kenapa aku harus meminta surat izin ke kepolisian hanya untuk mendapatkan izin perpustakaan?"
"Wajib, Nak." Si perpustakaan memandang angkuh kepada Dami, seolah dapat mencium aroma pembangkangan yang telah direncanakan oleh Dami. "Kalau tidak lengkap, kau tidak akan mendapatkan izin memasuki ruang khusus."
"Baiklah, terima kasih." Dami segera pergi meninggalkan si penjaga perpustakaan sambil membawa blanko yang diberikan kepadanya.
Ia tidak berniat untuk memasuki perpustakaan di area umum karena sudah tahu apa yang ia cari tidak akan ketemu di sana. Meski ia punya tugas sekolah, ia tetap sudah tidak punya niat untuk melakukan apa pun.
Tiba-tiba seseorang menabrak bahunya. Ia menoleh dan mengenali gadis berambut merah ikal dengan kacamata besar.
Daisy tersenyum kikuk kepadanya.
"Aku dengar tadi," bisik Daisy pada Dami, bukannya meminta maaf karena sudah menabrak bahu Dami dengan sengaja. "Kau ingin memasuki ruang khusus."
"Oh, ya..." Dami mengangguk. Ia tidak menyadari Daisy telah mengawasinya sejak tadi.
"Apa yang ingin kau cari?" Tanya Daisy dengan sorot penasaran. "Semua tentang makhluk non manusia di simpan di sana, di area khusus. Sampai sekarang aku masih belum berhasil mendapatkan izin." Bisiknya.
"Kau juga ingin ke sana?" Dami akhirnya mengerti mengapa Daisy mendatanginya setelah menguping.
Daisy mengangguk.
"Persyaratannya sulit ya?" Dami menunjukkan blanko di tangannya.
"Sangat." Daisy mengangguk setuju. "Aku sudah pernah bolak-balik mendatangi kantor polisi, namun selalu ditolak mentah-mentah."
"Bagaimana dengan ibumu? Apakah dia memberikan izin?" Tanya Dami.
Daisy menggeleng. "Seolah semua orang ingin kita semua melupakan keberadaan makhluk non manusia." Ujarnya dengan nada dramatis yang mengejutkan. "Walau sebenarnya sampai sekarang makhluk non manusia selalu berada di sekitar kita."
Jantung Dami mencelos. Apakah Daisy tahu jika Burdenjam menerima makhluk non manusia untuk tinggal di sini?
Daisy tersenyum kikuk. "Dulu aku pernah melihat werewolf," bisik Daisy, masih saja mengikuti Dami. Ada nada bangga sekaligus histeria dalam nada suaranya. "Ingat kan? Sebelas tahun lalu pernah ada pemberontakan werewolf di Varlas. Pemberontakan yang sangat besar, nyaris menghancurkan kota. Untunglah kita punya Pembasmi. Dulu kita punya Hunter, tapi Pembasmi punya alat-alat modern yang lebih mampu menangani makhluk non manusia. Oh ya, dulu aku tinggal di Varlas. Saat pemberontakan itu terjadi, pintu kami diketuk segerombolan werewolf. Mengerikan sekali." Ia menggeleng-gelengkan kepala, namun ekspresinya tampak antusias. "Karena itulah Ibuku menyuruhku untuk tinggal di Burdenjam agar aku aman. Meski sekarang makhluk non manusia bersembunyi, orang-orang tetap saja merasa cemas dengan keberadaan mereka."
Dami mengangguk-anggukan kepala.
"Aku tidak menyangka kau memiliki ketertarikan dengan makhluk non manusia." Kata Daisy. "Kukira kau tidak akan suka."
"Kenapa?" Dami mengerutkan dahi.
"Karena kau temannya mereka. Alice dan Lexa benci mendengar tentang makhluk non manusia."
"Oh, aku hanya penasaran." Kata Dami, agak kikuk. "Jadi..."
"Aku mengerti." Daisy segera mengangguk. "Aku juga sering merahasiakan perbuatanku dari Aoi dan Aimee. Maksudku... Rasa penasaranku. Ini bukan suatu dosa yang harus ditutupi. Hanya saja Aoi dan Aimee agak tidak senang dengan ketertarikanku. Katanya itu agak berbahaya."
"Benar," Dami mengangguk. Ia yakin Daisy akan menyimpan pertemuan ini sebagai suatu rahasia di antara mereka berdua saja.
"Tapi melihatmu penasaran, mungkin aku akan mencoba sesuatu." Lanjut Daisy.
"Sesuatu?" Dami merasakan antusias Daisy semakin melejit.
"Ya. Aku pernah memikirkannya. Tapi akan kucari tahu lebih dulu. Jika aku berhasil mendapatkan cara untuk memasuki ruang khusus, mau kah kau ikut bersamaku?"
Dami terdiam.
"Oh, kau tidak perlu memaksakan diri. Ini memang..." Daisy melirik ke sekitarnya dengan mata biru jernihnya, dia tampak was-was. "Ini memang berbahaya. Hanya jika kau mau ikut. Aku bisa mengajakmu setelah semuanya siap."
Dami berpikir sebentar. Kemudian ia pun mengangguk. Ia merasa ajakan Daisy adalah peluang yang menarik untuknya.
"Ya, aku mau ikut."
Senyum lebar terbit di wajah pucat gadis berkacamata itu. Dami dapat melihat sesuatu yang menarik seperti mereka di wajah Daisy. Ia mulai menyukai gadis ini.
"Baguslah." Pekik Daisy lega seolah ia takut akan ditolak. "Aku akan memberitahumu jika sudah siap."
Dami mengangguk setuju.
"Nah. Sampai jumpa."
Sebelum Dami sempat membalas, Daisy sudah berlari pergi lebih dulu meninggalkan teras perpustakaan. Ia berdiri diam mengawasi Daisy yang menuruni undakan. Ya, semoga saja ia benar-benar mendapatkan kesempatan itu. Ia sangat ingin tahu lebih banyak tentang Mawar Vampir dan kutukannya. Jadrian tentu tidak akan menjelaskan lebih banyak lagi dari yang sudah diberikan kepadanya.[]