Victor tidak mengerti mengapa dua gadis populer di sekolah mereka, Alice dan Lexa, mau saja berteman dengan Dami yang agak... Hmm, bagaimana cara mendeskripsikannya? Dami lebih cocok berteman dengan geng Aimee yang norak dan konyol. Melihat Dami dibawa pergi dengan diapit oleh Alice dan Lexa, membuat Dami bagaikan kurcaci di antara kaki-kaki jenjang para Elf.
"Kenapa senyum-senyum?"
Victor tersadar ketika Aimee menegurnya.
"Kami melihatmu muncul bareng Dami, jadi kalian beneran pacaran?" tuduh Aimee segera.
Victor memutar bola matanya, lalu segera berjalan.
"Eh, aku benar kan? Kalian berdua pacaran! Kalian bahkan sama-sama tidak masuk sekolah!" kejar Aimee yang juga dibuntuti oleh Aoi dan Daisy.
Victor mengabaikan tuduhan Aimee yang menurutnya tidak penting. Ia masih memikirkan wajah Lexa tadi. Banyak orang lebih memilih Alice dibandingkan Lexa, tapi Alice sama sekali bukan tipe Victor. Alice terkesan dingin dan muram menurutnya. Sementara Lexa, meski sangat suka memaki, Victor merasa gadis itu sangat menantang.
Tiba-tiba Victor beralih memikirkan kata-kata yang ia lontarkan kepada Dami sebelum Lexa menjungkarbalikkan isi kepalanya.
"Sial. Kenapa tadi aku bilang kita?" Victor mendadak berhenti. Daisy yang membuntuti tepat di belakangnya langsung menabraknya. Terdengar rintihan Daisy karena wajahnya tepat menabrak ransel Victor.
Aimee segera mendorong kepala Victor. "Sengaja ya berhenti mendadak?" omelnya kesal.
"Baik-baik saja, Daisy?" tanya Aoi khawatir.
"Yeah, jangan khawatir," Daisy mengangguk meski hidungnya sudah memerah.
"Sori, Daisy. Aku tidak menyadari kau di belakangku," Victor segera meminta maaf. "Sini, Dais. Biar kucium hidungmu agar lekas sembuh."
"Pelecehan!" seru Aimee sementara Daisy segera bersembunyi ke balik punggung Aoi, menggeleng tidak mau.
Victor malah tergelak senang menggoda Daisy. Mereka berempat pun berjalan menuju ke kelas dengan Aimee yang masih terus saja mengomelinya. Tapi ia menikmati pertemanannya dengan ketiga gadis ini. Mungkin bagi orang-orang dia terlihat aneh karena berteman dengan tiga orang gadis. Tapi Aimee tidak bisa disebut seratus persen gadis sih. Ini demi menjaga kewarasannya agar ia tetap memiliki sisi kemanusiaannya. Agar ia tetap ingat jika pada awalnya dia dilahirkan sebagai manusia.
Mereka berempat sudah mengambil deret bangku di kelas, masih saling melemparkan topik obrolan, dan sebagian besar Victor didesak dengan pertanyaan mengenai hubungannya dengan Dami, serta alasan mengapa ia dan Dami tidak masuk sekolah bersamaan di hari yang sama.
Victor senang membuat orang-orang penasaran sehingga ia tidak mau menjawab semua pertanyaan ketiga temannya itu. Ia biarkan saja mereka bertiga tenggelam dalam dugaan-dugaan konyol mengenai hubungannya dengan Dami.
Victor juga masih memikirkan mengapa ia menyebut "kita" ketika ia memberitahu Dami untuk tidak berurusan dengan polisi manusia. Dami kan manusia? Kenapa dia seolah mengkategorikan Dami sebagai bagian dari makhluk non manusia?
Kenangan samar itu pun kembali muncul. Seorang gadis kecil dengan pesona yang aneh, berpasang mata emas. Juga kulit sedingin es. Kenangan terakhirnya di stasiun di Varlas sebelas tahun lalu. Ia bertemu dengan Dami yang terlihat seperti Vampir.
Dami memasuki kelas diiringi kedua peri cantik itu. Victor sengaja bersiul menggoda ketika mereka bertiga melewati deret bangkunya. Lexa bereaksi dengan melontarkan sorotan menghina dan jijik. Ia juga mendengar gumaman ejekan yang tidak enak didengar dari lontaran mulut Lexa. Tapi Victor tetap menghargai reaksi itu. Ia malah senang karena Lexa masih menunjukkan reaksi yang artinya menyadari keberadaannya.
"Ya ampun, Vic." dengus Aimee, dengan ekspresi jijik melihat wajah Victor. "Masih juga mengharap cewek itu."
"Itu hakku dong," ujar Victor. Seperti ia menjaga pertemanannya dengan ketiga gadis ini, ia juga menyimpan Lexa sebagai pujaan hatinya. Ia benar-benar tidak berselera dengan para gadis werewolf di kampung halaman saudara Wern. Dia maunya yang seperti Lexa.
Aimee memutar bola matanya. "Tahu apa yang kami dengar?" bisiknya. Ia menyodorkan wajahnya ke dekat Victor. Victor memperhatikan jika eyeliner Aimee tampak lebih tebal dari biasanya. Aimee pasti membeli alat rias baru lagi untuk uji coba konyolnya.
"Lexa telah berkencan dengan Dael pada akhir minggu kemarin."
Victor menyadari jika tidak hanya dirinya yang bereaksi dengan omongan Aimee. Aoi tampak kikuk sampai-sampai menjatuhkan pulpennya.
"Biar kuambil," Daisy yang sama sekali tidak memahami situasi segera mengambil pulpen Aoi di lantai.
"Serius deh, kalian berdua sama-sama konyol. Sadarlah. Lexa dan Dael itu tidak cocok untuk kalian berdua." ujar Aimee telak.
"Ayolah, Aim. Jangan rusak imajinasiku. Lexa itu bunga tidurku." keluh Victor jengkel. Dan dia memang sangat jengkel karena akhir minggu kemarin seharusnya dialah yang berkencan dengan Lexa, bukan Dael. Seandainya saja ia setuju dengan tawaran Dami, yaitu menggunakan hipnotis Topaz sebagai Vampir...
Lexa, gadis paling populer di sekolah, setelah Alice, berkencan dengan Victor. Wah, itu berita hebat.
"Lihat kan? Dael tidak sebaik yang kau pikirkan, Aoi. Semua lelaki sama saja. Otaknya persis dengan otak menjijikan teman kita satu ini." sindir Aimee sambil menyikut Victor.
"Aim, kenapa kau juga menyindirku?" protes Aoi.
"Yeah, biarkan Aoi dengan imajinasi liarnya, Aim. Aku tahu dia juga pasti sering membayangkan Dael dalam mimpinya." Ledek Victor pada Aoi meski Aoi tidak melakukan kesalahan apa pun kepadanya. Tetap saja dia senang membuat teman-temannya merasa kesal. Dan sebenarnya dia tidak merestui Aoi yang diam-diam naksir pada Dael. Dari sekian laki-laki, kenapa Aoi harus naksir si albino menyebalkan itu?
"Apa yang kau mimpikan, Aoi? Apakah tubuh atletis yang menggoda itu, tanpa busana dan..."
"Astaga! Diam kau!" Teriak Aoi nyaring. Berikutnya, wajah gadis itu langsung merah padam karena seluruh pasang mata di dalam kelas kini tertuju ke arahnya, terlihat kaget.
"Ada masalah Nona Haruna?" tanya guru yang sedang mengajar di depan kelas.
"Ti... tidak, Pak." jawab Aoi terbata-bata, malu setengah mati. Sementara Victor dan Aimee berusaha menahan tawa, keduanya mendadak menjadi akur karena senang telah membuat Aoi mendapat masalah.
--
Hari itu berjalan sewajarnya. Berteman dengan ketiga gadis cupu ini sambil menghabiskan mata pelajaran di sekolah, juga tak lupa menarik perhatian Lexa yang menghadirkan hujatan sampai gadis itu meludah kesal.
Aimee pun sudah bosan mengolok usaha Victor demi mendapatkan perhatian Lexa.
"Oi, Vic!"
Victor yang sedang berjalan menuju gerbang sekolah bersama ketiga teman gadisnya, menolehkan wajah. Lelaki albino itu terlihat sangat menyolok, melambai dari parkiran.
"Ah, sial..." Victor merasa risih melihat Dael memanggilnya.
"Sepertinya ada urusan keluarga," celetuk Aimee, kedengaran penasaran.
"Tunggu di sini," perintah Victor.
"Mungkin dia ingin mengajakmu pulang bareng?" tebak Aoi.
"Aku tidak akan pulang dengannya," gerutu Victor dan langsung melangkah menghampiri Dael. Dia tidak melihat keberadaan Solaris.
"Apa?" tanya Victor.
Dael menaikkan sebelah alisnya, sedikit kesal mendengar nada kurang ajar Victor meski pasti ia sudah terbiasa mendengarnya.
"Kami akan pergi, jadi jangan lupa kunci rumah." Kata Dael.
"Hah? Kalian akan pergi kemana?" Tanya Victor, meski ia sudah tidak kaget lagi. Ia memang sering ditinggalkan dan dia juga tidak tertarik untuk mengikuti kegiatan kedua werewolf ini.
"Oh ya, bisa minta tolong antar Dami ke rumahnya?" Dael mengabaikan pertanyaan Victor barusan, jelas ia sedang menyembunyikan sesuatu.
Victor mengerutkan dahi. Ia dapat langsung menebak jika kata "kami" barusan bukan hanya antara Dael dan Solaris. Kedua werewolf ini sepertinya akan pergi bersama teman baru mereka, dua Vampir itu, Jadrian dan Topaz.
"Jadrian ingin kau mengantarnya pulang. Bisa kan? Dan kalau bisa, temani Dami selama di rumah, atau pastikan Dami pergi ke rumah temannya." perintah Dael.
Victor memutar bola matanya. Dia merasa konyol dengan perintah itu seolah Jadrian telah dengan resmi menunjuknya sebagai pengasuh Dami. Enak saja.
"Hei," Solaris muncul sambil menepuk bahu Victor. "Maaf, tadi aku harus ke ruang guru." Ujarnya pada Dael.
"Tidak masalah, para Vampir sudah menunggu sepertinya." Dael melirik arlojinya sekilas.
Victor tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya. Dia memang tidak suka pergi bersama Dael. Tapi tidak jika dengan Solaris. Apalagi mereka berdua akan pergi bersama dua Vampir yang sangat menarik perhatian itu. Dia merasa iri dan kesal karena tidak diikutkan dalam keseruan ini. Mereka berempat pasti akan menyelidiki Vampir yang menyerang di hutan itu.
"Kenapa kalian tidak mengajakku?" protes Victor, membuat kedua Wern itu menolehkan wajah, agak kaget karena ini pertama kalinya Victor menunjukkan tanda-tanda ketertarikan pada kegiatan mereka berdua.
"Vic, kau baru saja bangun dari kutukan," Dael mengingatkan dan lebih terdengar seperti mengolok harga diri Victor karena sudah diserang oleh Vampir.
"Kau di sini saja, Vic." kata Solaris yang selalu lebih lembut. "Tolong jaga Dami selama kami berempat pergi. Dan kami akan menghubungimu." ia menunjukkan ponselnya. "Oke?"
Victor menghela napas. Kalau sudah Solaris memerintahkannya, dia bisa apa?
"Nah, sampai ketemu nanti malam." Solaris menepuk bahu Victor untuk kesekian kalinya.
Victor bergerak mundur ketika mobil jip merah Wern pergi meninggalkannya. Ia kembali menghampiri ketiga temannya yang setia menunggu.
"Duh, masam sekali." celetuk Aimee dan Victor kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengendalikan raut wajahnya. "Aku tidak punya saudara, tapi pasti rasanya menyebalkan ditinggal begitu saja." dia menganggukkan dagu ke arah mobil jip itu pergi.
"Bukan urusanmu," Victor merasa terhina. Tak sengaja ia menemukan keberadaan Dami yang mencolok dengan ransel merah muda (sungguh, Victor tidak mengerti kapan Dami akan mengganti ransel konyol itu) dan diapit kedua teman populernya. Ia mencibir. Hari ini dia tidak ingin menjadi pengasuh. Lagi pula sudah pasti Dami akan pergi bersama dengan Alice dan Lexa. Apa dia juga harus menguntit Dami? Cih, ogah.
"Aim, main game yuk di rumahmu," ajak Victor.
"Boleh," Aimee segera setuju. "Tapi di rumahku tidak ada makanan. Kita ke rumah Aoi saja. Makan siang di sana." katanya bahkan sebelum meminta izin Aoi. Aoi hanya menghela napas kemudian mengangkat bahu pasrah dengan keputusan sepihak kedua temannya itu.
Victor segera mengangguk setuju. Dia ingin menyibukkan dirinya hari ini tanpa perlu menuruti perintah Dael, Solaris atau bahkan Jadrian.
"Ikut kan, Dais?" tanya Aimee.
"Oh?" Daisy terkejut. Kemudian ia segera menggelengkan kepala. "Maaf. Kalian saja. Aku ada kerjaan."
"Kerjaan apa sih?" protes Aimee. "Dari kemarin kau tidak mau lagi mampir ke rumah Aoi."
"Maaf, Aoi, aku akan mampir nanti." Daisy berkata pada Aoi, terlihat tidak enak.
"Tidak apa-apa, Daisy." Aoi tampak maklum. "Tapi tolong beri tahu kami jika kau punya masalah."
"Aku tidak punya masalah, aku hanya ada kerjaan sedikit..." Daisy berusaha menjelaskan. "Nah, sampai nanti."
Victor tidak mempermasalahkan Daisy yang tidak ikut bersama mereka untuk singgah mampir di rumah Aoi. Dia bahkan tidak melihat jika Dami telah pergi meninggalkan Alice dan Lexa, mengambil jalan yang bukan menuju ke arah rumah gadis itu.[]