Terkadang ku ingin berhenti
Katakan pada hidupku,
Cukup sudah~!
Ketika semuanya terlalu menyakitkan Terkadang ku hanya ingin mengatakan
Aku mencintai diriku sendiri
tapi tidak hari ini
Ketika semuanya terlalu menyakitkan
Hati bajaku yang hancur~
Aoi bernyanyi sampai-sampai tenggorokannya terasa sakit. Tak jauh berbeda dengan kedua temannya, Aimee dan Daisy. Bagaikan ritual, mereka akan menyanyikan lagu band favorit mereka dalam perjalanan menuju ke sekolah. Mobil terasa akan meledak hanya karena dipenuhi suara mereka bertiga.
Mereka berhenti bernyanyi lalu tertawa bersama.
"Argh, aku rindu bernyanyi bersama kalian!" pekik Daisy yang duduk di kursi belakang, padahal mereka hanya berpisah selama libur musim panas saja.
"Haha, aku juga!" Seru Aoi yang menyetir.
"Yah, yah... Kita seharusnya menjadi vokalis band," kata Aimee yang mulai menorehkan eyeliner di bawah matanya.
"Jangan lagi, Aim..." Kata Daisy sambil mendorong-dorong kursi yang diduduki Aimee, sengaja untuk mengganggu Aimee.
"Hei! Kau menggangguku!" Seru Aimee kesal. "Nyaris saja wajahku tercoret!"
"Kau tidak akan bisa menggoda Solaris dengan penampilan semacam itu!" Olok Daisy.
"Siapa bilang aku melakukan ini untuk menarik perhatian?" Aimee mencibir, kembali fokus berdandan ke spion mobil di sampingnya. "Aku suka jika melihat mataku terlihat tegas," katanya. "Sebaliknya kau, Daisy. Kau kacau sekali. Berdandanlah jika ingin Vampir jatuh cinta padamu."
"Yaiks," desis Daisy. "Kau ingin Sullivan menceburkanku ke dalam got? Tidak, terima kasih!"
Aoi hanya menggelengkan kepalanya melihat perseteruan Aimee dan Daisy.
Aimee memang paling suka berdandan, ia sering iseng mencoba gaya berdandan artis yang sedang viral di dunia hiburan. Tapi Aoi berharap Aimee tidak berdandan terlalu mencolok, karena pastinya penampilannya akan menarik perhatian Alice Sullivan dan Lexa Ariadne, yaitu dua gadis paling populer di sekolah mereka. Keduanya tentu tidak ingin disaingi oleh siapa pun.
Tetapi sebenarnya Aimee tak kalah cantik dari kedua gadis populer itu. Aoi mengakui hal itu. Seandainya Aimee tidak berteman dengan Aoi dan Daisy, mungkin Aimee akan menjadi sepopuler Alice dan Lexa.
"Mana mungkin," kata Aimee langsung ketika Aoi mengutarakan pendapatnya. "Aku memang luar biasa, tapi aku tidak butuh kepopuleran." Dengusnya meremehkan. "Levelku di atas kedua gadis konyol itu."
"Tidak, Aim. Kau tidak akan pernah populer." Kata Daisy. "Kau itu keturunan Hunter. Dan kau itu aneh." Lanjutnya kejam dan Aimee nyaris akan menangkap Daisy dengan menjulurkan tubuhnya ke kursi belakang.
"Jangan remehkan Hunter! Mereka adalah kelompok manusia hebat di masanya tahu!" Seru Aimee berang, berusaha mencubit tangan Daisy
"Aku tidak meremehkan Hunter! Tolong ditelaah kata-kataku dengan baik! Aku hanya menitikberatkan jika kau itu aneh! Mana ada gadis populer yang sering mengenakan pakaian terbalik, hah?!" Daisy meronta, berusaha menjauhi Aimee.
"Sial! Waktu itu aku terburu-buru tahu!"
"Oh?" Aoi mengerjap ketika melihat seseorang yang tidak asing berjalan di trotoar. "Hei, hei..." Ia segera memelankan lagu yang diputar. "Itu si murid baru kan?"
Aimee dan Daisy menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Aoi. Dan benar saja, murid baru yang datang hari kemarin di sekolah mereka terlihat sedang berjalan sendirian.
"Apa dia tinggal di sekitar sini?" Tanya Aoi, ia segera menepikan mobilnya. Lalu menjulurkan kepala keluar jendela, melambai pada si murid baru "Hai!" Sapanya.
Si murid baru yang bernama Dami Alan memandang Aoi dengan ekspresi bingung. Ia berhenti di samping mobil.
"Kau mungkin tidak mengenalku, tapi aku tahu kau adalah murid baru di kelasku," jelas Aoi.
Seketika Dami tersenyum. "Hai!" Balasnya kemudian. "Maaf, aku tidak tahu jika kita satu kelas."
"Naiklah," ajak Aoi.
Pasang mata Dami membesar, terkejut. "Kau... memberiku tumpangan?"
"Oh ya, tentu saja! Bukankah kita satu kelas? Kita bisa berangkat bareng!"
"Oh, terima kasih! Kau baik sekali!" Kata Dami, terlihat senang.
Daisy segera membantu membukakan pintu untuk Dami. Dami memasuki mobil kemudian duduk di sebelah Daisy.
"Halo," sapa Dami kepada Daisy dan Aimee. "Namaku Dami."
"Namaku Aoi," balas Aoi. "Dan ini Daisy, juga Aimee." Tunjuknya satu-satu kepada kedua temannya.
"Ha... Halo," sapa Daisy kikuk.
"Hai," kata Aimee juga, yang langsung berpaling ke belakang, mengamati Dami dengan sorot tajam.
Aoi mulai menjalankan mobilnya kembali.
"Kau tinggal di sekitar sini, Dami?" Aoi memutuskan untuk membuka percakapan karena suasana di dalam mobil terasa canggung. Aimee dan Daisy memang bukan orang yang dapat beramah-tamah dengan orang yang belum dikenal.
"Oh, ya." Dami mengangguk. "Tepatnya di gedung DF."
"Wah, dia tetanggamu, Daisy!" Komentar Aimee.
Dami menoleh pada Daisy di sebelahnya. "Kau juga tinggal di Gedung DF?" Tanyanya.
Daisy menggeleng. "Aku tinggal di Gedung C, di sebelah gedungmu."
"Oh..." Dami mengangguk-angguk.
"Apa itu di tanganmu?" Tanya Aimee, menunjuk pada tumpukan kertas dalam pelukan Dami.
"Oh, ini..." Dami menunjukkan setumpuk kertas di tangannya. "Ini pamflet promosi, saudaraku sedang membuka klinik di daerah sini."
"Wah, saudaramu? Apa pekerjaannya?" Aimee segera mengambil satu lembar pamflet dari tumpukan di tangan Dami. "Oh, dokter gigi?!" Ia membaca isi pamflet itu.
Dami mengangguk.
"Daisy, sepupumu kan sedang sakit gigi, bawa saja dia ke klinik ini," kata Aimee sambil menyodorkan pamflet itu ke tangan Daisy.
"Oh ya?" Daisy menerima pamflet itu, membacanya.
"Jadi kau akan menempelkan pamflet itu ya?" Tanya Aoi.
"Ya," Dami mengangguk. "Sebenarnya aku ingin berjalan saja dan menempelkan pamflet ini di beberapa tempat."
"Kami bisa membantumu kok," ujar Aimee. "Aoi, berhenti di dekat perhentian bus, akan kubantu menempelkannya di papan informasi."
"Eum, tidak usah, biar aku saja yang melakukannya," tolak Dami segera.
"Hei, jika seseorang ingin membantumu, kau seharusnya menerimanya," kata Aimee tajam.
"Oh... Ba...baiklah..." Dami terlihat kikuk.
"Tidak apa-apa, Dami. Aimee memang terlihat mengerikan, tapi sebenarnya dia cukup baik," jelas Aoi segera.
Aimee melemparkan pelototan pada Aoi. "Apa katamu?!"
"Haha, aku hanya bercanda!"
--
Aoi membantu menempelkan satu lagi pamflet di papan pengumuman Caranige. Dia mengangguk puas, menoleh pada Dami lalu tersenyum.
"Terima kasih, Aoi," ucap Dami. "Kalian baik sekali mau membantuku."
"Apa kau tidak pernah bertemu dengan orang baik?" Tanya Aimee heran pada Dami. "Kau terus saja berterima kasih."
Dami hanya menunjukkan senyum canggung.
"Jadi, Dami... Kau berasal dari mana?" Aoi bertanya, hanya untuk sekadar berbasa-basi, namun ekspresi Dami terlihat terkejut. Aoi terheran-heran melihat reaksi itu, apakah ia telah menanyakan hal yang salah?
"Eum," Dami terlihat gugup, pasang matanya memandang ke sekitar dengan cepat.
"Hei, Aoi bertanya asalmu." Kata Aimee, menepuk bahu Dami.
"North Oak?" jawab Dami ragu, terdengar seperti pertanyaan daripada jawaban.
"Oh, kota kecil itu!" Daisy tiba-tiba berseru. "Kau benar-benar berasal dari sana? Kau pasti tahu tentang penggalian yang dilakukan oleh Squirrel di sana kan?" Seketika si gadis rambut merah melemparkan pertanyaan kepada si murid baru.
Dami mengerjap kebingungan mendengar pertanyaannya Daisy.
"Duh, Daisy...." Aimee mengeluh, menggelengkan kepala, tampak frustasi.
"Peng...galian?" Ulang Dami.
"Abaikan saja bocah ini," Aimee merangkul bahu Daisy. "Dia memang suka bertanya tentang hal aneh."
Suara dering bel tanda jam pelajaran pertama membahana. Ketiganya terdiam mendengarkan sesaat.
"Yuk, ke kelas," ajak Aoi.
Mereka berempat segera menuju ke kelas yang sama. Ketika akan mengambil bangku, seseorang memanggil Dami.
Aoi menolehkan wajah dan melihat si gadis populer, Alice Sullivan, adalah orang yang memanggil Dami. Ia mendapatkan sorotan dingin dari Alice, seolah menuduhnya telah melakukan sesuatu yang fatal.
"Teman-teman," kata Dami dengan nada tak nyaman. "Aku akan duduk di sana."
Aoi adalah satu-satunya yang memberikan anggukan kepada Dami, sementara Aimee duduk dengan tampang kesal setelah Dami bergabung dengan kelompok gadis populer di depan mereka.
"Aku tidak mengerti," keluh Aimee. "Si Sullivan itu barusan memandang kita seolah kita pencuri atau apa."
"Itu hanya perasaanmu saja," kata Aoi yang mulai mengambil buku pelajarannya.
"Tapi murid baru itu aneh kan?" Bisik Daisy. "Dia berasal dari North Oak tapi tidak tahu-menahu soal penggalian di sana."
"Ck, ayolah, Daisy..." Keluh Aimee, tampak muak. "Lupakan soal penggalian itu. Hiduplah dengan normal dan sisir rambutmu."
"Oh, bagaimana kau tahu jika aku tidak menyisir rambutku?" Daisy bertanya, ia juga buru-buru menyisir rambut merahnya dengan jari-jari tangan.
Sementara Aoi diam-diam mengawasi Dami yang kini duduk sebangku dengan Alice dan Lexa. Ia tidak mengira kedua gadis populer itu akan berteman dengan Dami. Hanya saja... Dami tidak terlihat seperti Alice atau pun Lexa. Dami adalah gadis manis yang biasa-biasa saja. Entahlah, Aoi langsung menyukai Dami bahkan ketika ia pertama kali melihat gadis itu. Padahal Aoi biasanya tidak mudah akrab dengan orang baru, sama seperti dengan kedua temannya.
"Hei, Victor tidak kelihatan," Aimee berkata. "Jangan-jangan absen lagi."
Aoi baru menyadari ketidakhadiran Victor. Padahal mereka baru saja masuk setelah libur panjang.
"Malam ini bulan purnama," bisik Daisy. "Mungkin prediksiku benar. Jangan-jangan Victor itu bukan manusia." Ujarnya serius.
"Yang benar?" Aimee terlihat kaget.
"Kalian tidak memerhatikan ya?" Tanya Daisy. "Victor sering absen pada malam bulan purnama. Aku bahkan menuliskan tanggal-tanggal absennya karena terasa tidak wajar."
Aoi mau pun Aimee tidak dapat merespon balik pendapat Daisy. Mereka berdua baru saja memikirkan kemungkinan hal itu. Tapi... Victor bukan manusia? Itu tidak mungkin kan?