15

1413 Words
Jadrian sedang berjalan-jalan di malam hari itu. Ia memasuki sebuah bar. Di dalam, bar tampak lengang. Tentu ia tidak mampir ke sana untuk minum-minum. Bahkan ketika ia masih seorang manusia, ia sudah berjanji tidak akan minum alkohol. Ia memilih salah satu kursi untuk duduk. Sang bartender menghampirinya, bertanya pesanan minumannya. Topaz punya banyak referensi minuman beralkohol, sementara Jadrian tidak tahu-menahu nama mau pun jenisnya. Namun ia sedang melakukan penyamaran dan tak ingin terlihat mencurigakan dengan kebodohannya dalam minuman beralkohol. "Anggur merah," kata Jadrian, dan tahu minuman itu karena warnanya mendekati warna minuman favoritnya - tentu saja darah. Tapi dia tidak ingin gegabah dengan memesan darah. Si Bartender mengangguk tanpa kata-kata, menggeser gelas Burgundy ke depan Jadrian, mengambil satu botol gelap dan menuangkan isinya ke dalam gelas. "Terima kasih," ucap Jadrian lalu si Bartender pergi menghampiri dua orang yang sudah berada di meja bartender sebelum kedatangan Jadrian. Kedua orang itu mengenakan pakaian unik, seragam serba hitam namun bukan seragam berwajib pemerintah. Ada pin kecil di kerah jaket kulit hitam mereka, kepala hewan seperti tupai berwarna emas. Lambang petugas Squirrel, satuan bukan pemerintah yang mengurusi urusan antara manusia dan makhluk bukan manusia. Jadrian tak sengaja melihat kedua orang itu berjalan-jalan ketika ia sedang berniat mengenal Burdenjam lebih baik. Ini memang hari keberuntungannya. Terlihat kedua orang itu bukan dari pasukan berpangkat tinggi, tapi ia tetap ingin mencoba. Siapa tahu ada suatu informasi yang menarik. Karena itulah ia membuntuti keduanya hingga sampai ke dalam bar. Cukup lama kedua pria itu berbincang mengenai kehidupan rumah tangga mereka masing-masing, hingga akhirnya topik yang ditunggu-tunggu oleh Jadrian mulai disinggung. "North Oak, siapa yang mengira?" ujar satunya yang mengenakan dasi biru yang mencolok, Jadrian akan menyebutnya Si Biru. "Apakah mereka sudah mendapatkan hasilnya?" Satunya mengenakan kemeja putih dari balik jaket satuannya, akan Jadrian sebut si Putih. "Entahlah, Divisi Pencarian belum tentu mau berbagi," kata Si Biru. "Tapi benarkah mayat prajurit nomor satu itu ditemukan?" tanya si Putih. "Katanya begitu." "Kau mendengar bocoran informasi lainnya?" "Kalau pun ada, mana mau aku berbagi denganmu?" "Ayolah, aku akan traktir minumanmu." "Wah, boleh juga. Biasanya kau pelit. Hehe." "Kita kan baru gajihan. Dan ini mengenai topik menarik. Semua orang penasaran." "Oke, jadi..." si Biru menyeruput minumannya sebentar. "Di North Oak, di rumah itu, sudah ditinggalkan selama sepuluh tahun. Sekitar dua minggu yang lalu ada ledakan mencurigakan di dekat rumah itu. Namun tidak ada api atau apa pun yang terbakar. Setelah dicek, di rubanahnya menyimpan mayat si prajurit." "Siapa pelakunya?" "Mungkin..." Si Biru jeda sesaat, memasang tampang horor. "Si Perusuh!" "Tidak mungkin!" seru si Putih, nyaris menjerit, namun segera memelankan suaranya. Ia melirik sebentar ke sekitarnya sebelum bertanya dengan berbisik. "Bukankah Si Perusuh sudah mati sebelas tahun lalu?" "Yang mengatakan hal itu hanyalah orang-orang Squirrel. Tidak ada bukti jika si prajurit nomor satu itu berhasil menaklukkan si Perusuh." dengus Si Biru yang mulai terpengaruh dengan efek alkohol dari minumannya. "Dan Argon yakin sekali jika si Prajurit Nomor satu itu telah berbohong. Aku lebih percaya Argon daripada kabar dari seorang bocah manusia berusia 18 tahun yang bisa membunuh makhluk bukan manusia." "Jika Si Perusuh masih hidup, itu artinya akan ada serangan lainnya." Kata Si Putih, menggoyangkan gelasnya. "Hal itu bisa saja terjadi." si Biru mengangguk. "Apa tindakan Argon?" Si Biru mengangkat bahu. "Kalau kuperhatikan, dia belum melakukan apa-apa. Kau tahu kan Argon? Dia tidak terlalu hebat." Jadrian meninggalkan bar. Di belakangnya, Si Biru tertawa-tawa. "Nah, kau akan membayar semua minumanku kan?" "Hah? Apa maksudmu?" seru Si Putih. "Loh? Kau kan bilang akan membayarnya jika aku menceritakan segala yang kutahu?" "Memangnya kau cerita apa? Duh, aku sudah mengantuk!" Pintu bar menutup di belakang Jadrian, melenyapkan suara-suara obrolan dari dalam. Jadrian tak ingin banyak mengambil risiko. Sebenarnya ia bisa melakukan lebih jauh daripada ini, namun ia sudah menandatangani perjanjian kerahasiaan untuk menaati tata tertib dalam Burdenjam. Dia tidak boleh menggunakan kemampuannya sebagai Vampir. Dan ia baru tahu jika di kota inilah markas Squirrel berada. Jadrian berhenti di jembatan, ia memandang sungai yang ada di bawahnya. Ini adalah sungai terbesar yang ada di Burdenjam, Sungai Brunesie. Di seberang sungai sebelah barat terlihat sebuah bangunan pencakar langit yang tampak terlihat biasa-biasa saja. Bangunan itulah markas inti Squirrel yang dirahasiakan selama ini. Siapa sangka markas itu berada tepat di tengah-tengah kota Burdenjam yang aman dan damai? Ia penasaran dengan apa yang diperoleh oleh Squirrel dari penggalian mereka di North Oak. Ledakan itu terjadi setelah ia meninggalkan North Oak. Dan jika memang benar di sanalah markas si Perusuh, ia benar-benar merasa terhina. Ia tidak bisa membayangkan tinggal di satu desa dengan si Perusuh selama sepuluh tahun ini. Ketika si Perusuh sedang melakukan eksperimen mengerikan itu kepada Dami, ia tidak mengetahui apa pun. "Akan kuhancurkan," gumam Jadrian, mengepalkan kedua tangan pucatnya yang tak memiliki hawa hangat sedikitpun. "Benar-benar akan kuhancurkan dia...." Udara malam berhembus pelan, sayup-sayup terdengar ombak sungai Brunesie di bawah jembatan. -- "Wah," Dami memasuki ruang praktik Jadrian yang sudah siap digunakan. "Oh, hai, Dami," Jadrian terkejut dengan kehadiran Dami. "Apakah kau sudah akan berangkat? Astaga, aku tidak mengecek jam. Kau sudah sarapan?" tanyanya sedikit cemas. Dami terkikik melihat reaksi Jadrian yang berlebihan. "Sudah kubilang untuk kesekian kali, jangan mencemaskan soal pola makanku, Jade. Aku sudah sarapan. Kau pasti sibuk sekali semalaman. Apakah Topaz tidak membantumu berbenah? Dia kan asistenmu?" ia melirik ke sana kemari namun tidak menemukan sosok Topaz, yang biasanya berdiri dalam bayang-bayang. "Dia tidak akan berguna di sini," Jadrian tertawa kecil. "Kau mau membantuku?" "Ya, apa itu?" tanya Dami. "Tolong tempelkan pamflet promosi klinik baruku, kulihat peraturannya begitu." "Oke," Dami segera menerima setumpuk pamflet promosi klinik yang telah dibuat oleh Jadrian. "Aku hanya perlu menempelkan ini di berbagai tempat kan?" Tanyanya. "Yap. Maaf. Aku membuatmu repot." kata Jadrian. "Oh, tidak, Jade. Kita memang harus saling membantu. Apakah kau lupa jika kau selalu menceramahiku untuk bisa membantu siapa saja?" Jadrian tersenyum kecil, lalu mengusap kepala Dami. "Aku senang kau masih mengingat segalanya." "Ya, aku juga tidak ingin melupakan semua kenangan yang sudah kita jalani bersama," Dami menghela nafas, lalu ekspresinya berubah murung. "Aku sudah mencoba, tapi aku tidak bisa mengingat apa pun dengan apa yang terjadi padaku selama sepuluh tahun lalu." "Jangan memaksakan dirimu, Dami," kata Jadrian. "Nah, bagaimana penampilanku?" Dami memandang Jadrian lekat-lekat, menilai penampilan Jadrian. Jadrian mengenakan kemeja berwarna biru muda dan dibalut jas putih kliniknya. Dami tersenyum lebar melihat penampilan si Vampir. Dami mengacungkan kedua jempolnya untuk Jadrian. "Kau terlihat pantas mengenakannya! Kau memang ditakdirkan untuk menjadi seorang dokter, Jade. Apakah di masa lalu keluarga kita punya sejarah seorang dokter?" Tanya Dami antusias. "Ya, tentu saja ada," Namun Jadrian seketika menyesali jawabannya yang spontanitas. "Benarkah? Siapa?" Jadrian mengatupkan mulutnya, ia tidak ingin membicarakan hal ini. Namun Dami menatapnya dengan sorot penuh rasa ingin tahu. Ia tidak bisa menolak untuk menjawab. "Kita punya seorang Paman," katanya, terpaksa. "Di keluarga kita, adik Pa. Dan dia adalah seorang dokter." "Wah, keluarga kita sungguh membanggakan. Pa dan Ma tentu akan sangat bangga melihatmu juga!" Jadrian tersenyum hambar. Ya, ini adalah impiannya di masa lalu, menjadi seorang dokter yang dapat membantu menyembuhkan penyakit. Namun cita-cita itu tidak dapat terwujud pada saat itu. Rasanya menyedihkan mengingat kehidupannya sebagai manusia di masa lalu yang tidak sejalan dengan harapannya. "Nah, Jade. Aku berangkat ya. Dah!" pamit Dami, namun ia kembali berbalik sebelum keluar dari pintu. "Jade, boleh aku minta sesuatu darimu?" "Ya?" sahut Jadrian segera. "Bisakah kau berhenti untuk bersikap terlalu khawatir? Maksudku... aku akan baik-baik saja. Jadi kau tidak usah cemas. Kau tidak perlu mengirimkan Topaz untuk membuntutiku. Dan... dan kau tidak perlu meminta bantuan Solaris atau pun Dael untuk mengawasiku. Itu... agak memalukan, Jade..." pinta Dami, nyaris memelas. Jadrian tertegun mendengarnya. Lalu ia tersenyum, mengangguk. "Baiklah, Dami. Maaf sudah membuatmu tidak nyaman." Dami tersenyum lega. "Terima kasih jika kau mengerti, Jade. Nah, aku berangkat. Dah!" Jadrian diam saja memandang pintu kliniknya tertutup setelah kepergian Dami. Ia merasa menyesal karena sudah membohongi Dami. Selama Si Perusuh atau pun pelaku penculikan Dami belum tertangkap, ia tidak bisa melepaskan Dami dari pengawasannya. "Topaz, kau akan kembali mengawasinya kan?" tanya Jadrian pada ruangannya yang terlihat kosong. Namun ternyata ruangan itu tidak sepenuhnya kosong, ada penghuni selain Jadrian. Terlihat gerakan di sudut gelap. Suara bariton itu menyahut dari sana dengan nada malas yang khas. "Tentu saja, Jade..." jawab Topaz yang tetap bersembunyi dalam bayang-bayang, mungkin terlalu malas untuk menampakkan diri di dalam ruangan klinik yang cerah. "Lagipula aku menemukan sesuatu yang menarik di Caranige." "Jangan membuat masalah, oke?" pinta Jadrian. "Akan kuusahakan," jawab Topaz. Lalu bayang-bayang di sudut ruangan terasa kosong. Si Vampir malas sudah pergi begitu saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD