14

1455 Words
Solaris mengenang masa-masa pasca pemberontakan. Meski terasa berat, namun peristiwa itu menjadi salah satu pengalaman berharga baginya. Pemberontakan werewolf yang terjadi sepuluh tahun lalu telah menjadi pemberontakan terbesar dalam sejarah abad ini. Squirrel dan pasukan bantuan pemerintah yang berjanji akan menjaga keamanan terlambat dikerahkan pada saat serangan terjadi. Hanya ada sebagian kelompok eksistensi yang mencoba menahan serangan di stasiun Defour. Penyihir, werewolf, Vampir hingga manusia berjuang mati-matian melawan para werewolf yang memberontak. Keluarga Wern pun juga termasuk dalam para pejuang tengah malam yang dingin itu. Solaris dan Dael telah menyaksikan segalanya dengan mata kepala mereka sendiri. Tidak ada yang tahu apa tujuan bahkan asal usul para werewolf asing itu. Bahkan Keluarga Wern tidak mengenal kelompok werewolf pemberontak itu sama sekali. Ada banyak korban berjatuhan termasuk para pejuang di stasiun, mereka gugur satu-persatu. Stasiun telah menjadi medan perang, penuh simbahan darah. Hingga akhirnya ketika matahari mulai naik, bantuan mulai berdatangan. Anehnya, eksisten yang sudah berjuang di Defour juga ditangkap oleh Squirrel. Siapa pun yang berada di stasiun Defour yang bukan manusia ditangkap dan dituduh sebagai aliansi, kemudian dijebloskan ke dalam penjara khusus, dengan dinding yang terbuat dari Kripton, suatu unsur yang dapat melemahkan werewolf, Vampir hingga penyihir. Mereka semua dikurung di sana, termasuk Solaris dan Dael meskipun saat itu masih kanak-kanak. Dua bulan mereka dipenjara dan diperlakukan kasar. Dipukul dan dicambuk dengan tali berbahan dasar kripton, atau bahkan ditembak dengan peluru perak jika mencoba melawan. Mereka semua nyaris mati kelaparan. Sungguh masa-masa yang menyakitkan untuk diingat jika manusia bisa memperlakukan mereka sebegitu rendahnya. "Apa yang kau pikirkan?" tanya Jadrian melihat Solaris terdiam sambil memandang kotak pemanas di ruang tengah rumah para Vampir. "Aku mengenang masa lalu," kata Solaris. "Bertemu dengan kalian membuatku teringat kembali pada Penjara Kripton." "Kau dulu masih sangat kecil," komentar Jadrian. "Pastilah sangat sulit bagimu." Memang sungguh aneh. Dulu Solaris dan Dael masih kanak-kanak ketika berhadapan dengan Jadrian. Dan sekarang mereka seperti nyaris sebaya. Fakta Vampir yang tidak menua tetap saja terasa aneh baginya. Ia pun tidak pernah menyangka akan bertemu kembali dengan Jadrian. "Victor sudah pergi," Dael kembali ke ruang tengah dengan wajah suntuk. "Dia tidak begitu suka berada di sini." ujarnya sambil duduk di sebelah Solaris. "Biarkan saja dia," Solaris tidak ambil pusing dengan sikap Victor. Victor selalu menolak apa saja, dan tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk membahagiakan Victor. Tentu Solaris telah berusaha semaksimal mungkin, seperti janjinya pada Papa, namun seberapa keras ia mencoba,Victor tidak akan pernah bisa menjadi seperti mereka, Werewolf Keluarga Wern. Victor memang telah menjadi seorang werewolf akibat dari pemberontakan werewolf sepuluh tahun lalu, tetapi jiwa Victor masih menolak fakta itu hingga sekarang. "Victor... dia adalah bocah manusia yang terluka itu ya?" tanya Jadrian. Dael mengangguk. "Dia sangat sulit diatur," sungutnya. "Setelah kita dibebaskan dari penjara, Papa malah datang ke rumah sakit untuk mencari bocah itu. Dan Papa ingin mengangkatnya sebagai anak dalam kelompok kami. Kurasa keputusan Papa terlalu gegabah. Victor tidak pernah bersyukur tinggal bersama kami." "Dael," panggil Solaris, memperingatkan. "Itu faktanya," keluh Dael. "Dia sudah cukup dewasa, dia seharusnya bisa menerima fakta jika sekarang dia adalah werewolf." Topaz manggut-manggut saja. "Bisa dibilang... Aku juga dulu seperti dia." Kedua werewolf menoleh kepada Topaz, tertarik dengan pendapat Topaz. "Mungkin kalian akan merasa sulit memahami perubahan dari manusia menjadi eksisten bukan manusia," ujar Topaz. "Untukku, aku perlu berpuluh-puluh tahun untuk terbiasa. Dan menurutku sepuluh tahun bukan waktu yang cukup lama untuk bisa menerima kenyataan pahit terhadap perubahan." Dael terlihat menyesal dengan pernyataan yang telah ia lontarkan sebelumnya. "Maaf, sepertinya aku kurang memahami dengan baik." ujarnya, merasa bersalah. Topaz hanya tersenyum kecil. "Kuharap sekarang kau mengerti." Dael mengangguk. "Kami merasa lega akhirnya kau menemukan adikmu," ujar Solaris pada Jadrian. Ia mengingat dengan baik bagaimana Vampir itu berusaha meminta Squirrel untuk menemukan adiknya ketika mereka dipenjara, namun Squirrel mengabaikan permintaan itu, malah menertawakan permintaan Jadrian. "Tapi... kukira adikmu adalah seorang Vampir." Dael mengangguk, terlihat sama bingungnya dengan Solaris. Jadrian bertukar pandang dengan Topaz sesaat. Ia terlihat ragu. "Kami bisa menjaga rahasia," kata Solaris. "Itu pun jika kau mau berbagi dengan kami." "Sebenarnya aku mempercayai kalian berdua," kata Jadrian, mengusap dagunya. "Aku hanya ragu apakah kalian dapat mempercayainya atau tidak." "Apakah serumit itu?" tanya Dael. "Apakah kalian percaya jika Vampir bisa berubah kembali menjadi manusia?" tanya Jadrian. Giliran Solaris dan Dael yang saling bertukar pandang. Sebenarnya Solaris sudah memikirkan adanya kemungkinan hal semacam itu setelah bertemu dengan Dami pertama kalinya. Namun ia mencoba berpikiran logis. Mungkin saja Dami benar-benar manusia. Tapi sepertinya memang tidak. "Bagaimana hal itu bisa terjadi?" tanya Solaris. "Kami juga belum mendapatkan jawabannya," kata Topaz. "Kami menemukan Dami di stasiun Defour sekitar satu bulan lalu." "Stasiun Defour?" Dael terperangah. "Adikmu hilang di sana pada kejadian itu kan?" tanyanya pada Jadrian. "Dan kau baru menemukan Dami satu bulan lalu?" ulang Solaris pula. "Fakta yang mengejutkan bukan?" Jadrian mengedikkan bahu. "Kau yakin dia adalah adikmu yang kau cari?" tanya Dael, skeptis. "Bisa saja bukan. Iya kan?" "Dia mengingat semua masa lalunya sebagai Vampir," kata Jadrian. "Aku sudah mengetesnya. Hanya saja dia tidak ingat apa pun yang terjadi padanya selama sepuluh tahun ini." Solaris dan Dael semakin sulit mempercayai fakta yang disebutkan oleh Jadrian. "Ini adalah pekerjaan penyihir." lanjut Jadrian. "Sebelum aku menemukannya, aku mendapatkan pesan sihir yang menyebutkan Varlas. Dan entah bagaimana aku memilih kembali ke Defour. Tapi aku benar-benar menemukannya di sana." "Aku sudah mencoba memasuki wilayah informasi penyihir," kata Topaz. "Tapi hal itu sulit sekali. Sistem keamanan sihir sungguh ketat." "Apa yang diinginkan oleh mereka dari perubahan Dami?" tanya Solaris tidak mengerti. "Dan mengapa ia mengembalikan Dami kepadamu?" "Jika kau bertanya, menurutku jawabannya adalah ilmu pengetahuan," jawab Jadrian. "Aku hanya memiliki sedikit kenalan penyihir. Tapi mereka semua memiliki ciri-ciri yang sama, yaitu sombong dan angkuh. Ilmu pengetahuan adalah segala-galanya bagi mereka." "Karena itulah kami harus pindah ke tempat yang aman," lanjut Topaz. "Selama pelakunya belum ditemukan, Dami pasti dalam bahaya." "Ya, itu akan berbahaya," Solaris mengangguk setuju. "Jika orang-orang mendengar adanya sebuah eksperimen perubahan Vampir menjadi manusia, tentu mereka akan mencoba mempelajarinya." Dael mengangguk setuju. "Itu artinya mereka akan menangkap Dami." "Itu yang kupikirkan," Jadrian duduk bersandar di sofa tunggalnya. "Aku sedang menyelidiki apa yang telah terjadi pada Dami. Dan Topaz membantuku." Solaris dan Dael mengangguk-angguk mendengarkan. Meskipun tidak masuk akal, namun mereka mempercayai Jadrian. "Dan," kata Jadrian. "Aku merasa lega setelah mendengar kabar bahwa kalian juga tinggal di sini," lanjutnya, tersenyum hangat. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Jika hal ini memang adalah sesuatu yang buruk, mungkin aku dan Topaz harus melakukan penyelidikan luas. Suatu saat aku akan membutuhkan orang-orang yang bisa mengawasi Dami." "Kau bisa mempercayai kami," kata Solaris. "Aku dan Dael akan mengawasinya jika kau membutuhkan kami." "Terima kasih, dengan begini aku merasa lega." Jadrian tersenyum senang kepada kedua werewolf di hadapannya. "Tapi mengapa kalian bisa tinggal di kota ini?" tanyanya heran. "Kami didaftarkan sebagai kelompok werewolf uji coba dalam sistem yang dikembangkan oleh walikota Burdenjam." jawab Solaris. "Dan menurut Papa, kami berdua adalah werewolf yang cocok untuk dapat membaur dalam kelompok manusia. Mungkin Papa terinspirasi darimu yang bisa membaur meski sebagai Vampir. Dan... apakah kau serius akan membuka praktik sebagai dokter gigi?" Tanyanya. Jadrian mendengus geli. "Kedengaran tidak masuk akal ya? Tapi hanya itu yang bisa aku promosikan kepada Walikota. Dulu kami pernah tinggal bersama seorang Manusia yang berprofesi sebagai dokter gigi. Dia adalah manusia yang sangat baik, dia dengan murah hati memberikanku semua ilmu yang dimilikinya." "Yeah, satu-satunya manusia yang pernah mengizinkan kami tinggal cukup lama, tapi..." Kata Topaz. "Dia berakhir tragis. Kelompok Squirrel melacaknya sebagai Neutralist. Dan dia ditembak mati sebelum kami sempat menyelamatkannya." "Malang sekali," komentar Solaris dengan ekspresi bersimpati. "Yeah, seharusnya kami menolongnya," Jadrian terlihat melamun. "Tapi tidak ada yang bisa kita lakukan," ujar Topaz. Jadrian hanya mengangguk kecil membenarkan. "Karena kami tidak memiliki catatan sebagai pemberontak, walikota menyetujui kami untuk tinggal di sini," Jadrian melanjutkan. "Apakah kalian sudah pernah bertemu dengan Walikota Burdenjam?" Solaris mau pun Dael menggelengkan kepala. "Dia cukup tertutup," Jawab Solaris. "Aku hanya tahu wajahnya dari media dan itu pun hanya sekilas. Dia selalu mengirimkan wakilnya saja." "Mungkin akan berbahaya jika dia selalu pamer wajah," kata Dael, mengangkat bahu. "Bagaimana pun Walikota adalah tokoh penting." "Ya, dan Papa mengenal Si Walikota." Ujar Solaris lagi. "Sebenarnya Aku tidak ingin ambil pusing, selama kami bisa tinggal dan bersekolah di sini dengan damai, tentu tidak masalah." "Walikota itu punya misi yang konyol," komentar Topaz. "Membangun sebuah Kota Percampuran yang damai, itu mustahil. Contohnya Varlas, kekacauan selalu terjadi di sana sampai sekarang. Lucunya di Burdenjam, kita yang bukan manusia diwajibkan untuk bersandiwara sebagai manusia selama dua puluh empat jam." "Bukankah kita selalu menyamar?" Tanya Jadrian. "Menyamar dan bersandiwara itu berbeda," sungut Topaz. "Menyamar karena kita ingin. Tapi bersandiwara menjadi dokter gigi selama-lamanya di sini, aku tidak pernah membayangkannya." "Yah... Kuharap Walikota itu berhasil dengan misinya," komentar Jadrian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD