Victor sudah merasa suntuk di hari pertama semester barunya. Dan malam ini ia terpaksa ikut bersama kedua saudaranya ke rumah orang yang juga tidak ingin ia datangi.
"Kau masih ingat dengan kedua Vampir itu, Vic?" Tanya Solaris yang menyetir.
"Dia mungkin tidak ingat," kata Dael, mengerling sebentar pada cermin di atas dashboard, mengamati Victor.
Sayangnya Dael salah. Victor mengingat semua kejadian di stasiun kereta bawah tanah, termasuk kedua Vampir itu. Hingga sekarang kejadian itu merupakan mimpi buruk baginya.
"Jadrian adalah Vampir yang menyelamatkanmu." Kata Solaris, masih mengira Victor tidak mengingat apa-apa.
Victor tidak merespon, ia hanya diam memandang keluar jendela mobil.
"Kau ingat berapa lama kita di dalam sel setelah pemberontakan itu?" Tanya Solaris pada Dael.
Dael mengangguk. "Ya, sekitar dua bulan lamanya."
Solaris menarik nafas. "Aku tahu pemerintah sangat keras terhadap eksistensi bukan manusia. Tapi dulu kita masihlah anak-anak dan mereka memperlakukan kita dengan sangat buruk. Bagi para manusia, kita bagaikan parasit menjijikan. Untunglah kedua Vampir itu bersama kita di dalam sel. Tak pernah aku menemukan seorang Vampir sebaik mereka berdua. Ya kan Dael?"
"Ya, aku ingat sekali pada Jadrian. Dia sangat baik, sampai-sampai aku ragu jika dia adalah Vampir. Maksudku, aku tak pernah menyangka akan bertemu dengan Vampir seperti dia." Ekspresi Dael terlihat terpesona, mengingat kenangan masa lalunya. "Jadrian membantu kita agar kita bisa tetap makan selama dua bulan di penjara."
"Kuharap pemerintah sudah tidak seburuk itu lagi dalam memperlakukan kita," ujar Solaris. "Maksudku, meskipun kita adalah werewolf, ketika kita berwujud sebagai manusia, kita juga menginginkan perlakuan yang baik. Segala bentuk kekasaran tentu akan menorehkan rasa sakit dan dendam."
"Benar, eksistensi mana saja tentu akan merasa marah diperlakukan dengan buruk." Dael mengangguk setuju.
Victor berdecih, merasa lucu mendengar pembicaraan Solaris dan Dael.
"Setidaknya kalian bisa berubah menjadi werewolf jika merasa diserang," ujar Victor. "Sementara manusia... mereka hanya akan tetap menjadi manusia."
"Itu tidak lucu, Vic," kata Dael memperingatkan.
"Aku sedang tidak melucu," balas Victor, ia siap beradu argumen dengan Dael sekarang juga.
Namun seperti biasa Solaris menyela mereka.
"Baiklah," kata Solaris keras-keras sebelum Dael akan berkata-kata lagi untuk membalas Victor. "Gedung DF sudah terlihat. Ingat nomor rumah mereka berapa?"
"Nomor 33," Dael menarik nafas untuk menenangkan diri, ia sekilas memberikan sorot penuh peringatan kepada Victor sebelum berpaling.
"Bagus," kata Solaris setelah memarkir mobil. "Ayo, anak-anak. Mari bertemu dengan para Vampir!"
--
Victor benar-benar ingin kabur saja, namun pada akhirnya ia tetap saja menurut. Dan ia melakukan semua ini demi Solaris yang sudah begitu baik dan sabar menjaganya. Tidak seperti Dael yang suka mencari-cari waktu untuk berurusan dengannya.
"Aku tidak pernah tahu jika Vampir bisa... Eh... Memasak?" Komentar Solaris karena rumah itu dipenuhi aroma sedap dari ayam panggang.
Topaz yang membukakan pintu hanya mengedikkan bahu dengan sorot datar.
"Jadrian sedang memasak di dapur, dibantu Dami," Topaz menginformasikan sambil membawa ketiga tamunya masuk. "Bagiku itu menjengkelkan."
"Bagaimana bisa seorang Vampir memasak?" Tanya Dael dengan sorot keheranan campur kagum.
"Itu konyol," pendapat Victor kejam.
Topaz memutar bola matanya. "Ya, dan Vampir itu adalah kawalku."
"Apakah mereka sudah datang?" Seru seseorang yang kemudian muncul keluar dari pintu yang pasti adalah pintu dapur. Pria itu mengenakan celemek berwarna ungu, namun penampilannya seperti siap tampil di acara mewah. Pria tampan itu tersenyum lebar, pasang mata hijaunya berbinar cerah
"Para wolfie!" Seru Jadrian yang langsung mendekati ketiga tamu itu, lalu memeluk mereka satu-satu dengan akrab.
Victor terpaksa menerima pelukan itu dengan kaku. Ia semakin risih. Bagaimana bisa seorang Vampir seramah ini? Sejak dulu sejarah menyebutkan jika Vampir adalah makluk paling mengerikan.
"Setelah aku mendengar Topaz bertemu dengan kalian," ujar Jadrian. Matanya berkilat cerah, kini berwarna keemas yang menyala-nyala, ganjil, dan Victor merasakan perasaan tenang. Namun berikutnya Victor menyadari jika perasaan ini adalah efek yang dibuat oleh para Vampir.
"Aku memutuskan untuk membuat acara kecil-kecilan demi menyambut kedatangan kalian."
Dami menyusul keluar dari dapur, ia juga mengenakan celemek berwarna ungu, rambut ikalnya yang panjang diikat ekor kuda. Ia tersenyum kikuk dan hanya melambai kepada para tamu. Victor memalingkan wajah ketika matanya bertemu tatap dengan Dami.
Pertanyaan beradu di dalam kepala Victior.
Apakah Dami mengingatnya?
Melihat reaksi Dami yang datar, sudah pasti tidak. Dan Victor merasa sangat kecewa.
..
Sepuluh tahun lalu.
Stasiun Kereta Bawah Tanah Defour.
Victor kecil kedinginan. Rasa-rasanya ia mau mati saja, ia menangis dalam diam, namun kedua orangtuanya tertidur lelap karena kelelahan telah berjalan seharian menuju kereta bawah tanah.
Victor bergerak duduk, ia memandang ke sekitarnya di mana seluruh orang-orang tidur saling berhimpitan. Ia tidak suka berada di sini, namun mereka harus cepat-cepat pergi dari Varlas. Sayangnya sudah hampir tengah malam, kereta yang dijanjikan belum juga muncul. Segalanya kacau dan berantakan.
Victor yang menggigil terkejut ketika melihat sosok seorang anak perempuan seusianya berdiri tak jauh darinya, sedang memandanignya. Lalu anak perempuan itu mendekatinya dengan langkah yang sama sekali tidak menimbulkan suara.
Anak perempuan itu mungkin hantu, pikirnya ketakutan. Lalu si anak perempuan sudah duduk berjongkok di sebelahnya, memandangnya lekat-lekat dengan bola mata emas yang aneh. Perasaan nyaman yang aneh menenangkan Victor. Tapi suhu udara tetap terasa mematikan.
"Kau tidak bisa tidur ya?" Bisik si anak perempuan. "Seharusnya kan tidur?"
Victor tidak mengerti pertanyaan anak perempuan ini.
"Kau bukan... hantu?" Tanya Victor dengan bibirnya yang kering dan bergetar karena menggigil.
Si anak perempuan terkikik. "Hantu itu kan transparan." Ia menyentuh tangan Victor dan Victor segera menarik lepas tangannya, terkejut. Tangan si anak perempuan luar biasa dingin, seperti disentuh bongkahan es.
"Kau kedinginan?" Tanya si anak perempuan.
Victor mengangguk, nyaris menangis dan tidak bisa menahan gemetar tubuhnya.
Si anak perempuan bergerak, ia menanggalkan parka dari tubuhnya. Victor membelalak ketika si anak perempuan memberikan parka itu kepadanya.
"Kau... Kau...?" Tanya Victor tergagap.
"Aku tidak kedinginan," kata si anak perempuan, tersenyum. "Kau bisa pakai ini. Aku tahu parka bisa menghalau dingin. Tapi aku tidak kedinginan. Hanya saja Jade bilang aku harus pakai ini jika di depan manusia."
Victor merasa ragu menerima parka itu namun si anak perempuan sudah menyodorkannya langsung ke tangannya.
"Te... Terima kasih," ucap Victor yang langsung mengenakan parka pemberian si anak perempuan. Seketika ia merasa lebih baik karena tubuhnya sudah sedikit terhalau dari suhu dingin. "Kau baik sekali." Tambah Victor malu-malu.
Si anak perempuan tersenyum saja. "Kata Jade aku harus bersikap baik."
"Siapa itu Jade?"
"Kakakku."
"Namamu siapa?"
"Dami." Si anak perempuan tersenyum dengan pasang mata emasnya.
Dan Victor tahu jika si anak perempuan bukan manusia.
..
Masa sekarang.
Mereka berbincang di meja makan. Pertemuan ini sangat aneh. Kedua Vampir duduk dengan hanya menyajikan satu gelas berwarna gelap di depan mereka. Sementara mereka, makhluk bertubuh panas makan malam dengan ayam panggang yang terasa sedap. Dan lebih konyolnya ayam panggang ini adalah masakan seorang Vampir.
"Darimana kau mendengar kota ini?" Tanya Solaris.
"Neutralist," jawab Jadrian. "Aku meminta rekomendasi sebuah kota yang aman dan damai untuk manusia, dan Neutralist ini merekomendasikan Burdenjam. Tentu saja pada awalnya aku tidak percaya, tapi ternyata memang benar adanya. Burdenjam memberikan kesempatan kepada para Eksistensi Bukan Manusia yang mau berbaur tinggal di sini." Jelasnya sambil menggoyangkan gelas ambernya.
"Aku tidak tahu jika Neutralist itu masih ada," komentar Dael. Pipinya menggembung karena mulutnya penuh mengunyah.
"Oh ya, tentu saja masih ada beberapa yang bersembunyi." Jadrian mengangguk.
"Beberapa tahun lalu, Squirrel memberantas Neutralist," ujar Solaris. "Dan pemerintahan juga sudah menyetujui undang-undang bahwa kelompok Neutralist disebut sebagai kelompok pemberontak."
Jadrian mengangguk. "Dalam beberapa hal, Neutralist sangat berguna untuk kita. Tapi karena mereka sangat netral, kelompok ini juga membantu kelompok yang berbahaya. Hal itulah yang membuat Squirrel ingin membasmi mereka."
"Aku tidak suka Squirrel," kata Dael. "Menurutku mereka sangat kejam."
Victor menghela nafas. Ia tahu sekarang ia bukan lagi manusia. Tapi pembicaraan ini membuatnya geram. Dalam dirinya, ia masih mendukung apa pun bentuk pertahanan diri yang dilakukan manusia. Wajar Squirrel bertindak kejam kepada eksistensi bukan manusia. Iya kan?
Squirrel adalah suatu organisasi bukan pemerintah, mereka dibangun oleh kelompok manusia yang bertujuan untuk mempertahankan diri dari serangan eksistensi bukan manusia. Squirrel adalah satu-satunya petugas bukan pemerintah yang dapat menolong para manusia ketika diserang oleh eksistensi bukan manusia. Sekejam apa pun yang mereka lakukan, bagi Victor, hal itu tidak akan sekejam yang dilakukan oleh eksistensi bukan manusia terhadap manusia.
Squirrel hanya memiliki senjata dan pasukan terlatih. Mereka bukan penyihir, vampir atau pun werewolf. Mereka hanyalah para manusia yang dilatih untuk dapat menyaingi kemampuan eksistensi bukan manusia.
"Ada apa?" Dami menegur Victor yang terlihat malas untuk makan.
Victor menoleh, ia merasa gugup. Namun buru-buru menyadari jika Dami tidak mengingat dirinya.
"Apakah tidak terasa enak?" Bisik Dami, terlihat khawatir.
"Ini enak," jawab Victor jujur. "Hanya saja kami adalah werewolf. Bagi kami ini hanyalah makanan pembuka."
Seketika ekspresi wajah Dami berubah gugup.
"Aku hanya bercanda," kata Victor buru-buru.
Dami langsung tersenyum walau masih terlihat kikuk. "Aku tahu." Ujarnya.
"Apakah kau benar-benar... manusia?" Tanya Victor.
Dami mengerutkan dahi memandang Victor. Ia terlihat kebingungan dengan pertanyaan itu.
"Lupakan saja," kata Victor kemudian.
Mungkin aku salah. Victor memandang potongan ayamnya.
Di dalam ingatan Victor, si anak perempuan memiliki pasang mata emas, berwajah pucat dan bertubuh sedingin es. Namun di depannya saat ini hanyalah seorang gadis manusia biasa-biasa saja. Namun nama keduanya sama. Si anak perempuan itu juga bernama Dami.