12

1742 Words
"Kedua cewek menyebalkan itu punya mainan baru," Aimee mendengus. "Entah mengapa aku merasa kasihan pada si murid baru." Kehadiran murid baru tentu telah menjadi topik perhatian mereka hari ini. Hanya dalam satu hari gadis yang biasa-biasa saja itu menjadi terkenal di Caranige. Sebelumnya murid baru itu membuat kehebohan dengan kedekatannya terhadap dua bersaudara Wern yang sangat populer, Solaris dan Dael Wern. Tentu saja kedekatan itu mengundang kericuhan pada para penggemar Wern Bersaudara. Namun, Alice Sullivan yang merupakan gadis paling populer, malah menempatkan Dami Alan di sebelahnya. Padahal semua orang tahu jika Alice tidak suka ada perempuan lain yang berani berdekatan dengan Solaris. Kabarnya Alice dan Solaris pernah berpacaran. Selain itu juga Alice adalah gadis yang sangat sulit berteman. Teman dekatnya selama ini hanyalah Lexa. "Lihat, Sullivan bahkan membiarkan si murid baru menumpang," Aimee belum melepaskan pengamatannya hingga di parkiran. "Aku yakin mereka mengajak si murid baru hanya karena merasa iri. Siapa yang menyangka jika murid baru itu dekat dengan Solaris dan Dael?" Ia berpaling pada Victor. "Vic, kau mengenal murid baru itu?" Victor tak langsung menjawab, namun ekspresinya terlihat tak nyaman. "Hei, kau juga mengenal murid baru itu ya?" Aimee segera menyimpulkan dari ekspresi Victor yang tidak mengelak. "Tidak," jawab Victor. "Tidak apanya? Wajahmu jelas-jelas menunjukkan kau mengenal si murid baru. Atau jangan-jangan..." Aimee membelalakan matanya, berbisik kepada teman-temannya. "Jangan-jangan dia pernah menjadi cinta masa lalumu!" Tandasnya sambil menahan tawa karena ide sintingnya. "Benar kan?" "Sial! Jangan konyol!" Bentak Victor. Lalu pemuda itu segera melengos pergi dengan ekspresi suntuk. "Dia kenapa sih?" Aimee terheran-heran melihat punggung Victor yang pergi menjauh. "Sebelumnya dia nempel terus dengan kita, dan sekarang dia pergi begitu saja." "Yuk, pulang." Daisy mengusulkan. "Ayo," Aoi mengangguk setuju. Ia berjalan lebih dulu menuju mobil mungil miliknya yang berwarna kuning. Sebelum masuk ke mobil, tak sengaja ia melihat Victor telah berhenti dan sedang berbicara dengan Dael. Ekspresi Victor terlihat sangat kesal, dan ketika Dael mencoba meraih lengan Victor, Victor malah menarik diri lalu berlari pergi. "Ada apa, Aoi?" Daisy yang sudah berada di dalam mobil, bertanya keheranan. "Oh, tidak." Jawab Aoi yang kemudian bergerak memasuki mobil. -- Sudah merupakan rutinitas sehari-hari jika Aimee dan Daisy mampir ke rumah Aoi sepulang sekolah. Keluarga Haruna memang sangat baik dan ramah, apalagi rumah Aoi memang adalah rumah yang paling nyaman karena memiliki bangunan dan halaman sendiri. Tidak seperti Aimee dan Daisy yang tinggal di apartemen. Aimee merebahkan dirinya di atas ranjang, dengan earphone di telinga dan sedang membaca komik. Sebaliknya Daisy sedang membaca berita di netbook-nya. Aoi masuk ke dalam kamar sambil membawa camilan buah, potongan kotak-kotak kecil pepaya dingin. Ibunya juga datang ke kamar untuk membawakan limun dingin. "Terima kasih Nyonya Haruna!" Seru Aimee segera, ia sudah melempar komik dan melepas sebelah earphone di telinganya. "Ya, selamat menikmati, anak-anak. Menyenangkan melihat kalian kembali berkumpul setelah liburan musim panas." Ucap Nyonya Haruna. "Aoi kesepian sekali tanpa kalian." "Hehe, kami tahu, Nyonya. Tapi kami sudah kembali kan?" Kata Aimee riang. "Dan tentu saja kami juga merindukanmu, Nyonya." "Terima kasih, Aimee. Kau memang anak yang manis... Oh, aku tidak melihat teman kalian satunya. Victor?" Nyonya Haruna menyadari ketidakhadiran Victor yang biasanya memang selalu bergabung bersama mereka bertiga. "Victor sedang punya urusan lain, Mama." Aoi menjawab agar ibunya tidak khawatir. "Hmm, begitu? Baiklah. Oh ya jika kalian ingin makan siang, kalian bisa mengambilnya di dapur." "Kami sudah makan siang sebelum pulang, Ma," ujar Aoi. "Oh baiklah," Nyonya Haruna segera meninggalkan mereka bertiga di kamar. "Kalian tahu?" Daisy berkata dengan wajah yang masih terfokus di depan layar netbook. Sementara Aoi duduk di lantai di sebelah Daisy, meminum limun dingin. Aimee juga sudah turun dari ranjang, bergabung duduk di lantai sambil menyuap potongan buah pepaya. "Squirrel sedang melakukan penggalian di North Oak. Mereka pasti menemukan sesuatu di sana." "Kau masih suka membaca di website omong kosong itu ya?" Tanya Aimee heran. "Aku tidak percaya dengan si penulis di halaman itu. Akunnya tidak terverifikasi." "Tapi dia sangat cepat dalam merilis berita." Kata Daisy. "Dia juga menampilkan foto-foto yang tampkanya asli. Squirrel memang sedang menggali sesuatu di North Oak. Menurut si penulis tempat itu adalah tempat persembunyian Si Perusuh. Kalian ingat kan Si Perusuh yang pernah menggegerkan dunia di masa lalu?" "Vampir-Penyihir?" Tanya Aoi. Sebenarnya ia tidak begitu mengetahui peristiwa di luar Burdenjam. Ia hanya mendengar semua berita itu dari mulut Daisy. "Ya! Benar sekali!" Daisy mengangguk. "Sebelas tahun lalu dia dikabarkan dibunuh oleh Prajurit Squirrel. Tapi aku tahu si Perusuh itu pasti masih hidup. Prajurit nomor satu yang terkenal itu ternyata gagal membunuhnya." Aoi dan Aimee hanya bertukar pandang sesaat, mereka sudah biasa mendengarkan Daisy dengan segala hal yang membuat si rambut merah ini antusias. "Kalian tahu kan prajurit itu menghilang sepuluh tahun lalu? Prajurit yang mengaku sudah membunuh si Perusuh." Tanya Daisy. "Prajurit itu menghilang atau tidak, dia tidak akan mengganggu hidupku kan?" Tanya Aimee balik, mengibaskan tangan tak peduli. Daisy menghela nafas. "Bukan begitu. Dia prajurit nomor satu tapi menghilang sepuluh tahun lalu, tepat pada saat pemberontakan werewolf di Varlas! Itu artinya ada kekuatan besar yang bisa mengalahkan si prajurit kan?" Di antara mereka bertiga, hanya Daisy yang pernah mendapatkan pengalaman langsung terhadap Pemberontakan Werewolf sepuluh tahun lalu yang menggegerkan dunia. Daisy tinggal di Varlas dimana pemberontakan itu pernah terjadi. Setelah pemberontakan, Eksisten bukan manusia memang seperti berkurang keberadaannya, yang menurut Daisy disebabkan adanya perjanjian rahasia antara manusia dan pihak eksistensi bukan manusia. Eksistensi Bukan Manusia tampaknya telah memilih hidup dalam persembunyian. Namun itu semua hanya dugaan Daisy. Tidak ada yang tahu mengapa pemberontakan werewolf itu terjadi. Tidak ada artikel penjelasan apa pun yang dikeluarkan oleh pemerintah atau lembaga berwenang mana pun setelah pemberontakan selesai diatasi. Kejadian besar itu dibiarkan begitu saja selesai dengan tanda tanya yang tidak dijawab, dan mungkin sudah mulai dilupakan oleh orang-orang. Namun Daisy adalah orang yang sangat antusias dengan keberadaan Eksisten Bukan Manusia. Seolah ia sudah memilih hidupnya untuk mencari tahu banyak hal tentang Eksisten Bukan Manusia dengan segala peristiwanya yang janggal. "Jadi aku menduga jika si Perusuh itulah yang membuat si prajurit menghilang." Kata Daisy. "Pasti dia juga yang menyebabkan pemberontakan itu." Dalam hal ini, Daisy percaya jika pemberontakan werewolf adalah akibat ulah Perusuh, yaitu seorang Vampir-Penyihir yang katanya adalah makhluk paling berbahaya di masanya. Namun kabarnya si Perusuh sudah dibunuh oleh prajurit Squirrel. Prajurit itu mendapat julukan Prajurit Nomor Satu, juga disebut-sebut sebagai Pahlawan Dunia karena telah menyingkirkan makhluk paling berbahaya di dunia. "Apakah si Perusuh itu benar-benar menakutkan?" Tanya Aoi. Ia masih tidak bisa mendapat gambaran seperti apa rupa si Perusuh. Baginya Vampir dan Penyihir saja sudah cukup menakutkan. Apalagi jika seorang Vampir adalah juga merupakan Penyihir? Tidak pernah ada eksistensi campuran seperti itu. Karena itulah Si Perusuh sangat ditakuti di masanya. "Tentu saja!" Daisy mengangguk dengan sorot ngeri. "Aku tidak tahu misinya, tapi mendengarnya saja membuatku takut. Vampir-Penyihir, eksistensi semacam itu tidak masuk akal." "Aku tidak percaya dengan keberadaan Si Perusuh," kata Aimee. "Selama aku tinggal bersama dengan Kakek dan Nenekku, aku hanya pernah melihat Vampir, Penyihir dan Werewolf. Makhluk campuran itu mustahil. Kakekku tidak percaya, menurutnya itu hanyalah isu, propaganda untuk menakuti orang-orang. Tapi Nenekku..." Aimee memandang potongan pepaya di ujung garfunya. "Nenekku percaya dengan keberadaan si Perusuh." "Aku yakin penulis di Halaman Aksi Netralix hanya ingin menyuarakan kebenaran. Pemerintah pasti sengaja tidak merilis kebenaran karena takut warganya menjadi panik," ujar Daisy. "Lagi pula dunia ini luas. Masih banyak hal yang belum kita ketahui. Dan peluang keterlibatan kita dengan Si Perusuh adalah berbanding dengan miliar penduduk dunia." "Yeah, aku harap kita tidak berpeluang sama sekali," komentar Aoi. "Tapi mengapa kau ingin kita bisa tinggal bertetangga dengan eksistensi bukan manusia?" Tanyanya pada Daisy. "Bukankah hal itu menakutkan?" "Aku hanya berpikir ..." Kata Daisy. "Bukankah dunia sudah semakin modern? Itu artinya pemikiran manusia juga seharusnya sudah semakin modern. Pasti akan ada banyak solusi yang sudah bisa diterapkan dalam menyelesaikan berbagai macam persoalan. Yah, maksudku... Persoalan semacam bagaimana Vampir dan werewolf mendapatkan makanannya. Bukankah hal itu bisa dipikirkan secara modern di era ini?" Aoi dan Aimee saling bertukar pandang. Daisy ternyata memiliki pemikiran luas yang sangat mengejutkan. "Jadi menurutku... Setiap eksistensi pasti memiliki naluri untuk hidup, karena itu jika kita mengabaikan permasalahan semacam perbedaan, tentu kita bisa hidup bertetangga." Jelas Daisy. "Kuakui kau punya visi yang hebat, Daisy. Tapi semodern apa pun hidup kita, masing-masing dari eksistensi memiliki nalurinya masing-masing. Vampir dan werewolf tercipta sebagai musuh abadi manusia. Mereka ada untuk memusnahkan manusia dengan menjadikan kita sebagai makanan." Kata Aimee. "Dalam rantai makanan, kita sama saja sebagai konsumen primer atau sekunder. Sementara Vampir atau werewolf adalah konsumen final dalam dunia ini." Aoi bergidik mendengarnya. Ia tidak ingin membayangkan nasibnya berakhir di tangan Vampir atau pun werewolf. Dia tidak ingin mati konyol dengan tubuh tidak utuh seperti berita yang ia baca. "Di masa lalu, di kota asalku, keluargaku hidup dalam kesulitan. Kami sebagai manusia sudah kesulitan untuk mendapatkan makanan, kami juga mendapatkan ancaman dari para predator itu. Kau tahu sudah berapa banyak werewolf yang mati di tangan kakekku? Mungkin bisa mencapai puluhan! Tapi jumlah kami juga tak kalah banyak yang sudah menjadi makanan Eksistensi itu. Sementara Vampir, jumlah mereka mungkin sedikit, namun satu orang Vampir sama dengan sekelompok werewolf. Untunglah Eksistensi Vampir hanya lebih suka makan daripada menambah jumlah." Cerocos Aimee sambil mengunyah. "Aku yakin kelompok werewolf yang menyerang keluargamu adalah kelompok predator yang tidak terdidik. Werewolf adalah makhluk unik karena mereka berada di antara dua wujud, manusia dan serigala jejadian. Itu artinya mereka masih memiliki kemampuan untuk berpikir ketika menjadi manusia," Daisy memberikan pendapatnya dengan lancar seperti sudah menghafal rangkumannya. "Kemampuan berpikir adalah hal dasar agar seseorang atau pun eksistensi dapat melakukan sesuatu untuk hidup. Jika kita merubah pola pikir suatu eksistensi, mungkin hal itu bisa terwujud kan?" Tandasnya. "Lagipula, werewolf tak jauh berbeda dari kelompok serigala. Mereka adalah makhluk setia dalam kelompoknya, dan jika mereka menganggap manusia adalah esksistensi yang mau menerima mereka, tentu kehidupan bertetangga bisa terwujud." "Visimu mengagumkan, Daisy. Tapi aku tetap tidak setuju. Kau hanya belum pernah nyaris dimakan werewolf." Kata Aimee meremehkan. "Memangnya kau pernah?" Tanya Daisy. "Keluargaku pernah hampir dibantai werewolf. Ingat?" "Oke, kurasa kita berhenti saja membahas hal ini," Aoi segera menengahi adu debat ini. "Kita baru memulai semester baru, aku tidak ingin kita menjadi musuh hanya karena persoalan eksistensi bukan manusia." "Kami tidak akan menjadi musuh, Aoi," Aimee tertawa. "Bahkan jika Daisy menikah dengan Vampir, aku tidak akan memusuhinya." Ia memeluk Daisy dengan gemas. "Tapi mungkin aku akan membunuh Vampirnya itu!" "Jangan konyol!" Pekik Daisy. "Mana mungkin aku menikah dengan Vampir!" Lalu mereka bertiga tertawa dengan ide gila mereka tentang pernikahan dengan Vampir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD