09

2072 Words
BURDENJAM, Sekolah Menengah Atas Caranige Liburan musim panas telah berakhir, walau suhu masih terasa gerah, namun Aoi merasa yakin bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk kembali ke sekolah. Aoi merindukan sekolah. Tidak peduli walaupun di sekolah dia bukan gadis populer (dan dia tidak berniat untuk menjadi populer), dia juga bukan merupakan salah satu murid berprestasi, dan banyak hal lainnya yang jika dijelaskan maka dapat disimpulkan sekolah bukan tempat yang menyenangkan bagi Aoi. Tapi di sekolah, Aoi bisa bersama dengan teman-temannya. Selama libur musim panas, ketiga temannya pergi keluar kota. Hanya dirinya satu-satunya yang tertinggal, dia memang tidak pernah pergi kemana-mana. Ia tinggal di Burdenjam sejak ia dapat mengingat. Keluarganya bukan warga asli di kota ini, tapi ia tidak pernah diizinkan untuk pergi keluar kota. Orangtua Aoi punya alasan. Menurut mereka di luar Burdenjam sangat berbahaya karena adanya Eksisten bukan manusia. Dan Aoi tidak pernah sekali pun bertemu dengan Vampir dan Werewolf, apalagi Penyihir. Tidak pernah. Loker di sebelahnya terbuka, membuatnya berjengit kaget. Ia segera menolehkan wajah. "Hai!" Sapaan singkat namun ramah dari seorang pemuda di sebelahnya. Aoi membeku seperti gadis bodoh. Tentu saja ia tidak pernah lupa jika lokernya bersebelahan dengan loker Dael Wern. Ya. Dael. Salah satu alasan mengapa ia juga merindukan sekolah adalah ia bisa melihat Dael. Dael, pemuda dengan pasang mata kecil dengan iris amber. Rambutnya keperakan, pria itu bertubuh tinggi-besar, berotot untuk ukuran pemuda 18 tahun. Dan Dael adalah salah satu murid populer di Caranige. Aoi tidak berhasil membalas sapaan Dael. Seperti biasa ia akan menjadi gadis t***l yang hanya diam membeku dengan wajah terperangah. Memalukan. Tapi ia tidak bisa menahan ekspresinya. "Kau menikmati liburanmu?" "Ah... Eh?" Aoi gelagapan, terkejut mendengar Dael yang dengan santai mengajaknya berbincang, seolah mereka adalah teman yang cukup dekat. Bukan seperti senior dan junior yang hanya mengenal nama dan tidak pernah bertegur-sapa, atau cowok populer dengan gadis cupu yang berbeda dunia. Ya, bisa dibilang ini adalah kali pertama Dael mengajak Aoi berbicara! Dael menyengir lebar, menunjukkan deretan giginya, memandang Aoi seolah sedang menunggu jawaban. "Eum, ya..." Aoi berhasil menjawab, ia perlu mengalihkan tatapannya pada pintu loker agar dapat menjawab. "Bagus," komentar Dael. "Aku dan saudaraku liburan ke kota asal kami." Ya, tentu saja Aoi tahu. Itulah mengapa ia sangat merindukan Caranige. Ia merindukan sosok Dael walaupun dari kejauhan. "Dael!" Di ambang pintu ruang loker seorang pemuda melambai kepada Dael. Dael berpaling pada orang yang memanggilnya, ia membalas lambaian itu. Lalu kembali berpaling kepada Aoi. "Sampai ketemu, Aoi." Setelah mengatakan hal itu ia berlari pergi mendatangi pemuda yang menunggu di ambang pintu ruang loker, meninggalkan Aoi yang membeku bagaikan patung. Barusan... Barusan Dael memanggil namanya kan?! Di tengah kebingungan dan kebahagiaan kecil Aoi, seseorang mengalungkan lengan ke lehernya dari belakang. Ia menjerit kaget, meronta, dan berhasil melepaskan diri. "Victor!" seru Aoi jengkel. Seorang pemuda yang baru saja mencekiknya tadi bukannya meminta maaf malah cekikikan geli. "Kau kelihatan konyol!" Ledeknya. "Wajahmu seperti orang bodoh!" Aoi memasang tampang masam, ia mengabaikan temannya itu dengan berpaling kembali ke loker, buru-buru mengambil barang-barangnya. "Aku kangen wajah masammu, Aoi!" Victor masih saja meledek si gadis. Pasang bola mata si pemuda yang berwarna tidak biasa, bersinar ungu cerah. "Teman-teman!" Dua orang gadis lainnya muncul di ruang loker, lalu langsung memeluk Aoi. Aoi yang juga kegirangan membalas pelukan kedua sahabatnya. Victor segera menggabungkan diri, namun ketiga gadis itu segera menendangnya menjauh. "Argh! Kalian tidak merindukanku ya?" Protes Victor jengkel. "Merindukan si pengeluh? Tidak, terima kasih!" Seru gadis berambut pirang dengan pasang mata biru cerah. Dia gadis yang menarik seandainya saja ia tidak berdandan aneh dengan eyeliner tebal dan lipstik ungu. Si gadis pirang kembali menyodok kaki Victor dengan tendangannya. Victor mengerang kesakitan. "Argh! Aimee! Kau kejam!" "Kenapa sih kau tidak bisa sekeren dua saudaramu yang populer itu?" Dengus si gadis pirang yang dipanggil Aimee. "Kau itu kurus dan aneh, sama sekali tidak mirip dengan mereka!" "Hei! Kau sendiri aneh! Kau tidak punya hak berkomentar dengan keanehanmu yang lebih konyol daripada aku! Dan menjadi Populer atau tidak juga adalah hak pribadiku!" Seru Victor membela diri, menuding Aimee dengan ekspresi kesal. "Dan sudah kubilang jangan membandingkan aku dengan kedua makhluk itu!" "Vic," Kata Aoi terheran-heran. "Dael dan Solaris kan saudaramu." Aimee mengangguk. "Ya! Kau memang tidak ada kemiripan sama sekali dengan kedua saudaramu! Mereka berdua lebih tampan! Bahkan dengan tubuh seorang pria yang sempurna!" Seru si gadis pirang menggebu-gebu, lalu ia menyikut Aoi. "Dan kau beruntung sekali bisa mengobrol dengan Dael!" "Astaga, Aimee... Kau..." Aoi gelagapan mendengarnya. Ia tidak menyangka jika Aimee telah melihat kejadian konyolnya ketika berbincang dengan Dael. Entah apakah hal itu bisa disebut berbincang. "Haha, tentu saja kami melihat semuanya, Aoi! Aku gemas sekali ingin mendorongmu hingga jatuh! Bayangkan Dael dengan sigap menahan tubuhmu dengan lengan kekarnya!" Aoi menutup wajahnya yang merah padam. "Jangan konyol, Aimee!" Jeritnya tertahan, namun ia sudah membayangkannya, dan itu benar-benar konyol untuk dibayangkan! "Yah, aku hampir saja melakukannya seandainya Daisy tidak menahanku." Aimee melirik pada gadis kecil berambut merah ikal pendek di sebelah mereka yang sedari tadi diam saja. "Makasih, Daisy. Kau penyelamat hidupku!" Aoi segera memeluk si gadis mungil berambut merah yang hanya memberikan senyum kikuk. Tidak bisa ia bayangkan Aimee melancarkan aksi gilanya, tentu ia akan malu setengah mati. Bayangkan saja dia benar-benar didorong hingga jatuh, dan Dael tidak menyelamatkannya. Tentu dia akan terlihat sangat konyol! "Sama-sama, Aoi!" Cicit Daisy. Victor memutar bola matanya, menunjukkan ekspresi jijik. "Kau menjijikan, Aoi. Sebegitunya kau bahagia hanya sekadar hai-hai dengan Dael. Sementara kalian menendangku dengan kejam! Padahal kita sudah tidak bertemu selama musim panas!" "Coba sebutkan hal apa yang bisa kami rindukan darimu?" Todong Aimee. "Kau di sini hanya menambah beban hidup kami!" "Kau kejam, Aimee!" Rengek Victor tidak terima. "Daisy! Dia kejam padaku!" Ia beralih dengan memeluk sebelah lengan Daisy yang membuat si gadis berambut merah semakin terlihat kikuk. "Hei, sudahlah..." Aoi sudah biasa menengahi perseteruan Aimee dan Victor. Keduanya memang tidak pernah bisa akur karena Aimee yang bermulut kejam dan Victor si bocah manja. Sementara Daisy tak mungkin bisa menghentikan mereka karena gadis itu kikuk dan lamban. "Sekarang... aku ingin mendengarkan kisah kalian!" Ujar Aoi antusias. Ia benar-benar ingin mendengarkan apa saja yang dilakukan oleh teman-temannya di luar Burdenjam selama liburan. Ia ingin tahu banyak hal kehidupan di luar sana. *** "Aku membaca banyak buku," kata Daisy pelan dan sedikit berbisik selama perjalanan mereka menuju kelas. "Mama memperbolehkan aku meminjam buku dengan kartunya. Di Varlas ada banyak perpustakaan tua. Kami jalan-jalan dan mampir di toko-toko buku, kadang juga di situs-situs bersejarah. Aku jadi lebih banyak mempelajari hal tentang eksisten bukan manusia. Aku juga sudah merangkum semuanya." "Wah, kedengaran menarik," komentar Aoi yang mendengarkan dengan penuh perhatian. "Kau bisa membaca rangkumanku. Ada banyak fakta menarik. Khususnya Eksisten Vampir," Daisy berbisik dengan ekspresi ngeri campur antusias. Aimee malah mendengus jengkel. "Apa sih menariknya? Kau kan belum pernah bertemu dengan Eksisten Vampir." Daisy menundukkan kepalanya, tampak kikuk. "Ck, Aimee..." Peringat Aoi yang memahami reaksi kecewa Daisy. "Hei, itu faktanya." Kata Aimee tidak peduli. "Memangnya kau pernah bertemu dengan Vampir?" Tanya Victor. "Oh ya, tentu saja. Kan aku sudah bilang jika nenek dan kakekku adalah kelompok pemburu di zamannya. Mereka memberiku banyak informasi daripada buku-buku itu." "A...aku sangat ingin bertemu... dengan kakek dan nenekmu," kata Daisy, gagap namun pasang mata birunya kembali berbinar antusias. "Aku rasa... kita harus mulai memikirkan kehidupan bertetangga dengan Eksisten bukan manusia." "Ide gila, Daisy," komentar Aimee. "Kalau aku, mana mau aku bertetangga dengan werewolf yang kapan saja bisa menerkamku di malam hari. Kata nenekku, kau harus selalu siap dengan tombak dan panah. Aku bisa menggunakan panah. Aku sudah diajarkan berburu dan aku bisa memanah para werewolf itu sebelum mereka sempat menerkamku." Mendadak Victor terbatuk-batuk. "Kau kenapa?" Tanya Aimee heran pada Victor. Victor hanya menggelengkan kepalanya. "Hanya parfummu yang menyengat." "Yang benar saja!" Protes Aimee tidak terima. Aoi tidak tahu apakah ia harus mempercayai seluruh cerita ketangkasan Aimee, tapi dia juga setuju dengan Daisy. Mungkin manusia dan Eksisten bukan manusia bisa hidup bertetangga di masa depan nanti. Entahlah. Mereka berempat masuk ke dalam kelas kemudian memilih tempat duduk di deret yang sama. "Argh, aku masih ingin liburan!" Keluh Victor sambil merenggangkan tubuhnya. Daisy telah menumpuk buku mata pelajaran di atas meja kemudian membuka salah satunya untuk mulai membenamkan diri, sementara Aimee memilih menyibukkan diri dengan ponselnya. Hanya Aoi yang satu-satunya terpaksa merespon Victor. "Kalian pulang ke kota asal kalian kan?" Tanya Aoi pada Victor. "Yeah, dan aku benar-benar tidak ingin kembali ke sana. Huh!" Victor menunjukkan tampang jengkel. "Kenapa?" Tanya Aoi heran, padahal ia barusan melihat ekspresi kepuasan di wajah Dael ketika menyebutkan liburan mereka. "Ah, kau tidak akan mengerti. Liburan musim panas adalah waktu yang menyebalkan bagiku. Aku sangat ingin tidak pergi, tapi aku harus pergi." Victor mendengus kesal. Aoi sampai sekarang tidak habis pikir pada Victor yang benar-benar menunjukkan kebencian kepada kedua saudaranya yang populer itu. Dan lebih aneh lagi adalah tidak ada kemiripan sama sekali di antara Victor dengan Dael mau pun Solaris. Solaris tidak jauh berbeda dengan Dael, mereka tampan dan dengan tubuh bidang yang sempurna. Sementara Victor bertubuh agak kurus, tak terlihat sama sekali tonjolan otot pada tubuhnya. Namun Victor tak pernah pula mengaku jika ia adalah anak angkat, malahan Victor tak ingin menceritakan banyak hal tentang saudara atau keluarganya. Mendadak Victor bersuit menggoda kepada dua orang gadis yang berjalan mendekati deret bangku mereka. Kedua gadis itu hanya menunjukkan wajah jijik sebelum melewati deret bangku mereka. "Kok mereka berdua semakin terlihat cantik sih." Victor menoleh ke belakang, tanpa tahu malu ia memperhatikan kedua gadis yang ia sebut-sebut. "Aku heran kenapa kalian bertiga tidak bisa berubah menjadi sepopuler mereka berdua." Aimee mendorong kepala Victor dengan kasar, mengabaikan rintihan pemuda bermata ungu itu. "Jangan pernah membandingkan kami dengan kedua gadis konyol itu!" seru Aimee kesal. "Dan kau tidak tahu malu ya? Tatapanmu seperti cowok nakal!" Aoi melirik ke belakang sekilas dan mendapatkan sorot menghina dari kedua gadis populer itu. Untunglah hanya dirinya yang melihat, jika Aimee menyadari mereka sedang dihina, tentu Aimee tidak akan diam saja. Dan Aoi tidak ingin semester awal mereka dimulai dengan perseteruan tidak berarti. Kedua gadis itu adalah gadis paling populer di Caranige. Yang berambut hitam lurus panjang dengan mata biru bernama Alice Sullivan, seorang gadis kaya raya karena ayahnya adalah pengusaha ternama di Burdenjam. Sementara gadis yang berambut cokelat dengan mata hijau bernama Alexys Ariadne, atau bisa dijuluki Lexa si mulut kotor, adalah sahabat Alice. Dan memang, jangan sampai mereka berurusan dengan Lexa karena hal itu hanya akan membuang-buang waktu saja dengan mendengarkan rentetan hinaan yang bisa diucapkan oleh Lexa. "Mood-ku langsung buruk melihat Sullivan dan Ariadne itu..." Aimee menggeram. Aoi tersenyum kecil pada Aimee. Ia menepuk bahu Aimee untuk menenangkan teman baiknya yang bertemperamen tinggi itu. Aimee memang bisa sangat kasar tapi hanya pada orang-orang yang menurutnya kurang ajar. "Teman-teman," bisik Daisy, mengangguk ke arah depan. Mereka semua mengikuti arah pandang Daisy, dan guru sejarah mereka, Pak Brown, baru saja masuk bersama dengan seorang gadis. "Anak baru!" Seru Victor. "Kok dia kelihatan tidak asing ya?" Aimee kembali mendorong kepala Victor dengan kasar. "Bisa tidak kau berhenti bersikap genit? Menjijikan tahu!" "Anak-anak, selamat datang di semester baru. Semoga liburan kalian menyenangkan," sapa Pak Brown di depan. "Kita kedatangan anak baru, namanya Dami Alan." "Dami Alan? Nama yang aneh," komentar Aimee. "Dami?" Victor memandang murid baru di depan sana dengan eskpresi kebingungan, ia seolah memang pernah bertemu dengan murid baru itu. Sementara Aoi memiliki penilaian yang aneh pada si murid baru bernama Dami Alan itu. Tubuhnya kecil, mungkin tidak jauh berbeda dengan ukuran tubuh Daisy. "Cat rambutnya tidak cocok untuknya," komentar Aimee. "Kelihatan amatiran." Dan memang benar karena rambut gadis itu dicat cokelat, agak sedikit berantakan tapi menurut Aoi hal itu tidak masalah. Penampilan si murid baru terlihat cukup normal. Dan senyum si anak baru terlihat polos dan menyenangkan untuk dilihat. Entah mengapa Aoi merasa melihat kembali boneka masa lalunya yang sangat ia sayangi. Aoi mengerjapkan matanya, tersadar, mengapa ia berpikiran konyol seperti itu? Pak Brown mempersilahkan si murid baru untuk memilih bangku sebelum akan memulai pelajarannya. Si murid baru mengangguk lalu mulai melangkah. Aoi yang sedikit penasaran dengan si murid baru, sangat ingin melihat lebih dekat, namun ia tidak bisa menyediakan tempat karena deret tempat duduk mereka sudah penuh. Maka si murid baru melewati mereka begitu saja, dan Aoi merasa agak kecewa. "Oh ya ampun," desis Aimee yang ternyata juga mengamati si murid baru. "Dia duduk di sebelah kedua cewek konyol itu." Walau ini bukan urusannya, Aoi merasa sedikit khawatir pada si murid baru. Alice dan Lexa adalah pilihan yang buruk untuk menjadi teman sebangku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD