08

1353 Words
Malamnya Jeffrey sudah dapat berdiri dan melangkah walau dengan tertatih. Tapi ini lebih baik daripada menjadi tidak berdaya dan dimanjakan oleh seorang wanita berambut merah muda. Ia sungguh tidak menyukai ketidakberdayaan. Ia melangkah menuju ke wastafel, mencuci muka, lalu memandang wajahnya pada cermin. Dalam satu hari setelah ia siuman, ia telah mendapat begitu banyak informasi. Dia dibekukan selama sepuluh tahun. Dan Kapten Hunt sudah meninggal karena pemberontakan werewolf sepuluh tahun lalu. Seandainya ia tidak diculik, mungkin ia bisa menyelesaikan pemberontakan itu dan Kapten Hunt tidak perlu menjadi korban. Sial. Bahkan ia tidak bisa melakukan apa pun ketika diculik. Orang itu pastinya luar biasa hebat. Jika memang benar orang yang menculiknya adalah si Vampir-Penyihir, itu artinya ia dan Kapten Hunt telah ditipu. Mereka berdua terlalu meremehkan si Perusuh rupanya. Sesuatu yang aneh tiba-tiba saja terjadi. Pantulan wajahnya di cermin bergerak tidak wajar. Wajahnya di dalam cermin tersenyum ganjil dan memandang dirinya dengan sorot aneh. Ia mengibaskan tangan di depan cermin, namun bayangannya tidak melakukan apa pun. Sihir. Ia menebak. Tapi Squirrel seharusnya tidak selemah itu, markas mereka telah dipasang sistem alat penangkal sihir termutakhir. Kecuali jika Argon telah mengotak-atiknya dan membuat sistemnya melemah. Pantulannya di cermin bergerak, menunjuk pada saku di pakaian rumah sakitnya. Ia memandang sakunya lalu kembali ke cermin, dan pantulannya di cermin telah kembali normal. Ia mengibaskan tangan kembali ke depan cermin, dan semua gerakannya terpantul sama. Jeffrey segera mengecek saku pakaiannya. Ia menemukan sebuah amplop, padahal sebelumnya amplop itu tidak ada di sana. Ia membuka amplop itu, mengambil surat di dalamnya. Ia membuka lipatan surat, kemudian membaca tulisan tangan di dalamnya. . Dear, Jeffrey. Kau berhutang nyawa kepadaku. Seharusnya kau yang mati dalam pemberontakan werewolf di Varlas. Tapi aku memutuskan untuk menyelamatkanmu. Lalu mengabadikanmu sepuluh tahun ke depan. Dan sekarang kau harus membalas budimu. Aku akan memberikan tugas untukmu. Nyawa di balas nyawa. Dari Perusuh, incaranmu. . "Brengsek..." Desis Jeffrey. Dia memang sudah dijebak. Dia dimanfaatkan. Jeffrey seorang prajurit manusia terbaik telah diperdaya, diperalat oleh Si Perusuh. Lalu kata-kata di dalam surat itu lenyap, digantikan kata-kata lainnya yang timbul dengan sendirinya. . Ini adalah kewajibanmu. Kau harus melaksanakannya. Jika kau menolak, kau akan mati, dan kematianmu akan sama persis dengan kematian yang terjadi pada Kaptenmu. Maka kematian Kaptenmu akan sia-sia saja. Tugasmu adalah melindungi Dami Alan, dengan nyawamu. . Lalu kata-kata itu lenyap, meninggalkan kertas kosong saja. Jeffrey mengerutkan dahi. Dami Alan? Siapa? Ia merasakan masih ada lembaran lain di dalam amplop, ia segera mengeluarkannya. Sebuah foto seorang gadis. Ia mengerutkan dahi, wajah gadis di dalam foto itu terasa tidak asing baginya. Rambut hitam, mata cokelat terang, segalanya terasa akrab baginya. Hanya saja ia tidak pernah mengenal gadis ini. Kecuali... seorang Vampir cilik yang memiliki kesamaan dengan gadis di foto. Jeffrey membelalakan mata. Menyadari sesuatu. Sebuah fakta mengerikan muncul dalam pemahamannya. Tidak mungkin! -- Jeffrey berhasil meninggalkan Squirrel dengan diam-diam. Meski sepuluh tahun telah berlalu, Argon rupanya tidak melakukan pembaharuan yang berarti dalam sistem keamanan. Ia masih dapat meninggalkan Squirrel dengan menggunakan jalan tikus yang ia buat sejak dulu, bahkan Kapten Hunt sendiri tidak mengetahuinya. Kadang, ketika ia merasa malas untuk berada di markas, ia berjalan-jalan keluar dari Squirrel tanpa ketahuan. Ia berjalan menembus kabut dan udara malam yang dingin. Benar saja, terlihat perbedaan yang mencolok pada kota di sekitarnya. Bangunan pencakar langit semakin ramai, dan meski sudah tengah malam, masih terlihat aktifitas malam hari di sekitar kota. Burdenjam tak lagi sama dengan ingatannya. Ia berjalan menyusuri kota, seolah ingatannya berada di kakinya, ia berjalan saja mengikuti langkah yang diinginkan oleh kakinya. Sebenarnya ia ragu apakah tempat yang ia tuju masih ada atau tidak. Mungkin orang-orang sudah mengetahui tempat persembunyiannya di Burdenjam. Jika Argon sudah tahu, maka tempat itu pastilah sudah dihancurkan. Jeffrey berhenti, reflek tersenyum menyeringai melihat lapangan kecil yang tak terlihat banyak perubahan. Ia segera memasuki lapangan itu, berjalan ke sudutnya, lalu meraba rumput liar, dan menemukan sebuah pengait. Ia menariknya hingga terbuka, lalu masuk ke dalamnya. Jeffrey menuruni tangga, masuk ke dalam kegelapan rubanah. Ia meraba dinding, mencari saklar. Ia menemukannya lalu menyalakannya. Ruangan menjadi terang benderang. Jeffrey mendengus senang melihat tempat persembunyiannya yang masih sama dalam ingatannya, satu-satunya tempat yang tidak mengalami perubahan, hanya berdebu dan dipenuhi sarang laba-laba. Ia menyadari jika kepalanya agak sakit karena harus memaksa menerima informasi baru dan pemandangan baru. Dan ketika ia berada di rubanahnya, ia merasa lega. Setidaknya ada satu hal yang tidak berubah secara signifikan. Ia hanya perlu membersihkan tempat ini. -- Menurut Belle, ia adalah pasien yang memerlukan waktu cukup lama untuk beristirahat, namun kurang dari 24 jam ia sudah berjalan-jalan keluar dari Squirrel, menyusuri kota dan kembali ke rubanahnya. Dan sekarang ia sedang bersih-bersih. Dia sudah menghabiskan waktu selama 10 tahun dibekukan, tentu ia tidak ingin membuang-buang waktu lebih banyak lagi. Setelah membersihkan ruangan yang ia nilai layak untuk ditempati, ia mengecek sistem peralatan elektroniknya. Segalanya masih tersambung. Ia tersenyum senang karena rubanahnya tetap aman dan baik-baik saja. Mungkin sistem komputer yang ia miliki di rubanah tidak semodern saat ini, tapi ia bisa mengotak-atiknya nanti. Oh ya, dia memang lumayan jago dalam sistem komputerisasi. Dia hanya perlu mempelajari sistem baru untuk diterapkan di dalam markas rahasianya. Tapi saat ini dia perlu menggunakan sistem ala kadarnya untuk mencari informasi. Dami Alan, ia mengetik pada mesin pencariannya yang bisa masuk ke dalam data rahasia sekalipun. Dan hasilnya nihil. Dia menyadari jika saat ini ia tidak sedang mencari data seorang manusia. Ia mencari data seorang Vampir yang mungkin sudah hidup lama. Mungkin puluhan tahun hingga ratusan tahun. Dan alatnya tidak akan bisa melakukan pencarian secara detail. Ia bersandar di kursi kerjanya, berputar sambil memandang langit-langit rubanah yang masih dipenuhi sarang laba-laba. Ide muncul di dalam kepalanya. Ia segera mengecek kontak informan rahasianya. Sudah sepuluh tahun berlalu, ia berharap sang informan masih dapat dihubungi. Ia selesai mengirimkan pesan, lalu kembali berputar di kursinya, menunggu. Ia mengeluarkan kembali foto gadis bernama Dami Alan dari dalam sakunya. Sebenarnya ini masih dugaannya, namun semua petunjuk mengarahkan kepada kesimpulan jika Vampir cilik yang disekap bersamanya sepuluh tahun lalu telah berubah menjadi manusia, dan mungkin ini adalah rahasia yang dikatakan oleh Argon. Tentu Argon tidak akan suka berbagi rahasia besar yang menguntungkan kepadanya. Argon tentu akan sangat tertarik dengan eksperimen unik, misalnya seperti ini, merubah Vampir kembali menjadi manusia. Tapi itu mustahil. Sangat mustahil. Ketika manusia telah berubah menjadi Vampir, jati diri mereka sebagai manusia sudah mati. Tapi mungkin sihir bisa melakukan apa saja. Jeffrey berdecak jengkel mengingat fakta bahwa sihir bisa melewati batas-batas normal yang ada di dunia. Bunyi pesan membuat Jeffrey terlonjak. Pesannya telah dibalas, rupanya sang informan masih hidup. Ia segera memberikan nama Dami Alan serta foto gadis itu, satu-satunya petunjuk yang ia miliki untuk mendapatkan data gadis itu. Ia juga memberi instruksi pada sang informan untuk menemukan sosok yang mirip dengan di foto di sekitar North Oak dan Varlas. Dan meminta mencarikan data seorang gadis cilik dengan nama tersebut, yang mungkin hidup di masa lalu. Nst : Kau akan membayarku? Jeffrey terdiam membaca pesan itu. Ia mendengus kecil, menyadari jika ia tidak sedang berkomunikasi dengan orang yang sama seperti perkiraannya. Tentu saja, sepuluh tahun telah berlalu, ia tidak bisa berharap segalanya masih sama. Ia mengetikkan pesan. JH : Apakah kau keturunan Atlas? Nst : Coba tebak. JH : kau cucunya. Nst : hebat. Kau benar. JH : Dimana kakekmu? Nst : tebak? JH : meninggal karena pemberontakan werewolf sepuluh tahun. Nst : Benar dan salah. Nst : ya, kakekku sudah meninggal, tapi dia meninggal dalam damai, tujuh tahun lalu. Jeffrey tersenyum kecil mengingat kawan lamanya yang sudah sepuh itu, syukurlah dia meninggal dalam damai. Dia harus mengunjungi makam Atlas dan tentu saja Kapten Hunt. Dua orang itu adalah orang-orang terbaik dalam hidupnya, sayangnya keduanya sudah meninggal. Meninggalkannya sendirian di dunia modern sepuluh tahun dan diperalat oleh Si Vampir-Penyihir untuk melindungi seorang gadis hasil eksperimen. Sungguh hal yang tidak pernah ia bayangkan sama sekali. Ia segera mengetikkan pesan untuk membalas sang informan. JH : tentu saja aku akan membayarmu, bocah. Dan Jeffrey tertawa kepada dirinya sendiri. Dia seharusnya tidak memanggil sang informan dengan sebutan bocah, karena mungkin sang informan telah dewasa dan berusia lebih tua dari dirinya yang tidak menua sepuluh tahun lamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD