07

1565 Words
Jeffrey bangkit dari Kematian. Setelah beberapa hari koma, akhirnya ia terbangun. Dan baru sekarang ia sudah dapat duduk tegak dan menggerakkan tangannya. "Kau kelihatan sehat, sungguh luar biasa!" Seorang wanita asing berambut merah muda terang menyambutnya, tampak lebih bahagia daripada dirinya sendiri. "Ini sungguh keajaiban!" "Apa yang terjadi?" Tanya Jeffrey. "Ini di mana?" "Di rumah sakit Squirrel," jawab wanita itu. "Dan kenalkan namaku Belle, aku adalah penanggung jawabmu." Wanita itu memperkenalkan dirinya dengan bangga. Jeffrey mengamati sekitarnya. Rumah sakit Squirrel? Ia tidak ingat jika ruang perawatan sudah berubah. Dan rasanya dia tidak perlu seorang penanggung jawab. "Dimana Kapten Hunt?" Jeffrey bertanya. Suaranya serak dan ia kesulitan berbicara karena bibirnya terasa kering. "Aku ingin bertemu dengan Kapten Hunt." "Kau mungkin akan bingung," si wanita rambut merah muda tampak ragu. "Kapten Hunt sudah meninggal." Jeffrey membelalak memandang Belle mendengar berita itu. "Ya, Kapten Hunt sudah meninggal lama. Tepatnya 10 tahun lalu ketika pemberontakan werewolf yang terjadi di Varlas." Jeffrey mendengus tidak percaya. "Pemberontakan Werewolf di Varlas? Kurasa itu baru saja terjadi beberapa waktu yang lalu." Duganya. "Seseorang menculikku. Dan dia menahanku selama tiga hari." "Ap...apa?" Belle segera menuliskan sesuatu pada benda kotak seperti buku. "Kau diculik dan ditahan selama tiga hari. Kau ingat siapa yang menculikmu?" Jeffrey berpikir keras. Ia menggelengkan kepala. Ingatannya sedikit berantakan, tapi ia ingat jika dia telah ditangkap oleh seseorang ketika sedang dalam perjalanan menuju lokasi pemberontakan di Varlas. "Pak," kata Belle ragu-ragu. "Aku tahu kau akan sangat kebingungan. Tapi pemberontakan itu sudah terjadi sepuluh tahun lalu. Dan kami menemukanmu di sebuah laboratorium bawah tanah di North Oak seminggu yang lalu. Anda... Anda dibekukan di dalam sebuah kontainer." Jeffrey mengira si wanita berambut merah muda itu sangat ingin melemparkan lelucon kepadanya. Dan itu tidak lucu. "Aku ingin berbicara dengan Kapten Hunt," pinta Jeffrey, ngotot. "Kau tidak bisa mengganggu almarhum yang sudah beristirahat dengan tenang," seseorang memasuki ruang perawatan. "Halo, Jeff." Jeffrey mengerutkan dahi memandang pria yang sudah berdiri di sebelah Belle. Belle tampak kikuk, ia segera memberikan anggukan hormat kepada pria paruh baya yang tampak tidak asing bagi Jeffrey. "Apa aku mengenalmu?" Tanya Jeffrey. Pria itu mendengus. "Bahkan kau tetap sama. Tidak berubah." Dengusnya. Jeffrey mengerutkan dahi. "Maaf, Pak. Pasien sedang dalam proses penyembuhan. Saya rasa kita tidak bisa menekan pasien untuk berpikir lebih banyak," pinta Belle, ia berbicara dengan takut-takut. Jelas pria itu memiliki jabatan tinggi hingga membuat Belle kikuk setengah mati. "Tidak perlu, Miss Bell," dengus si pria paruh baya. "Jeffrey Hunt terkenal sebagai pemuda robot buatan Kapten Hunt. Lihatlah, dia sudah cukup sehat kan?" "Ya, tapi, Pak..." "Kau seharusnya mengingat teman lamamu." Si pria tersenyum. Dan Jeffrey membelalakan matanya. "Kau... Argon?" Tanyanya. "Kenapa kau terlihat... berbeda?" Jeffrey tidak mungkin salah menebak. Ia mengenal baik pemuda paling menjengkelkan dalam timnya. Pemuda manja yang suka pamer dan mencari perhatian. Nada suara serta gaya yang congkak. Semua itu ada pada pria di depannya ini. Namun dulu Argon adalah pemuda kurus kering menurutnya, dan di depannya berdiri seorang pria dewasa yang tegap dan bertubuh bidang. "Aku terharu kau mengingatku," pria itu, Argon, tersenyum menyeringai. "Kita seharusnya berpelukan sebagai kawan lama yang akhirnya bertemu kembali." Jeffrey menunjukkan wajah jijik mendengarnya. "Aku tidak mengerti apa yang telah terjadi. Tapi wanita itu bilang Kapten Hunt sudah meninggal sepuluh tahun lalu. Nah, sekarang kalian harus menghentikan lelucon ini." "Semua yang dikatakan Belle adalah benar," kata Argon. "Papamu sudah meninggal. Karena kau menghilang, dia harus turun tangan dan membuatnya harus mengorbankan nyawa demi menghentikan pemberontakan werewolf. Dan itu merupakan pemberontakan terbesar yang tercatat di sejarah dunia." Jeffrey terhenyak. "Kapten... Benar-benar sudah..." Argon tersenyum kecil melihat reaksi Jeffrey. "Nah, jika kau memang sudah siap, Prajurit terbaik, kami menunggumu di ruang rapat. Kami akan menunjukkan segala fakta yang kau inginkan." -- Jeffrey masih belum dapat bergerak leluasa, namun ia sudah ngotot untuk dibawa ke ruang rapat. Belle si penanggung jawab terpaksa membawanya dengan mendorongnya yang berada di kursi roda. Jeffrey membenci ketidakberdayaan ini. Ia tidak suka dengan penanggung jawabnya, namun ia membutuhkannya karena ia tidak suka dengan Argon yang seperti mengolok ketidakberdayaannya. "Wah, kau datang?" Argon duduk di kursi kerja, menyambut kedatangan mereka berdua dengan senyum senang. Jeffrey didorong masuk ke dalam sebuah ruangan. Meski segalanya sudah tampak berubah, ia sangat mengenal posisi dimana ruang Kapten Hunt. Dimulai dari cat dinding, dekorasi, jenis lampu hingga karpet ruangan semuanya telah berubah. "Ini ruangan Kapten Hunt," kata Jeffrey. "Ya, kau masih ingat saja. Tapi sekarang tempat ini sudah menjadi ruanganku." Jawab Argon dengan lagak merendah yang menjijikan menurut Jeffrey. "Kau yang menggantikan posisi Kapten Hunt?" Tanya Jeffrey tidak percaya. "Kau... Anak manja dan penakut itu?" Argon tertawa, ia tidak terlihat tersinggung meski Belle tampak panik, nyaris akan menutup mulut Jeffrey. "Biarkan saja, Miss Bell. Dia memang seperti itu, aku tidak akan tersinggung sama sekali. Aku sangat menghargai kawan lamaku. Tidak ada yang bisa mengatur perilaku buruknya. Bahkan Kapten kami juga kerepotan, beruntung dia menjadi anak kesayangan." Argon telah meninggalkan kursi kerjanya, ia mengamati Jeffrey lekat-lekat. "Aku mengira kau sudah dapat bergerak?" Cemoohnya. "Pasien masih dalam tahap proses penyembuhan, Pak." Lapor Belle. "Ya...ya, aku tahu. Hanya saja Jeffrey Hunt dikenal sebagai prajurit manusia yang bagaikan robot super. Dia tidak pernah sakit dan luka-lukanya sangat cepat sembuh. Kulitnya seperti baja dan kokoh." Ia meninju bahu Jeffrey dengan sengaja, dan Jeffrey menahan ringisannya. "Apakah sakit?" Tanyanya mencemooh. Jeffrey mengabaikan cemooh dan rasa sakit di bahunya. Ia hanya diam menatap tajam Argon. Argon tertawa saja. "Baiklah, kau seperti tidak punya banyak waktu saja. Padahal aku di sini yang tidak punya banyak waktu untuk beramah-tamah denganmu." Ia berjalan mendekati sebuah layar yang ditempelkan pada dinding, mengambil remote control untuk menyalakannya. Belle segera mendorong kursi roda mendekati layar agar Jeffrey dapat menonton layar dengan lebih jelas. "Kau mengenal tempat ini?" Tanya Argon. Layar menampilkan sebuah rumah kecil yang terlihat biasa-biasa saja. "Ini adalah salah satu rumah di North Oak. Kami menemukanmu di rubanah, di dalam sebuah kontainer es." Argon menggantikan layar dengan foto-foto lainnya. Foto berikutnya adalah foto rubanah yang terlihat tua dan berdebu, lalu foto sebuah kontainer besar seukuran tubuh manusia. "Kami mendapat laporan jika ada ledakan tidak wajar di sekitar rumah yang sudah bertahun-tahun di tinggalkan ini. Ketika petugas mengecek, mereka menemukan semua keganjilan di dalam rubanahnya. Karena itu mereka memanggil Squirrel. Dan ketika kami berhasil membuka kontainer es ini, kami menemukanmu membeku di dalamnya." Jeffrey mengerjap ketika melihat foto dirinya yang dalam keadaan beku di dalam kontainer. "Kau tampak seperti mumi, hanya saja dalam bentuk dibekukan dalam bongkahan es abadi. Kami mengira kau sudah mati, namun jantungmu berdetak setelah tubuhmu dikeluarkan dari dalam es. Dan yang lebih anehnya kau sama sekali tidak menua. Kau terlihat sama dengan dirimu sepuluh tahun lalu." "Sihir," gumam Jeffrey. "Tepat sekali." Argon mengangguk setuju. "Dan mungkin kita memiliki dugaan yang sama. Ini pastinya perbuatan si Vampir-Penyihir." Jeffrey mengerjapkan matanya. "Jadi kau tidak pernah membunuh Vampir-Penyihir itu ya? Dasar pembohong," kata Argon ketus. Jeffrey menggelengkan kepala. Ia memeras otaknya untuk mengingat masa-masa kejayaannya. Ya, dia benar-benar sudah membunuh si Vampir-Penyihir. Dia dan Kapten Hunt sudah menyingkirkan si Perusuh mengerikan itu. Ia sendiri yang menusukkan ujung pedang perak tepat menembus jantung Si Perusuh. Ia dan Kapten Hunt membakar tubuh Si Perusuh hingga menjadi debu dan arang. "Mungkin kami meleset," kata Jeffrey. Fakta itu mengerikan, ia tidak pernah gagal. Namun sepertinya ia sudah menganggap remeh lawannya yang satu ini. Tidak pernah ada Vampir dan sekaligus Penyihir. Dua eskisten itu tidak mungkin bisa menjadi satu-kesatuan. Argon mendengus geli melihat reaksi Jeffrey. "Kau pasti kecewa karena kegagalanmu. Dan kegagalanmu membuatmu mendapat kutukan. Entah, aku tidak bisa memahami apakah ini kutukan. Kau hanya dibekukan dan kau tidak menua sama sekali. Kurasa ini keuntungan. Apakah kau bekerja sama dengan Si Perusuh?" "Berhenti," pinta Jeffrey ketika Argon memindah-mindahkan foto di layar. Layar menampilkan foto sebuah ruangan yang sama sekali tidak asing baginya. "Aku disekap di sini." Argon dan Belle sama-sama membelalakan mata memandang foto tersebut. Mungkin karena sudah bertahun-tahun lamanya, tempat yang ditampilkan foto sudah terlihat tidak layak huni. Foto tersebut adalah foto dari salah satu ruangan yang ada di rubanah. Jeffrey merasa aneh melihat tampilan ruangan yang pernah menjadi tempat ia disekap itu sudah menjadi tua dan terbengkalai. Ia masih ingat, seperti mengingat kejadian hari kemarin. Ia masih di sana, bersama dengan bocah Vampir cilik. Ya. Bocah Vampir cilik. "Apakah kalian menemukan orang selain aku?" Tanya Jeffrey. Argon menggeleng. "Apakah ada sesuatu yang lain kau temukan di sana?" Argon tersenyum kecil, dan Jeffrey tahu jika tebakannya benar. "Kau memang sangat teliti, Jeff. Bahkan ketika kau baru saja bangun dari Kematianmu." "Apa yang kau temukan?" "Sayangnya ini masihlah rahasia," kata Argon. "Kami belum bisa membagikan informasi ini kepada orang luar." Jeffrey mengerutkan dahi. Argon tertawa saja. "Nah, waktu beramah-tamah denganmu sudah habis. Aku ada kesibukan lainnya. Belle sekarang adalah Penanggung jawabmu..." "Aku tidak perlu penanggung jawab." "Oh ya, kau memerlukan penanggung jawab, Nak." Nak? "Kapten Hunt sudah tidak ada untuk mengawasimu, sementara aku terlalu sibuk untuk mengamati gerak-gerik seorang bocah 18 tahun yang bangkit dari kematian. Miss Bell adalah orang terbaik dan kau tidak akan menyesal memiliki orang hebat seperti dirinya." "Terima kasih, Pak." Ucap Belle yang tersipu-sipu mendengar pujian Argon. Jeffrey menahan diri untuk tidak meludah atau melakukan sesuatu yang tidak sopan. "Nah, silahkan kembali ke tempat beristirahatmu, Nak." "Kami permisi, Pak." Belle pamit lalu mendorong kursi roda keluar dari ruangan. "Waktunya makan siang, Tuan Hunt." Ucap si wanita dengan riang, seperti sedang berbicara dengan bocah enam tahun yang merengek minta makan. Jeffrey mengepalkan kedua tangannya, menahan kekesalan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD