06

1921 Words
Mereka menempuh perjalanan darat dengan menggunakan mobil, dan Topaz meyakinkan mereka jika ia membeli sendiri mobil itu. Sebenarnya Dami tidak ingin merepotkan Jadrian dan Topaz, yang tentu tidak memerlukan mobil sebagai transportasi para Vampir. Biasanya mereka berlari dalam bayang-bayang. Atau lebih suka menyelinap ke kereta bawah tanah pada malam hari. Biasanya. Tapi Jadrian memutuskan mereka menggunakan mobil pribadi karena memikirkan Dami sebagai manusia. Setelah menempuh perjalanan 12 jam, mereka harus berhenti untuk mengisi bensin. Dami keluar dari mobil, mengawasi Jadrian yang mengajak bicara si penjaga pom. "Perjalanan jauh, Nak?" Tanya si penjaga pom yang mulai mengisi bensin ke mobil. "Ya, di sini sepi sekali," komentar Jadrian. "Yah... Daerah pinggiran memang bukan tempat yang bagus untuk berjalan-jalan sendirian." Kata si penjaga pom. "Ada banyak Vampir di luar sana." Ia mengangguk ke pemandangan malam yang gelap dan sunyi di luar area pom. "Hanya orang tidak waras yang mau jalan-jalan pada malam hari." Gumamnya, menelan ludah. "Oh, yah, mungkin ada beberapa seperti kalian yang terpaksa berpergian." Jadrian tersenyum saja. "Tapi bagaimana denganmu?" Tanyanya, terlihat prihatin karena si penjaga pom masih berani berjaga sendirian di malam hari. "Beginilah, demi uang kita bisa melakukan hal berbahaya sekali pun," si penjaga pom tersenyum lemah, ia melirik ke arah Topaz yang berada di dalam mobil, sorot matanya tampak was-was. Tentu saja, aura Topaz sebagai Vampir terlalu kuat. Topaz memang tidak begitu suka menyamar, dia tampil apa adanya jika dia malas untuk menyamar. Berbanding terbalik dengan Jadrian yang begitu menguasai keahlian menyamar, bahkan Jadrian terlihat sangat manusia, terlalu normal. "Aku mau ke toilet," kata Dami. "Kau bisa masuk lewat sana," tunjuk si penjaga pom. "Pakai saja." "Terima kasih," ucap Dami, lalu mendapatkan sorotan cemas Jadrian. Dami segera menggelengkan kepala, memahami arti sorot mata Jadrian kepadanya, namun ia menolak ide Jadrian yang ingin menemaninya ke toilet. Dami berjalan sesuai dengan arah yang diberikan oleh Si Penjaga Pom. Sebenarnya Dami agak takut pergi ke toilet sendirian, namun sekali lagi dia tidak ingin menjadi manusia yang merepotkan. Dan pastinya konyol sekali meminta seorang Vampir menemaninya ke toilet. Setelah selesai dengan urusannya, ia berhenti sebentar di wastafel untuk mencuci tangan. Ia bercermin dan merapikan sedikit penampilannya yang berantakan. Ia sungguh terlihat menjijikan. Ia tidak bisa membayangkan apa yang ada di dalam pikiran Jadrian ketika melihat dirinya yang terlihat kotor sepanjang perjalanan. Ia mendadak terkejut ketika melihat sesosok bayangan gelap dari pantulan cermin. Ia terbelalak ngeri, namun tak mampu menolehkan wajah. Sementara suhu udara turun dan ia menggigil kedinginan. Dengan mengumpulkan tekat, ia segera bergerak cepat menuju pintu, namun kakinya tersandung, ia terjatuh dan kepalanya membentur dinding. -- Ia terbangun di atas ranjang besi, dan menyadari tangan dan kakinya terikat ke samping ranjang. Ia meronta untuk melepaskan diri, namun ikatan itu terlalu kuat. Ia mulai merengek memanggil nama kakak laki-lakinya. Seseorang mendekat, namun ia tidak dapat melihat wajah orang itu yang membelakangi lampu di langit-langit, satu-satunya sumber cahaya. Tangan pucat orang itu mengelus sebelah wajahnya. "Dami..." Orang itu berbisik. Suaranya terdengar lembut dan menenangkan. "Aku akan memberikanmu kehidupan baru... Sesuai dengan janjiku di masa lalu." Orang itu menunjukkan sesuatu yang menakutkan baginya. Sebuah palu dan paku besar berwarna perak. Lalu ia menjerit. -- Dami tersentak bangun, ia bangkit berdiri, menoleh ke sekitarnya dengan panik. Namun tidak ada siapa-siapa selain dirinya di dalam toilet wanita berpenerangan remang-remang itu. Ia segera bergegas pergi meninggalkan toilet. "Aman, Nak?" Tanya si penjaga pom ketika melihat Dami kembali. Dami tersenyum kikuk, hanya memberikan anggukan sebelum masuk ke dalam mobil. "Sampai jumpa, semoga aman di perjalanan." Kata si penjaga pom. "Anda pun juga, semoga sehat dan aman," balas Jadrian sebelum masuk ke mobil. Jadrian memilih duduk di kursi belakang dan Topaz menyalakan mesin mobil, lalu mobil bergerak meninggalkan Pom Bensin. "Dami," panggil Jadrian, kedengaran cemas. "Ada apa denganmu?" Dami menoleh, badannya masih terasa gemetar dengan rasa takut dari ingatan yang muncul dalam kepalanya. Seseorang yang datang membawa palu dan paku besar perak. Ia ketakutan. Dan ia juga merasakan kenangan rasa takut ketika ia berada di tempat itu. Dami menggelengkan kepalanya. "Kau berdarah," kata Jadrian, dan barulah Dami menyadari lengannya terasa perih. "Oh, aku... Aku terpeleset," kata Dami, tergagap. "Sial..." Desah Topaz, yang mengambil tisu lalu memasukkannya ke lubang hidungnya. "Yang benar saja, Dami. Manusia kan punya dua mata untuk berjalan." Protes si Vampir. "Maaf, Topaz..." Kata Dami, ia benar-benar tidak ingin merepotkan para Vampir dengan lukanya yang berdarah. Jadrian menggelengkan kepalanya, ia tetap terlihat tenang. "Sini, kuperban lukamu." -- "Menurut instruksi, kita tidak perlu membawa barang-barang kita. Jika kita diterima, barang dan mobil kita akan dibawa masuk ke dalam kota." Jelas Jadrian, yang satu-satunya membaca instruksi dengan detail. Mereka sudah memasuki sebuah area parkiran gerbang Burdenjam. "Kota ini aneh," komentar Dami. "Apakah kita serius akan tinggal di dalam sana? Kita bahkan perlu mendaftar." "Kota ini direkomendasikan sebagai kota manusia paling aman." Kata Jadrian. "Sementara di kota-kota lain kabar kriminalitas Eksisten bukan manusia semakin tinggi." "Kita masih bisa tinggal di North Oak," kata Dami. "Di sana tenang dan damai." "Desa itu terlalu kecil dan sepi untukmu, Dami." "Tapi apa kalian serius bisa masuk ke Burdenjam?" Tanya Dami cemas. "Kota itu disebut sebagai kota khusus manusia." "Ada cara khusus mendaftar untuk para eksisten bukan manusia," Jadrian berhasil menenangkan kecemasan Dami. Tapi secara logika Dami sadar jika rasa tenang dalam dirinya hanyalah efek dari kemampuan menghipnotis Vampir, pada kenyataannya ia tetap harus mencemaskan para Vampir. Ia tidak ingin ditinggalkan oleh Jadrian lagi. "Tidak usah cemas, Dami." Jadrian seolah membaca pikiran Dami yang belum bisa tenang. "Kami pasti akan ikut bersamamu untuk tinggal di dalam sana. Nah, ayo." Dami tidak berkata apa pun lagi ketika mereka bertiga berjalan meninggalkan parkiran, lalu mendekati sebuah Pos Penjagaan. Ia merasa sedikit cemas ketika melihat dua orang penjaga yang mengenakan kostum berpengaman menghadang mereka. Para penjaga itu memeriksa mereka dengan alat pindai, lalu memasangkan mereka sebuah gelang yang terbuat dari krypton, memberitahu jika gelang itu akan dilepas setelah pendaftaran. Mereka bertiga berjalan kaki mengikuti seorang penjaga yang mengantarkan mereka ke depan deretan pintu yang bertuliskan nama tiap Eksisten. Seketika Dami merasa gugup karena menyadari ia akan berpisah dengan Jadrian. Jadrian memberikan sorotan untuk menenangkan kegugupan Dami, dan ia bersama Topaz memasuki sebuah pintu besi bertuliskan Vampir. Dami menyeret langkahnya memasuki pintu besi yang bertuliskan Manusia. Sendirian. Dami terkejut dengan apa yang ia dapatkan setelah melewati pintu besi. Ia seperti sedang berada di dalam stasiun kereta. Ruangan di balik pintu besi begitu besar dan ramai. Orang-orang mengantri pada setiap loket, dan seorang petugas mendekatinya, lalu memberikannya kertas nomor antrian. Dami menerima kertas nomor antriannya dengan gugup. Setelah mempelajari situasi, ia segera menuju ke loket sesuai dengan nomor antriannya. Antrian berjalan dengan lambat, sambil menunggu ia menonton layar yang menampilkan seorang wanita sedang menjelaskan profil kota Burdenjam. Ia masih tidak mengerti karena profil kota ini menjelaskan sebagai kota khusus manusia yang aman. Ia tidak tahu bagaimana cara para Vampir bisa masuk ke dalam kota. Akhirnya gilirannya sampai. Ia berdiri kikuk di depan seorang petugas wanita berwajah kaku, yang kemudian meminta berkasnya. Ia segera menyodorkan sebuah map. Ia dibiarkan berdiri sementara si wanita tampak sibuk mengetik dan mengeklik mouse di depan komputer dengan gerakan cepat dan tanpa ragu. Berikutnya ia diberikan beberapa pertanyaan yang sebenarnya sama persis dengan data yang ada di dalam berkasnya. "Selamat datang di Burdenjam," ucap si Petugas berwajah kaku, nada suaranya dipaksakan ceria. Ia menghantamkan cap pada suatu kartu, lalu menyodorkannya pada Dami. "Tanda Pengenal selama di Burdenjam. Wajib dibawa selama 24 jam. Jika hilang maka akan mendapat denda." "Terima kasih," ucap Dami kikuk. "Gerbang keluar di sebelah kanan. Antrian berikutnya!" -- Dami meninggalkan pintu keluar, ia melewati beberapa penjagaan lagi dan gelang krypton dilepas dari pergelangan tangannya. "Barang-barang Anda akan tersedia sekitar satu jam dari sekarang di ruang penyimpanan. Ini kunci loker Anda." Dami menerima kunci lokernya lalu meninggalkan pos penjagaan. Ia menemukan ruang penyimpanan tak jauh dari pos penjagaan, tapi menyadari jika barang-barangnya belum tersedia. Ia memutuskan untuk duduk di kursi tunggu untuk menunggu kedatangan Jadrian dan Topaz. Apakah mereka berdua akan berhasil? Dami berdoa semoga kedua Vampir itu dapat mendaftar dan lolos. Tapi selama ia duduk di sana, ia hanya melihat manusia saja yang mondar-mandir keluar dari pintu yang ia lewati tadi, beberapa ikut menunggu dengannya di kursi tunggu, beberapa telah masuk ke ruang penyimpanan lalu keluar sambil membawa koper-koper mereka. Hampir satu jam ia menunggu, nyaris berputus asa dan akhirnya kedua Vampir yang ia tunggu-tunggu keluar dari pintu pendaftaran. "Jade!" Dami segera berdiri, melambai riang kepada Jadrian dan Topaz. Kedua Vampir itu segera mendatanginya. "Oh, syukurlah kalian lolos!" "Tentu saja kami lolos," kata Jadrian. "Dan kami harus menunggu satu jam dari sekarang untuk barang-barang." Ia menunjukkan kunci lokernya. "Kita bisa menunggu di sini," ajak Dami. Lalu ketiganya segera duduk di area tunggu. "Apakah semuanya berjalan lancar?" tanya Jadrian pada Dami. Dami mengangguk dengan antusias. Melewati ruang pendaftaran membuatnya berharap tinggi mengenai kota Burdenjam. Mungkin di sini memang lebih aman untuk ditinggali. Ia memandang kota dihadapannya yang tampak biasa-biasa saja. Mungkin karena mereka masih berada di bagian gerbang Burdenjam jadinya ia tidak begitu banyak melihat bagian dalam kota. "Apakah di sini ada Eksistensi seperti kalian?" Tanya Dami. "Ada, tapi sangat sedikit." Jawab Jadrian. "Dan kami diwajibkan untuk menyamar." "Menyamar?" Ulang Dami. "Yah, ini tidak main-main," kata Topaz dengan nada jengkel. "Kami akan menyamar layaknya aktor. 24 jam. Dan jika ketahuan melanggar, kami akan didenda. Jika tidak sanggup membayar, kami akan dihukum mati." "Astaga..." Dami membelalakan matanya. "Jangan khawatir, Dami. Itu tidak akan terjadi pada kami," Jadrian segera menenangkan perasaan panik Dami. "Kami berdua adalah orang-orang baik, kau ingat kan jika kita biasa berpindah-pindah? Dan kita tidak pernah menimbulkan masalah apa-apa di setiap kota yang pernah kita tinggali. Kita adalah warga yang baik." "Ya, tapi kita harus memainkan lakon di sini," keluh Topaz. "Lakon seperti apa?" Tanya Dami, semakin tidak mengerti. "Aku memilih samaran menjadi seorang dokter gigi," jawab Jadrian, ia menunjukkan sebuah kartu yang persis dengan yang didapatkan oleh Dami di ruang pendaftaran. "Aku lulus tes dan mendapatkan sertifikat sebagai dokter gigi." "Oh ya ampun, syukurlah," Dami merasa senang mendengarnya. Ia tahu jika Jadrian bisa melakukan apa saja. Dan selama mereka hidup sebagai Vampir, Jadrian sudah mempelajari banyak hal. Jadrian bahkan pernah secara langsung bekerja dengan seorang dokter gigi ketika mereka sedang menyamar untuk tinggal di sebuah kota. Dan menurut Dami, hanya Jadrian satu-satunya Vampir yang bisa menyamar sebagai manusia hingga sulit dibedakan. Seandainya Vampir bisa menyamarkan suhu tubuh mereka yang sedingin es, tentu penyamaran Jadrian akan sempurna. "Dan kau Topaz?" Tanya Dami. "Ah, dia..." Jadrian menyengir lemah. "Aku tidak jadi apa-apa. Hanya asisten si dokter gigi." Jawab Topaz. "Kau harus menjalani penyamaranmu dengan baik, Topaz," pinta Jadrian. "Akan kulakukan asal aku bisa mendapatkan stok di sini." Dengus Topaz, tampak ogah-ogahan. "Kusarankan kau untuk melamar menjadi detektif di sini," usul Jadrian. "Kurasa mereka akan menerimamu jika kau menunjukkan kemampuanmu." "Ah, malas sekali..." Keluh Topaz. "Aku lebih suka bersembunyi daripada terlihat." Ujarnya. "Dan kita sudah menghabiskan emas kita demi tinggal di sini. Biaya pendaftaran, biaya tutup mulut..." "Kontrak kerahasiaan," koreksi Jadrian. Namun Topaz mengabaikannya saja dan terus melanjutkan. "Kita juga harus membeli rumah, membayar sekolah Dami dan juga tempat praktik dokter gigi. Semua uang yang kita dapatkan berpuluh-puluh tahun nyaris habis demi kota sinting ini." "Aku akan bersekolah?" Tanya Dami segera. Jadrian mengangguk pada Dami. "Ya, Dami. Aku sudah mendaftarkanmu ke salah satu sekolah terbaik di Burdenjam." Dami memandang Jadrian dengan sorot penuh cinta. "Kau adalah kakak terbaik, Jade!" perasaan Dami berbunga-bunga. Ia memeluk Jadrian dan Jadrian tertawa, membalas pelukannya. Suhu tubuh sang Vampir yang luar biasa dingin malah terasa menenangkan baginya. Aku akan bersekolah. Aku akan hidup sebagai manusia. Ini sempurna! Begitulah harapan Dami.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD