"Berkemaslah, kita akan pindah siang ini."
Jadrian mengucapkan kalimat itu pagi-pagi. Matanya berbinar keemasan mengalahkan sinar matahari pagi, ketampanan yang janggal dan memukau dari seorang Vampir, dan anehnya si Vampir tampak biasa-biasa saja berada di bawah siraman sinar matahari yang masuk ke dalam rumah. Dan ini sebenarnya tidak biasa karena Vampir sangat membenci sinar matahari. Sebuah fakta jika sinar matahari dapat menurunkan energi dan kepekaan kemampuan Vampir.
Tapi Jadrian memang suka berbuat seenaknya, tidak peduli jika ia seorang Vampir.
Dami mengerutkan dahi. Ia meletakkan garpu kembali ke piring, sementara irisan wortel masih tertancap di ujung-ujung garpu, belum sempat masuk ke dalam mulutnya.
"Tiba-tiba...?" Tanya Dami keheranan dan tentu saja terkejut. Dia baru saja tinggal di rumah ini. Rumah yang diidam-idamkan oleh Jadrian untuk tinggal, di atas tanah tempat tinggal mereka dulu di masa lalu. Dan memang, tempat ini terasa nyaman dan damai.
"Ya," Jadrian tersenyum lembut.
Dami mengerjapkan mata. Ia sering terpana setiap melihat senyum Jadrian. Atau mungkin karena sorot mata sang Vampir yang lumrah dalam menghipnotis makhluk apa saja. Jadi begini rasanya ditatap oleh seorang Vampir.
Apakah dulu dia sememukau itu ketika menjadi Vampir?
Tapi dulu dia hanyalah seorang Vampir kecil. Mungkin Vampir kecil tidak begitu menarik bagi eksistensi mana pun.
"Tapi... Kita akan pindah kemana?" Tanya Dami. Ia ingat jika mereka sering tinggal di kota-kota dan mereka perlu bersembunyi agar manusia tidak terganggu dengan kehadiran mereka.
Jadrian berdiri. "Tunggu sebentar," ujarnya dan sudah berlalu pergi keluar dari dapur.
Dami kembali melanjutkan sarapannya. Ia mengunyah irisan wortel dengan tidak bernapsu. Begitu ia protes tentang niat Jadrian yang akan membuatnya menjadi segemuk babi, pagi ini ia disodorkan sarapan sehat dengan menu sayuran. Si Vampir berkata jika ia tidak akan gemuk dengan memakan menu sarapan ini.
Tapi sayuran... Ini keterlaluan.
Jadrian kembali ke dapur. Ia duduk di hadapan Dami lalu menyodorkan sebuah map.
"Apa ini?" Tanya Dami, ragu-ragu ia menerima map merah tersebut.
"Ini adalah rencana kepindahan kita. Kita akan mendaftar untuk masuk ke sebuah kota." Jelas Jadrian.
"Mendaftar?" Ulang Dami.
Jadrian mengangguk.
"Aku sudah memilih kota paling aman, namun agak sedikit sulit untuk dimasuki oleh eksistensi bukan manusia. Tapi tenang saja, aku dan Topaz akan ikut denganmu memasuki kota itu. Nama kotanya Burdenjam. Cukup terkenal dengan keamanannya yang ketat."
Dahi Dami berkerut-kerut mendengarnya. "Hmm, benarkah?"
Aku butuh gula, desah Dami dalam hati, ia tidak mampu fokus karena merasa lapar, tidak puas dengan sarapan sayur-mayur. Ia melirik Jadrian yang langsung memberikannya senyuman geli.
"Kau mau minuman manis?" Tanya Jadrian, tepat membaca pikiran Dami, nada suara sang Vampir seperti akan menjebak Dami.
"Ya," jawab Dami, menyerah.
"Dan aku baru saja mempelajari resep kue panggang manis. Mau kubuatkan sekarang?" Tawar Jadrian, melancarkan serangan mematikan yang membuat air liur Dami serasa akan menetes.
"Oh, jika kau tidak keberatan, Jade..." Kata Dami yang langsung menyingkirkan piring sarapan sayurannya.
Jadrian mendengus geli. "Tapi kau bilang tidak ingin menjadi segemuk babi."
"Kau tidak akan suka jika aku segemuk babi?" Tanya Dami.
"Omong kosong, aku akan selalu menyukai adikku tidak peduli jika segemuk babi."
"Kau berbohong."
"Tidak akan."
"Nah, buktikan."
Dami memandang Jadrian penuh cinta. Ini kakakku. Batinnya bahagia. Kakakku, meski seorang Vampir... Dia adalah kakak yang terbaik.
"Baiklah." Jadrian tersenyum riang. "Aku akan mulai memanggang. Kau boleh ke atas dan mempelajari isinya, lalu mengisi formulir yang ada. Tapi jika kau belum cukup siap, kita bisa berangkat besok." Jelas Jadrian yang sudah berdiri, lalu mengambil celemek untuk dikenakan. Sang Vampir benar-benar siap menunjukkan kebolehannya dalam memanggang kue.
"Akan kupelajari segera," kata Dami yang sangat menginginkan kue panggang buatan Jadrian.
"Tapi aku tidak suka kayu manis, dan..." pesan Dami.
"Kau suka taburan meses cokelat daripada selai, ya, aku tahu," sela Jadrian segera. "Dan potongan buah stroberi. Aku tahu, Dami."
Dami mengangguk senang, ia segera membawa map lalu pergi menuju ke kamarnya di atas.
Dami melemparkan dirinya ke atas ranjang. Ia tidak sabar memakan kue panggang sambil menikmati cokelat hangat. Pastinya sungguh lezat dan membuat harinya terasa indah.
Ia cekikikan sendiri.
Jadrian adalah Vampir tapi sangat jago memasak, itu adalah sebuah fakta baru.
Kedengaran lucu ya. Apabila seluruh dunia tahu ada seorang Vampir dapat melakukan hal tersebut, mereka tentu tidak akan percaya. Jadrian memang bisa melakukan apa saja.
Jadrian, kakak laki-lakiku.
Seketika senyum bahagia Dami perlahan menghilang.
Ia terdiam memandang langit-langit kamarnya, mengamati pantulan cahaya sinar matahari yang menari-nari di plafon. Ia menyadari sebuah fakta.
Dia telah berubah menjadi manusia.
Dan dia tidak ingat apa pun.
Dia tidak ingat segala hal sebelum hari ia bertemu dengan Jadrian. Dia hanya mengingat kejadian di Stasiun Varlas yang gelap, lalu sosok gelap menangkap tubuhnya, berikutnya ingatannya gelap. Tapi segalanya cukup aneh karena ia sangat tahu jika dia adalah manusia. Dia tahu makanan kesukaannya, dia tahu bagaimana bersikap sebagai manusia seolah telah dididik dengan baik.
Dami menghela nafas. Bukannya membaca isi map seperti janjinya pada Jadrian, ia masih tetap berbaring di atas ranjang, kini memejamkan mata. Ia kadang melakukan hal ini, melakukan ritual uji coba untuk mencoba mengingat hal apa saja tentang kehidupannya sebagai manusia.
Satu detik, dua detik... Hingga bermenit-menit kemudian. Seberapa keras ia berkonsentrasi dan mencoba, segalanya tetap gelap dan kosong. Malah ia mengingat masa-masa membahagiakan ketika ia masihlah seorang vampir kecil.
Ia dan Jadrian telah melalui banyak hal. Mungkin sudah 100 tahun lamanya. Ia tidak bisa membedakan kenangan mana yang lebih dulu dan tidak. Terlalu bias. Dan satu pun tidak ada ingatan tentang kehidupannya selama 10 tahun menjadi manusia.
Aneh.
"Kau tidak mempelajari isinya?"
Dami terlonjak. Ia bangkit duduk dan mengamati sekitarnya. Namun tidak ada siapa-siapa. Ia segera beranjak berdiri lalu mendekati jendela.
Di seberang jendela, dalam rimbunnya dedaunan pohon pterocarpus, ada sepasang mata biru tua yang mengamati Dami.
"Topaz!" Dami tak bisa menahan kegembiraannya ketika akhirnya ia dapat bertemu dengan Topaz. Setelah sekian hari Topaz menghindarinya, kini sahabat Vampir Jadrian memunculkan diri dengan duduk-duduk di dahan pohon pterocarpus yang rimbun, cukup tersembunyi dari sinar matahari.
"Halo, gadis cilik, ups..." Kata Topaz, suara baritonnya datar namun anehnya kedengaran jenaka. "Sepertinya aku tidak bisa lagi memanggilmu gadis cilik."
Dami tersenyum kecil. "Kau kecewa dengan perubahanku?"
"Siapa bilang?" Tanya Topaz balik.
"Kau menghindariku..."
"Aha... Aku hanya sedang sibuk saja..." Kilah Topaz. "Jadi kapan kau mempelajari isi map itu?"
"Apa kau muncul untuk memastikan aku membuka map?" Tanya Dami curiga.
"Tentu saja. Sekarang kau sudah menjadi gadis tukang tidur. Kuperhatikan sebentar-sebentar kau tertidur."
"Tidur itu kebutuhan manusia," Dami membela diri namun wajahnya sudah merona karena ketahuan suka mengantuk. "Kau kan pernah jadi manusia, kau pasti ingat kan?"
"Hmm," Topaz mengangkat bahu. "Sudah 67 tahun berlalu. Aku tidak ingat persis. Tapi pastinya aku bukan manusia tukang tidur ketika di usiamu. Aku adalah orang yang sangat produktif."
"Yang benar?" Tanya Dami tidak percaya.
"Oh ya, itu faktanya," Topaz mengangguk.
"Apakah itu karena kau bercita-cita menjadi seorang polisi detektif?" Tebak Dami. Ia ingat jika Topaz sebelumnya adalah polisi detektif, namun sayangnya berakhir terjerat kasus berbahaya yang membuatnya berakhir menjadi Vampir.
"Yeah..." Topaz terlihat terkejut dengan tebakan Dami.
"Kenapa kau bercita-cita menjadi seorang polisi detektif?" Tanya Dami.
Topaz terdiam sebentar, mata biru tuanya memandang Dami, tak berkedip.
"Karena menurutku aku akan menjadi seorang detektif yang hebat," jawab Topaz. "Nah, sekarang isi formulirnya."
Dami belum sempat mengatakan apa-apa ketika Topaz meninggalkan dahan pohon. Namun sosoknya tak muncul lagi di bawah matahari. Sang Vampir menghilang dengan cepat dalam bayang-bayang.
Dami agak kecewa karena Topaz meninggalkannya begitu saja. Ia berbalik kembali ke ranjangnya, kini benar-benar membuka map. Ia membaca sebentar profil kota pada selebaran, lalu mengisi formulirnya.
Baru sebentar mengisi, ia menyadari jika pendaftaran ini terbuka untuk manusia. Lalu bagaimana dengan Jadrian dan Topaz?
Jadrian tidak akan meninggalkan dirinya sendirian kan?
Kekhawatiran Dami sirna ketika aroma kue panggang merambat masuk ke dalam kamarnya. Ia tersenyum riang, segera menuntaskan mengisi formulir sebelum bergegas ke dapur.