Bab 1 - Penawaran Gelap

1262 Words
Cerita ini dibuat semata-mata untuk tujuan fiksi dan hiburan. Penulis tidak bermaksud untuk mendorong atau mempromosikan perilaku apa pun yang digambarkan di dalamnya. Kebijaksanaan pembaca sangat dianjurkan. Sebagai bentuk dukungan untuk penulis, berikan vote di setiap bab nya. . . . Kedua tangannya terus saling meremas dengan gelisah di balik meja besar itu, berusaha menyembunyikan getaran hebat yang menjalar di jemarinya. Tessa terus menunduk, menunggu sang pimpinan tiba di ruangan yang terasa begitu dingin dan mengintimidasi. Baru beberapa menit berlalu, pintu terbuka dan atasannya melangkah masuk dengan wibawa yang menyesakkan d**a. Ia mengenakan jas hitam mewah yang tampak sangat mahal-dia adalah Edward Pattinson. Dengan gerakan tenang namun dominan, Edward duduk di kursi kebesarannya, lalu dengan isyarat dagu yang dingin, ia mempersilakan karyawannya untuk menyampaikan tujuan kedatangannya. "Saya... Tessa Steinfeld, dari divisi marketing, Pak." Tessa memulai dengan suara yang hampir tercekat di tenggorokan. "Tujuan saya datang ingin meminjam uang di perusahaan, Pak," lanjutnya cepat, seolah takut keberaniannya menguap jika ia berhenti bernapas. Ia memperkenalkan diri dengan sadar diri bahwa ia hanyalah bagian dari Tim Marketing 3, posisi yang jelas membuat wajahnya sulit dikenali oleh atasannya sendiri. Edward menyipitkan mata, menatap Tessa seolah sedang menilai barang dagangan. "Sudah berapa lama kau bekerja di sini?" "Satu tahun," jawab Tessa lirih. "Kau baru bekerja satu tahun untuk perusahaan dan sudah berani meminjam uang?" Edward melontarkan kalimat itu dengan nada meremehkan, membuat harga diri Tessa seakan jatuh ke lantai yang dingin. "Saya mohon, Pak... Ibu saya sakit keras. Setiap minggu beliau harus melakukan cuci darah dan saya benar-benar sangat membutuhkan uang saat ini," ucap Tessa dengan nada memelas. Matanya mulai berkaca-kaca, membayangkan kondisi ibunya yang kian melemah. Edward bersandar pada kursi kulitnya, mengetuk-ngetukkan jari di atas meja. "Berapa yang ingin kau pinjam dan bagaimana kau akan membayarnya?" "Satu juta dolar, Pak," jawab Tessa dengan suara gemetar namun tegas. "Perusahaan bisa memotong uang gaji saya setiap bulannya. Meskipun saya harus bekerja di Winter Enterprise seumur hidup saya, saya akan lakukan, Pak. Saya janji." Tawa hambar keluar dari bibir Edward. "Apa kau sudah gila? Bekerja baru satu tahun dan sudah ingin meminjam uang sebesar itu? Kau pikir kinerjamu sudah sebagus apa di perusahaan ini? Kau bahkan hanya berada di tim marketing 3," Edward menggelengkan kepalanya berkali-kali, tidak habis pikir dengan permintaan yang dianggapnya tidak masuk akal itu. "Saya mohon, Pak, tolong bantu saya." Tessa menyatukan kedua tangannya, memohon dengan wajah sendu yang dipenuhi keputusasaan yang amat dalam. Seketika, suasana ruangan menjadi hening. Edward menatapnya dengan intens, membiarkan matanya menjelajahi setiap inci wajah cantik dan muda di hadapannya. Pikirannya mulai melayang. Jika dilihat dengan saksama, Tessa memiliki kecantikan yang murni-mungkin karena ia tersembunyi di Tim Marketing 3 yang jarang berinteraksi dengannya, apalagi ikut rapat penting, kecantikannya jadi terabaikan. Perlahan, sebuah niat kotor dan licik terlintas dalam benak Edward. "Dari pada kau bekerja seumur hidup untuk perusahaan ini, bagaimana kalau kau bekerja untukku saja secara pribadi?" tawar Edward. Senyum manisnya kini mengembang, namun tersirat makna yang misterius. "Aku akan mentransfer setiap bulan untukmu sepuluh ribu dolar. Bagaimana?" Tessa tertegun. Jantungnya berdegup tidak keruan mendengar angka yang begitu besar. "Pekerjaan apa, Pak, yang harus saya lakukan untuk Pak Edward?" Edward bangkit dari kursinya, merapikan jasnya dengan santai. "Nanti kuberitahu pekerjaan itu apa. Kalau kau berniat dengan pekerjaan yang kutawarkan, temui saya di kafe yang ku tentukan malam ini. Saya masih ada meeting penting sekarang." Edward kemudian mengeluarkan kartu namanya dan meletakkannya di atas meja. Kartu itu tergeletak di sana, menunjukkan nama dan nomor telepon pribadinya yang prestisius. Dengan hati yang bimbang dan gemetar, Tessa mengambil kartu nama itu. Ia memandangi punggung atasannya yang melangkah keluar ruangan, meninggalkan dirinya yang membeku di sana dengan pikiran yang berhamburan ke mana-mana-antara keselamatan ibunya atau harga diri yang mungkin akan dipertaruhkan. *** Satu jam sudah Tessa menunggu di kafe yang di pilih Edward. Ia hampir menyerah dan beranjak pergi karena lelah menunggu, namun seketika pria tampan berkacamata hitam itu muncul. Edward datang dengan pakaian kasual yang tetap memancarkan kemewahan. Ia melepaskan kacamata hitamnya saat duduk tepat di hadapan Tessa. "Kau pasti sudah menunggu lama. Saya harus makan malam terlebih dahulu dengan tunangan saya," ujarnya datar, seolah nyawa yang dipertaruhkan Tessa hanyalah gangguan kecil di sela jadwal kencannya. Tessa menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. "Saya tertarik dengan tawaran Pak Edward. Dan... apa yang harus saya lakukan untuk Pak Edward?" Edward tersenyum dingin. "Kau sangat lugas sekali. Baiklah... aku akan mengirimmu uang setiap bulan, cukup dengan kau mau melayaniku, kapan pun aku butuhkan." Tessa tertegun. Jantungnya mencelos. Ia masih terlalu naif untuk mencerna sepenuhnya maksud pria di depannya. "Maksud dari melayani apa ya, Pak?" Edward hampir meledakkan tawa. Ia menatap Tessa, bertanya-tanya apakah wanita ini benar-benar polos atau hanya aktris yang sangat hebat. "Melayani hasratku. Bagaimana?" Tessa tersedak udaranya sendiri, ia menelan saliva dengan susah payah mendengar kalimat vulgar itu keluar dari bibir atasannya. Edward bisa melihat jelas guratan kebimbangan yang hebat dalam diri Tessa. Ia penasaran, apakah wanita ini akan lari atau menyerah pada keadaan. Bagi Edward, ada sesuatu yang berbeda-kepolosan Tessa yang nyata membuatnya merasa tertantang. "Kenapa kau diam saja?" tanya Edward memecah keheningan "Saya... saya butuh waktu, Pak, untuk memikirkannya." "CK! Kau pikir kau siapa, hah? Kenapa saya harus menunggu jawabanmu?" sentak Edward sarkas. Ucapan itu telak membuat Tessa menundukkan kepalanya dalam-dalam, merasa sangat kerdil. "Baiklah, saya beri waktu kau sampai besok pagi. Berikan jawaban secepatnya. Kalau kau terlambat, akan ada orang lain yang menerima pekerjaan ini." Edward berdiri dengan wajah kesal. Ia benci menunggu, apalagi untuk seorang bawahan. Namun, bayangan wajah polos Tessa terus mengusik rasa penasarannya. *** Keesokan paginya, kantor tampak sibuk seperti biasa. Namun bagi Tessa, dunia seolah berputar lebih lambat. Ia duduk di mejanya, berulangkali mencuri pandang ke arah lift, menunggu kedatangan sang CEO yang belum juga muncul hingga pukul sepuluh siang. Semalaman ia tidak bisa memejamkan mata, jiwanya berperang hebat antara mempertahankan kehormatan atau menyelamatkan ibunya. "Tess... itu Pak Edward sudah datang. Katanya kau ingin menemuinya? Dia sudah ada di lobby menuju ruangannya," seru Pingky, teman dekatnya, membuyarkan lamunan Tessa. Tessa melihatnya. Edward berjalan didampingi asisten pribadinya menuju lift lantai 9-ruangan CEO berada. Dengan langkah teratur agar tidak menimbulkan kecurigaan rekan kerjanya, Tessa segera menyusul ke atas. "Kau sudah putuskan?" tanya Edward langsung saat Tessa memasuki ruangannya. Pria itu duduk tenang di kursi kebanggaannya sembari memeriksa dokumen, tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. "Iya sudah. Saya mau menerima tawaran Pak Edward," jawab Tessa mantap, meski hatinya remuk. "Baguslah. Nanti kuhubungi, dan kau harus siap dalam keadaan apa pun itu," ucapnya dingin. Tessa hanya bisa mengangguk pasrah. "Sebelum kau pergi, ada yang ingin kusampaikan." Edward akhirnya menatap Tessa yang masih berdiri kaku. "Selama berhubungan denganku, kau tidak diperbolehkan berhubungan dengan pria manapun. Saya tidak mau sampai tertular penyakit." Kalimat itu bagai tamparan keras bagi Tessa. Ia mengangguk pelan sambil menelan ludah yang terasa pahit. "Bagaimana dengan surat kontraknya, Pak?" tanya Tessa, mencoba mencari perlindungan hukum bagi dirinya sendiri. "Kau cukup jeli juga. Akan kubuatkan surat kontrak." Edward berdiri, menaruh dokumennya, lalu melangkah menghampiri Tessa. Jarak mereka kini begitu dekat. "Kalau boleh... saya ingin bekerja dengan Pak Edward sampai Ibu saya sembuh dari sakitnya," ucap Tessa, mencoba bernegosiasi di tengah ketidakberdayaannya. Edward menatapnya dalam, sebuah seringai muncul. "Kau ini berani sekali ya bernegosiasi denganku. Ya sudah, iya... kontrak kita selesai sampai ibumu sembuh dari sakitnya." Edward menyentuh bibir Tessa lembut dengan jemarinya, sebuah sentuhan yang membuat Tessa membeku. "Terima kasih, Pak. Saya pamit keluar." ucapnya. Tessa mundur selangkah, lalu berbalik dan nyaris berlari keluar dari ruangan dingin itu, meninggalkan Edward yang menatap punggungnya dengan senyum menawan yang penuh rencana. Bantu penulis dengan memberi dukungan vote dan komentar di setiap bab nya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD