Suasana klub malam itu hingar bingar, namun bagi Tessa, dentuman musik di sana terasa seperti vonis mati yang tertunda. Baru beberapa jam yang lalu ia menandatangani kontrak itu, dan kini ia sudah berada di sini-terjebak dalam aroma alkohol dan parfum mahal Edward yang menyesakkan. Lima ribu dolar sebagai uang muka sudah masuk ke rekeningnya, harga yang cukup untuk membayar napas ibunya, namun harus dibayar dengan harga dirinya.
Edward menyesap wine-nya, matanya yang tajam melirik Tessa yang duduk kaku di sampingnya.
"Kau sudah meminum obat yang kuberikan?" tanya Edward.
Suaranya rendah, nyaris tenggelam dalam musik, namun terdengar sangat mutlak di telinga Tessa. Ia memastikan perlindungan itu ada sebelum investasinya ia sentuh.
"Iya... sudah, Pak," jawab Tessa lirih, jemarinya meremas pinggiran gaun yang terasa terlalu pendek baginya.
Edward terkekeh. Ia mendekat, jemarinya yang dingin menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Tessa. Sentuhan itu membuat Tessa bergidik.
"Bagus. Aku tidak suka kejutan yang merepotkan."
Edward menyodorkan gelas kristal berisi cairan merah pekat. "Minumlah. Kau tampak seperti orang yang akan pingsan."
"Aku tidak minum alkohol, Pak," tolak Tessa halus.
Tawa Edward pecah, kali ini lebih sinis. "Di kota yang busuk ini, kau mengaku tidak pernah menyentuh alkohol? Apa kau sedang mencoba bermain peran sebagai malaikat di depanku, Tessa?"
"Aku tidak berbohong. Hidupku hanya tentang bekerja dan rumah sakit. Aku tidak punya waktu untuk hal semacam ini," ucap Tessa dengan keberanian yang tersisa.
Edward meletakkan gelasnya dengan dentingan keras. Ia mencengkeram dagu Tessa, memaksa wanita itu menatap langsung ke dalam manik matanya yang kelam.
"Tatap aku, Tessa. Aku tidak membayar ribuan dolar untuk membawa manekin diam ke tempat ini," bisik Edward tajam.
"Dan satu hal lagi. Saat kita berdua-terutama di luar kantor-buang panggilan 'Pak' itu. Usiaku baru dua puluh delapan, aku belum setua itu untuk kau jadikan ayah angkat."
Tessa hanya bisa mengangguk pasrah, terhipnotis oleh tatapan pria yang kini memegang kendali atas hidupnya.
.
.
.
Keheningan di dalam mobil mewah itu terasa lebih mencekam daripada kebisingan di klub tadi. Di bawah temaram lampu jalanan yang masuk melalui celah jendela, Edward bergerak. Tanpa peringatan, ia menarik pinggang Tessa, menyeret tubuh mungil itu hingga merapat pada dadanya yang bidang.
Napas Edward yang beraroma red wine menerpa wajah Tessa. Jantung Tessa berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari tulang rusuknya.
"Kau tegang sekali, Tessa. Apa kau takut padaku?" Edward menggesekkan hidungnya ke hidung Tessa, sebuah gestur intim yang mematikan.
"A-aku hanya belum terbiasa..."
Belum sempat Tessa menyelesaikan kalimatnya, bibir Edward sudah membungkamnya. Ciuman itu tidak lembut; itu adalah sebuah klaim kepemilikan. Edward melumat bibir Tessa dengan tuntutan yang menuntut balasan, namun Tessa hanya membeku, matanya terbelalak menatap partisi yang memisahkan mereka dengan supir di depan.
Edward melepaskan ciumannya sejenak, napasnya memburu. "Apa kau bahkan tidak tahu cara membalas ciuman pria?"
Tessa menggeleng pelan, wajahnya memanas karena malu. "Aku... aku belum pernah melakukannya."
Edward mendengus, namun ada kilat kepuasan di matanya. "Luar biasa. Jadi aku mendapatkan sesuatu yang benar-benar murni?" Ia menyeringai tipis, jemarinya mulai menjelajahi tengkuk Tessa.
"Baiklah. Aku akan mengajarimu banyak hal malam ini. Pastikan kau adalah murid yang cepat tanggap."
Edward kembali menyerang bibir Tessa, kali ini lebih dalam dan menuntut. Saat bibir pria itu turun, menyesap kulit sensitif di lehernya, sebuah erangan tertahan lolos dari bibir Tessa.
"Mmph... Edward..."
"Sebut namaku lagi," perintah Edward di sela kecupannya.
"Biarkan aku mendengar seberapa mahal harga suaramu malam ini."
***
Mobil berhenti dengan mulus di depan lobi penthouse mewah. Tanpa sepatah kata pun, Edward keluar dan menarik tangan Tessa, menuntunnya masuk ke dalam lift pribadi yang langsung menuju lantai teratas. Keheningan di dalam lift itu terasa lebih mencekik daripada di dalam mobil tadi. Tessa bisa melihat pantulan dirinya di dinding lift yang mengilap; ia tampak seperti domba yang pasrah di samping serigala yang lapar.
Begitu pintu lift terbuka, mereka disambut oleh ruang tamu luas dengan pemandangan lampu kota yang berkilauan di balik dinding kaca raksasa.
"Masuklah," ujar Edward sambil melepaskan jasnya dan melemparkannya sembarang ke atas sofa kulit.
"Anggap saja rumahmu sendiri, meski aku tahu kau tidak akan pernah bisa memiliki tempat seperti ini."
Tessa berdiri mematung di tengah ruangan. "Apa... apa yang harus kulakukan sekarang?"
Edward berbalik, perlahan ia berjalan mendekati Tessa sambil membuka dua kancing teratas kemejanya. "Pertanyaan yang bodoh, Tessa. Kau tahu persis untuk apa kau ada di sini."
Ia berhenti tepat di depan Tessa, membuat wanita itu harus mendongak. Edward mengulurkan tangan, menelusuri garis rahang Tessa dengan ibu jarinya.
"Kau harum sekali. Harum ketakutan... dan kepolosan. Kombinasi yang memabukkan."
"Aku hanya... aku butuh waktu sebentar," bisik Tessa, suaranya bergetar.
Edward tertawa rendah, suara baritonnya menggema di ruangan yang sepi itu. "Waktu adalah kemewahan yang sudah kubeli darimu, Tessa. Lima ribu dolar itu bukan hanya untuk menemaniku minum di klub."
Tiba-tiba, Edward menyambar pinggang Tessa dan mengangkatnya, mendudukkan wanita itu di atas meja marmer dapur yang dingin. Tessa tersentak, tangannya refleks bertumpu pada bahu kokoh Edward.
"Edward, tolong... pelan-pelan," rintih Tessa saat wajah pria itu kembali memburu lehernya.
"Aku sudah cukup sabar di mobil tadi," bisik Edward di telinga Tessa, suaranya serak dan penuh gairah.
Ia menatap mata Tessa dengan intensitas yang seolah bisa membakar kulit. "Sekarang, tunjukkan padaku bahwa uangku tidak terbuang sia-sia. Buka kancing kemejaku."
Tangan Tessa gemetar hebat saat menyentuh kancing kemeja Edward. Setiap detak jantungnya terasa seperti palu yang menghantam d**a. Saat kancing pertama terbuka, ia bisa merasakan panas tubuh Edward yang menjalar ke ujung jarinya.
"Lebih cepat, Tessa," perintah Edward, tangannya kini mulai menarik ritsleting gaun Tessa di bagian belakang.
"Atau aku yang akan merobek gaun mahal ini dari tubuhmu."
Tessa memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam pusaran emosi yang tidak ia mengerti. Ini adalah pilihannya. Demi ibunya, demi nyawa orang yang ia sayangi, ia harus menyerahkan segalanya malam ini-kepada pria asing yang kini mulai menguasai seluruh indranya.