Seorang pengacara duduk di hadapan keluarga Tanaka. Tanaka sudah banyak bercerita pada pengacaranya tentang semua hal mengenai kehidupannya. Begitupun tentang wasiat yang ingin dia sampaikan kepada istri dan anak-anaknya.
Yura datang menyalami pria yang bernama Darren itu, dengan wajah sendu. Darren tahu, Yura sangat terpukul akan keputusan Tanaka untuk menyampaikan wasiat. Gadis inilah yang sering dibicarakan oleh Tanaka tentang kebaikannya. Yura duduk di dekat Shantika dan berupaya menguatkan dirinya. Yang dia ingin hanyalah kesehatan sang ayah pulih kembali.
"Baik, saya akan menyampaikan wasiat yang telah dikatakan oleh Pak Tanaka. Bahwasanya, salah satu anaknya harus menikah dengan lelaki yang tinggal di rumah ini, yaitu Arik."
"Apa? Wasiat apa itu? Nggak!" sahut Shantika dengan wajah kecut.
Siang tadi dia sudah merengek pada ibunya dan Neni pun menyanggupi untuk menolak. Neni sudah berpikir keras bagaimana menolak perintah suaminya itu. Ternyata, itu adalah sebuah wasiat serius yang sudah ditulis di atas kertas bermaterai.
"Pak Darren, bagaimana kalau wasiat itu tidak kami laksanakan?" tanya Neni perlahan.
"Sesuai dengan surat wasiat yang dibuat oleh Pak Tanaka, jika ada yang memenuhi wasiatnya, maka hak warisan akan jatuh kepada putri-putrinya, tetapi jika tidak, maka seluruh harta kekayaan akan disumbangkan seluruhnya ke panti asuhan yang sering didatangi oleh Pak Tanaka."
Neni dan Shantika terbelalak mendengarnya.
"Gila apa, Ma? Masa semua harta mau disumbangkan ke panti asuhan? Terus, hidup kita gimana? Masa kita jatuh miskin karena semua harta masuk ke panti asuhan?" keluh Shantika berdesis di telinga Neni.
Kepala Neni langsung berdenyut mendengar ucapan pengacara. Sementara, Tanaka sendiri tampak diam berbaring di tempat tidur yang sudah dipindahkan ke ruang tengah di mana mereka sedang berkumpul.
"Mama juga lagi pikirkan caranya gimana," sungut Neni, membalas bisikan Shantika.
Hening. Neni dan Shantika tampak gusar.
"Mama, pokoknya aku nggak mau," desis Shantika di telinga Neni.
Neni tahu apa yang Shantika maksud. Neni menarik napas, meyakinkan diri bahwa pernikahan wasiat yang menurutnya konyol itu tak akan pernah terjadi pada anak kandungnya, Shantika. Neni melirik ke Yura yang sedang menunduk pasrah. Dia menghela napas, menyunggingkan seringai yang tidak disadari oleh semua orang di aitu. Lalu, Neni menatap yakin ke arah pengacara.
"Pak, tadi dikatakan bahwa salah satu anak kami harus menikah dengan ... Arik. Putri kami ada dua. Apa bisa salah satu di antara kedua putri kami yang melaksanakan wasiat itu?" tanya Neni.
Shantika melirik ke ibunya dan menangkal maksud Neni. Dia lalu melirik ke arah Yura yang sedikit mengangkat kepalanya. Yura juga menangkap maksud ibu tirinya.
"Bisa saja, di surat ini Pak Tanaka bilang salah satu dari anak-anaknya. Berarti boleh memilih salah satu dari keduanya."
Darren menyunggingkan senyum. Apa yang diharapkan oleh Tanaka mungkin akan terjadi. Harapan Tanaka adalah putri kandungnya yang patuh akan mendapatkan jalan terbaik dalam hidupnya.
Neni dan Shantika agaknya tersenyum lega. Punggung mereka agak nyaman sekarang ketimbang tadi terasa tegang.
"Baik, kalo begitu, Yura yang akan menikah dengan Arik," ucap Neni dengan senyum seringai menatap anak tirinya.
Yura sedikit mengangkat kepala, tapi kemudian menunduk lagi. Tanaka yang mendengar itu semua, menatap Yura dengan lembut. Ada binar di sorot kedua matanya.
"Yura mau?" tanya Tanaka lemah.
Yura menghela napas. Dia tidak pernah mengatakan tidak kepada perintah ayahnya.
"Jika Papa berkehendak, maka Yura sanggup menjalaninya," sahut Yura tanpa terlihat keterpaksaan dalam raut wajahnya.
Tanaka bernapas lega. Darren pun turut lega dengan kesanggupan Yura. Kelegaan itu bukan hanya tampak dari wajah Tanaka, tapi juga terlihat jelas di wajah Neni dan Shantika. Shantika bahkan tertawa mengejek.
"Konyol, mau-maunya dia," desis Shantika di telinga Neni.
Neni melotot ke arah Shantika agar dia menjaga lisan sementara masih ada Tanaka dan Darren. Dia sangat lega, harta warisan masih berpihak pada anak-anaknya, bukan disumbangkan sia-sia ke panti asuhan.
***
Malam itu, Yura membasuh kaki Tanaka dengan air hangat. Dia sendiri yang selalu melakukannya saat Tanaka hendak tidur.
"Yura, maafkan Papa, Nak. Mungkin, Papa sudah tidak bisa lagi menjaga kamu."
Yura melontarkan senyum getir.
"Papa ini ngomong apa," gelaknya getir, menahan dua tetes air mata yang mendesak keluar dari kedua matanya.
"Yura, Papa harap kamu senang dengan pernikahan kamu. Yakinlah, Arik akan menjagamu dengan baik. Dia sangat bisa menggantikan Papa. Kalau besok Papa meninggal, Yura harus segera menikah dengan Arik."
Yura hanya diam, meneteskan air mata. Bagaimana tidak sedih saat melihat sang ayah semakin tidak berdaya dan mengatakan kematiannya pada Yura. Yura menghapus air matanya sembari mengeringkan kaki Tanaka. Tanaka sudah tertidur saat itu. Yura menatap wajah sang ayah dari dekat. Duduk di atas karpet dengan kepala di tepian tempat tidur. Ketika tengah malam, dia sampai tertidur di samping Tanaka dengan posisi yang sama.
***
Suara denting jam membangunkan Yura pagi itu. Badannya sakit semua karena tidur dalam keadaan duduk di samping Tanaka berbaring.
"Astaga, aku ketiduran sampai pagi. Papa juga tidurnya nyenyak sekali."
Yura tersenyum melihat sang ayah. Dia memegang tangan Tanaka. Namun, wajahnya berubah saat merasakan tangan itu sangat dingin.
"P-papa," panggilnya.
Yura meletakkan tangannya di kaki dan sekujur tubuh Tanaka. Semua dingin, juga tidak ada hembusan napas dari hidung Tanaka. Detak jantung Yura berdegup kencang.
"Papa! Papa!" panggilnya berkali-kali seraya menggoncangkan tubuh Tanaka.
Namun, tidak ada gerakan sama sekali dari tubuh yang telah terbujur kaku itu. Yura segera berlari keluar dan berteriak memanggil ibu tirinya.
"Mama! Mama! Papa–"
Suara Yura bagai tercekat, tidak sanggup mengatakan apa yang telah terjadi. Neni segera masuk ke kamar Tanaka. Sejak sakit, Neni malah jarang tidur satu kamar dengan Tanaka, karena Tanaka ingin Yura yang merawatnya.
"Panggil dokter!" suruh Neni pada seorang asisten rumah tangga.
Dalam waktu beberapa menit dokter keluarga datang dan memeriksa Tanaka. Dia menggelengkan kepala dengan wajah sedih.
"Pak Tanaka sudah meninggal, Nyonya. Saya memprediksi tiga jam yang lalu, beliau sudah meninggal."
"Papa!" raung Yura.
Neni juga menangis di samping tubuh Tanaka.
Semua orang segera mempersiapkan upacara pemakaman. Yura tak hentinya menangis di samping jenazah ayahnya. Dalam benak Yura selalu terngiang ucapan ayahnya semalam, juga wasiat yang disampaikan kemarin. Yura menatap ke arah Arik yang sedang menunduk seolah merasakan juga suasana duka yang sedang terjadi.
Ketika merasa agak tenang, Yura mendekati Darren yang datang ke rumah mereka.
"Om Darren, bisakah pernikahan itu dilaksanakan di depan jenazah Papa?"
Darren menatap Yura dengan tersenyum. Dia mengangguk dengan perlahan saat melihat keyakinan di kedua mata Yura.