Bab 3. Membuat Malu Keluarga

1101 Words
Yura mendekap sebuah kebaya berwarna putih yang dia ambil dari lemari Tanaka. Satu set kebaya yang disimpan oleh Tanaka. Konon, itu adalah kebaya pengantin ibunya dulu, yang disimpan di dalam kotak berwarna hitam. Yura memutuskan untuk memakainya di saat darurat itu. Dengan wajah yang dirias sederhana oleh seorang warga, Yura memakai kebaya mendiang ibunya yang ternyata sangat pas di tubuh. "Cantik, meski riasan sederhana, tapi Yura memang sudah cantik seperti ibunya. Aku jadi ingat wajah ibunya dulu. Persis sama," celetuk para tetangga. Yura tidak bisa tersenyum meski banyak orang memujinya. Saat ini, dia masih dirundung kesedihan. Jenazah ayahnya seolah menunggu Yura. Yura mendesah, tidak terbayang bahwa dia akan menjalani hidup bersama dengan Arik. Namun, dia berusaha ikhlas menerima. Mengingat ucapan Tanaka menjelang ajalnya. "Mau gimana lagi? Kak Shantika tidak mau. Kasihan papa kalau wasiatnya tidak dijalankan." Yura berdoa dalam hati, berharap hidupnya akan baik-baik saja setelah itu. "Kamu siap?" tanya seorang ibu yang merias wajah Yura. "Iya, Bu." Yura berjalan keluar dari kamarnya. Suasana di ruang tengah sudah ditata. Jenazah Tanaka yang telah dimandikan dan dibalut kain putih juga sudah diletakkan di samping meja yang ditutupi kain satin putih. Yura melihat Arik memakai jas. Sebenarnya Arik tampan, tapi karena kehilangan ingatan, dia tampak bodoh. "Aku pasrah," gumam Yura. Dia pun memantapkan diri berjalan mendekati meja itu. Agak kembali sedih saat melihat jenazah ayahnya, tapi dia harus terus berjalan. Yura duduk di samping Arik. Arik tampak komat-kamit merapalkan ucapan yang diajarkan oleh seorang penghulu. Paman Yura juga datang sebagai wali. Penghulu menyiapkan prosesi pernikahan. Shantika tampak sangat senang dengan itu. Dia berbisik pada ibunya di belakang pasangan yang akan menikah. "Mama, aku senang banget. Aku nggak jadi nikah sama i***t itu. Yura bodoh juga ternyata. Dia malah sukarela menyerahkan diri jadi istrinya," kekeh Shantika. "Psst, diam dulu Shantika! Ini bukan waktunya untuk tertawa. Jenazah papa tirimu masih ada di ruangan ini. Tolong, tenanglah dulu." Shantika berdeham mendengar sungutan Neni. Dia pun mengikuti ucapan Neni, mengeluarkan ponselnya. "Kamu mau mengabadikan moment pernikahan Yura dan Arik?" tanya Neni melirik Shantika. Shantika berdecih. "Ngapain? Kurang kerjaan aja. Mendingan aku scroll akun media sosialku dari pada mengambil foto mereka," sahut Shantika. Neni menggelengkan kepala, lalu kembali menyaksikan proses pernikahan Yura dan Arik. Sudah lima menit, Arik masih saja menghapal kalimat ijab yang diajarkan oleh penghulu. Untunglah penghulu itu sabar. Lalu, setelah Arik tampak siap, dia memandu Arik mengulurkan tangan kepada penghulu. Banyak orang menyangsikan kemampuan Arik, tapi tidak disangka Arik bisa mengucapkan ijab dengan lancar dan baik. Penghulu takjub akan itu. Begitu juga dengan Yura, tapi dia menganggap bahwa itu hanya kebetulan saja. Ada orang difabel dengan kemampuan menghapal lebih baik dari orang biasa. "Sah!" ucap penghulu. Semua mengucapkan ucapan syukur atas penikahan itu. "Nah, sekarang kalian adalah suami istri. Arik, jagalah Yura seperti yang dimandatkan almarhum Pak Tanaka," pinta Darren menepuk bahu Arik. Arik hanya terdiam seperti biasanya. Kadang kepalanya sakit ketika berusaha mengumpulkan ingatan tentang memori lalu untuk mengetahui siapa dirinya. Saat ini dia hanya tahu dirinya bernama Arik, nama yang diberikan oleh Tanaka. Dan dia juga pasrah menuruti keinginan Tanaka, karena dia ingin membalas budi Tanaka yang telah merawatnya seperti anak sendiri. Semua orang yang berkumpul di situ memberi ucapan selamat, sekaligus rasa bela sungkawa. Miris sekali keadaannya, terutama Yura. Sebenarnya Neni merasa sangat malu karena memiliki menantu seperti Arik yang dia anggap bodoh itu. Namun, daripada Shantika yang menikah dengan Arik, lebih baik Yura yang bukan anaknya sendiri. Yura tidak habisnya menangis saat pemakaman ayahnya. Sampai selesai, Yura masih saja berlinang air mata. Arik ingin berusaha menenangkan Yura, tapi rasanya sangat kaku. Dia hanya berdiri di samping Yura. "Pak Tanaka sudah tenang di sana. Beliau sudah tidak sakit." Yura menoleh. Ini kali pertamanya dia mendengar Arik bicara agak panjang, juga bijaksana. Itu membuatnya sadar bahwa ayahnya memang sudah tenang. Dia teringat wajah Tanaka saat terbujur kaku tadi. Tampak seperti tertidur dan sangat tenang. "Ya, kamu benar, Arik. Papa sudah tidak sakit lagi," sahut Yura dengan suara parau. *** Sebuah kematian meninggalkan kesepian. Begitu yang dirasakan Yura saat semua orang telah pulang. Rumah yang besar itu terasa sepi. "Yura, Mama mau bicara," panggil Neni saat selesai membersihkan diri malam itu. Yura menoleh. Baru saja dia selesai memberesi rumah karena peristiwa sehari itu membuat kacau segalanya, termasuk hidupnya. Sekarang Neni sepertinya ingin membicarakan sesuatu yang penting. "Ya, Ma. Yura mau buang sampah ini dulu," sahutnya santun, membawa sebuah kantong kresek hitam berisi sampah tertinggal yang dia bersihkan. "Oke," sahut Neni. Yura segera menyelesaikan pekerjaannya, lalu duduk di hadapan Neni. Saat itu, mereka ada di ruang tengah. Ruangan yang biasanya digunakan mereka untuk berkumpul, tapi sekarang terasa lengang meski hanya satu orang yang pergi selamanya. "Yura, Mama tanya sama kamu. Apa kamu menikah dengan Arik hanya untuk memenuhi wasiat papa sesuai dengan perkataanmu?" tanya Neni. Yura menghela napas. Benar dugaannya, pasti Neni hanya akan menanyakan itu. "Iya, Ma." Neni menggulirkan pandang ke bawah, lalu menatap Yura lagi. "Kalo begitu, sudah cukup, kan? Kamu bisa bercerai dengan lelaki bodoh itu sebentar lagi." Yura mengangkat kepalanya, menatap tidak mengerti ke arah Neni. Dia memang menduga Neni akan membicarakan itu, tapi tidak sampai berpikir bahwa Neni akan menyuruhnya berpisah dengan Arik. "Wasiat tetap wasiat, Ma. Yura nggak mau main-main dengan pernikahan. Walau bagaimana pun, Yura akan tetap menyanggupi wasiat papa." Neni melotot mendengar penolakan Yura. Dia mendengkus kesal. "Yura! Kamu pikir lagi, apa untungnya lelaki itu buat keluarga kita? Terlebih nanti kalo kamu memiliki anak dengannya. Dia itu dari mana asalnya, tidak jelas! Lagipula dia i***t, Yura! Kamu lihat sendiri kan, diajak ngomong suka diam! Jelas dia i***t!" bentak Neni, tidak habis pikir dengan keras kepalanya Yura. Namun, Yura tetap tenang menghadapi kemarahan Neni. "Ma, sesuai dengan amanat papa, aku nggak akan mencari tahu siapa dia, tapi aku akan bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan. Aku janji nggak akan ngerepotin Mama. Arik adalah tanggung jawabku, jadi nggak usah risau, Ma." Arik mendengar itu dari balik tembok kamar. Dia merasa Yura baik sekali sejak pertama kali bertemu. Sekarang, Yura membelanya habis-habisan saat sosok ayah yang menjadi tamengnya pun telah tiada. "Oke, tapi dia akan membuat malu keluarga kita, Yura! Mama nggak mau punya menantu seperti itu! Apa yang akan dikatakan oleh semua orang kalau nantinya dia akan membuat kekacauan? Mau ditaruh mana muka Mama?" tanya Neni. Yura hanya mengulas senyum tipis. "Ma, itu urusanku. Ini masih hari berkabung. Jadi, jangan buat kekacauan, Ma." Yura beranjak, berjalan meninggalkan Neni yang menatapnya dengan penuh kekesalan. Tangan Neni mencengkeram erat. Ketika adanya Tanaka, dia memang menahan diri untuk tidak pernah memarahi Yura, tapi sekarang dia mulai kesal pada gadis dengan watak keras kepala menurutnya itu. "Yura ...," desis Neni geram.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD