Shantika memandang ibunya dengan kesal. Seharian Neni hanya uring-uringan. Dia melihat Arik yang duduk di depan rumah saja, dia tarik masuk agar tidak ada orang yang melihat Arik menganggur.
"Sini kamu! Mendingan kamu itu kerja!" sungut Neni yang melihat Arik duduk di depan rumah.
Saat itu, Yura sedang pergi keluar. Neni merasa sangat muak dengan keberadaan Arik. Padahal, Arik masih dalam penanganan dokter.
"Dasar lelaki bodoh, bisanya apa kamu itu? Dosa apa aku sampai mendiang suamiku malah mau merawatmu? Apalagi Yura, dia membuat masalah saja! Masa dia nggak mau bercerai dengan lelaki tidak berguna macam kamu!" bentak Neni.
Arik menghela napas. Selama ada Tanaka, Neni tidak pernah berkata kasar padanya. Namun, sepeninggal Tanaka dia malah membentak-bentak Arik. Padahal kepala Arik masih sering sakit jika mendengar suara keras. Bukannya tidak ingin berusaha, tapi Arik benar-benar tidak bisa mengingat siapa dirinya.
"Maaf, Bu."
Suara lirih Arik terdengar di telinga Neni. Neni hanya berdecak.
"Maaf, maaf! Buat apa kata maaf itu? Bisa buat makan? Bisa buat beli segala macam benda berharga? Huh, dasar nggak punya otak! Mikir siapa kamu saja nggak bisa! Jangan-jangan kamu memang nggak punya otak!" caci Neni tanpa memikirkan perasaan Arik.
Hati Arik berdesir mendengarnya. Kata-kata yang sangat kasar. Andai dia tidak bisa menahan diri, dia pasti sudah memukul Neni. Namun, mengingat Yura, dia menahan emosinya demi Yura. Yura yang sangat baik padanya meski mereka masih tidur pisah kamar walau sudah berstatus suami istri.
"Mama, diamlah, Ma! Suruh dia pergi dari sini aja! Udah dua hari Mama ngomel-ngomel. Aku nggak mau dengerin keributan terus!" sungut Shantika yang sudah berdandan dan duduk di kursi, memegang ponsel.
Baru beberapa hari usai meninggalnya Tanaka, Shantika mulai malas-malasan dan hanya duduk di kursi tengah.
"Kamu juga! Kerjanya cuma duduk-duduk aja!" maki Neni pada Shantika.
Semua kena getahnya saat Neni kesal. Shantika tampak kesal saat dia ikut-ikut dimaki oleh Neni.
"Jangan samakan aku sama dia, Ma! Sebentar lagi kalo anak sahabat papa itu datang, aku akan mengangkat derajat keluarga ini!" ujar Shantika dengan percaya diri.
Neni hanya mendengkus, tapi dia membenarkan ucapan Shantika. Hanya satu orang itu yang akan membantu mereka. Usaha Tanaka semakin menurun pendapatannya. Selama Tanaka hidup dan belum sakit-sakitan, mereka masih bisa terpenuhi kebutuhannya karena Tanaka berupaya keras untuk memenuhi kebutuhan mereka. Namun, setelah Tanaka sakit hingga meninggal, Neni agak kepayahan untuk kebutuhan mereka. Terlebih sekarang ketika Tanaka tiada. Dia tambah jengkel ketika melihat semua yang menganggur.
"Arik! Apa kamu nggak bisa cari kerja! Makan juga numpang! Mandi numpang! Tidur numpang! Kamu tidur saja di kamar dengan tempat tidur empuk! Apa kamu pikir semua itu gratis? Beras beli, air juga bayar setiap bulan! Belum listrik, pajak, huh! Nginep di hotel aja bayar! Kamu malah gratisan!"
Neni menghentakkan kakinya di lantai. Dia memaki Arik seraya meluapkan kekesalannya. Baru kali ini dia merasa kekurangan. Belum lagi, utang yang dia miliki. Neni kesal sekali kenapa harus memelihara Arik di rumah itu.
"Kamu itu lelaki, tapi bodoh banget nggak bisa apa-apa. Kenapa juga Yura nggak mau bercerai denganmu. Mendingan kan, dia pilih lelaki yang kaya. Jadi bisa membantu perekonomian keluarga. Malah nikah sama orang nggak berguna kayak kamu," gerutu Neni dengan kasar.
Kepala Neni sangat pusing memikirkan kebutuhan rumah tangganya. Dia memaki sepuasnya pada Arik.
Yura yang baru saja pulang, tergopoh masuk ke dalam rumah mendengar suara keras Neni dari luar. Dia terbelalak melihat Arik yang nyaris ditendang oleh Neni.
"Jangan, Mama!" teriak Yura, bergegas mendekat.
Yura membawa beberapa sayuran dalam kantong plastik di tangannya. Dia baru saja pergi ke pasar. Pembantu rumah tangga tidak menemukan bahan makanan di lemari es, lalu tadi Yura berinisiatif untuk membeli di pasar dengan uangnya. Biasanya Neni membeli bahan-bahan makanan di supermarket. Namun, kali ini dia tidak berbelanja ke supermarket dan lebih memilih untuk tidak menyediakan bahan masakan. Jadi, tidak ada makanan apapun di atas meja makan.
"Mama, kenapa harus kasar sama Arik?" tanya Yura, memasang badan di depan Arik yang duduk di lantai.
"Dia lelaki, perlu dikasari kalo nggak menghasilkan apa-apa, Yura!" sahut Neni dengan ketus.
"Tapi dia masih sakit, Ma. Dokter saja masih menanganinya," bela Yura, memegang lengan Arik dengan lembut.
Arik masih diam. Dia masih bingung mengingat-ingat sesuatu tentang dirinya, tapi sekilas-sekilas hanya bayangan yang terpikir. Arii memegang kepalanya.
"Sampai kapan di sakit? Dia itu lelaki yang tidak bisa apa-apa! Huh, gimana bisa Mas Tanaka menyuruhnya menikah dengan Shantika? Yura, kamu cepat bercerai saja darinya! Kebutuhan kita makin mendesak," ujar Neni.
Yura menghela napas. Betapa bosan dia mendengar desakan cerai dari mulut ibu tirinya itu. Yura menggulirkan pandangan ke Arik.
"Arik, kamu masuk saja ke kamar, ya? Aku suruh bibik masak dulu. Nanti kalo udah matang, kita bisa makan. Kamu lapar, kan?" tanya Yura.
Arik menuruti kata-kata Yura. Dia perlahan masuk ke kamar. Neni mencebik melihat keduanya.
"Buat apa lelaki seperti itu disayang-sayang? Hati-hati Yura, nanti kamu sayang beneran," kekeh Shantika yang masih duduk di kursi tengah dengan nada mengejek.
Yura menggelengkan kepala mendengar ucapan Shantika. Ketika Tanaka masih hidup, dia seringkali mendengar ucapan buruk Shantika, tapi saat Tanaka ada di sekitar mereka, Shantika bagai kucing manja yang menurut pada Tanaka. Pernah Yura mengatakan itu pada Tanaka, tapi waktu itu Tanaka bilang kalo wajar saja seorang gadis manja pada ayahnya. Jadi, Yura memilih diam.
Yura tidak mau lagi menanggapi Shantika. Jika ditanggapi, gadis itu akan semakin berapi-api.
Yura berjalan ke dapur untuk memberikan kantong berisi sayuran itu ke pembantu rumah. Bersamaan dengan itu, Neni menghempaskan bobotnya di sofa dekat Shantika.
"Payah benar itu Yura, sampai kapan dia begitu?" keluh Neni, mengusap wajahnya.
Tidak ada kalimat yang memuji Yura karena telah mengupayakan belanja untuk memenuhi kebutuhan makan mereka. Padahal, baru kali ini Yura pergi ke pasar dan begitu lama.
Shantika mengerling. Dia mendekati Neni. Tiba-tiba dia memiliki sebuah pemikiran yang bagus menurutnya.
"Ma, aku ada ide. Gimana kalo kita sebar foto Yura ke teman-teman Mama yang kaya? Mereka kan punya anak laki-laki? Kali aja ada yang tertarik untuk menikah dengan Yura? Nah, kalau lelaki itu datang, kali aja Yura tertarik?" desis Shantika.
Neni mengerutkan dahi menatap Shantika. Ide itu cukup bagus. Namun, dia sangsi.
"Terus, kalau Yura menolak?" tanya Neni.
Shantika mengulas seringai tipis.
"Kita paksa aja, Ma. Dengan paksaan, mungkin dia bisa bercerai dengan lelaki bodoh itu."