"Kamu benar," sahut Neni.
"Dia harus dipaksa untuk bercerai dengan lelaki itu. Kalau tidak, terpaksa kita harus menyingkirkannya dari sini. Mama udah muak," tambahnya lagi.
Shantika mengendikkan kedua bahunya. Merasa jenius dengan idenya.
"Sekarang Mama hubungi aja dulu teman-teman Mama. Terutama, keluarga kaya yang punya anak lelaki matang untuk menikah," cetus Shantika.
"Iya, secepatnya Mama akan cari teman Mama yang kaya untuk dijodohkan dengan Yura," gumam Neni mengeluarkan ponselnya. Bahkan, dia mengirimkan foto Yura ke teman-temannya.
"Nah, kita tunggu aja balasan dari teman-teman Mama," ujar Neni mengulas senyum.
"Iya, Yura itu cantik. Jadi, pasti banyak lelaki yang datang untuk melamarnya. Yang jelas, bukan seperti si i***t itu," tukas Shantika.
"Benar. Semoga Yura mau menerima perintah Mama ini."
Sementara itu, Yura menunggu asisten rumah tangga yang memasak di dapur. Kepulan asap tipis keluar dari panci besar. Sup sayuran telah matang. Dengan lauk sederhana. Ayam goreng yang dipotong-potong dan sambal tomat. Menu sederhana, tapi untuk mengisi perut mereka sekarang, akan sangat nikmat.
"Ma, Kak Shantika, masakan udah siap. Lebih baik kita ke ruang makan untuk makan bersama," tutur Yura, menyembulkan kepala dari ruang makan yang telah dia siapkan.
Perut Shantika memang sudah lapar. Dia hanya makan biskuit sejak pagi tadi, sedangkan Neni makan roti panggang untuk sarapan pagi tadi.
"Oh iya, sekarang udah cukup siang. Ayo, Shantika kita makan siang," ajak Neni.
Mereka beranjak ke ruang makan. Namun, Yura malah keluar dari ruang makan itu.
"Lho, kamu mau ke mana, Yura? Ayo, kita makan bersama," ajak Neni.
Yura tersenyum.
"Tunggu sebentar, Ma. Aku mau ajak Arik untuk makan bersama kita. Dia pasti juga sangat lapar," sahut Yura.
Neni berdecak. Dia tidak habis pikir dengan Yura.
"Yura! Apa kamu nggak bisa buat mengabaikan orang itu sebentar saja! Mama nggak mau makan satu meja dengannya! Huh!" sungut Neni.
Shantika meneguk saliva melihat masakan di atas meja. Namun, Neni sudah beranjak dari tempatnya. Tentu saja Shantika tidak mau makan bersama dengan Arik. Akhirnya, Shantika membawa satu piring nasi dan lauknya keluar dari ruang makan dan memilih untuk makan di ruang tengah.
Yura menggelengkan kepala. Dia tetap menghampiri Arik. Dia tidak tega melihat Arik kelaparan.
"Arik, ayo kita makan dulu. Kamu udah lapar, kan?" ajak Yura, menarik lengan Arik.
"Iya," sahut Arik jujur. Merasakan perutnya melilit karena tadi pagi hanya memakan cereal yang dibuatkan oleh Yura.
"Maaf ya, aku terlambat menyediakan makan buat kita semua. Soalnya aku nggak tahu kalo isi lemari es habis," sesal Yura.
Arik mengangguk dan mengikuti Yura. Dia merasakan hanya ada Yura yang melindunginya sekarang.
***
Neni mendekati Yura lagi setelah semalam dia berusaha meredakan emosi. Yura memang keras kepala dan dia pusing harus bagaimana menghadapi anak tirinya itu.
"Yura, Sayang. Maafin Mama kemarin, ya? Kita bisa makan bersama pagi ini. Tapi, setelah itu kita pergi jalan-jalan. Sama Arik juga," ujar Neni mengelus lengan Yura.
Yura agak terkejut dengan perubahan cepat sikap Neni. Dia mengulas senyum karena berpikir bahwa Neni mungkin memang sudah berubah.
"Baik, Ma. Yura bersikap baik sama Arik, juga karena kasihan. Kalo kita bersikap baik pada Arik, papa akan senang di Surga sana," sahut Yura.
Anggukan kepala dan senyum Neni membuat Yura bersyukur lega. Pada akhirnya Neni menyadari itu. Yura tidak melihat wajah kesal Neni saat melihat keberadaan Arik di ruang makan. Shantika menyusul mereka dan hendak protes, tapi dia mengaduh kecil karena tangannya dicubit oleh Neni.
"Diamlah, nggak usah protes. Mama sudah berencana akan bertemu dengan Andre, anak dari keluarga Ganidar. Dia yang pertama menghubungi Mama. Anak lelakinya siap menikahi Yura."
Shantika mengangguk-angguk dan menahan senyum mendengar bisikan rencana Neni. Meski mereka harus bersandiwara di ruang makan terhadap Arik, tapi ada hal yang ingin mereka lancarkan.
"Yura, nanti kamu suruh Arik mandi, ya? Kita berempat akan jalan-jalan keluar. Rasanya Mama sumpek di dalam rumah. Di rumah hanya ingat papa saja," tutur Neni dengan wajah sendu.
"Iya, Ma," sahut Yura dengan senang.
Usai makan mereka masuk ke dalam mobil. Shantika duduk di belakang kemudi.
"Lho, apa nggak ajak Pak Ifan aja, Ma? Kan biasanya juga Pak Ifan yang nyopirin. Kasihan Kak Shantika kalo harus menyetir, nanti capek," cicit Yura di dalam mobil. Di sebelahnya sudah duduk Arik yang memakai kaos berwarna hijau tua.
"Pak Ifan lagi ada urusan di perusahaan. Jadi, aku aja yang mengemudi. Kamu nggak perlu khawatir, Yura. Aku nggak capek, kok," sahut Shantika, tersenyum.
"Oh, ya udah."
Yura merasa tenang. Neni duduk di sebelah Shantika, di depan Yura. Shantika mulai menyalakan mobil dan melajukan mobil ke sebuah tempat.
"Ayo, turun."
Neni mendahului ketiganya. Baru, Yura keluar dari mobil dengan wajah heran melihat keberadaan mereka.
"Ini kan, kantor urusan agama? Memangnya, mau apa?" tanya Yura pada Shantika.
"Mungkin mama mau mendaftarkan aku," canda Shantika.
Yura masih tidak mengerti. Dia pun menarik tangan Arik untuk ikut Neni dan Shantika. Di sebuah kursi, ada seorang lelaki muda yang juga cukup tampan dan sudah berbicara cukup banyak pada Neni. Dia menatap dan tersenyum pada Yura.
"Yura, sini, Nak. Ini namanya Andre, anak dari keluarga Ganidar. Kamu bisa berkenalan dengannya."
Kening Yura berkerut. "Berkenalan? Untuk apa?"
Yura hanya mengangguk, mengabaikan tangan Andre yang terulur ke arahnya. Andre yang merasa diabaikan agaknya kesal. Namun, dia tetap tenang.
Neni mengeluarkan sebuah map dari tasnya dan menyerahkan pada Yura setelah Andre menurunkan tangan.
"Yura, ini surat gugatan perceraian kamu dan Arik. Kamu bisa menandatanganinya sekarang! Setelah itu, kamu bisa bertunangan dengan Andre. Setelah masa iddah, kalian bisa menikah," terang Neni, mengulurkan map yang dia pegang.
Darah Yura berdesir mendengar ucapan Neni. Dia kira, Neni sudah berubah, tapi ternyata tidak.
"Mama! Aku kira Mama baik, tapi ternyata malah ingin mengacau semua. Aku nggak mau bercerai!" tolak Yura, menepis map itu sampai jatuh ke tanah.
"Yura! Jangan kurang ajar! Andre lebih baik dari pada suami kamu yang i***t itu!" bentak Shantika.
Yura mengangkat dagunya pada Shantika.
"Kalo benar begitu, kenapa bukan kakak saja yang menikah dengan dia?" tanya Yura, dengan desis ketus.
Shantika malah tertawa mendengar perkataan Yura.
"Aku? Aku sudah dijodohkan dengan Kevin, anak Tuan Brian yang tersohor itu. Jadi, tidak bisalah aku menikah dengan orang lain," sahut Shantika.
"Udah, tanda tangani surat pengajuan gugatan cerai ini, Yura!" desak Neni yang tidak enak pada Andre.
"Nggak!" sahut Yura dengan marah.
"Yura! Baiklah, kamu harus ikut kami sekarang! Pulang! Tinggalkan lelaki bodoh ini di sini!" ucap Neni kesal, menarik tangan Yura, dibantu oleh Shantika.
"Nggak!" jerit Yura.
Namun, dia tidak bisa melawan Neni dan Shantika. Mereka menarik Yura masuk ke dalam mobil.
"Andre, maafkan kami. Secepatnya kami akan membuat mereka bercerai," janji Neni.
Andre hanya mengangguk.
"Iya, Tante."
Mobil membawa Yura pergi, meninggalkan Arik yang berdiri diam di tempatnya. Andre yang kesal karena diabaikan oleh Yura, mendekati Arik.
"Sepertinya bogem mentah sangat cocok untuk hadiahmu," ucapnya, memberi tanda pada sopir dan bawahannya untuk memukuli Arik.