Dua orang mulai menonjok pipi Arik sampai dia terhuyung ke tanah. Orang-orang itu juga menendang perut Arik yang sudah terkapar di tanah. Saat seperti itu, satu orang meraih kerah bajunya dan menyeret Arik masuk ke dalam mobil. Rasanya sangat sakit dan Arik tidak bisa membalasnya karena dia sendiri masih lemah usai kehilangan ingatan. Di dalam mobil, orang-orang Andre masih memukuli Arik sepuasnya. Sementara Andre menaiki mobil satunya dan pergi begitu saja dengan seringai kejam melirik ke spion, melihat orang-orangnya menyiksa Arik secara brutal. Arik merintih kesakitan, tapi orang-orang itu tidak perduli.
"Rasakan, gadis secantik Yura tidak pantas untuk i***t seperti dia. Aku yang akan mendapatkan Yura. Kuharap i***t itu cepat mati di tangan orang-orangku," gumam Andre dengan dengusan senangnya.
Mobil yang membawa Arik melaju ke lokasi ruko-ruko pertokoan kosong yang sudah ditinggalkan oleh para pemiliknya karena sengketa dan berhenti di sana.
Arik sudah kepayahan di dalam, masih didorong oleh orang-orang Andre. Dia kembali tersungkur di tanah kotor, dengan darah mengucur dari sudut bibirnya. Kedua pipinya lebam dan matanya bengkak. Sungguh kasihan melihat Arii. Namun, area pertokoan itu memang sangat sepi dan cocok untuk menyiksa orang.
"Heh, begundal miskin! Kamu ini cuma setara dengan kami, kacung-kacung tukang pukul. Tapi, kami bayaran hanya dengan memukuli kamu," kekeh salah satu orang Andre memperlihatkan segepok uang yang dia bawa. Pandangan Arik kabur melihat pria itu. Pria berbadan besar dengan tatto yang menyeramkan.
"L-lepaskan aku," pinta Arik merasakan seluruh tulangnya bagai remuk, tidak sanggup lagi bergerak.
"Apa? Kamu belum boleh lepas sebelum mati."
Tiga orang itu tertawa melihat Arik yang masih terkapar di atas tanah.
"Kamu mau pembelaan dari kami? Kalo kamu bisa bayar kamu sepuluh kali lipat, kami akan membebaskan kamu," ejek pria gondrong satunya yang duduk di atas puing bangunan, menatap Arik dengan bengis.
"Haha, yang benar saja, apaan kamu! Dia itu miskin dan i***t. Mana punya uang? Separoh bayaran dari Tuan Andre saja dia nggak bakalan mampu. Kalo dia mampu, nggak akan mengakhiri nyawanya di tangan kita ini," ucap pria berbadan besar tadi.
"Udah, buruan! Kita pukul dia pakai apa? Biar cepat mati ini orang! Lalu, tugas kita selesai," desak pria satunya, yang lebih kurus ketimbang dua orang sebelumnya.
"Iya! Kamu urus saja itu! Pukulkan kepalanya ke tembok saja! Beres, kan?" tukas pria gondrong yang mulai bangkit dan meraih kerah baju Arik.
Arik tidak lagi bisa melawan. Dia sungguh pasrah saat itu. Saat dipukuli tadi, ingatannya mulai terlintas sesekali. Dia pernah memukuli orang, bahkan dia tidak selemah itu. Arik ingat dia bukanlah orang yang bisa dikalahkan! Sejak kecil papanya mengantar dirinya ke sebuah perguruan bela diri dan dia menguasai semua jurus yang diajarkan di sana, bersama seorang ahli bela diri tertua dan termahir dalam bidang itu.
Namun, dia tidak mengerti kenapa dia selemah itu sekarang. Saat Arik tergugah dari ingatan-ingatan itu, dia telah berada di dekat tembok sebuah bangunan. Pria tadi hendak memukulkam kepalanya ke tembok satu kali dan itu sangat sangat sakit sampai Kevin berteriak. Pria itu hendak mengulangi, tapi sebuah suara mengejutkan ketiganya yang langsung menghentikan perbuatan mereka.
"Kebakaran!"
Gulungan asap tebal tiba-tiba dengan cepat berkobar tanpa mereka sadari di perumahan dekat ruko kosong itu. Beberapa orang keluar dari rumah mereka.
"Kita tinggalin aja dia di sini! Kalo kita di sini dan orang-orang melihat ini semua, kita bisa ditangkap polisi dan membahayakan tuan Andre! Biarkan dia di sini! Tidak akan ada orang yang menolongnya, dia akan mati!" ucap si Grondong, mengajak teman-temannya lari.
Lalu, orang-orang suruhan Andre itu terpaksa berlari masuk ke mobil dan meninggalkan Arik yang setengah sadar melihat kepulan asap tebal di ujung kira-kira sepuluh meter jaraknya.
Arik tiba-tiba ingat sesuatu saat melihat asap tebal itu. Ledakan helikopter yang dia tumpangi beberapa saat yang lalu, terlintas dalam benaknya. Dia ingat saat terlempar dari helikopter dan kepalanya membentur sebuah batu sampai ingatannya hilang. Seorang pria yang dia ingat, mengendalikan helikopter dan mendorongnya keluar agar selamat saat terakhir kendaraan udara itu meledak.
"P-Paman Oskar," gumam Arik ingat pria itu di saat-saat kedua matanya mulai terpejam, tidak kuat akan rasa sakit di kepalanya.
***
Yura meraung di dalam rumah. Dia memukuli pintu dengan berteriak. Neni menguncinya di dalam.
"Mama! Arik tidak akan bisa menghadapi Andre! Dia tidak bisa pulang ke rumah, Ma! Yura mau menjemputnya! Mama jangan jahat gitu, Ma!" teriaknya dengan rasa sedih membayangkan bagaimana keadaan Arik.
"Biarkan dia, Yura! Biar dia hilang! Kamu bisa menikah dengan Andre untuk menggantikan lelaki i***t itu! Jangan bodoh, Yura! Papa sekarang sudah tiada, mana bisa Arik menggantikan dia menjaga kita?" sahut Neni, menjawab teriakan Yura.
"Tapi ini amanat dari papa, Ma! Yura tidak bisa membiarkan Arik sendirian di sana! Dia bisa dipukuli sama Andre! Yura yakin itu! Kenapa Mama nggak bisa biarkan Arik hidup di sini?" keluh Yura, masih mengetuk-ngetuk pintu dengan kepalan tangannya.
"Lupakan lelaki bodoh itu, Yura! Kamu nggak mencintainya, kan? Jujur saja!" sahut Neni.
"Ma! Soal perasaan, tidak penting! Ini soal kemanusiaan! Dia itu juga manusia yang butuh diperhatikan! Dia sedang dalam perawatan, Ma! Dia lemah! Seharusnya kita nggak boleh membiarkannya dalam kebingungan dan kesakitan!" jerit Yura.
"Tenanh saja, Yura! Nanti dinas sosial akan menemukan dia dan mengambilnya! Jadi, kita bisa hidup dengan tenang! Dengan lelaki itu, kita akan makin susah, Yura! Jangan ngeyel!" bentak Neni yang mulai kesal dengan keras kepala anak tirinya itu.
Neni meninggalkan pintu kamar Yura untuk kembali ke kamarnya sendiri dan membiarkan Yura berteriak-teriak, membuatnya kepalanya sakit.
"Ma! Ma!"
Yura tahu Neni sudah tidak berada di sekitar pintu kamarnya. Dia mulai merasakan dadanya aneh. Dia punya perasaan tidak enak terhadap keadaan Arik.
"Pasti sesuatu terjadi pada Arik. Bagaimana ini?" keluh Yura, menyandarkan punggungnya ke pintu dan merosot ke lantai.
Yura meraup wajah, mengacak rambutnya. Sampai-sampai dia berniat melompat dari jendela kamar hanya untuk mencari Arik. Yura beranjak ke jendela dan membukanya. Dia ingin sekali keluar melewati itu, tapi kamarnya terlalu tinggi dan dia tidak berani untuk turun dari sana.
"Ah! Mana ponselku dibawa kak Shantika," gumam Yura dengan lemas.
Gadis itu kembali terduduk di lantai, memutar otaknya agar bisa keluar dari rumah. Namun, sejauh apapun dia berpikir, tetap tidak ketemu jalan keluarnya. Yura hanya bisa diam dengan cemas, meminta pada Tuhan akan keselamatan Arik.
"Meski aku tidak bisa menyelamatkannya, tapi aku yakin Tuhan akan menyelamatkannya. Semoga Arik baik-baik saja."