Bab 7. Diremehkan Sopir Taksi

1103 Words
Arik membuka kedua matanya perlahan. Ketika kesadarannya berangsur kembali, dia sudah berada di ruangan serba putih. Arik masih mengingat ruangan itu dengan bau obat yang cukup menyengat. Seorang perawat mendatanginya dan tersenyum. "Tuan ada di rumah sakit. Lima hari yang lalu, Anda tidak sadarkan diri. Untung dibawa oleh seseorang ke sini, jadi bisa terselamatkan," ucap perawat itu. Arik samar-samar ingat semua hal yang terjadi. Pemukulan kejam, kebakaran, helikopter jatuh dan seorang gadis. Dia ingat bahwa dirinya bukan Arik, tapi dia adalah Kevin, putra Brian Julvan Axel, pemilik Julvan Group! "Untuk biaya, Anda tidak perlu khawatir karena orang yang membawa Anda ke sini sudah melunasinya," ucap perawat itu, melakukan serangkaian pemeriksaan. Kevin bernapas lega. "Siapa dia?" tanya Kevin. "Saya juga tidak tahu, yang jelas dia tidak ingin terlibat masalah Anda. Dia hanya iba melihat Anda terkapar di antara puing-puing bangunan," terang si perawat. Kevin mengerutkan dahi. Sejenak kemudian dia mengangkat kedua alisnya. Tidak masalah asal dia tertolong. Kevin merogoh kantong bajunya dan tidak menemukan apapun di dalam kecuali selembar uang lima ribuan. Ketika perawat itu pergi untuk menghubungi dokter dan melaporkan keadaan Kevin, Kevin menarik selembar uang itu. Seraut wajah pemberi selembar uang itu terlintas di benaknya. Wajah cantik seseorang, yang selalu baik padanya. "Yura," gumam Kevin mengulas senyum. Sebelum kejadian pemukulan oleh orang-orang Andre, Yura memberinya selembar uang untuk jajan Kevin. Setelah Kevin duduk di lantai dan dimaki oleh Neni. Waktu itu, Yura berbisik padanya jika Kevin ingin jajan, dia bisa menggunakannya. Lalu setelah itu, wajah orang-orang yang memukulinya terlintas nyata dalam benak. Kengerian dipukuli dia ingat dengan jelas. Bahkan, kata 'mati' yang sering diancamkan padanya "Kukira aku sudah beda alam," gumam Kevin, memasukkan kembali uang itu ke dalam saku. Kevin tidak menunggu dokter seperti yang disarankan oleh perawat. Dia mencabut infus begitu saja, kemudian keluar dari ruangan itu. Sebenarnya, dia masih merasa lemah, tapi ingatannya sudah kembali. "Aku tidak pernah ingin tidur di rumah sakit! Kenapa aku harus berada di sini? Ck, buang-buang waktu," gumamnya, segera berjalan keluar dengan baju rumah sakit dan berjalan ke depan untuk mencari sebuah taksi. Sebuah taksi konvensional mendatanginya. Kevin masuk dan menyebutkan sebuah alamat pada pria pengemudi itu. "Jalan Ramana? Itu area rumah elite milik seorang pengusaha kaya, apa kamu benar mau ke sana?" tanya sopir taksi itu melihat kondisi Kevin. Rambut acak dan baju rumah sakit tentu tidak bisa menjelaskan siapa Kevin. "Nggak usah kebanyakan tanya! Aku penumpang dan aku ingin ke sana. Itu saja! Kalo kamu nggak bisa, aku bisa cari taksi lain!" sungut Kevin. Apa perlu sopir taksi menanyakan tujuan apa ke suatu tempat? Itu rumahku dan aku sangat berhak ke sana. Dasar! Kevin masih memasang wajah bersungut ketika sopir itu akhirnya mengalah. "Baiklah, demi uang. Eh, tapi kamu bisa kan bayar? Jarak dari rumah sakit ke jalan itu sangat jauh." "Cerewet sekali. Nanti aku bayar dua kali lipat!" sahut Kevin, menatap ke depan. Dia sedang melarikan diri dari rumah sakit, malah sopir taksi terlalu bertele-tele sebelum menjalankan taksinya. "Beneran ya? Jangan suka omong kosong," sahut sopir taksi itu seraya menarik gas mobil. "Lihat saja nanti buktinya," sahut Kevin, melipat kedua tangan di d**a. "Oke, pasien kelas tiga macam kamu, diragukan bisa bayarnya. Jangan-jangan kamu cuma kacung di sana." "Diam! Jangan pernah menghakimi seseorang dengan cuma melihat penampilannya aja!" serobot Kevin. Dia heran sekali dengan orang-orang. Suka sekali menilai penampilan orang. Kevin memang belum berganti pakaian, belum juga kena air selama lima hari. Namun, untuk membayar taksi seperti itu, hanya tinggal menjentikkan jari saja. Sopir taksi itu hanya mendengkus, lalu berkonsentrasi ke jalan. Dalam hatinya juga menggerutu, terlebih jika penumpangnya akan mengelabuinya. Dia berniat akan memukul penumpang itu sepuasnya. Kevin menyandarkan kepalanya setelah sopir taksi itu diam. Perjalanan jauh menuju ke rumah Kevin pun berlangsung selama satu jam lamanya. "Udah mau sampai, siapkan dulu uangnya!" seru sopir taksi dengan sengit. "Ck, bisa nggak sih kamu nggak usah bawel?" sahut Kevin tidak kalah sengit. "Tapi–" "Antar dulu sampai depan gerbang!" teriak Kevin, memotong ucapan sopir itu. "Depan gerbang? Itu rumah orang kaya! Nggak! Aku antar sampai depan jalan! Siapkan ongkosnya! Tiga ratus lima puluh ribu! Kamu bilang tadi dua kali lipat, kan? Jangan omong doang! Bayar tujuh ratus ribu!" kecam sopir taksi. "Kamu bisa nggak sih melayani penumpang dengan baik? Toh, kamu juga nggak tau rumah itu punya siapa? Kalo aku yang punya, gimana?" tanya Kevin. Sopir taksi menatapnya sebentar, lalu menggembungkan kedua pipi dan meledaklah tawanya. "Kamu? Hahaha, mana mungkin! Paling habis ini kamu nemuin majikan kamu, terus minta uang buat bayar ongkos taksi. Potong upah, kan?" Kevin melayangkan bogem mentah ke pipi sopir itu. Kepala sopir itu puyeng, merasakan kepalan tangan Kevin. Rasanya bagai dipukul sebongkah besi. "A-awas kamu," keluh sopir taksi itu. Namun, lelaki paruh baya itu tidak mampu membalas pukulan Kevin. Baru satu kali pukul, dia sudah kelimpungan di dalam taksinya sendiri. Seorang lelaki berseragam tergopoh-gopoh mendatangi taksi. Baru saja dia akan menyuruh taksi itu pergi, tapi dia terhenyak melihat Kevin di dalam. "T-tuan Muda? K-kenapa naik taksi? Dengan baju rumah sakit–" Kevin turun dan berjalan melewati pria berseragam yang tidak lain adalah satpam rumahnya. "Bayar dia," suruhnya. Satpam itu segera mengangguk dan mengeluarkan sejumlah uang. "Berapa ongkos taksi tuan muda kami?" tanya satpam. "T-tuan muda? Kamu jangan bercanda! Dia itu cuma pasien kelas tiga yang kabur! Dia–" Satpam mengeluarkan sepuluh lembar uang merah dan menaruh di paha sopir taksi yang terhenyak takjub dengan lembaran-lembaran uang itu. "Terima kasih telah mengantar tuan muda kami. Maaf kalau dia membuat keributan dengan Anda. Ini tambahan untuk ongkos berobat." Kembali lelaki itu meletakkan dua puluh lembar uang merah di pahan sopir taksi. "T-terima kasih–" Satpam pergi dari tempat dia berdiri, meninggalkan sopir taksi yang termangu bertanya-tanya dalam benaknya tentang Kevin. "T-tiga juta? Dalam satu jam? Apa dia benar tuan muda? Astaga bodohnya aku," gerutu sopir taksi itu menepuki pipinya sendiri. Uang dalam genggamannya bahkan lebih besar dari ongkos taksi Kevin. *** Yura sudah boleh keluar dari kamar. Dia hanya diam di rumah karena masih memikirkan Kevin. Selama lima hari, Kevin belum pulang juga. "Makanlah, Yura!" titah Shantika. Yura hanya mengambil sedikit nasi dan sayur. Mengunyah perlahan dan menelannya bagai menelan batu. Rasanya tidak enak makan. "Apa kamu memikirkan lelaki bodoh itu? Kenapa kamu ikut bodoh, Yura?" sungut Shantika. Yura hanya diam dengan ucapan Shantika. Dia tidak ingin menanggapi kakak tirinya yang semakin lama semakin menghinanya. Bisa makan hati, tapi Yura sungguh tidak ingn perduli. Apa yang ada di pikirannya hanyalah pertanyaan bagaimana keadaan Kevin. "Kalo dia pintar, dia akan bertahan hidup. Tapi, kalo dia benar t***l, dia tidak akan bertahan." Neni datang dengan ucapan yang membuat Yura tambah sedih. "Arik," gumam Yura dengan sangat sedih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD