Bab 5

1626 Words
Bagaimana bisa menghadirkan cinta. Kalau rata-rata perempuan muda pernah ternoda..   Baru membuka mata saja suara tangis dari ketiga adik kembarnya membuat kepala Ucca pening. Dia menelungkup. Menutup kepalanya dengan bantal. Tapi lengkingan suara khas Oneil beserta Jaala dan Zala masih terus terdengar. Ucca mengerang kesal. Dia melempar bantal ke pintu kamar sambil berteriak kesal. Gimana dia tidak kesal, dia baru tidur jam 4 pagi, dan sekarang baru jam 5 suara lengkingan tangis adik kembarnya sudah membahana. Mereka semua memang tidak tahu kondisi Ucca. Dia kan sedang sibuk begadang memperjuangkan skripsinya. Masih saja ada alasan mereka mengganggu. Sambil menggaruk sesuatu dibalik kolor hitamnya, Ucca mencoba bangun. Melirik ke arah jendela yang masih gelap. Ahh ... kebiasaan para bocil-bocil itu bangun pagi. Padahal matahari saja belum kelihatan sinarnya. Ucca mulai berjalan keluar dari kamar, masih dengan iringan tangis O3 yang membahana. Dengan wajah sangat mengantuk dia melirik sang adik Sheen yang sudah rapi pagi-pagi sekali. Wajah cantik adiknya itu terlihat cemberut. Ada apa yak kira-kira? "Kenapa lo?" tegur Ucca dengan tendangan kakinya pada kaki Sheen. Sheen diam saja. Tanpa suara seperti biasanya. Di sampingnya sudah ada beberapa tas besar yang Ucca yakin berisikan pakaian. "Mau ke mana?" tegur Ucca kembali. Tapi namanya Sheen sedang ngambek, mana mau dia menjawab. Bibirnya semakin manyun hingga Ucca merasa geli melihatnya. Akhh, sudahlah. Tidak akan mungkin dijawab oleh Sheen. Batin Ucca. Maka dia berjalan kembali. Masuk ke arah dapur di mana asal suara tangisan O3 berasal. Dan benar saja keadaan dapur rumahnya itu sudah seperti kapal pecah. Bubur sereal untuk sang moncil-moncil itu nampak berserakan. Ditambah lagi beberapa lelehan s**u dari botol Asi sudah tergeletak di lantai mengenaskan. Dengan kedua manik matanya, Ucca bisa melihat sang mama Ora dengan Daddy Kara sedang sibuk beradu argumen. Wajah keduanya nampak tidak bersahabat sampai rasanya Ucca malas untuk mendekat. Tapi lagi-lagi dia kasihan melihat O3 yang menangis begitu menyedihkan. Apa Ora dan Kara sudah tuli tidak mendengar tangisan anak-anak mereka? "Pokoknya aku enggak setuju. Apa-apaan sih kamu, Mas. Aku masih sanggup mengurus semuanya," bengis Ora. "Sanggup dari mana sih? Kamu itu sedang hamil lagi. Ngurus O3 aja belum tentu mampu. Apalagi ngurus yang lain. Biar aja Sheen kita minta Lui jagain. Lagian itu anak nakal juga enggak tahu diri. Mas udah ingatkan dia berkali-kali tapi tetap saja. Dikasih hati minta nyawa!!!!" balas Kara tidak kalah kuat. "Mas, begitu-begitu Sheen itu anak kamu. Darah daging kamu. Kamu itu gimana sih? Mau enaknya doang enggak mau anaknya. Terus kalau anak kamu jadi bandel kamu dan enggak bisa diatur, kamu buang gitu aja? Iya! Itu tandanya bukan mereka yang salah. Tapi cara kamu mengurus mereka yang salah. Aku enggak pernah setuju anak dioper sana sini. Anak itu punya perasaan, Mas. Kamu yang buat mereka hadir di sini. Bukan keinginan mereka. Jadi kamu harus tanggung jawab sebagai Daddy!!! Jangan main lempar batu sembunyi tangan aja! Ini yang buat aku kesel sama kamu. Sikap kamu yang satu ini sulit aku toleransi!! Kamu enggak akan pernah tahu, dan enggak akan sanggup untuk merasakan sebelum kamu bisa berada diposisi Sheen!!!" "CUKUP!!!! KAMU BISA MELAWAN MAS SEKARANG???" "IYA AKU MELAWAN? KENAPA? AKU MELAWAN BUKAN MENCARI NERAKA TAPI MENCARI SURGA!!! SURGA YANG AKAN AKU RAIH DARI KASIH SAYANG ANAK-ANAKMU!!! SEKARANG KAMU BISA BUANG SHEEN JAUH-JAUH KARENA KELAKUANNYA. TAPI INGAT SUATU SAAT NANTI KAMU YANG MENGEMIS MINTA DIA BUAT BALIK KE KAMU!!!! PEGANG KATA-KATAKU MAS. MAS BAKALAN MENGEMIS SAMA ANAK-ANAK MAS SENDIRI!!!" jerit Ora tak tertahankan. Ketika Ora menyelesaikan kalimatnya, hampir saja Kara menamparnya kalau bukan Ucca yang menahan. Ucca memegang tangan Kara. Dia membalas tatapan kekesalan sang ayah dengan wajah terluka. "Ucca enggak mau ikut campur apapun. Tapi kalau Daddy sudah pakai kekerasan Ucca enggak akan diam aja!!! Dia mama Ucca. Walau baru sebentar statusnya menjadi mama Ucca. Tapi Ucca enggak pernah bedain dia sama mama kandung Ucca." Tutupnya pelan. Sebelah tangannya merangkul bahu Ora yang bergerak naik turun. Keringat-keringat besar sudah menghiasi wajah Ora bersamaan dengan rasa lelah di tubuhnya. Maklumlah usia kandungan Ora baru memasuki bulan keempat. Masa-masa terlalu renta di trismester kedua bagi kehamilan. Kadang yang sudah dianggap baik-baik saja. Malah menjadi kebalikannya kalau tidak dijaga. "Ayo duduk dulu, Ma." Ajak Ucca. Setelah tadi mendengar jerit dari Ora, para O3 mendadak diam. Bocah-bocah tertubuh semok itu menjadi aneh sendiri menatap mama mereka. Mungkin mereka pikir mama Ora baru saja berubah menjadi ultramen yang melawan monster jahat. "Minum dulu, Ma." ucap Ucca sambil menyodorkan segelas air putih pada ibu tirinya itu. Tapi Ora nampak tidak menerima gelas berisi air itu. Dia terus saja mengusap perutnya yang sudah mulai terlihat membesar dengan wajah bengong seperti kebingungan. Atau mungkin Ora juga kaget bisa semarah itu pada Kara. Sudah hampir dua tahun mereka menikah, tapi belum sekalipun dia membentak Kara dengan segenap emosinya. Dan baru kali ini dia lepas kontrol. Mungkin kalau tidak ada Ucca, Kara sudah menamparnya tadi. "Mama tenang aja. Biar Ucca yang bantu bicara sama Daddy." Ora mengangguk setuju. Dia melirik sekilas wajah Kara yang sama merahnya seperti menahan marah. Ahh ... hidup berumah tangga ternyata tidak semudah hidup sendiri. Butuh kesabaran dalam menyatukan visi dan misi agar bisa selaras. "Dad, ada apa sebenarnya?" tanya Ucca. Kara memijat pelipisnya pelan. Lalu kemudian melemparkan sesuatu dari tangannya. Sebuah amplop yang di dalamnya berisi beberapa foto Sheen. Foto yang tidak biasa hingga membuat Ucca mendadak bodoh. Kok bisa? Batin Ucca merasa aneh. Anak yang belum genap 10 tahun bisa-bisanya begini. Ya kali dia yang hampir 22 tahun kalah sama bocah nakal ini. Tapi yang Ucca bingung Sheen mengapa tumbuh begitu cepat? Lihat Elva. Waktu seusia Sheen masih wajar-wajar saja. "Kok bisa?" tanya Ucca. Baru juga tiga minggu yang lalu dia mendaftarkan Sheen kembali di sekolah lamanya. Tapi sekarang foto Sheen dengan anak laki-laki yang badannya jauh lebih besar dari Sheen berada di tangan Kara. Fotonya pun melebihi batas kewajaran. Masa iya Sheen duduk di atas laki-laki itu sambil menyatukan kening mereka. "Daddy akan kembalikan dia ke Lui. Daddy sudah enggak tahan lagi sama kelakuan anak itu. Yang ada pusing sendiri," geramnya kuat. Ucca mengangguk setuju. Kalau sudah begini dia juga tidak bisa bertindak apapun. Mau sekuat apa tadi Ora berteriak memaki Kara, memang Sheen yang salah pada kenyataannya. "Kapan mau di antar ke sana?" "Pagi ini juga. Tadi Lui sudah hubungi." Kedua manik mata Ucca melirik Ora yang menunduk sambil menitikan air mata. Dia tahu Ora sedang ingin berjuang untuk memperbaiki semuanya. Tapi dia bisa apa kalau kenyataannya keadaan tidak berpihak kepadanya.   ***   "Kak Ucca...." Panggil Sheen lemah. Dia sedang berada di dalam mobil di mana Ucca akan mengantarkannya pada Lui, ibu kandung Sheen. Tadi perempuan itu memberikan kabar kalau tidak bisa menjemput Sheen di rumah Kara. Maka dia meminta Sheen untuk diantarkan ke rumahnya. Dan Ucca lah yang bertugas mengantar ke rumah Lui. Selama perjalanan pun, Sheen lebih banyak diam. Dan baru sekarang dia bersuara. "Kak Ucca...." "Enggak usah panggil gue kakak. Aneh rasanya. Panggil Ucca kayak biasanya aja," ucap Ucca. Dia sebenarnya sedih akan berpisah dengan Sheen tapi biar bagaimana pun Sheen memang harus diberikan pelajaran. Agar bocah itu mengerti bahwa minta disayang itu tidak perlu menarik perhatian dengan cara menjadi nakal. "Boleh Sheen minta satu hal sebelum pergi." "Apa?" "Anterin Sheen ke lapangan tenis dekat sekolah Sheen dulu ya." "Ngapain ke sana? Janjian lagi lo ya?" Sheen menatapnya dengan kedua manik mata berkaca-kaca. "Cuma mau ngucapin salam perpisahan sama Papah Ken. Enggak boleh ya, Ucca? Ucca liatin deh. Sheen enggak akan nakal." Aduh ini anak satu. Pakai panggil papah-papah segala. Baru juga segede curut begini. Nanti kalau udah nikah panggilannya apa? Memedi? "Ya udah gue anter. Tapi janji enggak lama-lama." Sheen mengangguk setuju. Walau masih kelihatan sedih, setidaknya dia bisa bilang kepada Ken jika dia akan diungsikan ke rumah ibu kandungnya. Sampai di lapangan tenis itu, keadaan cukup ramai. Beberapa orang yang tinggal di sekitar sana sedang berolah raga pagi bersama-sama. Memainkan bola berukuran bulat itu dengan raket besar. Tak menunggu lama, Sheen langsung turun. Bergerak menjauh dari mobil Ucca menuju segerombolan anak seusianya sedang berolah raga. Ucca tahu pasti salah satu anak di sana yang dipanggil papah oleh Sheen. Melihat Sheen sibuk mengobrol dengan seorang bocah laki-laki yang dulu tak sengaja pernah Ucca lihat, membuat Ucca penasaran. Dia keluar dari mobil, berjalan ke pinggir lapangan tenis itu dan memilih duduk di sana. Pandangannya kosong. Entah pikirannya sedang berjalan ke mana saat ini. Mungkin saja Ucca memikirkan bagaimana kehidupan adik nakalnya nanti di rumah ibu kandungnya. Apa Sheen akan bahagia di sana? Atau malah lebih menderita. Setidaknya semarah-marahnya Kara di sini, laki-laki itu tetap menyayangi Sheen. Apalagi Ora. Perempuan itu walau pernah dijahati tidak pernah membalasnya. Coba nanti di rumah Lui sana? Apa suaminya Lui bisa sayang pada Sheen seperti anaknya sendiri? Desahan napas sesak keluar dari mulut Ucca. Dia melirik adik kecilnya itu sedang diusap kepalanya oleh bocah laki-laki itu. Wajah bocah laki-laki itu nampak tetap ceria. Mungkin mencoba menghibur Sheen. Tapi di sini Ucca bisa melihat Sheen menangis. Yah walau kelihatan lebay. Tapi biasanya kasih sayang anak kecil itu lebih tulus dari orang dewasa. Kalau tidak percaya coba saja buka mata lebar-lebar dan cari kebenarannya. Ucca menundukkan pandangan sejenak. Ahh, ini mungkin memang takdir Tuhan. Memisahkan untuk disatukan kembali. Nantinya. Begitu pikiran optimisnya. Namun yang tidak Ucca duga, di dekatnya berada seorang perempuan yang terus memandangnya dengan rambut tergerai. Sesekali senyuman bahagia terus keluar dari bibirnya. Sangat memikat dan indah. Begitu pendapat bagi siapa saja yang melihat. Karena Ucca tidak sadar-sadar, perempuan itu mendekat dan duduk di samping Ucca. "Kenapa lagi? Masih pusing mikirin judul? Coba datang ke rumah saya. Siapa tahu bisa saya bantu," kekehnya geli. Perlahan-lahan Ucca melirik ke sampingnya. Dan betapa bodohnya kedua mata sialan yang Ucca miliki. Kenapa langsung menyorot pada dua gunung besar itu!!!! Dengan susah payah Ucca menelan air ludahnya. Dia agak kesusahan menggerakan pandangannya ke atas. Menatap wajah sang empunya suara tadi. Lalu.... Angin manja menerpa rambut hitam panjang milik perempuan itu hingga wangi mawar semerbak masuk ke indera penciuman Ucca. Gila benerrr. Ini cewek shampoan satu botol kali. Wanginya bisa nyantet orang. Teriak batin Ucca. "Sebenarnya saya percuma datang ke lapangan ini jika untuk mencari keringat. Karena saya tahu cuma kamu seorang yang bisa buat saya banjir keringat luar dalam," kedipnya genit dengan tangan kurang ajar meraba-raba paha Ucca. Tidaaaakkkk!!! Tolong bilangin si Ayam agak naik dikit ngerabanya! Teriak pikiran m***m Ucca. ____ Continue. Udah taplove belum?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD