Sekarang banyak perempuan yang mau bercinta karena mencintai. Begitupun laki-laki, yang mau mencintai karena ingin bercinta.
Hari demi hari telah berlalu. Kepergian Sheen membawa keheningan sendiri di rumah keluarga Ganendra. Biasanya setiap pagi musik yang kebarat-baratan sudah terdengar. Namun kini semua hilang. Si penggemar Katy perry sudah tidak bersama mereka lagi.
Suara lengkingan teriakan Sheen juga sudah hilang bagai angin yang berhembus kencang. Semua orang memang kehilangan sosok Sheen tapi mana ada yang berani menyuarakan kepada Kara.
Paling cuma Ora yang sering adu mulut sama ayah 7 anak itu. Tapi balik lagi apa hebatnya Ora. Sekali tusuk langsung jerit-jerit kenikmatan.
"Oy, enggak kuliah lo?" Tegur Ucca pada Elva.
Ini adalah hari sabtu, biasanya Elva ada kelas tambahan di hari sabtu yang katanya dosennya suka kurang ajar. Masuknya setiap sabtu doang. Sampai buat para mahasiswa teriak kejengkelan.
Kadang Ucca sering dengar gerutuan Elva ketika adiknya itu malas untuk ke kampus. Namun berkali-kali Ucca ingatkan kembali, tujuan indah mereka nantinya.
Maka setelahnya Elva akan kembali semangat. Menyelesaikan kuliahnya buru-buru untuk mengejar impian.
"Libur gue. Katanya tuh dosen enggak masuk. Ketabrak sepeda pas lari pagi."
Ucca mengangkat alis hitamnya tinggi-tinggi. Masa sih ada dosen yang izin tidak masuk karena ketabrak sepeda?
"Lo serius?"
"Iya serius. Gue juga dikasih tahu temen gue."
"Aneh-aneh aja orang zaman sekarang," sahut Ucca dengan gelengan kepala.
Dia mengambil posisi duduk di samping Elva, sambil tangannya dilingkarkan di bahu adiknya itu. Mirip orang pacaran.
Maklum dua-duanya jones berjamaah. Yang satu memang tidak ada yang mau, yang satu lagi bodoh karena menolak banyak yang mau.
"Terus rencana lu malam minggu ini ke mana? Enggak mungkin kan dengerin daddy sama mama teriak-teriak keenakan. Kelihatan jones banget lo," sembur Ucca.
"Sayang sekali, gue udah terlanjur janji sama mama. Mau nganterin dia belanja,"
"Loh Daddy ke mana?"
"Nanti nyusul bareng lo!!"
Ucca menunjuk dirinya sendiri, "BARENG GUE?"
"Toa lo mending disumbangin ke mesjid deh!!! Kuping gue sakit dengernya," sembur Elva kesal sembari mengusap telinganya.
Dia melepaskan rangkulan Ucca dan berjalan menuju dapur tanpa peduli wajah bego Ucca.
"Va, gue gagal paham."
"Lo bukan cuma gagal paham. Tapi gagal skripsi juga!!!" Teriak Elva dari dapur.
Asem banget adiknya satu ini. Ya kali kegagalan skripsinya jangan dijadiin bahan leluconan.
Baru juga Ucca mau mendatangi Elva, seseorang sudah berdiri di hadapannya sambil membawa tas hitam cukup besar.
Ucca awalnya hanya melihat tampilan sepatunya saja, namun ketika mendongakan wajahnya Ucca dibuat mengangak lebar.
Buseeh.. Ini benar kan Daddy Kara? Kok Ucca kalah muda dengan tampilannya. Batin Ucca.
Ke mana perginya brewok manja yang selalu menghiasi wajah laki-laki berusia 40 tahun itu?
Lalu-lalu, mau ke mana Kara dengan gaya khas anak muda. Apa mungkin mau malam mingguan?
Kok bisa? Mama Ora memangnya tidak marah?
"Dad...." Panggil Ucca.
"Kamu libur kan, temanin Daddy ketemu seseorang." Jawab Kara sambil merapikan tampilannya.
"Ketemu siapa Dad?"
"Rekan bisnis," jawab Kara kembali. "Ayo cepat, ganti baju. Daddy kayak orang miskin aja enggak bisa beliin kamu baju. Kerjaannya telanjang terus," sambung Kara kesal.
Ucca mengangguk saja. Dari kejauhan Elva sudah ketawa cekikikan melihat tingkah Kara dan Ucca. Apa ayahnya itu tidak merasa kalau celana yang dia pakai juga rombeng karena robek di bagian lututnya.
Dasar Kara mulut asal ceplos saja. Mirip Ucca.
***
Ucca menghentikan mobilnya. Memandang aneh cafe tempat Kara janjian dengan rekan bisnisnya.
Cafe ini terbilang tempat anak muda nongkrong. Masa iya rekan bisnis Kara ingin bertemu di sini.
Yah walau Ucca tahu rekan bisnis ayahnya itu tidak hanya dari kalangan usia senja. Tapi ya lihat-lihat juga kali mau bicara bisnis di tempat umum begini.
"Ucca di mobil aja, Dad."
Kara mengangguk saja. Membawa tasnya keluar mobil lalu masuk ke dalam cafe itu.
Sedangkan Ucca yang ditinggal sendiri oleh Kara sibuk mendengarkan musik. Sambil mencoba menyandarkan tubuhnya ke jok kursi.
Sebelah tangannya sibuk mengecek pesan dari beberapa orang. Termasuk dari Sheen. Sejak gadis kecil itu pindah ke rumah mamanya, kehidupan Sheen semakin bebas. Anak usia 10 tahun itu bebas memegang ponsel sendiri.
Kadang Sheen juga cerita kalau dia lebih sering pura-pura tidak masuk sekolah dengan alasan sakit. Padahal dia malas.
Kehidupan adiknya itu semakin hancur. Ayah tirinya begitu dingin kepadanya. Jangankan ditegur, dilihat saja tidak. Sedangkan mamanya Sheen sibuk membangun bisnis dengan teman-teman sosialitanya.
Tentu saja dana awalnya dari sang Daddy, Kara. Ah, coba Ora tahu kalau Kara masih menghidupi mantan istrinya itu. Bisa-bisa terjadi perang dunia.
Ucca mendesah lelah. Entah dia pusing dengan kehidupan keluarganya ini. Ayahnya, mamanya, adik-adiknya. Belum lagi mama kandungnya. Semua berkumpul jadi satu. Ada saja masalah yang muncul di antara mereka semua. Hingga terkadang Ucca ingin segera menjauh dari semua ini. Dan tinggal seorang diri tanpa ada yang mengenalnya.
Itu adalah satu impiannya yang harus segera terwujud. Hidup mandiri. Mengembangkan ilmu yang dia miliki dan merintisnya dari awal, rasanya memang sulit. Tapi kapan lagi kalau tidak mencobanya.
Walau berulang kali Kara menolak melepaskan Ucca hidup jauh darinya. Namun setelah segala bujuk rayu, akhirnya Kara mengalah. Tetapi dengan satu syarat, Ucca harus lulus sarjana dulu. Seperti janji Kara kepada mama kandung Ucca. Dia akan menghidupi Ucca hingga menjadi orang sukses. Dan bagi Kara ilmu yang dia bekali tidak akan habis dimakan waktu.
Ketika Ucca ingin menutup kedua matanya, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.
Nama s**u muncul di sana hingga sudut bibir Ucca terangkat tinggi. Akhh ... s**u sudah 2 hari mereka tidak bertemu. Karena s**u sedang liburan bersama keluarganya, Ucca jadi ditinggal sendiri. Padahal kalau ada s**u, mereka bisa kelabing alias kelayaban bingung bersama dimalam minggu ini.
Susu-ku
Caa....
Yap!
Gue cantik nggak???
Setelah chat terakhir dari s**u masuk. Sebuah foto masuk hingga membuat Ucca mati gelisah. Berkali-kali matanya mengerjab, namun tetap saja yang dilihatnya s**u di foto itu.
Begitu menarik dan ... Seksi..
Gimana rambut baru gue? Udah kayak nyokap lo enggak? :)
Sebuah emotikon ketawa mengakhiri chat dari s**u. Ucca masih sibuk dengan pikiran joroknya. Otaknya tidak fokus dengan rambut baru s**u yang kebule-bulean, tapi dia sibuk dengan tampilan s**u yang aduhai.
Kok dia baru sadar s**u menggoda sekali. Ke mana saja dia selama ini?
Su..
Kenapa, Ca? Kangen gue lo yak?? Bilang aja jujur sih kalau kangen. Enggak ada yang ngajak lo keluar ya malam minggu. Kasian banget sih perjaka gue satu ini. Masa kalah sama kolornya superman.
Bukannya marah, Ucca tertawa geli. Cuma s**u yang bisa mengerti dirinya. Tanpa Ucca bicara pun, s**u seakan paham dengan isi otak Ucca.
Akhh ... s**u kapan dia pulang?
Balik lo buruan. Gue pengen warnain rambut lo lagi jadi hitam. Lagian sih gegayaan banget. Orang Indonesia mah terima aja kali kalau rambutnya hitam. Enggak perlu diwarna sana sini. Kalau nyokap gue sih beda. Dia emang antimainstream. Cocok sama bokap gue.
Balas Ucca dengan emot wajah berkaca mata hitam.
Namun sepertinya s**u tidak kehabisan akal menggoda Ucca. Dia membalas chat Ucca hingga laki-laki itu diam tak berkutik.
Gue tahu lo pengen banget kita samaan kan rambutnya. Tenang Ucca bebi. Gue tetap pilih lo dari tunangan gue yang jelek itu. Harusnya lo tuh bersyukur bodoh, deketin cewek jomblo itu saingannya banyak. Tapi kalau dekatin cewek tunangan orang lain saingannya cuma satu.
Setelah sekian lama Ucca tahu s**u punya tunangan, entah kenapa rasanya beda kalau s**u yang bicara sendiri. Ada krenyes-krenyesnya kayak pinggiran roti kering.
Karena tidak tahu harus membalas apalagi, Ucca menghentikan aksi membalas chat s**u. Dia mendadak baper sendiri rasanya sekarang.
Mau lari dari kenyataan Ucca takut capek. Tapi kalau tidak lari, sesak juga dihatinya.
Alah mak. Kenapa dokter-dokter di dunia ini tidak bisa menemukan obat sakit karena kebaperan? Kalau bisa kan pasti laku dipasaran.
"Akhh ... s**u ... s**u. Saking aja lo sahabat gue. Kenapa juga kita harus jadi sahabat?" Gumam Ucca bermonolog.
Dia sibuk menatap kaca spion tengah mobilnya. Rasa-rasanya Ucca tidak jelek-jelek banget. Tapi kenapa perempuan yang tulus mencintainya tidak ada.
Nasib-nasib jadi anak orang kaya. Yang mereka kejar harta warisan Ucca bukan cinta. Tapi mau bagaimana lagi, itulah realita. Kadang cinta kalah dengan yang namanya harta.
Saat Ucca masih sibuk membenarkan letak tatanan rambutnya, dia melotot tajam melihat ayahnya keluar dari cafe itu.
Bukan. Bukan karena Kara tidak pakai baju. Atau pakai celana sobek. Tapi karena sosok yang berada di samping Kara.
Kok bisa sih ayahnya kenal dengan monster yang sudah membuat Ucca kalang kabut.
Hmm, karena penasaran Ucca segera keluar dari mobil. Mendatangi Kara dan sosok itu yang tengah bersalaman.
Ucca bingung sendiri, kerjasama apa yang ayahnya lakukan dengan dia? Kok pakai acara jabat tangan segala. Mana itu baju kayak kekurangan bahan. Buat Ucca kesal saja.
"Eheeemm...." Dehem Ucca.
Kara menatapnya bingung. Kenapa anaknya ini tiba-tiba mendatangi. Padahal tadi Ucca yang bilang sendiri mau menunggu di mobil.
"Ngapa..."
"Ucca..." Panggil Ami bingung.
Dia melirik Ucca dan Kara bergantian. Dan wow.. Otaknya langsung terhubung begitu cepat. Jangan-jangan mereka...
"Kalian saling kenal?" Tanya Kara bingung.
Ucca mengangguk, namun Ami menggeleng cepat. Dia mengibaskan rambutnya. Sampai belahan dadanya ke mana-mana.
Kan mulai lagi ini dosen, kesal Ucca. Bisa-bisanya memancing domba gila di sampingnya itu.
Nakalnya laki-laki itu kadang bukan karena bawaan dirinya sendiri. Tapi karena perempuan juga yang memancing. Apalagi model kucing garong, doyan-doyan saja dipancing pakai daging segar.
Aakhhh ... boleh kah Ucca mengamuk sekarang?
"Sebenarnya kenal atau tidak?" Ulang Kara bingung.
Namun Ucca tidak menjawabnya. Dia mengikis jarak dengan Ami sambil berbisik sesuatu di telinga perempuan itu dengan pelan namun menusuk.
"Perempuan cantik itu tampilannya. Jangan cuma dadanya aja ditampil-tampilin. Mending ada susunya," cibir Ucca.
Kara yang sedikit mencuri dengar malah semakin tidak paham dengan situasi. Ini kenapa anaknya bicara s**u dengan partner bisnisnya?
Dia memang sudah mengenal Ami sejak perempuan itu masih berstatus istri dari pejabat kelas satu di Indonesia. Mereka sudah berkali-kali kerjasama. Dan sekarang Ami mau minta bantuan Kara untuk memuluskan usaha barunya.
Kara didaulat sebagai aktor dalam iklan restauran yang baru Ami buat. Yaitu SOP JANDA. alias SOP Jakarta Sunda. Kan di Bali belum ada Sop seperti ini, jadi Ami membukanya dengan ide yang begitu briliant.
Karena Ami tahu Kara itu orang penting dan disegani banyak orang. Maka pastinya usahanya tersebut bisa berkembang pesat.
Tapi ternyata memang pulau Bali begitu sempit. Dia tidak menyangka brondong kampusnya adalah anak dari si orang penting ini.
Sambil tersenyum-senyum gatel, Ami mencolek bahu Ucca. Mengedip genit pada laki-laki 22 tahun itu.
Tapi balasannya Ucca mendelik marah. Entah marah karena dicolek atau marah karena pakaian Ami yang kekurangan bahan.
"Jadi cowok itu kayak sabun colek. Enggak akan marah walau dicolek dan dikocok hingga berbusa berkali-kali," kekeh Ami geli.
Dia berjalan sambil melambaikan tangan pada Ayah dan anak itu. Keduanya tanpa berkedip memandang b****g besar Ami yang berjalan bagai gendang bertalu-talu.
Kiri ... kanan ... kiri ... kanan.
Begitulah iramanya. Sampai Ami masuk ke mobil dan berlalu pergi baru kedua laki-laki beda generasi itu berkedip.
Aakhhh ... sudah lama tidak lihat yang montok dan bikin nagih. Batin mereka.
"Ca, Enggak Daddy sangka selera kamu macan tutul," gumam Kara sambil merangkul bahu putranya.
Ucca melirik Kara langsung, "Apaan tuh macan tutul?" Tanya Ucca.
"Kamu enggak tahu macan tutul? Kamu bener anak Daddy, kan?? Kok sampai enggak tahu macan tutul. Ituloh, perempuan tadi itu macan tutul banget. Alias manis cantik jalannya mental mentul. Enak banget itu ditunggangi dari belakang."
Mulut Ucca terbuka lebar. m***m gila ayahnya ini. Apa kurang servis dari mama Ora sampai bisa segila ini Kara diluar?
"Dad, enggak puas sama Mama Ora?"
"Namanya manusia, enggak ada puasnya. Nanti kamu juga paham, Ca," ucap Kara sambil berjalan menuju mobilnya.
Ucca di tempatnya menatap aneh. Kadang Kara bijak, kadang ayahnya itu minta diinjak karena ucapannya tidak pernah bisa dijaga!
____ Continue
Taplove jangan lupa yak