Bab 7

1663 Words
Jadi perempuan jangan terlalu senang bila digoda laki-laki. Karena akhirnya yang sering digoda hanya akan dicoba bukan dinikahi. Suara cekikikan O3 di dalam sebuah trolly terdengar cukup kencang. Beberapa orang yang juga sedang berbelanja nampak terpukau melihat kebotakan O3 yang makin hari makin menjadi. Memang sedikit aneh, bocah hampir 9 bulan itu rambutnya sulit sekali tumbuh. Banyak yang menyarankan Ora untuk memangkas sampai 7 kali rambut bayi-bayi menggemaskan itu. Namun tetap saja. Suwir-suwir berwarna kuning mirip rambut jagung yang tumbuh di kepala O3. Kadang Ora suka heran dengan bayi kembarnya itu. Kenapa berbeda sekali dengan dirinya dan Kara. Entah akan tumbuh menjadi apa O3 nanti. Yang pasti tidak mirip Ora sama sekali. "Ma..." "Ma.." Panggilan cukup kencang Ora dengar dari Elva. Gadis itu menunjuk ke arah salah satu rak yang mungkin berisi tempat kebutuhannya. Untuk itu Ora biarkan saja Elva pergi. Langkah Ora berjalan kembali. Menuju beberapa rak untuk kebutuhan rumah tangganya. Memang dia tidak belanja sendirian sekarang ini, ada anak-anaknya, kecuali Sheen, dan ada para pengasuh yang setia menemani. Lagi pula nanti akan ada Kara yang menyusul bersama Ucca setelah pertemuan bisnisnya. Bagi Ora ini adalah kali pertama dia pergi bersama seluruh keluarga untuk membeli kebutuhan rumah tangga. Biasanya semua sudah terpenuhi di dalam rumah, dia perlu apa saja tinggal meminta. Nanti akan ada yang menyediakannya untuk Ora. Akan tetapi kehamilannya sekarang rasanya begitu aneh. Dia mau melakukan semuanya sendiri. Memasak, merawat anak-anak serta suaminya, berbelanja, hingga mungkin mencarikan jodoh untuk anak-anak Kara yang sudah dewasa itu. Bukannya Ora tidak tahu, dia sadar betul jika Ucca dan Elva sedang merasakan apa yang namanya jatuh cinta. Karena gejalanya sama percis dengannya dulu. Yang sebentar-sebentar tertawa nista, belum lagi yang sok-sok ngambek, dan yang pastinya mereka berdua tidak bisa lepas dari ponsel. Entah pagi, siang, sore, dan malam, ponsel itu sudah menjadi menu pokok mereka. Walau sampai sekarang baik Ucca maupun Elva belum satupun yang membawa pasangannya ke rumah, tetapi Ora yakin mereka hanya butuh dorongan dari orang tua untuk menyadari. Bahwa mereka sedang jatuh cinta. *** Setelah sampai di tempat janjian yang dituju, Kara langsung bergerak meninggalkan Ucca yang masih dilanda perasaan aneh. Perasaan yang sering kali terjadi bila berhubungan dengan dosen monsternya itu. Kadang Ucca merasa hatinya begitu berdebar, kadang dia juga merasa begitu emosi seperti sekarang. Entah benar penyebabnya karena dosen itu atau bukan. Yang jelas dia tidak suka berada di area sekitar dosen itu. Rasanya membuat Ucca bisa mati cepat. "Sialaaaann..." geram Ucca. Dia memukul stir mobilnya, melihat kepergian Kara yang terburu-buru masuk ke dalam. Ah, padahal ini malam minggu. Harusnya Ucca bisa bersenang-senang menatap paha dan d**a bergentayangan di mall ini. Tapi kenapa dia sudah eneg duluan? Sambil berjalan malas, Ucca masuk ke dalam mall. Lalu menuju area supermarket dimana keluarganya sedang berbelanja. Beberapa kali dia memijat belakang lehernya karena terasa begitu tegang. Bagi Ucca ini adalah malam minggu terkelabu yang pernah dia lewati. Benar-benar rasanya begitu jones menatap tak jauh dari tempatnya berdiri pasangan penuh sensual, Kara dan Ora, tengah bergandengan mesra. Berkali-kali Ucca juga melihat Kara mengusap-usap perut bundar ibunya itu. Sambil tersenyum-senyum penuh kegenitan. Oh Ya Tuhan, entah kenapa dia menyesal rasanya. Ikut berbelanja bersama keluarga. Lihat saja sekarang, Kara dan Ora hanya membuat Ucca iri saja. Memamerkan keromantisan mereka tanpa sadar kalau ada Ucca si anak jones yang berdiri tak jauh dari mereka. "Uh, dasar. m***m nggak ingat tempat. Ada anak ini woy," gumam Ucca seorang diri. Saat dia mengedarkan pandangannya ke arah lain, makin banyak saja pasangan yang dirinya lihat bermesraan. Ada dua pasangan yang tengah sibuk memilih-milih makanan ringan bersama-sama. Mungkin mereka membeli snack di sini untuk dibawa masuk ke dalam bioskop. Begitu pikir Ucca. Biasanya kan memang seperti itu manusia di Indonesia. Berkali-kali dilarang membawa makanan dari luar untuk masuk ke dalam bioskop, namun tetap saja dilakukan. Ckckck.. Mungkin karena itulah tercetus peraturan dibuat untuk dilanggar. Ah, tapi Ucca bukan yang termasuk begitu. Yah maklum saja, dia belum pernah menonton bersama pacar. Paling mentok-mentok bersama s**u yang kurang ajar. Kenapa kurang ajar? Karena kalau sudah ditempat gelap, s**u akan berubah menjadi liar. Dan kadang membuat Ucca takut sendiri. Takut khilaf maksudnya. Kalau cuma cium-cium sedikit sih Ucca masih siap melakukannya. Tapi kalau lebih, nanti dulu. Cukup ayahnya kecebur ke dalam lubang berjalan. UCCA JANGAN!!!! "CA..." Langkah kaki Ucca terhenti. Dia melihat Elva dengan segala tentengan barang-barang di tangannya yang nampak kesusahan. "Beli apaan lo?" "Biasa kebutuhan cewek," jawab Elva santai. Barang-barang yang tadi ada di tangannya langsung diserahkan kepada Ucca dengan sedikit memaksa. Sedangkan Elva sendiri kembali pergi lagi entah ke bagian mana. "Va... WOYYYY!!!" Teriak Ucca kencang. Dimana sih otak Elva sebenarnya. Masa Ucca di suruh bawa barang-barang.. Perempuan.. Kedua mata Ucca langsung melotot besar. Gilaaaaa... Isinya pembalut semua????? Mulai yang bentuknya besar dengan  tulisan 'maxi wings' sampai yang bentuknya kecil dengan tulisan .. Pety.. Pety.. Itu pembalut apa krabby pety tuan krab??? Buseeehh.. Yang benar saja Elva. Dia itu mestruasi apa pendarahan???? Teriak hati Ucca. Beberapa perempuan yang melewati Ucca tertawa-tawa geli melihat wajah tampan Ucca dengan berbagai macam pembalut ditangannya. "Bukan. Bukan punya saya," jelas Ucca pada perempuan-perempuan itu. Ya kali dia pakai pembalut. Tidak sekalian saja suruh Ucca melahirkan. Namun tak berapa lama, Elva kembali. Dengan trolly dan beberapa barang lagi yang dia bawa. Ya ampun sudah sebanyak ini masih belum cukup? Memang seberapa banyak sih barang-barang yang dipakai perempuan? "Makasih ya Ucca," "Va, lo itu menstruasi apa pendarahan. Gila aja pembalut lo sebanyak itu!!!!" amuk Ucca. "Makannya punya pacar. Biar tahu model-model pembalut," jawab Elva tanpa peduli wajah Ucca yang memerah. Entah karena kesal atau malu. "Va, gue serius woy!!!" ucapnya sambil menyamakan langkah kaki dengan Elva. "Gue juga serius. Kapan sih gue nggak serius," balas Elva tak kalah kuat. "Emangnya lo pikir pembalut itu cuma satu model. Banyak kali. Kayak perempuan aja, bermodel-model kan. Ada yang langsing kayak gue, ada yang gendut kayak Mama Ora sekarang," "WAH PARAH LO, MAMA ORA DISAMAIN!!!" "Abisnya lo ngeselin. Pokoknya tuh model pembalut, pagi sampai malam beda. Belum lagi awal menstruasi sampai akhir menstruasi juga beda. Jadi jangan aneh kalau gue beli banyak. Lagi juga Daddy yang bayar belanjaan aja nggak komplen. Kenapa jadi lo yang komplen," Ucca membuka mulutnya lebar-lebar. Bukan karena kaget mendengar perkataan Elva. Tapi ide bisnisnya keluar begitu saja. Bisa kali dia menjadi pebisnis pembalut? Selain pembalut untuk menstruasi. Dia juga bisa menyediakan pembalut hati yang terluka. Eaaaa.. UCCA.. UCCA.. GAYA SELANGIT. PADAHAL KALAU DIJEJELIN PEREMPUAN LANGSUNG MENJERIT. "Apa?" tantang Elva. "Nggak papa," ringis Ucca. Kan. Belum apa-apa muka mesumnya sudah ketahuan oleh Elva. Kedua manik mata Elva meneliti dengan jelas. Kemudian mendekatkan dirinya pada tubuh tinggi besar Ucca. "Eh, nggak usah baper!!! Masa gara-gara pembalut aja lo baper!!!" "Ye siapa juga yang baper. Lo aja tuh yang berlebihan," sahut Ucca tak mau kalah. Keduanya bersama-sama berjalan menuju kasir yang ternyata sudah menunggu Mama Ora serta Kara di sana. Ucca mendengus kesal melihat kedua orang tuanya di depan kasir. Tidak tahu diri sekali mereka, bermesum-mesuman di depan umum. Kalau Ucca baper gimana? "Bokap nyokap lo tuh, nggak kenal tempat buat m***m," celetuk Ucca. "Bokap nyokap lo juga bego," tepuk Elva kesal. Ucca tertawa mendengar makian Elva. Dia merangkul dengan erat tubuh Elva yang kurus melengkung seperti lidi. Belum lagi dengan kurang ajarnya Ucca berani mencium-cium bahu Elva di depan umum. Padahal Ucca berlaku seperti ini cuma menutupi status kejonesannya aja. Yah maklumlah, disekitar mereka para perempuan menatap Ucca dengan begitu kelaparan. "Gila lo yak, gue diterkam juga. Jones banget sih," sindir Elva sambil mencubit perut Ucca. "Biarin, lagian gue butuh sandaran. Pusing kepala gue mikirin skripsi yang kagak kelar-kelar," "Lo bukan mikirin skripsi, tapi mikirin dosen yang bikin burung lo berdiri," Ucca melotot kesal melihat Elva yang tertawa. Kurang ajar Elva. Berani-berani meledeknya dengan dosen monster itu. Ucca jadi menyesal pernah keceplosan berbicara mengenai dosen sinting itu. Kan sekarang Elva jadi punya senjata untuk menggodanya. "Awas lo yak," "Gue kenapa?" "Lo tuh...." Kalimat Ucca terhenti akibat sesuatu kegilaan yang dilakukan Elva kepadanya. Kegilaan yang tidak pernah terpikirkan oleh dia bila Elva bisa melakukannya. "Va, lo kenapa?" bisik Ucca setelah bibir mereka terlepas. Sepersekian detik tadi, kakak beradik Ucca dan Elva melakukan adegan kissing layaknya pasangan kekasih. Entah kenapa bisa terjadi. Yang pasti ada penyebab atas kejadian barusan. Dihadapan Ucca, Elva hanya diam. Kedua tangannya masih menarik leher Ucca agar menunduk ke arahnya. Mereka berdua menjadi sorotan orang karena berhasil melakukan aksi nekad yang tidak biasa. Apalagi di Indonesia yang kental akan budaya timur, memandang aneh ke arah Ucca dan Elva. "Va..." bisik Ucca lagi. "Lo tahu Ca, terkadang yang datangnya hanya sepintas malah meninggalkan luka yang paling membekas," gumam Elva tepat di depan wajah Ucca. Ucca semakin bingung. Dia tidak mengerti apa maksud yang dibicarakan oleh Elva. Tapi Ucca sadar ada yang salah di sini. Tidak mungkin Elva bersikap liar begini hanya karena masalah sepele. "Va, walau gue nggak punya pengalaman apa-apa soal cinta. Tapi sebagai kakak lo, gue cuma mau bilang. Jangan pernah mau menunggu laki-laki yang sejatinya tidak pernah mengharapkan lo menunggunya. Dan jangan pernah mau bertahan disamping laki-laki yang nggak pernah nahan lo sedikitpun untuk pergi. Mau sakit sekarang atau nanti semua sama,Va. Tinggal lo aja yang tentuin," bisik Ucca menenangkan. Dia memeluk tubuh Elva erat diiringi ucapan-ucapan motivasi untuk adik perempuannya itu. "Tidak semua laki-laki suka mempermainkan perempuan, Va. Masih ada gue. Kakak lo di sini yang akan selalu berdiri disamping lo. Menggandeng tangan lo untuk mengantarkan lo menuju kebahagiaan. Jadi jangan pernah merasa sendiri. Lo ngerti kan, Va?" Elva tidak menjawabnya. Dia hanya mengangguk dengan isakan-isakan lolos di bibirnya. Sejatinya dia tidak perlu melakukan ini. Toh orang itu tidak sama sekali tahu apa yang dia rasakan. Bukankah memang itu kehebatan perempuan. Paling jago menutupi perasaan dihatinya. Tetapi paling sulit menutupi lemak ditubuhnya. Namun mendengar kalimat Ucca, Elva sadar dia masih punya keluarga di sini. Masih punya sosok kakak yang tidak akan pernah terganti. "Udah lebih baik?" Tanya Ucca melepas pelukannya. "Iya," "Bagus, sekarang gue mau lap bibir gue yang bekas ludah lo. Wah tanggung jawab lo, Va. Bibir gue udah nggak perjaka lagi dah," gumam Ucca mengejek. Elva tertawa geli. Tapi tangan gadis itu ikut membantu Ucca mengusap bibir kakaknya dengan lembut. Hingga pandangan mereka saling bertemu, Ucca bisa melihat kilatan cairan bening bekas tangisan Elva tadi. "Gue mau tahu apa alasan lo cium gue begitu? Nggak mungkin kan lo napsu sama kakak lo sendiri?" "Ya nggak lah. Mana mau gue sama lo," sembur Elva kesal. "Terus?" Tantang Ucca sambil menaik turunkan alisnya. "Ayo bilang. Kalau nggak..." "UCCAAAAA...." Belum saja Ucca menyelesaikan kalimatnya, ada lagi pengganggu yang memanggil namanya begitu kencang. Oh Tuhan, Ucca tidak merasa seterkenal ini. Namun kenapa semua orang tahu namanya?? ___ Continue Komen masih mau lanjut gak? Jangan lupa follow jejaring sosialku Wattpad : Shisakatya Instagram : Shisakatya Youtube : Shisakatya Twitter : Shisakatya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD