Bab 8

1453 Words
Perempuan tidaklah sama dengan lampu hijau lalu lintas. Dimana setia menemani namun malah ditinggal pergi. Dalam kegelapan malam Ucca mendesah berkali-kali. Bukan karena dia sedang beradegan kegerahan khas orang dewasa namun dia sedang mendesah mengingat-ingat kegilaan sikapnya tadi. Apa-apaan dia memasang sikap tidak suka sewaktu s**u datang memanggilnya dengan wajah sumringah. Ucca tahu s**u baru kembali sehabis liburan. Tapi Pleaseee... HARGAI UCCA YANG TIDAK LIBURAN!!! s**u seharusnya tidak perlu memamerkan perasaannya itu dengan senyum 5 jari di depan Ucca. Apa perempuan itu tidak tahu Ucca jadi baper duluan??? Mana tadi dia datang-datang langsung merangkul lengan Ucca sampai susunya kegesek-gesek di lengan Ucca. Sudah deh, semakin lengkap saja kebaperan Ucca. Apalagi peliharaan s**u yang mirip orang sembelit terus saja mengintili perempuan seksi itu. Tenang saja kali, Ucca tahu kalau s**u sudah ada yang punya. Jadi tidak perlu bergaya petantang-petenteng seperti preman pasar. Kalau tahu jadi aneh begini perasaan Ucca, harusnya tadi pura-pura tidak kenal saja ketika s**u memanggilnya. Atau bergaya kayak Elva yang malah tidak merasa ada s**u dan peliharaannya di sana. Tapi kok Ucca merasa aneh, mengapa Elva bersikap begitu acuh tadi? Ucca tahu adik perempuannya itu orang cuek. Tetapi ini sudah berlebihan. Tidak baik juga kali menganggap orang lain tidak ada, padahal orang tersebut selalu berada di sekitar kita. Ahh..Ucca tidak peduli. Lagi juga nasi sudah jadi bubur. Ucca bisa apalagi selain mengatasi rasa bapernya. Gila men!!! Sudah selama kuliah dia mengenal s**u, dan baru kali ini s**u buat perasaannya tidak menentu. Benar-benar keterlaluan perempuan berSUSU besar itu, karena sering minta 'lemper' sama Ucca namun tidak dikasih eh malah dia buat baper!!!! Memang perempuan itu paling pintar yang namanya membalas karma. Lihat saja sekarang, balasannya langsung kena menusuk hati. Kan sakit Su, tega banget dia!!! Batin Ucca. Perempuan oh perempuan. Rupa-rupa warnanya. Ada yang sekali lihat langsung bikin laki-laki basah. Tapi banyak yang dipermainkan oleh laki-laki malah memilih pasrah. Hidup dijaman sekarang memang pandai-pandai berinteraksi. Sedikit salah arah saja sudah kehilangan masa depan. Apalagi salah lobang? Entah apa yang akan terjadi. Saat pikiran Ucca masih melalang buana ke s**u, suara keributan terdengar melewati depan kamarnya. Tidak perlu ditanya itu siapa. Dan dibuat oleh siapa. Ucca kenal betul. Jam-jam hampir tengah malam begini kegiatan apa yang akan dilakukan oleh kedua orang tuanya. Berawal dari perdebatan, berakhir dengan pergulatan. Kadang Ucca suka iri, Ayahnya yang m***m tak tertolong itu bisa bernasib begitu baik. Mendapatkan perempuan baik-baik seperti Mama Ora. Lalu, kenapa Ucca sulit sekali? Setiap dia mau mendekati seorang perempuan, Tuhan langsung membuka aib perempuan itu hingga Ucca mundur teratur. Mungkin memang Tuhan ingin Ucca mendapatkan yang terbaik. Yah maklum lah, Ucca sering dengar laki-laki baik untuk perempuan baik. Tapi kalau hasilnya tidak sesuai keinginan mungkin jodohmu adalah orang yang diam-diam menyebut namamu dalam doa. Lagi pula, Ucca kan mana tahu siapa yang mendoakan dia pakai sebut-sebut nama. Pokoknya, Ucca sih berharap pada Tuhan jodohnya tetap perempuan. Mau bagaimana pun bentuknya, yang penting hatinya. Cantik bisa pakai uang. Tapi hati yang baik mana mempan pakai uang. Dan kini setelah dia sadar s**u bukan salah satu kandidat jodoh yang Tuhan pilihkan untuk Ucca. Berarti jodohnya masih gentayangan di luaran sana. Atau mungkin saja sedang menjerit sik-asik hingga lupa pakai pengaman. Ya Tuhan. Tidak. Jangan kasih jodoh Ucca yang seperti itu. Dia anak yang baik. Dia kakak yang baik. Masa iya mendapatkan jodoh yang buruk. Mama kandung Ucca saja sering menasihatinya. Mereka memang pernah salah jalan dalam kehidupan ini, namun jangan sampai Ucca terjebak dalam kesalahan yang sama. Karena Ucca tahu, seburuk-buruknya orang tua mereka pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Maka dari itu, setiap saat setiap waktu Mama kandung Ucca selalu menghubungi. Memantau gerak gerik putranya itu agar tidak memilih jalan yang salah. Menasihatinya dengan berbagai cara agar Ucca sadar. Perempuan diciptakan untuk dicintai bukan untuk dikangkangi. Dan Ucca benar-benar terharu akan hal itu. Pernikahan Mama kandungnya dengan sang Ayah, Kara, memang boleh hancur. Tapi anak dari buah pernikahan itu tidak boleh mundur. Mundur dari kesuksesan adalah salah satu jalan bodoh yang dipilih oleh orang bodoh!!! Dan itu adalah tantangan Ucca untuk menghadapinya. Ucca tidak munafik, kadang dia hampir sering kebablasan dengan s**u. Menerjang perempuan itu dari segala arah. Hingga radarnya aktif seketika. Namun ketika Ucca mulai kehilangan akal, s**u yang mengingatkannya. s**u ingin Ucca bisa menjadi anak kebanggaan orang tuanya. Tapi ya gitu, sedot-sedot manja sulit dihapuskan dalam kehidupan anak jaman sekarang. Kalau kata s**u sih, bibir atas boleh dipakai bolak balik. Tapi bibir bawah hanya untuk sang pemilik. Siapa lagi kalau bukan suami. Dan Ucca setuju akan hal itu. Seliar apapun s**u, seganas apapun perempuan satu itu, Ucca tahu dia bukan perempuan yang bisa dipakai bersama-sama. Ya kali s**u cantik dan manis itu dipakai bareng-bareng. Memangnya s**u korek. Main lempar sana sini, terus hilang tak berbekas. Dia tak semurah itu!!! Akhh, s**u. Sayang gadis manis dan seksi itu sudah ada yang punya. Coba kalau tidak, Ucca juga belum tentu maju untuk memilikinya. Yah maklumlah, uang pulsa saja masih minta orang tua. Bagaimana mau menghidupi anak perempuan orang. *** Karena rasa kantuknya belum juga muncul, tubuh Ucca bergerak menuju meja komputernya. Dia harus menyelesaikan misi perjuangan ini. Misi menjadi anak yang bisa menjadi kebanggaan orang tua. Tetapi baru juga layar itu menampilkan wallpaper seluruh keluarganya, kedua sudut bibir Ucca bergerak turun. Sheen, batin Ucca. Apa kabar anak itu di sana? Dia rindu kenakalan Sheen. Biasanya waktu-waktu tengah malam begini, gadis kecil itu akan mengendap-endap masuk dan mengganggunya. Dulu sih Ucca benci jika Sheen sudah hadir. Tetapi kini Ucca rindu. Memang beginilah hidup, kalau sudah tiada baru terasa dicinta. Rindu yang memuncak dihati Ucca membuatnya menghidupkan aplikasi di komputernya. Semoga malam ini Sheen sedang online dan bisa diajak berkomunikasi. Tak lama Ucca menunggu, muncul wajah gadis kecil yang sudah beberapa minggu ini dia rindukan. Wajahnya masih sama namun jauh terlihat lebih kurus. Rambutnya acak-acakan tak terurus dan pakaiannya lusuh berbeda sekali sewaktu di sini. "UCCAAAAA...." Teriak Sheen kencang. Dengan sebelah tangannya, Sheen sibuk menyibakkan rambutnya. Rambut yang potongannya saja sudah tidak terarah. Sheen seakan tidak fokus dengan tatapan kesedihan dari Ucca. Dia sibuk menempel-nempel sesuatu yang membuat Ucca bertanya-tanya. Sedang apa adik kecilnya itu? "Lo belum tidur?" Tanya Ucca dengan suara gemetar. Dia berdehem sejenak. Lalu memaksakan sebuah senyum dibibirnya. "Belum," jawab Sheen santai. "Sheen tadi diomelin guru, Ca. Karena Sheen nggak bawa tugas," sambungnya sambil bergumam. "Terus itu lo lagi apa?" "Nih.." Tunjuknya. "Lagi buat tugas. Nempel-nempel. Tapi nggak mau nempel dari tadi. Ucca tahu nggak kenapa?" Tanya Sheen begitu polos. "Pakai ... Le..m coba" jawab Ucca kembali terbata-bata. "Udah. Tapi nggak bisa. Kata Papah Ken, pakai cinta kalau mau erat nempelnya. Kayak keluarga. Ya kan, Ca? Jauh aja nempel terus apalagi deket," kekehnya geli.          Tapi yang Sheen tidak tahu, di sini Ucca meneteskan air mata. Hatinya tidak dibisa dibohongi, dia kasihan dengan adiknya itu. Ucca tahu percis bagaimana keadaan Sheen di sana. Tidak ada perhatian, di rumah sendirian tanpa teman. Pantas saja gadis kecil itu semakin kurus. Sudah dimaki-maki Mama Ora saja untuk makan, Sheen tetap kabur. Lalu di sana siapa yang mengingatkan anak itu untuk makan? "Ucca..." Panggil Sheen melemah. Ucca kembali fokus menatap gerak gerik Sheen sambil memasang sebuah senyum yang dia bisa. "Nanti kalau adek Sheen keluar, jangan lupa dinyanyiin yak. Biar kayak O3 yang nyanyi terus bareng Sheen," kekehnya geli. "Iya, nanti gue nyanyiin." Tutup Ucca cepat. "Udah Ucca tidur sana. Sheen mau telepon Papah dulu. Mau ngucapin met bobo, dadah Ucca" ucap Sheen centil. Namun didetik-detik terakhir panggilan itu akan berhenti, Ucca bisa melihat ekspresi gadis kecil itu berubah. Sambil melambaikan tangan, Sheen menangis. Menatap Ucca dengan wajah merintih. Ya Tuhan, tujuan utamanya saja belum tercapai. Ini dihadapkan dengan masalah yang lain. Masalah yang bagi orang lain terlihat sepele, tapi bagi yang merasakannya sangat luar biasa sakitnya. Dalam hatinya Ucca berjanji, bila dia berhasil mendapatkan sarjana maka Sheen akan dia bawa. Dia akan merawat Sheen agar tidak merasa seperti sebuah barang yang dioper sana sini. "Tunggu gue Sheen, sedikit lagi. Gue jemput lo di sana," janjinya. Kedua tangannya terkepal. Dia benci segala sikap Ayahnya. Kenapa banyak sekali manusia yang seperti ayahnya itu. Suka bertindak sesuka hati tanpa memikirkan akibat kedepannya seperti apa. Memang hidup untuk sesuatu yang ada saat ini. Tapi lagi-lagi kalau bukan kita yang mengatur masa depan, siapa lagi? Masih dengan kesedihannya, Ucca menumpukan kepalanya diatas meja. Dengan perasaan yang semakin bercampur aduk. Tadi s**u sudah membuatnya kacau balau. Lalu Sheen. Nanti siapa lagi yang menambah kekacauan hati Ucca. Batin Ucca. Baru juga Ucca menyuarakan isi hatinya, sebuah pesan muncul di ponselnya. Pesan yang paling ditakuti oleh mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir sepertinya. Bahkan bagi Ucca pesan ini lebih menyeramkan dari Nesya yang begitu ditakuti oleh Sheen. "Masih pusing pikirkan judul untuk gelar sarjanamu? Mending kamu pikirkan saya. Selain dapat sarjana, kamu juga dapat yang ena-ena,"         Di bawah pesan singkat itu ada sebuah foto. Foto dari perempuan yang entah Ucca bingung maunya apa. Tapi dari gelagatnya ditengah malam begini mengirimkan sebuah foto buat Ucca paham maksudnya. Dia bukan minta diselimut agar tidak kedinginan. Namun dia minta batang untuk dia emut karena merindukan kasih sayang. Dasar perempuan jaman sekarang!!! Mau muda mau tua, tahu mana yang tahan lama!!! ___ Continue Jangan lupa taplovenya yak.. komen juga Jangan lupa follow jejaring sosialku Wattpad : Shisakatya Instagram : Shisakatya Youtube : Shisakatya Twitter : Shisakatya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD